TALI PERSAUDARAAN YANG PUTUS

TALI PERSAUDARAAN YANG PUTUS
Bocil Beringas.


__ADS_3

Anggi memberikan minuman itu kepada anak-anaknya dan kemudian duduk lagi di yang berhadapan langsung dengan Bernat.


"Bernat....


tolong bantu abang kali ini aja, lihat kedua ponakan mu ini, kami di usir dari rumah karena tidak ada uang belanja abang berikan ke kakak ipar mu.


Hidupku sekarang benar-benar hancur, tanpa pekerjaan dan juga di usir istri dari rumah."


"istrimu yang mana mengusir mu?"


"istriku yang ke-dua dan istri pertama juga mengusir Ku karena tidak bisa mengembalikan uang saudara laki-lakinya."


haaaaaaaa......


Napas berat aku hembuskan dan berusaha untuk tenang walaupun membuat dada ini sesak.


"tolong abang Bernat, berikan kepada ku salah satu ruko mu, untuk tempat tinggal sekaligus tempat praktek.


Berikan juga modal untuk membeli peralatan medis klinik gigi."


"berikan? maksud kamu kalau saya harus memberikan ruko secara cuma-cuma kepada mu begitu?"


"jangan perhitungan sama saudara, saya ini abang mu Bernat. ngak kasihan kau melihat keponakan mu ini?


hanya butuh ruko mu aja dan modal empat ratus juta untuk membeli peralatan medis khusus klinik gigi.


Abang ngak mau menjadi dokter di klinik orang lain, karena mereka pasti menerima sembarangan pasien."


huaahhhhhhhh.......


Tarik napas dalam-dalam dan hembuskan, lega untuk sementara.


"tolonglah Bernat, masa kamu tidak ada pengertian kepada Ku, saya ini saudara mu, abang kandung mu."


Kupalingkan wajahku ke dinding dan mengingat kembali akan bukti-bukti transfer yang berhasil aku kumpulkan.


"Tari itu siapa?"


"istri pertama Ku, kenapa?"


haaaaaaaa.......


Jiwa raga ini terhenyak rasanya, ternyata bukan hanya Damar yang menipu ku. nyata aku juga membiayai hidup istri pertama si Anggi ini.


"selain membiayai pendidikan kedokteran mu itu, ternyata saya harus menafkahi istri pertama mu.


lalu kau datang dengan mengatakan kalau saya ini tidak punya pengertian.


Sekarang kau pergi dan bawa kedua anak mu ini dari sini?"


'jangan bergerak, anda kami tahan atas penyelagunaan wewenang yang menyebabkan kematian saudara jepri.'


Akhirnya bang bang Jidan datang dengan membawa petugas kepolisian untuk menangkap Anggi yang sudah meresahkan.

__ADS_1


Anggi meronta-ronta saat dibekuk oleh petugas itu.


Tapi ada yang aneh, kedua anaknya yang masih bocil ini tidak beraksi apapun ketika ayahnya di bekuk oleh polisi.


"karena Papa sudah di polisi, itu artinya om harus merawat kami berdua.


Tapi Felix dan adek tidak mau satu rumah dengan om yang idiot itu."


Ya Tuhanku.....


Bocil ini sudah bisa mengatai seseorang dengan kejam.


"siapa yang kau bilang idiot?"


"siapa lagi kalau bukan om jepli."


Siurrrr......


Darah mendidih mendengar jawaban bocil ini, dan ingin rasanya mencekiknya.


"ayo om kita pulang aja, tapi sebelum pulang kita singgah dulu ke supermarket untuk membeli pakaian kami, susu dan juga makanan yang enak-enak.


Felix dan adek harus makan makanan yang bergizi, dan itu perintah Papa.


ayo cepat om lelet...."


Haduh..........


Sudah muak dengan semua ini, dan tidak ingin lagi berhubungan dengan saudara-saudara sendiri dan juga para keluarga nya.


"Juna....


menurut mu apa yang seharusnya abang lakukan?"


