Terjerat Cinta Gadis Malam

Terjerat Cinta Gadis Malam
Bab 50


__ADS_3

Di sekolah, Chiko yang sejak tadi mencari Indah tak kunjung bertemu, sudah menanyakan pada kedua sahabatnya juga tak ada hasil karena mereka pun tidak ada yang tau. Semua terhambat karena ponsel Indah yang tak kunjung di aktifkan.


Pulang sekolah Chiko memutuskan untuk segera singgah ke rumah Indah, khawatir terjadi sesuatu membuatnya tidak tenang. Sempat bertemu dengan kedua sahabat Indah di parkiran, tapi karena tak ingin bentrok menengok akhirnya mereka mengalah dan memilih datang nanti malam.


"Gue balik!" pamit Chiko pada kedua sahabatnya.


"Hati-hati ko," sahut Kiki dan Soni.


"Ya..."


Chiko sempat mampir ke tempat penjual minuman untuk membelikan Indah jus buah. Setelahnya kembali melanjutkan perjalanannya menuju rumah Indah.


Sampai di sana Chiko mengetuk pintu beberapa kali, tapi tak kunjung di bukakan. Kemudian mencoba kembali menghubungi nomor Indah pun tak bisa tersambung.


"Masak iya nggak ada di rumah, nggak mungkin banget. Loe kemana sich Ndah?"


Chiko kembali mengetuk pintu, tetapi tak menghasilkan apa-apa. Sampai rasanya ia jengah dan memanggil nama Indah.


"Indah..."


"Indah buka pintunya, ini gue Chiko!"


"Indah...gue tau loe di dalam, buka pintu Ndah jangan bikin gue khawatir!"


Seruan Chiko tak kunjung membuat Indah membukakan pintu, gadis itu tampak malas beranjak. Wajah yang kusut membuatnya malas bertemu siapapun. Apa lagi sejak tadi menangis, sudah pasti kedua matanya bengkak.


Tak ada jawaban dari Indah dan gadis itu pun yang tak kunjung keluar membuat Chiko mengira memang Indah tak ada di rumah. Dia pergi setelah hampir satu jam menunggu di depan pintu.


Indah benar-benar ingin sendiri, dia tak ingin ada yang mengganggu. Hingga malas untuk terbangun. Ujian yang terus ia hadapi membuatnya semakin mengerti jika hidup tak melulu harus tertawa dan menangis. Tapi ada saatnya menguatkan hati agar tak terus merasa sakit.


Sejenak teringat akan papah yang selalu kuat di setiap masalah, apa lagi saat banyak rekan bisnisnya yang diam-diam tak suka dan memfitnahnya sana sini. Beliau tak pernah dendam dan terus berbenah diri dimana letak salah hingga terjadi demikian. Kembali menguatkan hati agar lebih mampu menghadapi ujian yang lebih lagi.


"Papah, Indah harus bagaimana? Apa yang harus Indah lakukan Pah...Sedangkan mamah juga sedang butuh perhatian lebih. Permintaan yang sulit Indah kabulkan, apa lagi setelah kejadian ini. Indah nggak yakin ada yang mau menerima dengan tulus."


Hingga keesokan harinya Indah benar-benar tak membukakan pintu pada siapapun yang berkunjung. Nicko yang semalam berkunjung juga tak dapat pintu oleh Indah. Dia mengunci dobel semua pintu dan jendela. Memasang headset dan mendengarkan musik agar tak terdengar siapa saja yang datang.


Pagi ini hatinya sudah membaik, dia siap kembali memulai hari dengan keikhlasan hati. Tak apa kemarin terpuruk hingga membuat semua orang takut jika terjadi sesuatu padanya. Tapi hari ini semangat hidup dan belajar agar ujian lancar membuat Indah lebih semangat.Mampir sebentar ke rumah sakit lanjut lagi berangkat ke sekolah.


Asti dan jenni yang sejak kemarin mencari bahkan tak dapat menemukan kini sudah menunggu di depan gerbang. Mereka berdua yakin ada sesuatu yang membuat Indah sampai tak ingin di ganggu. Menunggu hingga taksi yang membawa Indah berhenti pas di depan pagar sekolah.


"Indah..." seru keduanya.


Indah tersenyum melihat kedua sahabatnya yang kini menghampiri. Dia bersyukur, di balik kerasnya hidup masih ada orang-orang yang sangat menyayangi.


"Loe kenapa?" pertanyaan pertama yang datang dari mereka. Indah malas jika harus menceritakan lagi kepahitan yang terjadi kemarin, tapi kedua sahabatnya tak mungkin diam saja jika dia tak ingin bercerita.


"Jangan di sini."


Kini mereka sudah ada di taman belakang, sejak tadi Asti dan Jenni sudah menahan tangis ketika mendengarkan Indah bercerita. Nasib gadis malam seperti mereka adalah suatu penolakan. Tapi apa mungkin tak boleh mendapatkan kebahagiaan?

__ADS_1


"Sabar ya, loe kuat. Kita memang selalu di anggap sebelah mata sama semua orang, tapi kita begini bukan cita-cita melainkan untuk mencukupi kebutuhan."


"Iya bener banget Ndah, loe nggak sendiri ada kita-kita yang sayang sama loe! Walaupun kita nggak bisa bantu, seenggaknya kita bisa ngajak loe have fun buat ringankan beban loe, jadi nggak kepikiran banget," sahut Jenni.


"Kalian memang sahabat terbaik di hidup gue, makasih ya udah dengerin keluhan gue. Sekarang gue mau fokus ke ujian yang tinggal hitungan hari. Kita harus sama-sama lulus, buktikan kalo kita bisa."


