
Juna sudah menundukkan kepalanya, mungkin karena malu menjadi bahan tontonan dari pengunjung lainnya.
"perempuan murahan seperti kau tidak pantas membahas ibadah.
Kau berkata aib, sementara kau saja sudah melemparkan aib kepada diri mu sendiri dan juga keluarga mu.
Anggi adalah pria yang menghamili kau itu sudah punya dua istri dan juga anak.
Lantas aku harus menikahi kedua istri Anggi juga seperti permintaan mu?
gila kau ya, benar-benar perempuan sinting. bisa-bisanya kau hamil dari laki-laki yang beristri dua dan kau memintaku untuk bertanggungjawab?
hebat..... hebat....
Pelakor kelas murahan, hanya dengan gombalan lantas kau di tiduri berkali-kali sampai hamil.
Ngak ada otak kau ya, orang lain menghamili kau dan aku kau mintak untuk bertanggung jawab."
Perempuan itu akhirnya duduk kembali, dan mengambil tissue yang kemudian berpura-pura menghapus air matanya yang tidak mengalir.
"sekarang aku harus gimana?"
"itu bukan urusan perempuan murahan, jangan kau ganggu aku lagi, dan selesaikan urusan sendiri."
Juna menarik tanganku dan kami berdua langsung melangkah ke arah kasir.
"akan ku gugurkan anak ini."
Teriak perempuan itu dengan begitu kuatnya, dan dari depan meja kasir ini, aku menolehnya.
"terserah kau perempuan ******."
Tanganku langsung ditarik oleh Juna dan belum juga kami keluar sudah dihadang oleh laki-laki paru baya.
"apa yang kamu katakan pada putriku itu?"
"oh jadi kau ayahnya? ayah yang tidak bisa mendidik putrinya hingga dihamili oleh pria yang sudah beristri dua.
hei orang tua.....
Awasi dan perhatikan putri mu agar tidak dihamili oleh laki-laki yang beristri dua."
"apa?....
beristri dua? tapi Anggi berkata kalau dirinya lajang."
"dasar bego....
terus dia mengaku dokter gigi yang punya klinik mewah dan terkenal juga?"
Pria paru baya itu mengganguk dan tatapannya begitu sayu dan tidak seperti tatapannya tadi.
__ADS_1
"selamat anda tertipu dan putrimu sedang mengandung anak dari laki-laki penipu yang sudah beristri dua.
segera temui Anggi di penjara, di kantor Polisi yang tidak jauh dari sini.
selamat tinggal dan semoga kita tidak pernah bertemu lagi."
Juna menarik tanganku dengan segenap kekuatannya sehingga kami akhirnya keluar dari kafe.
Mobil sudah melaju dan kami berdua masih terdiam.
Haha hahahaha hahahaha hahahaha haha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha
"kenapa tertawa?"
haha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha haha
"maaf bang.... maaf bang....... maaf.....
Juna tertawa karena bahagia bang, karena abang yang ganteng ini, akhirnya bisa melawan juga."
"apaan sih?.....
"gitu dong bang, harus kuat, tegar dan tegas. ngapain harus abang yang menanggung beban?
emangnya abang itu bunda Teresa?"
"siapa itu bunda Teresa?"
Akan tetapi bunda Teresa mendapatkan kasih sayang dari orang-orang yang ditolongnya dan menempatkan bunda Teresa di hati mereka.
Karena memang yang di tolong bunda Teresa adalah manusia dan bukan iblis."
Benar kata Juna, bahwa yang aku tolong adalah iblis dan bukan manusia. jika mereka memang manusia tentunya mereka akan balas budi.
Jika mengingat kembali kebelakang, jika bukan karena keegoisan bang Damar, yang menjual rumah nenek.
Kemungkinan besar nenek masih bisa bersama kami saat ini.
Memang benar bahwa kematian itu adalah pasti, tapi kita sebagai manusia bisa berusaha untuk meminimalisir atau memperpanjang usia.
