TALI PERSAUDARAAN YANG PUTUS

TALI PERSAUDARAAN YANG PUTUS
Keluarga Tidak Harus Sedarah.


__ADS_3

Semuanya berjalan sesuai dengan keinginan kami bersama dan peternakan ini semakin meningkat produksi nya.


Akhirnya kami bisa mengirim produk hasil peternakan dari Lampung ini ke pasaran internasional melalui bang Yusuf.


Tentunya membuat penghasilan kami semakin bertambah banyak.


Rumah Arpin dan Boy sudah jadi dan terbilang cukup mewah dan unik, dan siap di huni dengan perlengkapan rumah tangga yang lengkap.


"anak-anak......


yuk ngumpul di rumah Arpin dan Boy, kita sambut orang tua mereka di sana."


Ucap bapak mertuaku yang datang bersama bapak mertuanya Riyan menemui kami di belakang.


Segera kami berganti pakaian yang layak, untuk menyambut kedua orangtuanya Arpin dan Boy.


Kami semua sudah bersiap di halaman rumah Arpin dan Boy, tidak berapa lama kemudian dua mobil pribadi telah menghampiri kami.


Arpin dan Boy, menuntun kedua orang tua mereka turun dari mobil lalu...


Mama Arpin dan Boy tiba-tiba saja memeluk ku secara bergantian, dan kedua ibu itu menangis lalu memeluk ku lagi dan lagi.


Seketika semua bengong, karena bapak mereka berdua juga ikut memeluk ku secara bergantian.


"Nak Bernat, terimakasih ya karena sudah mendidik anak-anak kami dan telah berhasil membuat Arpin dan Boy menjadi anak laki-laki yang mandiri dan hebat."


"sama-sama ibu, tapi itu semua karena kerja keras Arpin dan juga Boy.


Tanpa kerja keras, mereka ngak akan jadi apa-apa dan ibu serta bapak yang mendidiknya dari rumah."


Rasa haru memenuhi kami semuanya, dan setelah nya, barulah kami makan bersama di depan rumah Arpin dan Boy.


Sungguh khidmat dan luar biasa, kami disini makan bersama layaknya keluarga besar.


"Bapak dan mamak datang nya lebih cepat dari perkiraan Arpin, karena mereka di usir oleh anak-anaknya.


Rumah tinggal yang tinggal satu-satunya, sudah di jual dan dibagi rata oleh mereka bang.


Bahkan mereka ngak tau dan ngak mau tau, bapak dan mamak mau pergi kemana.


Sebab mereka sudah punya uang dari hasil penjualan rumah dan kebun."


Ujar Arpin yang datang ke dekat ku bersama Boy, dan cerita Boy beda tipis lah dengan cerita dari Arpin.


"Setidaknya Boy dah tenang, bapak dan mamak sudah tinggal serumah dengan Boy.


Ngak akan kepikiran lagi, bagaimana nasib mamak menghadapi anak-anaknya, apakah bapak dan mamak sedang sakit, apakah sudah makan? dan sebagainya.

__ADS_1


Disini keluarga banyak, klinik serta rumah sakit dekat, pasar dekat dan kekeluargaan yang sangat hangat.


Bapak dan mamak juga nantinya bisa ikut kerja kalau bosan hanya di rumah aja, seperti bapak ibu mertua nya abang.


Boy sudah bisa kerja lebih konsentrasi lagi, karena yang membuat Boy selalu kwatir sudah ada disini bersamaku."


Ngak bisa berkata apa-apa lagi dan hanya bisa tersenyum, saat melihat Arpin dan Boy terlihat begitu bahagia. sebab kedua orangtua mereka sudah bersama mereka saat ini.


"Arpin....


Boy......


Apakah saudara-saudara kalian nantinya akan mendatangi kalian ke sini?"


"ngak apa-apa didatangi bang, itupun kalau mereka punya ongkos untuk datang kemari.


Mereka kok yang membuang orang tua, setelah mendapatkan harta kekayaan yang mereka inginkan.


Dibesarkan udah, sekolah udah, bahkan disuruh kuliah dan biayai agar hidupnya menjadi lebih baik.


Kedua orang tua kami sudah berjuang semampunya dan kami anak-anaknya sudah dewasa.


Kedua orangtuaku masih berharga bagiku, sehingga Arpin meminta mereka untuk tinggal di bersama dengan Ku, sampai akhir nantinya kami berpisah karena maut yang sudah pasti."


