Terjerat Cinta Gadis Malam

Terjerat Cinta Gadis Malam
Bab 10


__ADS_3

Indah terdiam di sudut kamarnya, sejak pertanyaan yang mamahnya lontarkan tadi di rumah sakit membuat Indah kepikiran. Bagaimana tidak, sang mamah meminta dirinya untuk segera menikah, ntah apa yang sedang mamahnya rencanakan.


Gue nggak mungkin nikah, siapa juga yang mau sama gue. Apa lagi kalo orang itu tau latar belakang dan pekerjaan gue, auto di hina kali..


Indah menarik nafas dalam...


Nggak usah berkhayal jadi Cinderella, bisa jadi Upik abu yang mampu buat mamah tersenyum aja gue udah bahagia. Hidup itu nggak semata-mata mewujudkan impian, tapi dahulukan dulu kebutuhan.


Malam ini tepat jam 8 malam Indah sudah siap dengan gaun maroonnya, selalu memakai gaun yang kontras dengan warna kulit membuat Indah semakin mempesona. Dada yang rendah membuat siapa saja bergairah. Sepatu high heels dengan warna senada telah menghiasi kaki jenjangnya.


"Udah sexy, udah cantik, udah rapi siap mencari rejeki.."


Indah masuk ke dalam taksi yang sudah ia pesan menuju hotel yang sudah di pesan oleh tamunya hari ini. Dalam perjalanan sesekali sopir taksi melirik Indah lewat kaca spion, memang sudah di pastikan tak ada yang akan tahan melihat sosok Indah.


"Lihatnya ke depan pak, nanti kalo lihat ke belakang nabrak loh!" celetuk Indah yang sadar akan mata keranjang sang sopir.


"Maaf neng!" ucap sopir taksi itu dengan sikap gugup.


"Kasian anak istri di rumah pak, pandangannya harap di jaga, maaf jika penampilan saya menggoda iman bapak, karena profesi saya yang menuntut seperti ini. Tapi sebisa mungkin tundukkan pandangan ya pak..."


"Iya neng, maaf ya neng..."


Setelah sampai di lobby hotel, panggilan di ponselnya membuat langkah Indah terhenti.


"Kenapa Beb?"


"Hari ini jadwal loe cuma satu Cin..."


"Loh bukannya kata loe tiga ya, terus yang lain pada kemana?"

__ADS_1


"Justru itu yang lain minta tuker hari, gue juga pusing nich ngatur ulang lagi, tapi loe udah sampe di hotel xx kan?"


"Udah ini gue udah ada di lobby,"


"Siip dech, ini orang baru tapi gue nggak sempat ngasih tau aturannya karena tadi buru-buru nerima telpon yang lain, tapi mudah-mudahan loe bisa ngatasinnya ya Cin, have fun!"


"Oke dech..."


Indah melangkahkan lagi kakinya menuju kamar yang sudah di pesan. Tubuh moleknya membuat siapa saja terpanah, hingga bagian cleaning servis yang lewat terjatuh dan bajunya basah karena tak fokus jalan saat melihat Indah melintas.


"Eh..... hati-hati mas kalo jalan, nggak lucu kan nggak ada hujan masnya kuyup begitu, mana bau karbol lagi mas!"


"Ah iya mbak," jawab cleaning servis tersebut dengan wajah yang sudah memerah.


Indah segera naik lift untuk sampai di kamar itu, hatinya cukup lega berarti hanya butuh tiga jam dan dia bisa istirahat. Indah menarik nafas dalam sebelum membuka pintu kamar tersebut.


"Mudah-mudahan lancar malam ini..." lirih Indah kemudian segera membuka pintu untuk masuk ke dalam.


Indah melangkah mendekati, dari belakang sudah bisa dia tebak pria di depannya ini lebih muda dari pria-pria yang sebelumnya.


Tangan Indah melingkar di perut pria itu dengan wajahnya yang menempel di punggungnya, karena postur badan yang jauh dari Indah membuat Indah agak kesulitan mengimbangi, tetapi dia nggak kehabisan akal, Indah sengaja berjinjit untuk sampai di telinga pria itu.


