
Ketiga abang-abang dan ayah kandung serta bang Jepri ikut ke rumah ini, dan seperti biasa mereka enggan untuk masuk ke dalam.
Lalu aku mengambil buku tabungan miliki bang Jepri, dimana saldo tabungan sudah mencapai seratus juta lebih.
"ini buku tabungan nya."
Buku tabungan itu aku serahkan kepada bang Damar, dan ekspresi wajahnya terlihat marah.
"lah kok buku tabungan aja, mana kartu atm-nya?
Gimana cara mengambil uang nya? gila kau ya."
"katanya berpendidikan masa mengambil uang dari bank aja tidak tau?"
Emosi dan semakin emosi itu yang terlihat dari raut wajahnya bang Damar.
Memang aku sengaja tidak meminta kartu atm-nya, karena uang itu aku ambil ketika mau konsultasi ke dokter.
Intinya itu hanya biaya kesehatan dan pengobatan bang Jepri.
Karena telah aku sindir, bang Damar hanya meminta kartu identitas bang Jepri lalu mereka pergi.**
Sudah jam sebelas malam, tapi belum tidur karena memikirkan keadaan bang Jepri saat ini.
drrt..... drrt..... drrrt....
Handphone ku berbunyi, dan ternyata itu panggilan dari bang Jepri.
'halo bang Jepri....'
'abang lapar dek, mana jam berapa kita makan? Riyan ngak masak ya?'
tut....tut.... tut.....
Panggilan terputus dan ketika ku coba untuk menghubungi handphone itu kembali sudah tidak aktif lagi.
"iya Tuhan....
apa yang terjadi dengan bang Jepri? apa belum makan? ini sudah jam sebelas malam."
Berbicara dengan diri sendiri, dan sangat cemas akan keadaan bang Jepri malam ini.
Lalu aku meraih handphone dan mencoba menghubungi handphone bang Jepri, dan lagi-lagi ngak aktif.
Kemudian aku menghubungi bang Jidan, sebenarnya ini tidak etis karena sudah hampir tengah malam dan waktunya istirahat.
'kenapa Bernat?'
'maaf mengganggu ya bang, tadi Jepri menelpon Ku dan sepertinya dia kelaparan.'
'tenang dulu ya, kebetulan lagi di luar dekat dengan tempat tinggal mu, apa perlu abang ke sana?'
'Bernat tunggu ya bang."
__ADS_1
Tidak berapa setelah selesai menelpon bang Jidan, terdengar di luar suara mobil dan segera keluar kamar untuk menghampiri bang Jidan.
Mobil sudah parkir di halaman rumah dan bang Jidan keluar dari mobilnya dan segera aku masuk ke dalam rumah.
"tenang dulu ya, tenang....."
"iya bang, apa yang harus aku lakukan bang?"
Bang Jidan yang baru duduk di sofa langsung menghela napas nya, kemudian bang Jidan meminta air minum.
Setelah minum dan bernapas lega, lalu bang Jidan menatapKu.
"Hanya kamu yang benar-benar mengerti keadaan Jepri, dan sulit baginya untuk beradaptasi di tempat yang baru.
Tenang dulu dan ini baru permulaan, kamu lihat tadi siang bagaimana ekspresi dari Jepri terhadap Mu.
Itu karena pengaruh orang-orang baru disekitar nya dan nyatanya Jepri masih mengingat mu.
Semua itu sudah prosedur Bernat, karena penggugat juga berhak untuk meyakinkan Jepri.
Mereka berhak mendapatkan perhatian Jepri, agar menjadi perwalian."
"bagiamana kalau bang Jepri kelaparan bang? dan bagaimana kalau bang Jepri lupa minum obatnya?"
"karena rasa sayang mu dan kepedulian mu terhadap Jepri, sehingga kamu mencemaskan keadaan nya.
Salah satu keegoisan keluarga yang merebut perwalian yang menyebabkan kekwatiran, dan kita bisa membatalkan waktu kebersamaan dengan Jepri terhadap penggugat adalah ketika Jepri mengalami sesuatu yang tidak diinginkan.
