TALI PERSAUDARAAN YANG PUTUS

TALI PERSAUDARAAN YANG PUTUS
Mahasiswi Cantik.


__ADS_3

Karena tidak ingin kedatangan tamu yang tidak diundang, lalu aku meminta Togu untuk mengunci pintu pagar dan melepaskan anjing peliharaan Togu ke depan.


Kemudian aku kembali ke kamar untuk istirahat, sekedar melepaskan kepenatan dari segala hal yang sudah aku alami selama ini.


Kirain langsung bisa tidur, tapi pikiran ini masih melayang-layang entah kemana.


"iya Tuhanku.....


apa salah dan dosaku di masa lampau? dan kenapa cobaan ini tidak pernah usai."


Pertanyaan yang tentunya tidak pernah aku ketahui kapan terjawab.


Mungkin karena terlalu lelah dan penat, akhirnya aku bisa memejamkan kedua mata ini di ranjang yang tidak terlalu besar.**


Terbangun jam 1 siang dan itu karena dibangunkan oleh Riyan untuk mengajak makan siang bersama.


Untuk di rumah utama, selain ada Riyan, Togu dan Juna. disini juga ada lima ibu-ibu yang kerja khusus mensortir telur ayam dan dua ibu-ibu lainnya yang kerja untuk beres-beres rumah dan juga pakaian kami.


Kami semua makan bareng, dan itu adalah kebiasaan kami dan selesai makan mereka kembali bekerja.


"nak Bernat...."


Suara itu milik ibu Risma, yang bekerja menyortir telur. beliau mendatangi ku di saat ngopi di dekat kolam ikan hias ini.


"kenapa ibu? ada yang bisa Bernat bantu?"


"begini nak, jadi ada keponakan ibu bersama empat orang lainnya, dua perempuan dan dua lagi perempuan.


Ponakan ibu perempuan namanya Risa, mereka ini adalah mahasiswa ahhhhhh......


mahasiswa apa ya?


ahhhhhh........


mahasiswa peternakan, jadi ponakan ibu itu mau praktek lapangan sekaligus penelitian untuk skripsinya, begitu juga dengan teman-teman nya.


kasian ibu melihat nya, belum dapat tempat untuk praktek nya."


"mahasiswa peternakan, kenapa ngak ibu bawa kemari aja? kali aja kita dapat ilmu baru dari ponakan ibu itu."


"gimana ya nak Bernat, masalah nak Bernat aja banyak. ibu ngak tega liat nya, makanya ibu segan bicaranya."


"si ibu ada-ada aja, kan ada Riyan, Togu dan Juna."


"ibu lali nak, karena geram juga dengan tindakan dan perilaku itulah itu.


tapi ponakan ibu bisa datang kemari sama teman-temannya kan nak?"


"iya ibu, sekarang juga boleh."


"terimakasih nak Bernat ganteng, pokoknya ibu yang tanggungjawab jika mereka berbuat yang nggak-nggak disini."


Memang ibu Risma pribadi yang ramah, kocak dan rame. seperti kata orang-orang kalau bu Risma ada maskot di rumah utama ini.


Setelah menelpon seseorang, ibu Risma langsung tersenyum dan kemudian berjalan cepat ke arah pintu masuk.

__ADS_1


Pintu rumah dan pintu keluar para karyawan serta mengeluarkan produk peternakan berbeda.


Tidak berapa lama kemudian ibu Risma, sudah datang bersama para anak muda seperti yang dijelaskannya barusa.


Keempat mahasiswa itu langsung berkenalan dengan ku dan saya persilahkan duduk, demikian juga dengan bu Risma.


"pantasan bude betah kerja disini ya, yang punya peternakan ganteng."


Ucap Risa yang membuka topik obrolan kami, dan baru kali ini aku di puji gadis cantik seperti Risa.


"kalau sama bude ngak mungkin lah, ntar pak deh ku cemburu lagi, nak Bernat belum punya istri, kalau Risa suka. ya bungkus aja."


hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha


Ucapan kocak dari bu Risma membuat kami tertawa.


"oh iya bang, bude tiap hari bawa telur yang banyak dan dijual ke tetangga, itu nyolong dari sini ya bang?"


