
Hati ini tidak bisa ku pungkiri, kalau tatapan Risa dapat menyejukkan hatiku.
kok ngaco gini ya?....
"kenalkan bang, nama saya Naura dan saya satu kelas dengan Risa serta Diana.
Teman saya ini Ekavira, dan teman ku jurusan pertanian dan kami sama-sama semester akhir yang sedang mencari objek penelitian untuk skripsi kami.
Memang disini sudah ada Arpin dan Boby, mereka berdua fokus pada peralatan pengolahan pakan ternak.
Sementara Diana fokus pada gas limbah dari kotoran ternak dan kualitas pakan terhadap kualitas daging ternak dan turunannya, dan rencananya Naura ingin mengembangkan rencana penyaluran hasil peternakan menjadi kualitas terbaik.
kualitas daging yang terbaik yang mampu bersaing di pasar domestik maupun internasional.
Sementara Ekavira ingin fokus ke bagian limbah ternak untuk dijadikan pupuk kompos yang lebih praktis dan tentunya lebih murah dengan kualitas yang super serta ramah lingkungan."
Naura yang menjelaskan sementara yang lainnya makan tomat dari kantong plastik yang baru di petik oleh bu Risma.
"ya ampun.....
itu tomat belum di cuci, benar-benar kalian ini."
"tenang aja bude, tomat nya organik kok."
Bu Risma hanya bisa menghela napasnya dan kemudian Riyan dan Juna sudah membawa makanan dalam nampan yang besar.
"daripada makan tomat yang belum di cuci, lebih baik kita makan kolak labu yang dicampur dengan pisang kepok."
Naura malah bengong melihat Riyan yang menyajikan kolak itu, sementara Ekavira memperhatikan Juna dan Diana fokus kepada Togu yang duduk samping Ku.
Tidak ketinggalan Risa yang selalu menatap sedari tadi.
"ayo makan, kalau sudah dingin kurang enak kolak nya."
"iya banggggggg.........."
"dasar gadis ganjen....."
Tiba-tiba aja kalimat itu keluar dari mulut bu Risma dan dengan serentak ke empat gadis itu menatap bu Risma.
"Risa.....
bude ini curang ya, mengetahui markas cowok-cowok ganteng tapi ngak mau ngasih tau kita.
pantasan aja betah kerja disini?"
"diam kau Naura, banyak kali cakap mu.....
kalian ke sini mau penelitian atau mau melihat cowok-cowok ganteng ini?"
"dua-duanya bude....."
Begitu serentak mereka menjawabnya dan seketika suasana hening lalu.....
"waouuuuu.....
kolak nya enak.....
siapa yang masak? ajarin dong."
"aku yang masak."
Seketika itu juga Naura langsung berdiri dan berhadapan langsung dengan Riyan.
"calon suami yang sempurna, selain tampan ternyata jago masak.
__ADS_1
meleleh hati ku bang....."
hahahaha haha hahahaha haha hahahaha haha hahahaha haha
Kami hanya bisa tertawa dan aku bisa merasakan apa yang dirasakan oleh Riyan.
"duduk kalian semua dan makan yang benar, jangan seperti gadis kurang ajar.
duduk...."
Keempat gadis itu akhirnya tenang dan mereka kembali menyantap kolak buatan Riyan.
"Risa.....
kau fokusnya kemana?"
"bang Bernat bude."
Seketika air yang baru aku minum dan harus keluar dari hidung, sakit dan gimana gitu.
"yang betul kau ngomong, nanti mamak mu ngomel-ngomel kalau lama lulus."
"iya bude ya iya.....
kalau Risa itu fokus nya di kesehatan ternak, teruma pada hewan besar seperti sapi dan lembu.
Skripsi kami bang Bernat, saling berhubungan satu sama lainnya, yang bertujuan untuk peningkatan peternakan ini dengan metode ilmiah dan pembaruan.
Sama seperti hatiku yang secara langsung terhubung dengan hati mu bang...."
uhmmm.......
Bu Risma bergumam yang membuat Risa berhenti bersikap manis.
"yang betul ngomong nya, jangan sia-siakan segenap kelelahan orang tua kalian hanya demi percintaan.