Semua ucapan Arpin dan juga Boy, benar adanya dan sudah seharusnya seperti itu.


Setidaknya harus berbuat yang terbaik untuk hidup ini, karena hidup terus berjalan dan kita punya cerita hidup yang berbeda.***


Sudah hampir setahun berada di Lampung ini, dan semuanya berjalan sesuai keinginan dan saatnya kembali ke medan.


Setelah berpamitan dengan keluarga dan bersama istri dan anakku, kami bertiga pulang ke medan.


Banyak cerita yang bermakna dari semua kejadian dan peristiwa ini.


Para tetangga yang awalnya komplain karena ulah dari saudara-saudara Ku dan kembali kami damai, setelah menyerahkan semuanya ke pihak berwajib.


Mereka semua sudah mendapatkan ganjarannya dan semoga saja bertobat.


"bang Bernat, kami mau bicara bang."


Ucap Togu yang datang menghampiriku dan dia tidak sendiri.


Togu, Riyan, Juna, serta para istri dan juga Arpin dan Boy. mereka di dampingi oleh bang Jidan yang datang bersama istrinya.


Mereka mendatangiku yang duduk santai bersama Risa istriku di belakang kantor ini, rumah peninggalan kakek dan nenek yang sudah di jadikan sebagai kantor pusat.


"kapan Riyan kemari?"

__ADS_1


"baru tadi pagi, karena kami ingin bicara dengan abang."


Sepertinya sangat serius, sehingga mereka sepakat untuk bicara dengan ku.


"Khusus Togu, Riyan dan juga Juna. kalau bukan karena abang, mungkin saja kami masih tetap di jalanan atau mungkin sudah meninggal.


Cinta dan kasih sayang abang, membuat kami bertiga khususnya, menjadi manusia yang jauh lebih baik.


Bang Bernat adalah abang kami, bapak bagi kami dan juga saudara laki-laki kami.


Kami bertiga sudah berkeluarga dan punya anak, takutnya ke depannya nanti. anak-anak kami akan merasa berpunya di peternakan ini.


Kami sudah membuat draft pernyataan dan juga perjanjian, dan itu hanya untuk berjaga-jaga ke depannya.


Terlepas dari semua hal dan drama kehidupan yang telah kita lalui, agar tidak terulang di kemudian hari.


Saat ini, kehidupan keluarga adek-adek mu, sudah bisa dikatakan sangat mapan, tapi kami tidak tau akan anak-anak kami nantinya."


Sungguh di luar dugaan Ku, pernyataan dan perjanjian yang mereka buat dan membuat hati ini benar-benar haru dan tidak tau berkata apapun.


Dalam pernyataan dan perjanjian, dinyatakan bahwa semua lahan peternakan dan sebagainya adalah milikku dan adek-adek hanya mempunyai beberapa saham.


Saham yang kami artikan adalah penamaan modal tambahan untuk melebarkan sayap peternakan kami ini, dan menjadikannya sebagai bagi hasil akan modal investasi.


Sisanya adalah gaji dan bonus berdasarkan kinerja.


Adek-adek takut, jika dikemudian hari. keturunan kami berebutan lahan peternakan ini, sehingga membuat kekacauan.


Pernyataan dan perjanjian ini di buat, demi kelangsungan peternakan yang berjaya dan kami sama-sama sepakat akan hal itu.


Kemudian kami merayakan kesepakatan bersama tersebut, semua demi keluarga yang utuh dan kelangsungan peternakan kami kelak nantinya.


Keluarga ini benar-benar keluarga yang membuat ku nyaman dan bahagia.


Tanpa ikatan darah dan kami semua berasal dari latar belakang keluarga yang berbeda dan kemudian menyatu dalam satu wadah keluarga yang harmonis.


Inilah keluarga Ku yang sebenarnya, keluarga yang penuh kasih sayang dan kepedulian terhadap sesama.


Kami semua menjadi keluarga, karena kepedihan hidup, kami saling membutuhkan dan saling mendukung satu sama lainnya.


Saling mengasihi dan peduli terhadap sesama keluarga.


Orang lain bisa menjadi keluarga kita, sementara keluarga kita sendiri bisa menjadi musuh yang mampu menghancurkan kehidupan kita.


Keluarga tidak harus sedarah.


Tapi Keluarga yang sebenarnya adalah, keluarga yang ada saat kita dalam duka maupun suka.

__ADS_1


Sama-sama berjuang untuk hidup dan saling peduli dan mengasihi.


__ADS_2