
Arpin dan Boy sudah duduk di dekat bang Jidan, dan tatapan tajam dari Risa membuat mereka berdua menunduk.
"sampai kapan kalian berdua tinggal di sini?"
Kemudian Arpin menatap calon istriku itu dengan penuh gagah berani.
"saya sudah ngobrol dengan kedua orang tua yang di kampung, dan menyarankan Arpin untuk belajar minimal satu tahun disini.
Kemudian aku pulang dan memulai beternak di kampung.
Ilmu dari kampus serta pengalaman kerja disini, akan menjadi modal ku untuk membuka peternakan di kampung, karena kedua orang Ku sudah membagi lahan untuk anak-anaknya.
Kami berdua sudah di terima bang Bernat untuk kerja disini dan kami berdua sudah mendapatkan izin untuk tinggal disinilah loh."
"biar gratisan gitu ya."
"siapa bilang gratisan?"
Tiba-tiba Riyan menyanggah ucapan Risa dan kemudian duduk di dekat Arpin.
"Arpin dan Boy, setiap pagi bertugas membersihkan rumah dan lainnya, lalu membantu ku untuk menyiapkan sarapan.
Kami disini sama-sama kerja, dan tidak ada yang gratisan.
Kami kerja dan dapat upah, kan memang seperti itu.
Mereka berdua masih lajang dan rumah yang besar dan nyaman cocok menjadi tempat tinggal.
Buat apa ngontrak rumah lain jika punya abang yang baik dan luar biasa.
Iya kan bang Bernat?"
"benar kata Riyan, emangnya ada salah kalau Arpin dan Boy tinggal disini?"
"adalah bang, mereka berdua di izinkan tinggal disini sementara kami ngak."
"hadehhh....... hadehhh.........
Disini banyak laki-laki yang tinggal, terus kalian disini mau kumpul kebo."
Kami terkejut akan kedatangan bu Risma, yang ngomel-ngomel karena sanggahan dari Diana.
"jadi maksud kalian berempat ingin tinggal di rumah ini juga, supaya kalian bisa berduaan terus dengan pacar-pacar kalian itu.
tidak semudah itu anak gadis, tunggu sampai kalian menjadi istri yang sah bagi mereka."
"iya bude....."
Jawab ke empat gadis itu dengan lesu, dan kemudian menatap bu Risma dengan tatapan anehnya.
"bude ngapain kemari?"
"jemput kalian berempat, ngak ada tuh sejarahnya perempuan mendatangi rumah laki-laki.
__ADS_1
Ayo pulang......
Memalukan aja deh, pulang..... pulang..... pulang........"
Dengan kesalnya bu Risma menjawab pertanyaan ponakannya yaitu Risa dan memaksa mereka berempat untuk pulang.
"Bude.....
Risa dan teman-teman datang kemari untuk membicarakan tentang pernikahan ku dengan bang Bernat."
"ngak usah banyak alasan Risa, semua sudah persiapkan oleh keluarga.
jika ada hal yang ingin dibicarakan, besok kan masih bisa.
Mau bahas rumah atau kerjaan? ngak usah kwatir Risa.
Nak Bernat sudah mempersiapkan semuanya, kamu hanya perlu mempersiapkan hati dan cinta mu untuk nak Bernat.
Pulang..... "
Kalau bu Risma sudah bertindak, tak seorang pun yang berani menyala nya.
Tapi tiba-tiba saja bu Risma menoleh ku, ada apa ya?
"nak Bernat....
Selama Risa belum jadi istrimu, jadi selama itu juga ibu berhak melarangnya datang kemari tanpa pengawasan ibu.
Kelak setelah jadi istri mu, terserah nak Bernat mau membawa ponakan ku ini kemanapun yang kalian kehendaki.
Aku hanya tersenyum menanggapi perkataan bu Risma, dan memang aku tidak berhak sebab diriku ini belum menjadi suaminya Risa.
"jadi kapan kalian menikah?"
Bang Jidan bertanya tiba-tiba setelah bu Risma membawa ponakannya pulang dan the genk nya.
