
Tapi ada juga benar nya, mereka-mereka itu tidak akan berhenti bertindak sebagai parasit. tapi bagaimana dengan hati ku yang sekarang?
"menurut abang, inilah solusi yang tepat untuk mu Bernat. seperti kata Togu, buat aja seperti cabang usaha dengan kantor pusat di Medan."
"menarik memang, tapi saya butuh waktu bang."
"iya abang tau Bernat, kan abang bilang ngak buru-buru dan jelas lahan itu masih abang tahan dan menunggu kabar darimu ya."
Tanpa terasa waktu terus berjalan dan akhirnya pertemuan ini harus kami akhiri dengan solusi yang luar biasa.
Kamipun pulang bersama, tidak beberapa lama tiba juga di rumah.
"tuh lihat bang, baru aja kita bahas. sekarang sudah nongol kan."
Ucap Togu yang terlihat kesal, karena ada tamu di depan pintu gerbang.
Pintu gerbang terbuka yang dikendalikan oleh Togu melalui kunci mobil, dan seketika itu ekspresi menjengkelkan dari itu langsung terpancar.
Dua orang perempuan dewasa dan satu orang laki-laki dewasa dan tiga anak laki-laki serta satu anak perempuan.
Langsung masuk dan menuju teras rumah, dan mereka seperti langsung menguasai tempat duduk berbahan rotan itu.
Mobil sudah diparkirkan oleh Togu dan kami bersama-sama turun dari mobil lalu menghampiri tamu yang tidak kami harapkan kedatangannya.
"lama banget datangnya, udah kyak pejabat aja."
"apa urusannya sama kalian? terserah kami mau pulang jam berapa?"
Jawaban dari Togu yang membuat perempuan paru baya itu terdiam sejenak tapi wajahnya terlihat kesal.
"puas kau memenjarakan ayah mu?"
"ayahku yang mana? ngak merasa kok punya ayah."
"dasar anak durhaka."
Ucapannya yang sangat seperti mendikte atau menghakimi.
Perempuan itu adalah istri laki-laki yang mengaku sebagai ayah kandung kami, yang menyuruh mendiang bang Jepri untuk mengemis di lampu merah jalanan.
"mau ngapain datang kemari?"
Seketika pria yang masih muda itu, mungkin seumuran dengan si Anggi atau Firman, dan berjalan mendekat ke arahku.
"kita saudara Bernat, sudah seharusnya saling tolong menolong.
Jangan egois gitu dong, harta itu ngak dibawa mati ke alam baka sana."
__ADS_1
"terus mau apa?"
"masih nanya lagi?.....
ini rumah ada hak ayah disini, dan tentunya kami anak-anaknya punya hak juga disini.
Jual dan bagikan atau bagikan yang menjadi hak untuk saudara-saudara mu."
"saya ngak saudara bro, sudah jelas-jelas di akta lahir saya itu tidak nama seorang ayah.
Ngak usah ngaku-ngaku sebagai saudara, orang sekalipun bisa mengatakan seperti itu.
Kalau keberatan dengan perkataan saya, silahkan gugat ke pangadilan dan tunjukkan dimana harta ayah mu itu."
"kita ini saudara dari satu ayah, dan hak kami ada di sini, rumah ini adalah warisan keluarga kita.
Allah murka bagi hambanya yang tamak dan rakus, dan Allah akan mengutuk hamba yang tidak memberikan hak waris kepada saudaranya.
Warisan itu hak bersama dan sesungguhnya terkutuk seorang hamba yang menghambat pembagian atau tidak membagikan warisan.
Itu hukum Allah dan wajib kita patuhi, janganlah kamu tamak saudara ku?"
"hadehhh......
saya ngak tau dan tidak pernah mendengarkan ayat itu di kitab suci, mungkin itu kitab karangan mu.
Untuk mendukung ucapan dan tindakan mu sendiri demi keuntungan mu pribadi.
Rumah ini warisan dari mendiang kakek dan nenek dari pihak ibu kami.
