
POV Reva.*
Reva dan mama nya kembali berhadapan dengan dokter di ruangannya dan terlihat dokter itu menggelengkan kepalanya.
"Benar dugaan kami ibu, pasien sudah kehilangan satu ginjal kanannya. sementara ginjal kirinya syok sehingga tidak maksimal berfungsi sebagaimana mestinya.
Saat ini juga pasien sudah melakukan cuci darah, karena ginjal kiri pasien tidak mampu melakukannya.
Kenapa ini bisa terjadi ibu? Kenapa ini tidak mengetahui kalau ginjal sebelah kanan anak ibu hilang."
Dokter seperti mengintrogasi Reva yang masih menangis dan lemas.
"Rando itu ma, itu ulah Rando dan Randi, anak kembar mama."
"kenapa jadi anak mama yang menjadi penyebabnya?"
Mama nya Reva seperti tidak menerima kalau anak kembarnya menjadi biangnya.
tok.... tok..... tok.....
Ketukan pintu itu membuat Reva tidak menjawab pertanyaan mama nya, dan seorang dokter bersama dua perawat mendatangi mereka di ruangan tersebut.
"dokter....
Dua anak lagi yang datang ke IGD dengan kondisi yang sama, masing-masing ginjal mereka hilang.
Pasien laki-laki yang berumur lima tahun, dan ginjal kirinya yang hilang, sementara pasien anak perempuan yang berusia sepuluh tahun dan ginjal kanannya hilang.
apakah dokter masih ingat kasus dokter Damar?"
"iya ingat, dokter yang dipecat dan ijinnya di cabut karena melakukan mall praktek serta ekperimen yang mengerikan itu.
Terus apa hubungannya dengan ginjal anak-anak yang hilang itu."
"ahli bedah yang melakukan pengambilan ginjal anak-anak adalah rekan dokter Damar.
Kami sudah mendapatkan informasi dari pihak kepolisian, dan saat ini pelaku sudah di tangkap satu orang bersama dokter ahli bedah nya.
Saat ini kedua pasien yang kehilangan ginjalnya, sedang melakukan cuci darah karena kasus yang sama seperti pasien yang barusan."
"lakukan observasi."
"baik dokter."
Dokter dan perawat itu meninggalkan ruangan dokter tersebut, dan Reva menatap tajam ke arah mama nya.
"Rando dan Randi meminjamkan uangnya sebanyak enam ratus juta lebih kepada Damar, dan sampai saat ini hutang tersebut belum dibayar Damar.
Rando pernah berkata kalau anak-anaknya Damar yang akan membayar semua hutang ayah nya."
Seketika itu juga dokter menelpon dan tatapannya yang aneh menuju Reva.
__ADS_1
Tidak berapa lama kemudian, dua orang polisi yang di dampingi oleh dokter dan satu perawat mendatangi ruangan dokter tersebut.
"kemungkinan besar bapak polisi bisa menggali informasi dari kedua ibu ini, silahkan dibawa pak polisi."
Ujar dokter tersebut, dan langsung meminta Reva dan mama mengikuti mereka ke kantor polisi.
"dasar biadab...... kurang ajar........
Kenapa ngak ginjal anak mu aja yang di ambil untuk membayar hutang suami mu itu."
Seorang perempuan dengan menangis histeris yang menjambak rambut Reva dan kemudian....
brak......
Reva di banting nya ke lantai lalu.......
ah... ahhhhhh........
Perut Reva mengeluarkan darah yang banyak, karena benda tajam seperti pisau tepat mengenai perut nya.
Lalu mencongkel ke-dua mata Reva dan perempuan itu berdiri dan melarikan diri setelah melakukan aksinya.
"Asiyah......"
Teriak seorang ibu yang ditemani oleh seorang pria dan melihat keadaan yang terjadi, ibu itu terduduk lemas demikian juga dengan mama nya Reva yang melihat kondisi putrinya yang mengenaskan.
Reva langsung ditangani oleh tim medis, sementara yang lainnya di bawah polisi tersebut ke suatu ruangan untuk menghindari kerumunan.