"kirim mereka ke panti asuhan bang, karena kedua anak ini sudah terinfeksi kesombongan Papa nya."


Sejenak aku terdiam dan merenungkan apa yang dikatakan oleh Juna.


Tapi kedua bocil ini adalah keponakan Ku, sementara saya masih sanggup membiayai hidupnya secara finansial tapi dari segi mental saya tidak yakin.


"Juna....


Abang sudah memutuskan untuk merawat kedua bocil ini, jika mental ku aman maka akan aku teruskan, tapi jika tidak maka bantulah aku untuk mengantarkan mereka ke panti asuhan."


Juna menatapku dengan tatapannya yang aneh dan terlihat tatapan aneh bersamaan dengan tatapan iba terhadap Ku.


"ini masih anaknya Anggi, bagiamana dengan anaknya Damar dan Firman."


"entahlah Juna, yang penting jalani aja dulu. kalau sudah tidak sanggup tinggal melambaikan tangan ke kamera aja."


Juna memegang tangan kedua bocil itu dan bersama-sama kami pergi dan masuk ke mobil.


"om punya mobil juga, kirain miskin."

__ADS_1


Ocehannya lagi, siapa sih yang mengajari bocil ini?


Lalu kami berhenti di supermarket yang lumayan besar, di supermarket ini juga tersedia toko pakaian.


Baru aja terparkir dan pintu mobil langsung di buka kedua bocil itu lalu berlari ke dalam supermarket.


"Juna....


tolong urus mobil nya, biar abang kejar kedua bocil itu."


"iya bang."


Lalu aku berlari juga ke arah supermarket dan betapa terkejutnya diriku ini, darah sangat terasa mengalir di sekujur tubuh.


Barang-barang supermarket berjatuhan dan etalase kaca itu pada pecah, dan itu adalah ulah kedua bocil itu yang telah diamankan oleh security dan beberapa orang orang pegawai supermarket.


"Bernat.....


kenapa duduk di lantai nak?"


Aku melirik pemilik suara itu, dan ternyata dia adalah ibu Lia, rekan kerja dan rekan bisnis Ku yang merupakan pemilik supermarket ini.


Lalu aku menunjuk ke arah kedua bocil itu dan bu Lia membantuku untuk berdiri yang kemudian dibantu oleh Juna yang sudah tiba disini.


Malu sudah sampai ke ubun-ubun, tingkah laku dari kedua bocil yang memporak-porandakan supermarket menjadi perhatian pengunjung yang lain.


"Juna....


bawa bocil itu ke kantor dan abang mu ini, biar ibu yang urus."


"iya ibu Lia, terimakasih ya bu."


Ibu Lia memapah tubuh ku yang dibantu oleh security sementara kedua bocil itu di pegang paksa oleh Juna yang terlihat geram melihatnya.


Sesampainya di ruangan bu Lia, dan aku duduk di sofa sementara Juna masih berjuang menahan bocil yang beringas itu.


"bocil ini anak Anggi dari istri keduanya, karena ayah mereka baru saja di tangkap polisi.


Bernat bingung bu, bisa-bisa aku jadi gila karena ulah kedua bocil ini."


Seketika itu juga ibu Lia meraih handphonenya dan menghubungi seseorang.


Setelah selesai menelpon dan kemudian menatapku.


"tidak jauh dari sini, ada panti asuhan dan ibu sudah menelpon petugas nya untuk datang kemari, dengan alasan ada anak yang di buang di depan supermarket ini.


Ibu tidak memberitahu siapa orang tua dari bocil ini yang sebenarnya.


Mereka bersedia menampung kedua bocil edan ini, karena ibu adalah salah satu sponsor untuk panti asuhan itu.


Nak Bernat tenang aja, tidak perlu stres gitu. kamu berhak bahagia nak.


Jangan lagi mau direpotkan oleh saudara-saudara mu, parasit seperti mereka pantas di jauhi."

__ADS_1


Benar juga kata bu Lia, kedua bocil ini harus pergi dari hidupku.


Saat ini juga aku harus menanggung kerugian yang sangat banyak.


__ADS_2