
Mungkin saat itu aku berumur enam belas tahun, saat mendiang nenek masih sangat sehat.
Bersama nenek saat itu, kami baru pulang dari pasar untuk menjual ayam-ayam yang kami miliki.
Selesai menyetorkan ayam-ayam itu, lalu kami berdua hendak ke sebuah toko yang menjual kebutuhan kebun.
Kami hendak membeli sayuran dan juga beberapa peralatan pertanian.
Toko itu tidak terlalu jauh dari pasar, saat itu kami mengendarai becak betor yang sudah di modifikasi oleh pak Raden.
Modifikasi bertujuan agar bisa mengangkut banyak ternak untuk di jual.
"Bernat berhenti dulu, itu kyak ada suara menangis di gang itu."
"iya nek, tapi gang itu sempit. emangnya ada orang disana?"
"nenek ngak tau, ya udah kita cek dulu."
Nenek menyuruhku untuk berhenti, lalu kami menelusuri gang sempit itu.
Semakin dalam masuk ke dalam gang dan akhirnya kami ketemu dengan pemilik sumber suara itu.
Dua bocah yang mungkin berumur dua belas tahun gitu, yang sedang menangisi temannya.
"ya Allah.....
kenapa teman kalian pucat sekali?"
"sakit dia nek, tapi kami ngak ada uang membawa nya berobat."
"Bernat.....
gendong dia, mari kita bawa ke puskesmas atau klinik terdekat sini."
Seorang anak laki-laki yang terkapar lemas, dengan wajahnya pucat, dan segera ku gendong dan membawa ke becak betor.
Hanya menempuh perjalanan sekitar sepuluh menit, kami sampai di klinik dan langsung membawa bocah itu masuk ke dalam klinik.
"syukurlah, nenek segera membawanya kemari. sehingga masih bisa mendapatkan perawatan medis.
Jika nanti sudah habis, dan belum ada perubahan yang lebih baik.
Saya akan memberikan rujukan ke rumah sakit ya nek.
"terimakasih ya dokter, tolong berikan yang terbaik untuk cucuku itu."
Bocah tadi sudah berbaring di ranjang setelah mendapatkan pertolongan medis, dan kami hanya perlu menunggu di ruang tunggu ini.
__ADS_1
"dokter.....
adik-adik ku seperti sudah lapar, bisa ngak kami tinggal sebentar untuk makan di depan itu?"
"biar nenek aja yang jaga disini, bawa adik-adik mu makan, uangnya ada di dalam tes nenek ya."
Bukan dokter yang menjawabnya tapi nenek, memang terlihat dua bocah ini lapar dan akhirnya kami tiba di depan klinik ini.
Penjual nasi uduk atau nasi lemak, karena memang masih pagi sekitar jam delapan lewat gitu dan langsung memesan.
Sementara aku dan nenek sudah makan dari rumah, tapi melihat kedua adek makan dengan lahap dan akhirnya aku juga.
Pantasan mereka berdua makan dengan lahap, ternyata nasi uduknya enak.
"bisa mintak tambah ngak bang?"
Ucap yang paling kecil, dan langsung aku minta dua porsi lagi.
Akhirnya kenyang juga, dan aku memesan lontong dengan sayur nya terpisah. untuk adek yang di klinik nanti dan nasi uduk untuk nenek.
Sesampainya di klinik, terlihat wajah bocil itu sudah mulai normal.
"lapar bang, aku lapar nek."
Sesegera mungkin nenek memanggil dokter nya dan bertanya apakah adek ini bisa makan atau harus menunggu.
Dokter memperbolehkan untuk makan, tapi harus makanan yang lembut.
Selesai makan, perawat memberikan obat berupa tiga pil dan anak itu langsung menelannya.
"kami bertiga tidak punya siapa-siapa di dunia ini, bisakah kami bertiga ikut nenek dan abang ke rumah?
Kami bertiga bersedia kerja keras, asal ada makanan, tempat tinggal yang layak dan juga pakaian untuk kami."