"kenal pak polisi, itu putriku nama Aisyah. kedua anaknya menjadi korban perdagangan organ tubuh manusia.
Kuat dugaan kalau semua itu karena Damar, suami dari perempuan yang di tikam nya tadi.
Pelakunya adalah rekan kerjanya si Damar, itu pasti karena hutang piutang itu."
"apa hubungannya Damar dan putri ibu?"
"Damar saudara kandung dari suaminya Asiyah putriku, dan si Damar brengsek itu sangat jahat dan bejat."
"benar kata ibu ini pak polisi, gara-gara si Damar itu, hancur semua anak-anak ku.
Sudah pening aku ini, dan merasa aku gagal menjadi ibu.
Dari awal saya sudah melarang Reva untuk menikah dengan si Damar, tapi keras kepala dan sulit menerima semua nasihat Ku.
Kuliah sampai S2 dan seluruh untuk menjadi notaris saya tanggung.
Tapi sekarang semuanya hancur, ijin Reva di cabut karena ulah suaminya juga.
Selain memiliki tiga istri yang sah, si Damar brengsek juga punya istri yang lainnya dan anak-anaknya sangat banyak.
Sekarang terserah pak polisi aja, saya sudah benar-benar muak dengan semua ini."
__ADS_1
Mama nya Reva ikut serta dalam percakapan, yang mendukung ucapan mama nya Aisyah.
"sama pak polisi, si Asiyah itu benar-benar keterlaluan dan di luar nalar pikiran Ku.
Setelah suaminya di penjara, saya mau menariknya ke rumah ku lagi, dan tentunya harus kerja dong.
Tapi Asiyah yang luar biasa bodohnya itu tidak bekerja, karena dilarang suaminya.
Daripada beban untukku, lebih baik saya usir dari rumah.
Asiyah dan anaknya harus aku juga yang tanggung?
Asiyah sudah ku besarkan dengan sekuat tenaga dan semampuku.
Sudah sarjana dan bekerja di salah perbankan, tapi suaminya melarang karena istri hanya perlu melayani suaminya.
Edan cara pikir nya, sok paling suci dan sebagainya yang membuat ku jijik melihatnya.
Tadi kata dokter, kecil kemungkinan kedua cucu ku itu untuk bertahan hidup, dan akan segera mati jika tidak mendapatkan donor ginjal yang tepat.
saya sudah pasrah pak Polisi, dan siap bapak panggil untuk memberikan keterangan yang diperlukan.
Ini saya katakan yang sejujurnya pak polisi, sudah muak dengan semua ini, tolong lakukan yang terbaik pak polisi."
Sepertinya polisi itu terlihat bingung dengan keadaan yang sebenarnya, dan terlihat polisi itu menghubungi rekannya.
"pak polisi, tolong tangani secepatnya, takutnya ada korban lain lagi, perbuatan itu sungguh sangat keji."
Pinta laki-laki yang datang bersama mama nya Aisyah dan pak polisi tersebut terlihat sangat sibuk membuat laporannya.
"baiklah bapak ibu, kami akan segera menindaklanjuti laporan ini dan akan segera melakukan penyelidikan.
Kita juga berharap tidak terjadi lagi kejadian yang memilukan ini."
Ujar polisi tersebut dan kemudian pamit untuk pulang kepada mereka.
Terlihat masing-masing dari mereka kebingungan, begitu juga dengan keluarga Aisyah.
"mama disini aja ya, biar aku mencari Asiyah."
"iya...
Mama juga ngak sanggup lagi untuk berjalan, tolong kamu cari Asiyah ya."
Lalu mereka pamit kepada mama nya Reva, dengan jalannya yang lambat dan mamanya Reva meninggalkan ruangan tersebut menuju arah ruang rawat.
"dokter....
bagaimana keadaan Reva?"
"syukurlah karena ibu sudah datang kemari, kami perlu persetujuan dari ibu selaku wali dari pasien."
__ADS_1
Perawat yang bersama dokter itu, memberikan dokumen kepada mamanya Reva dan seketika langsung lemas setelah membaca isi dokumen tersebut.