TALI PERSAUDARAAN YANG PUTUS

TALI PERSAUDARAAN YANG PUTUS
Kisah Arpin dan Boy.


__ADS_3

Ternyata istri yang berpendidikan tinggi sangat membantu ku, mulai dari mengelola keuangan keluarga, manajemen ternak dan hal sebagainya.


Risa yang awalnya centil dan juga sangat diragukan oleh bapak-ibu mertua, yang katanya hanya bisa merepotkan dan jadi beban hidup.


Tapi tidak bagiKu, istriku sangat cekatan, teliti dan ulet.


Selalu ada solusi dari setiap permasalahan yang ada, seperti kata bang Yusuf. komunikasi yang lancar dan intens, dan itulah yang aku praktekkan.


Kemarin ibu mertua nelpon, katanya kangen sama kami, terutama anak ku.


Jadi kami harus berkunjung ke sana, sekaligus memantau perkembangan cabang peternakan kami disana.


"bang.....abang......"


Suara itu milik Arpin, yang mendatangi ku di sela-sela istrihat di belakang rumah peninggalan kakek dan nenek ini.


"iya Arpin, dah satu tahun lebih ya. Arpin mau pamit pulang ke kampung?"


"ngak bang, justru aku kemarin karena mendengar abang dan kakak mau ke Lampung.


Arpin mau kerja disini aja, tapi tempatkan ke Lampung ya."


"aku juga."


Boy yang merupakan satu angkatan dengan Arpin, ikut nimbrung. tapi mereka kan mau buka peternakan di kampung nya, tapi kenapa malah ikut ke Lampung?


"cerita deh, siapa tau abang bisa bantu. Arpin duluan yang cerita karena Arpin yang duluan menghadap abang."


haaaa.....


Arpin menghela napasnya dan kemudian menatapku dengan tatapan yang sayu, sepertinya berat, sehingga tatapan itu sangat sayu.


"Arpin itu bang anak terkahir dari empat bersaudara dan kami semua laki-laki, kami itu seperti susun paku, umur kami hanya selisih satu tahun aja.


Kami berempat sama-sama di kuliah sesuai dengan kemauan kami, dan semua berangkat dari kampung halaman untuk kuliah.


Hanya Arpin yang kuliah di Medan ini, sisa nya di pulau Jawa sana.


Arpin yang kuliah terakhir dan sudah lulus serta langsung kerja disini, tapi saudara-saudara itu ngak lulus sampai sekarang dan pada akhirnya di DO (drop out) dari kampus nya masih-masing.


Ternyata mereka di DO karena bermasalah, memukuli adik-adik senior dan di penjara bang.

__ADS_1


Kemudian mereka lepas karena ada perdamaian diantara mereka, dan tentunya dengan cara ganti rugi dan kedua orang tua kami tidak mengetahui hal itu.


Alasannya biaya penelitian skripsi dan sebagainya.


Selama ini kedua orangtuaku mengirimkan mereka uang dan itu a untuk istri-istri mereka.


Hadehhh.......


Lalu mereka pulang kampung dan kemudian mintak warisan, karena semuanya pada egois dan mementingkan diri sendiri akhirnya semua diambil mereka kecuali rumah dan setapak kebun di rumah.


Mamak berkata, percuma Arpin pulang kampung karena abang-abang Ku nantinya akan menjadi parasit untukku.


Bisa aja Arpin membeli lahan di kampung, lalu membuka peternakan.


Tapi mamak dan bapak sangat yakin, kalau ke-tiga abang-abang Ku pasti akan menjadi parasit yang akan mengrogotiku.


Bahkan hampir setiap mereka meminta uang kepadaKu, yang katanya ponakan sakit lah, beli baju lah dan sebagainya.


Mereka mengancam akan mendatangi ku ke sini, hanya untuk sekedar mintak uang, karena Arpin ngak mau kirim uang.


Gila kan bang.....


Tabungan ku sudah lebih dari cukup untuk membeli rumah disana nanti, Arpin mau tinggal di Lampung aja dan sudah mantap dengan rencana ini bang.


