
Pagi ini Nicko mengantarkan Indah ke kampus. Bahkan dia ikut turun dari mobil untuk memastikan sang istri aman. Penampilan Indah yang masih fresh dan begitu cantik dengan umur yang masih belia membuat Nicko tak tenang. Sudah di pastikan banyak pria yang melirik dan mungkin ingin memiliki.
Berjalan menggenggam tangan sang istri hingga sampai di gerbang kampus. Banyak para mahasiswi yang menatap Nicko dengan tatapan berbinar. Tak jarang suara-suara sumbang yang memuja mampir di telinga Indah, merasa jengah Indah meminta Nicko segera kembali ke mobilnya.
"By, kamu nganter aku sampe sini karena apa? bangga ya di liatin cewek-cewek muda?"
"Apa sich sayang, justru aku antar kamu sampai sini untuk memastikan agar tak ada yang berani mendekat. Aku yang takut kamu di dekati para mahasiswa muda yang mungkin lebih tampan dari aku!"
"Tapi dari tadi justru kamu by yang menjadi pusat perhatian mahasiswi, nggak tahan dech aku liatnya."
Melihat Indah yang merengut justru membuat Nicko semakin gemas. Niat hati ingin melindungi sang istri agar mata para mahasiswa melihat jika Indah sudah ada yang punya malah justru sang istri yang berujung kesal.
"Ya udah aku berangkat, jangan ngambek sayang, resiko punya suami tampan. Yang terpenting kan aku menundukkan pandangan dari para wanita yang mendekat."
"Ya sudah sana cepat masuk mobil, kamu buat aku kesal By," rengek Indah, hal itu membuat Nicko ingin menciumnya tapi tak mungkin karena sedang di kawasan kampus. Dia memutuskan segera masuk mobil dan berangkat ke kantor.
"Hhuuuuhhff... Alhamdulillah punya suami tampan tapi batin juga ya. Hubby bener-bener ngundang para wanita berdosa ria," gumam Indah seraya melangkah menuju kelas. Tanpa ia sadar menabrak seseorang hingga hampir terpental.
"Eh maaf nggak sengaja, aku tadi nggak perhatiin jalan. Maaf ya..." ucap Indah melihat orang di depannya mengaduh kesakitan karena tadi tak sengaja Indah menabrak dan kedua kepala mereka sempat beradu.
"Loe kalo jalan pake ma_"
"Indah! loe bener indah bukan sich?" dia menyapu pandangan dari atas sampai bawah kemudian kembali menatap Indah.
"Loe benarkan Indah, sejak kapan?"
Indah tersenyum, "baru beberapa hari.."
"Cantik..."
__ADS_1
"Hush, adik ipar inget!"
"Hehehe..." Chiko menggaruk tengkuknya, "Muji doank gue, kan punya mata. Loe ngampus di sini juga?"
"Hhmmm....lah bukannya loe mau lanjutin di luar negeri ya? kenapa nyasar di sini?" tanya Indah heran.
"Ck, mamah sama papah minta gue sekolah ke luar, tapi gue baru packing aja udah di tangisin. Mertua loe noh...." sewot Chiko. Kini keduanya berjalan menyusuri koridor menuju kelas.
"Berarti mereka masih mau manjain loe! nggak mau jauh, sayang donk berarti."
"Dulu Kak Nicko boleh, berarti nggak sayang donk!" jawab Chiko asal.
"Caranya kan beda-beda, mamah kan masih manjain loe banget, mungkin karena loe anak mamah."
"Loe nyindir gue?"
"Hay kakak ipar dan adik ipar jangan saling bercanda ya, nanti timbul rasa repot urusannya!" oceh Jenni yang mau ke kelas dengan langkah tergesa takut telat malah bertemu Indah yang masih santai.
"Cuma ngobrol, nggak sengaja ketemu. Gue pikir dia jadi pergi ternyata satu kampus lagi."
Mereka melangkah bersama menuju kelas masing-masing. Makul hari ini lancar hingga jam satu siang Indah dan kedua sahabatnya keluar dari kelas. Berjalan menuju gerbang karena mereka memutuskan segera ingin pulang.