Misalkan sakit, atau penyakitnya kambuh tapi tidak bisa di tangani oleh penggugat.
Sabar dan tetaplah berdoa demi kebaikan Jepri."
"kasihan bang Jepri, oh iya bang. Bernat mau tanya.
besok kan jadwal bang Jepri untuk melakukan kemoterapi di psikolog, apa bisa Bernat membawa bang Jepri ke klinik psikolog itu?
Bagiamana kalau mereka menolak? apa yang harus aku lakukan bang?"
"besok abang temani, tidak ada hak bagi mereka untuk menghalangi Jepri berobat."
"hujan deras dan sudah sangat malam sekali ini, abang nginap disini aja."
"emang bisa?"
"bisa lah bang."
Sebenarnya semua penjelasan dari bang Jidan membuat ku semakin cemas, tapi tetap berpikir positif aja.
Ayah kandung kami tidak mungkin membuat Jepri kelaparan.
Bang Jepri juga sudah aku bekali uang cash senilai dua puluh juta rupiah, kali aja itu cukup sebagai bekalnya.**
Selepas sarapan, bersama bang Jidan kami langsung berangkat ke rumah ayah kandung kami untuk menjemput bang Jepri.
__ADS_1
Sesuai dengan alamat penggugat yang tidak lain adalah ayah kandung kami dan akhirnya kami sampai di halaman sebuah rumah yang sangat kecil.
Mengetuk pintu dan kemudian keluarlah seorang laki-laki paru baya.
"pagi-pagi begini sudah bertamu aja, cari siapa?"
Ekspresi wajah dari pria paruh baya itu sangat lah tidak bersahabat, dengan segera bang Jidan membuka berkas perkara gugatan yang kami terima.
Jujur aku tidak tahu siapa nama ayah kandung Ku, karena kami tidak pernah tinggal serumah dan baru akhir-akhir ini ayah datang menghampiriku karena keinginannya.
"saya Jidan, penasihat hukum clien saya ini. kami datang kemari untuk bertemu dengan Jimmi.
Jimmi membawa saudara klien saya ini ke rumah ini, clien saya ini hendak membawa saudara nya konsultasi."
"Jimmi.....
manusia biadab itu? sudah aku usir dari rumah ini, manusia benalu seperti itu tidak pantas tinggal di rumah Ku.
Pergi kalian dari sini atau saya teriak maling disini."
"tunggu pak, kami datang dengan baik-baik, apa bapak tahu dimana sekarang Jimmi tinggal?"
"palingan di rumah istri keduanya, kenapa Jimmi harus membawa saudara clien itu?"
Bang Jidan memberikan kedipan kepadaKu agar bicara dengan pria tua itu.
"Jimmi itu adalah ayah kandung kami, dan saya baru mengetahui karena selama ini tidak pernah melihat kami anak-anaknya.
Jimmi menggugat hak perwalian abang ku yang bernama Jepri yang membutuhkan perhatian khusus.
Hari ini adalah jadwal konsultasi dengan psikolog pak."
"mari duduk dulu nak, ngak enak dilihat orang kita seperti ini."
Akhirnya pria tua melunak dan mempersilahkan kami duduk walaupun hanya di teras rumah.
"berarti kamu dan saudara-saudara mu anak dari istri pertamanya?"
"sepertinya begitu pak, karena saya mengetahui kalau Jimmi itu ayah kandungku karena datang ke rumah dan mengaku sebagai ayah kandung kami."
"terus mintak sama mu ya?"
"kok bapak tahu?"
haaaaa........
Pria tua itu menghela napas nya, wajahnya yang sudah dipenuhi dengan keriput karena dimakan usia tergambarkan kekecewaan yang dalam.
"Jimmi hanya modal telor, dia itu pengecut dan pengacau.
Dulu ayah mu itu membawa tiga anak-anaknya dari istri keduanya, ntah lah apakah ibu kalian istri kedua atau istri pertama.
Hal itulah yang memicu pertengkaran dan pada akhirnya diputuskan untuk mengusir ketiga saudara mu itu."
__ADS_1
haaaaa.......
Lagi-lagi pria tua menghela napasnya, dan menatapku dengan pancaran kekecewaan.