"Om Cinta udah datang loh...." suara Indah yang lembut mendayu di telinga membuat pria itu seperti tersengat ribuan lebah belum lagi dada Indah yang sengaja menempel di punggungnya.


"Ouh....." pria itu mengerang saat merasakan sentuhan tangan Indah di dadanya dengan posisi yang sama.


Indah tersenyum mendengar lenguhan dari pria itu, ketika godaan pertama ia luncurkan.


"Om nggak ingin lihat Cinta? Masak udah seseksi ini di anggurin om?"

__ADS_1


Pria itu masih saja tak menggubris ucapan Indah, sekuat jiwa raganya menahan hasrat, padahal jangan di tanya si Mickey sudah bereaksi di dalam sana.


Indah tak hilang akal, tangannya mulai membelai leher jenjang pria itu, memberi sentuhan lembut membuat lawannya bergidik dengan nafas yang mulai tak terkontrol. Jemari lentik itu turun hingga ke dada dan berhenti saat ada titik yang menantang di kedua dada lawan. Ini mainan bagi Indah, jarinya terus memainkan kedua titik itu hingga benar-benar mengeras dengan terus menggesekkan kedua buah melon yang sudah menyembul menggoda.


Mata pria itu terpejam merasakan setiap sentuhan dan kehangatan yang tubuh Indah berikan, tak seperti wanita lain, pria ini di buat kewalahan mengatur ritme nafas dan detak jantungnya.


Tangan Indah tak henti, ini tantangan baginya melumpuhkan lawan yang ia rasa memiliki kadar gengsi yang tinggi hingga sengaja jual mahal padanya. Tapi hal ini justru membuat Indah semangat, otaknya tak sia-sia tercipta, bukan Indah jika menyerah sebelum berperang.


Masih dengan posisi yang sama, Indah memang tak ingin terburu-buru dia ingin tamunya yang pasrah dan akhirnya menyerah.


Jemari indah mulai turun kebawah, menyentuh benda keramat yang tak mungkin ingkar. Lagi-lagi lawan tak bisa menahan, kembali erangan lolos dari mulutnya.


"Om....si Mickey nggak bisa bohong loh, dia minta di bebasin, Cinta langsung bebasin apa mau Cinta belaii dengan sayang dulu om..." Indah tersenyum tipis melihat reaksi dari lawan.


"Munaroh......" batin Indah.


Apa maksudnya...dalam hati Indah tertawa.


"Dari luar aja udah besar loh Om, bagaimana dalamnya, bikin Cinta nggak tahan dech pengen gigit!"


Pria itu mengangkat kepalanya merasakan sentuhan di Inti masa depan yang memang sudah tegak berdiri. Matanya terpejam, mulutnya terbuka dengan detakan jantung tak beraturan.


Indah terus bergerak lincah di balik punggung tegap dengan tangan tak lepas dari si Mickey yang mulai mengajak kompromi. Tangan Indah yang satu terus membuka satu persatu kancing kemeja dan menembus dada tegap dengan roti sobek yang sudah terpampang nyata. Sayangnya si om belum mau memperlihatkan tubuh Indahnya pada Indah, dia masih bertahan padahal tubuhnya sudah melakukan perlawanan.


"Perut om buat Cinta nggak tahan, om rajin banget ya olahraganya, kapan-kapan olahraga bareng sama cinta yuk om, jadi instruktur cinta juga boleh!" ucapan Indah menimbulkan senyuman di wajah tampan yang sejak tadi sudah memerah menahan gelora.


"Ikh tapi jangan dech, nanti Cinta di marahin sama istri om lagi. Main cantik aja ya om, Cinta nggak mau di sebut pelakor...."


Tangan Indah semakin tak terkendali, si Mickey di dalam sana rasanya sudah ingin menangis hingga pergerakannya terhenti saat tangan kekar itu menyentuh jemari Indah yang membuat kepala ingin pecah menahan hasraat.

__ADS_1


Senyum Indah mengembang, "kena dech," hati nya bersorak. Tetapi tak lama senyum itu luntur saat melihat pria itu berbalik dengan senyum tampan yang menggoda, di tambah lagi mata yang berkabut gairah menambah kesan sexy begitu nyata.


"Kemampuan kamu nggak kaleng-kaleng....let's play baby!"


__ADS_2