"Gimana kesan pertama?" tanya Indah pada kedua sahabatnya.
"Lumayan, lumayan meres otak gue!" celetuk Jenni.
"Iya, adaptasinya nggak kayak jaman SMA. Pelajarannya, cara mengajar sama teman-temannya jauh beda. Tapi seru, mudah-mudahan bisa terus nyaman," sahut Asti.
Pulang kuliah, Indah segera pulang karena harus berbenah barang-barang yang akan ia bawa pindah kerumah baru. Nicko yang banyak kerjaan tak bisa pulang siang. Jadi Indah ekstra kerja sendiri untuk membereskan mana saja yang ia bawa.
__ADS_1
Lelah dengan kegiatannya Indah merangkak naik ke ranjang dan merebahkan tubuhnya, tak perlu waktu lama dia sudah terlelap merasakan tubuh yang lelah.
Nicko pulang tanpa sambutan dari sang istri, melihat Indah yang tertidur dengan pulas membuatnya mengulas senyum. Nicko melihat beberapa boks barang yang telah selesai Indah kemas. Serta beberapa koper yang telah di penuhi dengan pakaiannya.
"Kamu pasti lelah sekali sayang, maaf aku nggak bisa membantu. Pekerjaanku begitu banyak hingga tak bisa pulang cepat."
Nicko mengecup kening Indah, tak juga membuat sang istri merasa terganggu kemudian segera melesat ke kamar mandi segera membersihkan diri.
Keesokan harinya Nicko mengajak sang istri kerumah baru yang belum pernah Indah kunjungi. Masuk ke dalam sebuah komplek elit dengan bangunan yang mewah dan ukuran besar seperti rumah sang mertua. Jarak antara rumah satu ke rumah yang lainnya juga cukup jauh, mungkin halamannya bisa untuk bermain sepak bola.
Kawasan yang cukup sejuk dan asri walaupun terbilang komplek elit. Sudah di pastikan pemilik rumah disini pengusaha kaya. Baru masuk gerbang utama kawasan itu saja sudah membuat mata Indah membola, suaminya memang bukan sosok yang sembarangan. Dan caranya membahagiakan tak dapat di remehkan.
Mobil itu memasuki gerbang tinggi dengan model klasik tetapi memiliki daya tarik tersendiri. Mata Indah menatap takjub rumah besar yang ada di hadapannya, seakan tak percaya jika dia lah yang akan menjadi nyonya di rumah bak istana ini.
"Ayo turun sayang!"
"Oh i..iya by," Indah turun dari mobil setelah Nicko membukakan pintunya. Keluar dengan perasaan luar biasa, ingin menangis seandainya Nicko tak ada. Hidupnya bagai Cinderella yang di pinang oleh pangeran tampan dan kaya. Merubah hidupnya yang dulu sulit hingga banyak yang ia korbankan dan sekarang di beri kemewahan oleh sang suami. Diperlakukan seperti ratu dan di cintai begitu tulus.
"Selamat datang di istana kita sayang..." lirih Nicko memeluk sang istri yang nampak takjub saat menginjakkan kakinya ke dalam rumah besar itu.
"MasyaAllah by, ini rumah kita?"
"Iya, rumah masa depan kita dan kamu ratunya. Di sini kita akan memulai semuanya, membesarkan anak-anak kita kelak dan saling menyayangi. Bagaimana apa kamu suka sayang?"
"Iya by, suka sekali. Alhamdulillah....makasih hubby, sebenarnya tak harus sebesar ini juga. Aku pasti akan kesepian jika kamu belum pulang, tapi aku bersyukur atas rejeki yang datang kepadaku. Allah begitu baik denganku, mudah-mudahan ini semua berkah By."
Nicko tersenyum menatap sang istri yang begitu terharu hingga meneteskan air mata.
"Kamu kelak nggak akan kesepian sayang, karena nanti akan ada anak-anak kita yang menemani. Sekarang waktunya kita berusaha agar cepat menghasilkan." Nicko mengangkat tubuh Indah dan membawanya ke kamar utama yang berada di lantai dua.
__ADS_1
"Aakkkhhh...."