"ngak...


semua karyawan bisa membawa telur untuk di jual dan ada jatah telur dan daging sebagai bonus."


"oh Risa kirain nyolong bang, siapa tahu aja Risa bisa menyolong hati abang."


huuuuuuu..........


Ketiga temannya mengolok Risa, sementara aku menjadi gugup.


Seperti ini rasanya di gombal cewek cantik dan centil.


datang kemari mau cari ilmu atau mau cari jodoh?"


"kalau bisa dua-duanya bude, sekali mendayung dua pulau terlampaui."


huuuuuuu.......


Aku tidak tahu apakah ucapan Risa bercanda atau serius tapi yang jelas jantung ini berdebar kencang.


"setelah lulus sarjana, baru deh gombal dan pepet terus nak Bernat, sekarang ikuti bude karena bude mengajak kalian studi tour."


"bentar bude, Risa mau mintak tandatangan Abang ganteng ini dulu."


"janganlah buat bos bude jadi gugup gitu, pelan aja Risa."


Jantung berdebar dan seperti panas dingin, itulah yang kurasakan.


Dengan gaya yang manis dan tanpa memperdulikan ucapan bude nya, Risa memberikan dokumen kepada Ku.


"tolong tanda tangan abang, kami butuh tandatangan abang sebagai pemilik peternakan ini untuk kami laporkan ke kampus."


"liii...... lihat-lihat dulu, kalau tidak cocok tempat biar bisa cari tempat lain."


"sudah cocok kok bang, tinggal nunggu abang aja untuk melamar Risa."


Plak.....

__ADS_1


Dokumen itu di rampas oleh bu Risma dan kepala Risa di pukul nya.


"sadar.....sadar...... sadar......"


hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha


Lagi dan lagi kami tertawa, karena tingkah bu Risma kepada keponakannya.


"bude......"


"kamu sih, tamat dulu kuliah mu Risa. biarpun nanti kamu menjadi istri dan ibu dari anak-anak mu, dan seorang ibu harus pintar.


Yukkk......


ikut bude, kita study tour dulu."


"ngak mau sama bude, mau nya sama bang Bernat aja."


Bu Risma hanya geleng-geleng kepala, karena ingin mendapatkan ilmu yang baru dan akhirnya aku mengajak mereka berempat keliling peternakan sementara bu Risma kembali bekerja.


Risa langsung berdiri di samping Ku, dan selama aku menjelaskan dan Rida selalu memperhatikan Ku.


Jujur dan perasaan ini tidak bisa aku sembunyikan, dan aku mengakui kecantikan Risa.


"Abang lulusan dari mana sih? peternakan abang ini seperti terkontrol dengan sempurna seperti ketampanan abang yang sangat sempurna dan mempesona."


"hadehhh......"


Sanggah ketiga temannya dan lagi-lagi Risa berhasil menggoyahkan hati ini.


Riyan yang kebetulan lewat dan langsung berhenti dan menatap Risa.


"jangan lah kalian menyinggung kami yang tidak berpendidikan ini, semua yang ada disini hanya tamatan SD dan paling tinggi paling cuma tamatan SMP."


"ngak mungkin, ngak usah merendah gitu lah bang."


"betul itu Din...


tapi pantas aja disini banyak ibu-ibu kerja, ada beberapa cowok ganteng dan yang lebih ganteng itu pemiliknya."


Berusaha tenang untuk tidak baper dengan ucapan Risa.


"auhhhh......"


Risa merintih kesakitan karena bude nya menendang kakinya, itu karena Risa terus menerus bertanya tentang perkuliahan.


"sudah benar kamu di kasih tahu, nak Bernat memang hebat dan tanpa bangku sekolah. semua di pelajari dengan baik-baik."


Tidak terlihat kekecewaan dari Risa, walaupun aku tidak berpendidikan tinggi sebagaimana orang-orang yang banyak dikenal nya.


"Abang itu sudah seperti Profesor, dan itu membuat bang Bernat semakin maksimal ketampanan."


Yah......


Gombalan itu tetap ku biarkan, kapan lagi di gombal gadis cantik.

__ADS_1


__ADS_2