TALI PERSAUDARAAN YANG PUTUS

TALI PERSAUDARAAN YANG PUTUS
Korban.


__ADS_3

POV Reva.*


Perawat membantunya untuk duduk setelah mengambil kursi dari counter perawat, wajah sang ibu menjadi pucat dan kedua kaki dan tangannya bergetar.


"bola mata pasien harus kami angkat karena sudah rusak akibat tusukan benda tajam.


tusukan benda tajam yang berulang-ulang ke perut pasien yang menyebabkan kerusakan pada usus, lambung, liver, dan juga mengenai kedua ginjalnya.


Kami harus segera melakukan tindakan operasi terhadap pasien, setidaknya kita berusaha untuk memberikan yang terbaik."


"lakukanlah dokter."


Sang ibu langsung menandatangani persetujuan tersebut, walaupun harapan berhasil hanya sepuluh persen dari prediksi medis.


Berjalan ke arah ruang operasi dan menunggu di luar untuk menantikan kabar dari dalam ruang operasi itu.


Satu jam berlalu, tenaga medis bolak-balik keluar dari ruang operasi dan terlihat sangat begitu terburu-buru sehingga tidak mungkin untuk ditanyakan.


Beberapa saat kemudian para tenaga medis itu tidak ada yang keluar dari ruang operasi.


drrrt..... drrrt...... drrrt......


"Andin....."


Mama Reva terlihat terkejut melihat siapa yang menghubunginya melalui ponsel miliknya.


'*kenapa Andin?'


'ibu.....i....b...u........'


hiks.....hikss..... hikszz.......


ngiung.......ngiung...... ngiung..........


'tenang dulu ya Andin, apa yang terjadi? kenapa ada suara ambulan?'


'kedua cucu ibu di tikam perempuan gila....'


'Andin..... Andin...... Andiiin......


apa maksud mu Andin? ibu ngak ngerti*.'


Tut...... tut ...... tut....... tut......


Sambungan terputus dan seketika kepanikan itu terlihat jelas dari raut wajahnya dan berungkali menghubungi Andin.


"coba dulu menghubungi Rando."


Berulang-ulang kali menghubunginya tapi tetap di luar jangkauan.


Bingung dan tidak tau harus berbuat apalagi, putrinya yang bernama Reva sedang berada di meja operasi serta anaknya Reva di rumah sakit ini juga dalam keadaan kritis.


Lalu terlihat empat orang perawat yang sibuk mempersiapkan sesuatu dan langsung di hampiri oleh mama nya Reva.

__ADS_1


"kok kelihatan sangat sibuk, apa ada pasien lain yang mau di operasi?"


"iya ibu, empat anak sekaligus yang mana bagian perut dan mata nya sama persis seperti pasien yang sedang di operasi saat ini.


Belum tau jelas bagaimana keadaan pasien saat ini, tapi yang jelas dokter jaga dari ambulans meminta untuk mempersiapkan ruang operasi.


maaf ya bu, saya mau kerja lagi. permisi ya ibu."


Ujar perawat itu, dan mama nya Reva terduduk di lantai dengan lemas.


"cucuku......"


Dengan segenap sisa tenaganya, lalu berdiri dan berjalan ke arah ruang informasi.


Dari ruang informasi, bisa melihat kesibukan ruang IGD yang hanya berbatasan dengan kaca.


"ya Allah Andin....."


Ucap mama nya Reva dan langsung menemui seorang wanita yang berada di ruang IGD tersebut.


"Andin..... Andin......


cucu ibu kenapa? kenapa seperti ini? apa yang terjadi?"


Belum juga menjawab pertanyaan, tapi mereka berdua segera diminta untuk pergi ke administrasi.


Beberapa saat kemudian, dua perawat menghampiri mereka berdua yang masih di depan administrasi.


"kita harus segera melakukan operasi, saat ini kedua pasien sudah di giring ke ruang operasi."


Ujar wanita itu, yang dipanggil mama nya Reva sebagai Andin.


Lalu mereka berdua menuju ruang operasi yang bersebelahan dengan Reva di ruang operasi.


"apa yang terjadi Andin?"