"setelah Risa selesai wisuda bang, saat ini juga sedang menyiapkan perencanaan lahan di Lampung.
Setelah menikah nantinya akan tinggal sementara waktu si Lampung, untuk mengurus semua peternakan.
Bagiamana dengan abang? kapan melamar kak Tiara?"
"Senin depan calon pembeli rumah Tiara itu akan melunasi pembelian rumah nya, dan setelah itu kami akan tunangan dan kemudian menikah.
Sekitar dua mingguan lagi, semoga lancar dan tidak ada halangan dari keluarga Tiara.
Semuanya sudah dipersiapkan keluarga abang, kami hanya tinggal melaksanakan dan memberikan dana.
Masalah gereja dan adat, gedung, katering serta undangan akan menjadi urusan orang tua abang.
Lalu undangan, jenis dekorasi gedung dan juga pakaian pengantin akan di urus oleh Tiara."
"kalau abang tugasnya apa?"
__ADS_1
"donatur."
hahahaha hahahaha hahahaha haha hahahaha haha hahahaha hahahaha haha
Kami semua tertawa, karena enteng aja gitu ucapan bang Jidan.
"aku dengar-dengar ya ni ya bang, biasanya suku batak itu kalau pesta pernikahan anaknya dan undangan nya itu lebih banyak dari pihak kedua orangtuanya.
apa itu benar bang?"
"itu benar Riyan, palingan undangan ku nanti hanya rekan-rekan kerja dan juga rekan-rekan kerja Tiara.
Sisanya itu undangan kedua orang pengantin, baik dari mempelai perempuan maupun mempelai laki-lakinya.
keluarga dari pihak mama, keluarga dari pihak bapak, keluarga dari pihak orang tua bapak dan juga orang tua pihak mama.
lainnya dari keluarga adik-adik bapak dan juga adik-adiknya mama.
Serta keluarga ponakan bapak dan juga ponakan mama.
Keluarga-keluarga nya itu di undang lagi dan kemudian akan di golongkan berdasarkan tatanan adat nantinya.
Begitu juga dengan keluarga mempelai wanita nya, keluarga juga akan melakukan hal sama.
makanya kalau suku batak itu melakukan pesta adat pernikahan, tidak pernah itu makan prasmanan.
Karena pasti ngak akan cukup, semuanya di jatah."
"apakah semua akan dapat jatah makan bang?"
"itulah uniknya, seramai apapun pesta adat pernikahannya semuanya pasti dapat jatah makan.
Sebenarnya begini, sebelumnya orang tua kita itu sudah menghadiri pesta adat ke keluarga yang lain.
Semakin rajin ke pesta adat, maka kemungkinan besar pesta adat yang akan dilaksanakan akan semakin ramai.
Sebenarnya kita tidak bisa mengundang semua keluarga, jadi kita perkirakan aja berapa undangan yang akan sebar dan kemungkinan akan menghadiri acara kita.
dibuat lah perhitungan yang pasti, misalnya undangan yang tersebar sebanyak lima ratus undangan.
Nah.....
kita harus menyiapkan makanan untuk delapan ratus porsi makanan, dan buat backup sebanyak seratus porsi lagi."
"lah, undangan yang disebar lima ratus, lalu menyiapkan makanan sebanyak delapan ratus porsi dan cadangan seratus lagi.
apa itu habis bang?"
"kalau ngak habis, ya bagikan lagi dan itu pasti di tampung kok, ngak ada kata terbuang kalau untuk makanan.
Lebih baik lebih daripada kurang, itulah prinsip batak.
Lain lagi dengan cemilan, berupa lappet yaitu kue beras ketan yang di bungkus daun pisang, kopi dan teh serta kacang rebus.
__ADS_1
untuk makanan aja, kita harus mengeluarkan dana sekitar lima puluh juta lebih, dan itu beda dari biaya pernikahan seperti biaya ke gereja, acara adat dan juga mahar yang wajib."
Sungguh mengagumkan akan penjelasan dari bang Jidan mengenai adat pernikahan suku Batak.