Disana aja ada bang Riyan dan istrinya, yang menjadi keluarga terdekat nantinya.


kalau bisa rumah yang hendak Arpin beli, jangan jauh-jauh dari rumah bang Riyan.


Rencananya setelah punya rumah disana nantinya, Arpin ingin membawa ke dua orang tua ke sana, agar tidak menderita karena perbuatan ketiga abang-abang dan juga istri-istri mereka."


"kisah Boy hampir mirip dengan kisahnya Arpin bang.


Hanya beda tipis, kalau Arpin hanya tiga abang-abang Nya, sementara keluarga Boy.


Mulai dari tiga abang-abang dan dua kakak perempuan yang sudah berkeluarga.


Mereka semua parasit dan perlu di hindari, dengan cara menghilang dari jangkauan mereka.


Toh juga kalau Boy masih bekerja di bidang Ku dan masalah gaji sudah jauh melebihi pegawai negeri sipil.


Boy juga sudah punya tabungan yang kemungkinan cukup lah membeli rumah di Lampung nantinya, dan jika sudah rumah yang layak dan akan membawa kedua orang tua untuk tinggal di sama Boy.

__ADS_1


Kalau bisa sih nggak jauh-jauh dari bang Riyan dan juga Arpin, sebagai keluarga terdekat yang Boy punya."


"kalian berdua akan batal berkarborasi sesama peternak dengan abang nanti?"


"mau gimana lagi bang, mungkin belum menjadi pengusaha peternak.


Lagi pula Arpin, sudah sangat nyaman kerja disini karena kehangatan rasa persaudaraan. kenyamanan itu yang paling penting, daripada menjadi pengusaha yang penuh dengan parasit."


Lagi-lagi Boy membenarkan ucapan Arpin dan kami saling bertatapan yang membuat kami saling tertawa.


"Kami berdua sudah ngobrol sama kak Tiara, nantinya nama kami akan dicoret dari karyawan disini.


jika kelak keluarga kami datang kemari, sudi kiranya memberitahu kalau kami berdua sudah pergi dari sini dan entah kemana perginya."


"iya bang, karena capek ditelpon terus untuk mintak uang dan selalu mengancam akan buat keributan disini jika tidak mengirimkan uang kepada mereka."


Sanggah Boy akan perkataan Arpin, sejenak aku berpikir, kenapa ya rata-rata pegawai ku selalu bermasalah dengan keluarganya.


Mungkin karena aku juga kali ya, sebab dari awal sudah bermasalah dengan keluarga ku sendiri.


Mungkin keadaan seperti ini yang membuat kekeluargaan kami disini semakin hangat, karena sama-sama memiliki keluarga yang ada parasit nya.


"rencananya besok pagi akan berangkat ke Lampung, kalau memang rencana kalian berdua ini sudah bulat, biar abang mintak ke kakak kalian untuk menambah tiket nya dan itu free.


Mungkin nantinya gaji kalian tidak akan sebesar disini, karena peternakan disana belum banyak menghasilkan.


Tapi.....


Abang akan menghibahkan tapak perumahan persis di samping rumah Riyan dan istrinya disana.


Tidak juga juga dari rumah bapak-ibu mertua abang, dekat sekolah dan pusat hiburan lainnya serta fasilitas kesehatan seperti puskesmas, klinik dan rumah sakit daerah.


Lapaknya free dan nantinya akan dilakukan pemecahan surat dan dibuat atas nama kalian nantinya.


Perlahan-lahan nantinya bangun rumah yang nyaman untuk kalian nantinya, dan pergunakanlah uang tabungan kalian itu untuk membangun rumah yang layak dan membeli perabotannya."


Seketika mereka berdua langsung memelukku dengan erat, lalu bersujud berterimakasih kepada Sang Pencipta.


Lalu mereka berdua langsung menuju kamar mereka berdua untuk menyusun pakaian mereka dan sebagainya.


Istriku yang cantik langsung memesan tiket pesawat untuk kami berempat nantinya.

__ADS_1


__ADS_2