Nenek langsung menangis mendengar nya, anak laki-laki yang masih di infus itu memohon untuk tinggal bersama kami.
"panggil nenek ya, dan ini abang kalian namanya Bernat, satu lagi abang yang besar tinggal di rumah namanya bang Jepri.
Kami di rumah punya peternakan, mau ngak kerja di peternakan?"
"mau......"
Ketiganya kompak berkata mau, dan lagi-lagi nenek menangis terharu melihatnya.
"nama ku Togu, yang pake baju merah namanya Riyan dan yang baju ungu namanya Juna."
Ternyata yang sakit itu bernama Togu, dan dua temannya bernama Riyan dan Juna. itulah awal bertemu.
__ADS_1
Aku mengira mereka bertiga bersaudara, tapi ternyata ngak. bahkan mereka bertiga beda suku hanya umur mereka saja yang hampir sama.
Mereka bertemu bertemu di jalanan, dan sama-sama mengais rezeki untuk sesuap nasi.
Kisah hidup mereka bertiga sama-sama tragis, setelah orang tua mereka bertiga meninggal lalu di usir dari rumah.**
Sudah seminggu mereka di rumah ini, dan membantu kami untuk kerja.
Dengan bantuan pak Raden tetangga kami yang baik hati begitu juga dan pak Bima kepala lingkungan.
Nenek bisa mendaftarkan mereka catatan sipil, untuk mendapatkan akta kelahiran dan masuk ke dalam kartu keluarga nenek.
Gunanya untuk keperluan administrasi agar bisa mendaftarkan kartu kesehatan dari pemerintah dan juga keperluan lainnya.**
Pagi hari seperti biasa dan kami sudah selesai memberikan makan ternak, lalu terdengar suara nenek yang memanggil kami untuk sarapan.
Kami sarapan bersama-sama dan selesai sarapan lalu minum teh racikan nenek.
"Togu, Riyan dan Juna. kalian disini kan kerja dan sudah saatnya mendapatkan gaji.
Tapi nenek menginginkan kalian menabungnya, seperti bang Jepri dan juga bang Bernat.
Nenek sudah buat janji di bank, agar kalian bertiga punya rekening dan nantinya untuk tabungan kalian.
Tabungan itu nanti untuk kalian juga, kelak nantinya sudah terkumpul banyak uang, gunakan untuk membeli rumah dan yang lainnya.
Kalian bertiga juga cucu nenek, kalian bertiga harus punya masa depan."
Mereka bertiga langsung memeluk nenek dan kemudian kami langsung ke bank dengan menggunakan becak betor.
Rekening tabungan anak sudah dimiliki oleh bertiga masing-masing dan kami semakin kami semakin kompak dan solid.
Keluargaku yang baru ini, menambah rejeki yang baru. Kerbau kami beranak dan ayam-ayam kami semakin banyak.
Suasana rumah yang begitu bahagia dengan kehadiran mereka bertiga, yang bertemu karena nasib yang sama.
Peternakan dan saling mengasihi yang menyatukan kami, kami bersaudara bukan karena sedarah.
Kami bersaudara hanya karena saling mengasihi dan saling membutuhkan.
Peternakan ini memperat persaudaraan kami, hewan ternak yang kadang bertingkah aneh dan membuat kami selalu tertawa.
Kenangan yang pahit dan kenangan yang indah kami lalui bersama di peternakan dan juga rumah peninggalan itu.
Kerja keras, dan saling membantu serta saling mengasihi.
Dari peternakan ini juga ketiga saudara-saudara itu bisa kuliah di kedokteran dan akhirnya lulus dan menjadi dokter.
__ADS_1
Suatu kebanggaan bagi ku tersendiri, walaupun pada akhirnya ketiga abang-abang ku itu tidak menganggap ku sebagai saudara lagi.
Ngak apa-apa, mungkin seperti itu mereka dengan watak aslinya yang sudah diperlihatkan kepada Ku.