
Bang Jidan juga melotot ke arah dokter itu tapi masih berusaha tenang.
"tidak ada perlu di salahkan dokter, karena penggugat hak perwalian adalah dokter yang mengaku sebagai dokter terbaik yang bisa merawat pasien.
Bahkan penggugat berdebat dengan dokter jaga waktu itu, dan dokter jaga itu mengenal penggugat.
Tolong jangan sudutkan klien saya, karena klien saya sudah berusaha melakukan yang terbaik untuk abang nya."
"maaf pak, itu karena saya terlalu membawa perasaan.
Saya minta maaf karena menuduh tanpa mengetahui keadaan yang sebenarnya, itu karena keadaan pasien saat ini."
Dokter IGD itu mintak maaf, dan memintak kami untuk menunggu sampai infus itu habis setengah.
prak...prak....prak....
Tiba-tiba saja bang Jepri menggelepar dan matanya terbuka, matanya yang merah seperti orang sakit mata.
Dokter segera bertindak dan perlahan bang Jepri tenang kembali.
"maafkan abang ya, haaaaa....harus ada ko.... korban agar mereka puas.
Te....te.... terimakasih karena telah menjaga abang.
A.....b....ang...... sa...sa.... sayang sama adek, se....sehat selalu dan ja.... jangan lupa bahagia.
Te...te.... terimakasih atas kebersamaan kita, s....a...sa...sampai kapan pun, be....be....Bernat tetap jadi adik abang.
Ja....ngan..... lupa bahagia."
tit.....tit......tit.............t.....i.....t.......
Suara dari monitor itu, dan dokter terus memompa dada bang Jepri.
Tit.....tit......tit.............t.....i.....t.......
Sampai akhirnya bang Jepri dinyatakan meninggal dunia.
Walaupun berat tapi inilah kenyataan yang harus aku terima, dan sebagai walinya aku meminta untuk di lakukan otopsi terhadap bang Jepri.
Suara ku tidak bisa keluar lagi, tapi air mata ku terus menerus mengalir deras di pipiku.
Jenazah bang sudah dibawa ke ruang otopsi dan bersama bang Jidan duduk di ruang tunggu ini.
Rekan kerja bang Jidan langsung mengurus administrasi rumah sakit, sementara bang Jidan menemaniku di ruang tunggu ini.
Hampir dua jam lebih menunggu di ruang tunggu ini, tapi jenazah bang Jepri belum juga keluar dari ruang otopsi.
Riyan menghubungi ku, kalau rumah sudah bersih dan beberapa tamu sudah tiba di rumah, om Bayu dan kedua ibu kami sudah diberi kabar oleh Togu.
Menunggu dalam waktu yang lama, akhirnya jenazah bang Jepri keluar dari ruang otopsi dan sudah di mandikan serta di kain kapan.
__ADS_1
"Bernat pulang sama teman abang ya, biar abang yang menunggu hasil otopsi itu dan kelengkapan dokumen lainnya.
Urus dulu jenazah Jepri, nanti abang nyusul setelah semua berkas-berkasnya lengkap."
Rekan bang Jidan dan kami berdua pulang dengan menumpang di ambulan.
Sesampainya di rumah, om Bayu menyambut kami.
Jenazah bang Jepri sudah berada di ruang tamu, dan harus segera dikebumikan.
Hanya beberapa jam saja aku bertemu dengan bang Jepri dan pada akhirnya harus menyusul mama di alam baka.
Riyan, Togu dan Juna. seketika menangis histeris melihat jenazah bang Jepri yang kaku di ruang tamu ini.
Mereka bertiga yang terbiasa minta saran dan pendapat kepada bang Jepri serta bercanda dan bekerja sama.
kini bang Jepri kami harus berbaring kaku berbalut kain kapan putih itu.
"bang Jepri.......
abang bisa menolak untuk tinggal bersama mereka, tapi kenapa bang Jepri lebih memilih seperti ini?
Siapa lagi yang komplain masakan ku bang? siapa Lagi kawan ku ke pasar bang?
Siapa lagi kawan ku bermain air di kandang kerbau bang?
bang Jepri......."