Setelah lulus kemudian kerja, minimal bisa mengobati rasa kelelahan orang tua kalian. setelah itu terserah, nikah atau gimanapun.
Paham?"
"paham bude....."
Jawab secara kompak dari keempat gadis itu, dan lagi-lagi hati ini bergetar saat berpapasan dengan tatapan dari Risa.
"ada ngak untungnya untuk saya?"
"ada dong bang Bernat, nantinya bisa mengaplikasikan penelitian kami di peternakan ini demi peternakan yang bagus dan tentunya berkualitas.
Ternak yang berkualitas dengan pengeluaran cost yang terkontrol, sehingga mampu bersaing di pasaran.
Sama seperti hati ku yang terhubung langsung ke abang."
uhmmm.....
Lagi-lagi bu Risma melakukannya dan seketika itu juga ponakannya itu terlihat serius.
"nantinya kami akan meninggalkan hasil penelitian kami untuk aplikasikan, tidak hanya itu bang.
Ketika bang Bernat ingin mengaplikasikannya, dan kami wajib mendampingi para karyawan sampai mahir dan menghasilkan sesuai keinginan.
gimana abang, kapan adek di lamar?"
"Risa.....
serius kenapa Risa! mau bude adukan ke mama mu haaa....."
__ADS_1
"ampun bude."
Seketika kami terdiam dan Naura menyodorkan dokumen yang sudah di jilid rapi dan aku langsung menandatanganinya.
"loh....
kok langsung ditandatangani bang? ngak dibaca dulu gitu?"
"ngak perlu Naura, para karyawan yang ada disini adalah rekomendasi dari sesama karyawan.
Semuanya bekerja dengan baik dan sesuai harapan, bu Risma adalah pegawai yang sudah beberapa merekomendasikan karyawan dan top banget lah.
Kalian kan disini studi atau apapun itu jenis nya, sudah saatnya ada gebrakan dari dunia pendidikan untuk memajukan peternakan.
Namanya penelitian, antara berhasil dan gagal dan berharap kalian semua berhasil agar bisa cepat wisuda dan semoga berguna untuk peternakan ini.
Togu.....
tolong ambilkan stempel kita dan nanti stempel aja langsung."
Togu sudah bergerak bangkit dari tempat duduknya dan hendak di ikuti oleh Diana dan langsung di tarik oleh ibu Risma.
"duduk....."
Dengan cemburut Diana nurut akan perintah bu Risma.
"khusus di lapangan, katanya abang di bantu oleh ke-tiga abang-abang yang ganteng itu ya.
kami juga butuh tandatangannya bang, sebagai penanggungjawab di lapangan."
"mintak aja langsung, ngapain harus melalui aku."
Dengan sok anggun dan sok cantik, Naura mengambil dokumen itu dan mengarah ke arah Riyan tapi......
"Riyan, Juna.....
abang kalian sudah setuju agar anak-anak ini bisa penelitian disini, cepat tandatangani dokumen ini."
Seketika Naura langsung bermuram durja, karena hilang kesempatan untuk mendekati Riyan.
Dokumen itu langsung di ambil oleh bu Risma, dan meminta kedua adik-adik ku untuk menandatangani dokumen itu.
"Togu...
duduk dan tandatangani berkas ini, karena abang mu sudah setuju."
"iya iya bu."
Togu yang baru tiba di meja ini dan langsung menandatangani berkas yang disodorkan oleh bu Risma.
Keempat gadis itu bengong melihat aksi ibu Risma.
"the power of emak-emak ya."
Seketika kalimat itu keluar dari mulut Naura dan segera bu Risma menyerahkan dokumen setelah di cap oleh Togu.
"bang Bernat ngak mau nganterin Risa pulang?"
"ngak....
Bernat itu capek, pulang sama bude aja naik becak betor.
ngak usah manja, yuk pulang semua. dasar gadis ganjen."
Dengan wajah yang cemberut, ke empat gadis itu mengikuti bu Risma.
__ADS_1
haha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha haha hahahaha
Kami berempat dengan serentak tertawa, dan inilah rasanya bahagia yang sederhana.