Tidak hubungannya dengan keluarga mu, sementara ayah mu itu bukan siapa-siapa disini.
Ngak usah sok agamis gitu, jangan membawa-bawa nama Tuhan atas dasar kerakusan mu.
Jika kau ingin uang, ya kerja. bukan mengemis seperti ini dengan membawa-bawa nama Tuhan.
Diriwayatkan dari Sahabat ‘Abdullah bin ‘Umar Radhiyallahu anhuma , ia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
Seseorang senantiasa meminta-minta kepada orang lain sehingga ia akan datang pada hari Kiamat dalam keadaan tidak ada sekerat daging pun di wajahnya.
Sebaiknya kamu kerja dan jangan mengemis, jika kau butuh pekerjaan, datang samaku dan siap untuk kerja di peternakan."
Seketika pria yang bernama Dimas itu terdiam dan sorot matanya yang mengisyaratkan dendam.
"sudah banyak orang-orang seperti mu, orang yang menjual dan mengobral ayat suci demi keuntungan pribadi.
Sudahi perbuatan mu, mari kita bekerja untuk keluarga dan diri kita sendiri."
__ADS_1
Mungkin ucapan ku membuatnya tersinggung atau menusuk kalbu hatinya dan membuat pria itu terdiam.
"ayah di penjara dan itu atas pengaduan mu melalui pengacara mu.
Apa ngak kasihan dengan adek-adek yang masih kecil itu?
Mereka butuh sosok ayah dan...."
"terus ayah mu ngak kasihan melihat bang Jepri? disuruh mengemis di jalanan dan tidak diberi makan.
kamu hanya memintaku untuk kasihan terhadap anak-anak ayah mu, sementara perbuatannya sudah mengobarkan nyawa abang Ku."
Dengan berapi-api dan ku curahkan semuanya, agar manusia parasit ini paham akan keadaan. kemudian perempuan itu datang mendekati Ku.
"kamu sudah puas membuat ayah mu di penjara? kamu lihat kan adik-adik mu, mereka butu figur seorang ayah.
Jika ayah mu di penjara, lalu siapa yang menafkahi adik-adik mu?
janganlah kamu egois, cabut laporan itu dan berdamai dengan ayah mu.
apa salahnya kau membagi rejeki untuk saudara-saudara mu, kamu tidak akan jatuh miskin jika berbagi.
Berbagai membuat semakin kaya, dan pahala akan mengalir untuk mu.
Kalian itu saudara, lupakanlah masa lalu. namanya juga hidup, ada yang lahir dan ada yang meninggal.
Kematian Jepri itu sudah menjadi takdir, dan tidak hubungannya dengan ayah mu.
Jepri itu mati syahid, dia bekerja untuk adik-adiknya dan Jepri sendiri yang menginginkan pekerjaan itu, karena sudah bosan kerja di peternakan.
Jangan hanya menyelahkan orang lain tanpa mengetahui kebenarannya."
Mendengar ucapan perempuan ini, ingin rasanya ku koyak mulut itu, lalu Togu mendekati ku, kemudian memegang pundak ini, mungkin untuk menghindari malapetaka.
"Abang masuk ke mobil ya, biar Juna yang menangani tamu yang tidak di undang ini."
"anak durhaka, anak kejam.... dasar biadab..."
Itulah yang di ucapkan oleh perempuan itu dan Togu menutup kupingku seraya menuntun ke arah mobil.
Tidak berapa lama kemudian, Riyan dan Juna datang bersama anjing peliharaan Togu.
Seketika mereka-mereka itu keluar dari teras rumah itu dan Togu sudah melakukan mobil.
Mengarah ke sebuah kafe yang bertema alam terbuka, yang merupakan tempat tongkrongan yang kebanyakan anak muda.
"kafe ini adalah pelanggan tetap dari peternakan kita bang, yuk kita kesana aja."
__ADS_1
Ujar Togu dan mengajak Ku ke arah sudut ruangan terbuka.
Setelah memesan makanan dan minuman, dan kami berdua hanya terdiam.