Begitu juga dengan pak Bima kepala lingkungan yang berusaha menenangkan Togu, sementara pak Raden menenangkan Juna.
"istighfar anak-anak Ku, sudahlah.....
nanti Jepri ngak tenang karena kalian tangisi.
Cukup Riyan, cukup anak-anak, tolonglah jangan seperti ini."
Ucap pak Raden yang mencoba memberikan nasihat kepada kami.
Sulit untuk ikhlas, karena mereka memperlakukan bang Jepri seperti ini.
Ikhlas akan kepergian bang Jepri, dan ketiga adik-adik ku sudah mulai tenang.
Perlahan-lahan para pegawai yang lain sudah tiba di rumah ini, tentunya dengan air mata yang berlinang.
Hari sudah semakin sore dan bang Jepri harus di kebumikan.
Beramai-ramai kami mengantarkan jenazah bang Jepri di tempat istirahat terakhirnya dan akhirnya bang Jepri sudah terkubur bersama kenangan yang sangat banyak.
Kenangan yang akan terukir indah di hati ini, dan tidak akan pernah terhapus.
"kita pulang yuk, sudah mau magrib. kita pulang ya."
__ADS_1
Ujar bang Jidan yang baru tiba dan membawa banyak berkas ditangannya.
Bang Jidan dan juga teman-teman yang lain membantuku untuk bangkit berdiri.**
Tahlilan sudah selesai dilaksanakan, setelah makan malam, para tamu sudah pada pulang dan hanya menyisahkan kami sekeluarga dan juga bang Jidan dengan dokumen yang dibawanya.
Doa-doa untuk melepaskan bang Jepri, sebegai bekal nya menghadap sang pencipta.
Air mata kesedihan yang tiada berkesudahan, memberangkatkan bang Jepri ke tempat istrihat nya yang terakhir.
Om Bayu, ibu Dian, pak Bima dan juga pak Raden, masih disini bersama kami.
"pak pengacara, kenapa bisa seperti ini? apa yang sebenarnya terjadi?"
Pak Bima bertanya kepada bang Jidan, yang memecahkan keheningan diantara kami.
Bang Jidan memelukku dan meneteskan air matanya.
Lalu pelukan itu dilepaskannya dan menatapku dengan tatapan yang lirih seraya menghapus air matanya.
"turut berdukacita atas meninggalnya Jepri, abang yang kamu sayangi dan kamu cintai.
Jepri bahagia punya adik seperti mu Bernat, kamu adalah abang yang luar biasa."
Ucap bang Jidan yang berusaha menguatkan Ku dengan ucapannya yang lembut.
Bang Jidan belum menjawab pertanyaan dari pak Kepala lingkungan, sehingga pak Bima bertanya ulang lagi.
"saya harap Bernat dan keluarga tenang dan bisa menerima apapun itu hasil dari otopsi.
tenang.....dan tenang...... kuatkan hati dan tenang."
Ucap bang Jidan dan aku berusaha tenang untuk mendengarkan hasil otopsi itu.
Apapun itu hasilnya dan siap menerimanya, serta melakukan yang terbaik untuk almarhum bang Jepri.
Bang Jepri adalah penyemangat hidupku dan aku harus melakukan sesuatu untuk nya.
Kemudian bang Jidan membuka amplop coklat besar itu, dan membacanya sesaat.
Kemudian menatapku dengan lirih, sepertinya bang Jidan tidak sanggup untuk menyampaikan hasil otopsi itu.
"pak pengacara...."
Pak Bima memanggilnya dan mengambil dokumen itu dari tangan bang Jidan, lalu membaca dokumen itu.
Beberapa saat kemudian pak Bima terlihat garuk-garuk kepala, lalu menatap bang Jidan dengan tatapan yang ragu.
Kemudian menyeruput kopinya dan kembali membaca dokumen itu dan lagi-lagi garuk-garuk kepala.
"bapak ngak ngerti, tolong jelaskan dong."
__ADS_1
Pak Bima berkata demikian, lalu menyerahkan dokumen itu kepada bang Jidan.