"perempuan itu yang menusuk perut dan mata anak-anak. katanya ayahnya anak-anak telah menjual ginjal anaknya.


kedua anaknya mbak Nisa sudah meninggal terlebih dahulu sebelum dibawa ke rumah sakit ini, dan pelakunya adalah perempuan itu.


perempuan itu tidak sendirian, dia ditemani tiga orang laki-laki yang sudah berhasil di ringkus polisi."


"apa telah dilakukan oleh Rando dan Randi?"


"Andin ngak tau jelas ibu, tapi Rando dan Randi itu sebagai makelar organ tubuh untuk pasar gelap.


Laki-laki yang membantu perempuan itu, adalah ayah dari anak-anaknya yang organ tubuhnya di jual.


Damar yaitu suaminya Reva, mengajak mereka berdua untuk melakukan itu semua, ini semua ulah dari Damar."


Andin hanya bisa menangis dan menangis di pelukan ibu mertuanya.


"percuma anak-anak ku hidup jika dalam keadaan buta, karena kedua matanya telah di congkel paksa oleh perempuan dan laki-laki itu.

__ADS_1


Lebih mereka mati saja daripada harus cacat seumur hidup."


kreeek......krekkk.......


Pintu yang terbuka membuat Andin berhenti bicara, dan mereka berdua langsung berdiri.


"bagiamana keadaan Reva dokter?"


Dokter itu menghela napasnya dan kemudian menatap wajah mama nya Reva.


"operasi berhasil, mudah-mudahan pasien segera melewati masa kritisnya.


Kami terpaksa mengangkat kedua bola matanya karena sudah rusak, dan membuat implan untuk menutupi bekas mata tersebut."


"jika seandainya ada pendonor mata, apa masih ada harapan untuk Reva melihat lagi?"


"tidak bisa dipastikan ibu, tapi untuk di lakukan di sini itu mustahil.


Mungkin di rumah sakit, peralatan yang canggih serta dokter bedah yang sangat-sangat berpengalaman dan ahli, mungkin saja iya.


Sebentar lagi pasien akan di bawa ke ruang rawat inap, jadi mohon di tunggu di ruang rawat saja."


Dokter itu pergi meninggalkan Andin dan mertuanya disana dan seketika itu juga Andin menangis lagi dan lagi.


Tidak berapa lama kemudian, Reva sudah keluar dari ruang operasi, dalam keadaan tidak sadarkan diri dan matanya yang di perban.


Bersamaan keluarnya Reva dari ruang operasi, pintu ruang operasi yang lain terbuka dan dokter keluar dengan wajahnya yang terlihat lemas.


"pasien tidak mampu bertahan, pendarahan hebat dan kerusakan pada organ vital seperti, usus, lambung, liver dan kedua ginjalnya serta hati nya yang telah hancur.


Ditambah lagi dengan kedua mata pasien yang sudah rusak."


Sang nenek yang terlihat lemas, sementara Andin hanya terdiam dengan air matanya yang berderai.


Tidak berapa lama kemudian, kabar dari anaknya yang kedua telah keluar dan pada akhirnya harus menjadi almarhum.


Dokter dan tim nya memintak maaf, karena tidak berhasil menyelamatkan kedua anak yang malang itu.


"terimakasih ya dokter, kalian sudah melakukan yang terbaik untuk anakku.


Mungkin itulah yang terbaik untuk mereka, saya yakin tidak sanggup melihat mereka berdua cacat seumur hidupnya.


Aku yang salah, karena tidak bisa menjaganya dengan baik."


Prak.....


Tubuh Andin yang sudah lemas akhirnya tumbang dan tergeletak di lantai, segera perawat langsung membawa tubuh Andin ke ruang rawat.


Kini Andin sudah mendapatkan pertolongan medis, dan berapa lama kemudian sudah siuman kembali dan lagi-lagi hanya bisa menangis dan menangis.


"Andin.... A...n....d....i....n......


kenapa semuanya seperti ini? cucu..... cu...c...u....ku......

__ADS_1


cucu ibu sudah pergi semuanya, siapa lagi yang menjadi teman ibu."


Ujarnya seraya menangis dan kemudian pingsan seketika itu, dan mereka berdua sama-sama terbaring lemah di ruang rawat tersebut.


__ADS_2