Hati yang gembira adalah obat dari segalanya, bagaimana nenek bisa gembira kalau tempat tinggalnya akan segera di jual oleh cucu sendiri.
Dimana cucunya ini dibesarkan dengan kasih sayang, dan kerja keras untuk biaya pendidikan yang sangat mahal.
Bahkan si rumah sakit saja, bang Damar pura-pura tidak mengenal kami.
Air susu dibalas air tuba, itulah pribahasa yang tepat.
Kalau bukan karena nenek, kami berlima sudah menjadi anak jalanan yang terkatung-katung dan hidupnya ngak jelas.
Waktu kakek sedang kritis di rumah sakit, bahkan sampai meninggal. tidak satupun diantara mereka bertiga yang datang untuk menjenguk, padahal mereka hanya tinggal ngekos tidak jauh dari tempat tinggal kami.
__ADS_1
Katanya sibuk belajar, tapi ternyata sibuk pacaran.
Demikian waktu nenek kritis, tidak satupun diantara mereka yang datang.
Bang Damar sebagai dokter umum, dan bang Anggi sebagai dokter gigi.
Mereka pasti mengenal profesor atau ahli medis, yang bisa menyembuhkan mendiang bang Jepri.
Tapi....
mereka malah membunuh nya dengan keji, seperti melakukan eksperimen terhadap mendiang bang Jepri.
Sejak kelas tiga sekolah dasar atau SD, saya sudah mulai kerja di peternakan kakek. dengan ternak seadanya dan bisa berkembang berkat ilmu dari kakek.
Cara beternak, cara menyiapkan makanan dan juga mengolah kotoran ternak yang bisa jauh lebih berguna dari sekedar kompos.
Semua kakek yang mengajarkan dan kemudian membaca buku-buku yang telah di tulis oleh orang-orang hebat lalu mempraktekkan nya.
Sekolah dasar mengajariku untuk membaca, berhitung dan berpikir.
Hanya itulah modal ku untuk menggarap kehidupan ini, dan modal yang besar adalah, kasih sayang dan dukungan dari kakek dan nenek, mama dan bang Jepri, terakhir Juna, Togu dan Riyan.
Tidak ada lagi rasa empati ku terhadap keluarga dari pihak ayah, semuanya sudah putus dan mati rasa.
Seperti kata Juna, bahwa anjing-anjing yang di pelihara oleh Togu. bahkan anjing-anjing itu membalas budi kepada pemilik nya.
Seakan-akan hewan itu berterima kasih karena di selamatkan dari tumpukan sampah waktu kecil.
Lima ekor anjing, yang berhasil diselamatkan oleh Togu dan di pelihara olehnya.
Menjadi sehat dan lincah, tiap hari menjadi teman dan sekaligus menjadi partner dalam bekerja.
Dulu mendiang bang Jepri selalu menyisihkan waktu nya bermain-main dengan anjing peliharaan Togu.
Pernah suatu ketika datang pelanggan kami yang hendak membeli sapi, untuk keperluan qurban yang akan diberikan kepada panitia kurban masjid yang tidak jauh dari tempat tinggal kami.
Pelanggan yang berjumlah empat orang waktu itu, meminta salah satu anjing. tapi Togu dan mendiang bang Jepri menolak untuk memberikan nya.
Dengan drama yang dramatis, akhirnya anjing peliharaan itu masih lengkap sampai sekarang.
Seperti formasi yang selalu berbaris menunggu kedatangan kami, dan mengibaskan ekornya ketika sudah bertemu.
Mana sanggup melepaskan mereka ke orang lain, di tambah lagi anjing bisa diandalkan untuk membantu memasukkan ayam ke kandangnya.
Bukan hanya itu, lima ekor anjing itu adalah keamanan di peternakan ini.
Berbeda dengan ketiga saudara ku itu, mereka benar-benar parasit yang menggerogoti tubuh ini.
Seandainya mereka hanya punya istri, kemudian fokus untuk pendidikan dan pekerjaan.
Mungkin mereka bertiga sudah hidup mapan, tapi apa?
__ADS_1
Mereka sibuk mengurusi ************.