"Bener banget, nanti abis lulusan gue mau di ajak honeymoon sama si om. Loe berdua mau ikut nggak?" tanya Jenni.


"Maksud loe mau honeymoon bareng-bareng satu ranjang 3 perempuan? stress loe ya!"


"Nggak gitu Asti! mulut loe mau gue kasih sepatu. Keenakan si om kalo gitu, maksud gue loe berdua ikut liburan. Kan lumayan nanti gue minta gratisan. Gimana?"


"Nggak dech, nyokap gue nggak bisa di tinggal."


"Iya, pelanggan gue juga kasian. Butuh belaian nanti pada puyeng lagi," timpal Asti.


"Yach...loe berdua nggak asyik agh masa gue doank yang seneng-seneng kalian nggak. Nggak bisa tidur donk nanti gue di sana."


"Tidur-tidur aja kecuali kalo loe paginya di gerebek sama bini tua!" sahut Asti.


"Njiiir doa loe jelek bener!"


"Ikh loe berdua kebiasaan dech, udah ayo ke kelas. Udah mau bell nich."


Ketiganya berjalan menuju kelas, hati Indah sudah jauh lebih lega setelah bertemu dengan kedua sahabatnya. Sesaat semua terlupakan, dan memang tidak ingin Indah jadikan beban.


"Indah.." langkah ketiganya terhenti saat ada seruan dari Chiko. Mereka menoleh melihat Chiko dan kedua sahabatnya menghampiri.


"Gue nggak apa-apa ko, maaf ya buat loe cemas. Tapi gue baik-baik aja."


"Kayaknya ada yang temu kangen nich, mending kita pergi dari pada jadi Baygon," ucap Kiki yang segera menggandeng Asti sedangkan Soni menarik Jenni hingga kedua sahabat Indah kesal sendiri.


"Heh loe main tarik-tarik aja, loe kata gue tali jemuran!"


"Tau nich si Kiki juga main gandeng aja, loe kata gue truk jalan gandengan!"


"Berisik kalian! kasian tuh temen loe mau sekedar cipika-cipiki aja nggak bisa," celetuk Kiki.


"Ribet loe berdua!" ketus Jenni kemudian menarik tangan Asti untuk segera masuk ke kelas.


Chiko menatap Indah dengan intens, tangannya mengusap lembut pipi gadis yang ia rindukan. "Kenapa?"


Indah menggelengkan kepalanya. "Gue nggak apa-apa ko."


"Mata loe nggak bisa bohong Indah!"


"Nggak semua bisa gue ceritain ke orang lain."


"Tapi loe penting dalam hidup gue, loe bisa cerita apa aja termasuk tentang hati loe. Gue nggak suka lihat loe gini. Hidung loe merah, mata loe sembab, wajah loe pucet. Gue sayang sama loe," lirih Chiko dengan menggenggam tangan Indah.

__ADS_1


"Makasih untuk semua perhatian yang loe kasih sama gue, tapi hari ini gue baik-baik saja. Udah nggak ada yang perlu di khawatirkan lagi. Ya udah gue masuk kelas dulu ya, udah bell."


Indah melangkah menuju kelasnya dengan Chiko yang masih berdiri mengamati, rasanya ingin memeluk kala tau wanita yang ia sayang bersedih. Tapi Indah masih seperti memberi pagar pembatas yang nyata. Tak mudah bagi Chiko untuk menerabas.


Sedangkan di kantor Nicko tampak berantakan, semalaman dia tak tidur karena memikirkan Indah yang tak ingin bertemu. Bahkan Nicko sudah menghabiskan puluhan batang rokok dan beberapa botol minuman semalam.


Kini di kantor bukannya membaik malah terus melamun memikirkan bagaimana caranya meyakinkan Indah. Membuatnya mau bertahan dan berjuang bersama.


"Gue nggak bakal lepasin loe, gue cinta sama loe. Kenapa sich harus begini saat hati gue udah memilih."


Mencoba menghubungi Indah saat dia tau saat ini jam istirahat di sekolah, puluhan panggilan tak di hiraukan. Bahkan pesan pun Indah tidak mau membacanya. Benar-benar menyiksa, Nicko seakan di buat gila akan menjauhnya Indah.


"Bro, loe makan dulu. Nich gue bawain makanan buat loe!" ucap Adit yang baru datang setelah mewakili Nicko meeting dengan klien.


"Gue nggak laper."


"Ck, gimana loe mau ngadepin cobaan hidup kalo loe aja nggak mau makan. Semangat bro, Nicko yang gue kenal gokil, nggak selemah ini!"


Nicko menyugar rambutnya, berkali-laki mengusap kasar wajah yang tampak pucat dengan mata panda melingkar.


"Bersih-bersih terus ganti baju, blangsak banget loe. Begini mah Indah juga ogah ketemu sama loe! Udah kayak gembel masuk kantor tau nggak loe!"


"Berisik mulut loe!" Nicko segera melangkah ke kamar mandi, kesal tapi tetap di lakukan.


"Sorry Nick, gue nggak bisa banyak bantu loe. Semua nggak semudah itu kalo orang tua loe udah bertindak." Adit yang biasa selalu berperan penting dalam setiap masalah Nicko, kali ini tak bisa berbuat apa-apa. Ancaman dari papah Nicko yang akan memecatnya jika terlihat jelas membela hubungan mereka.


Selesai mandi dan rapi, kini Nicko segera pergi, dia meminta Adit untuk menghandle semua pekerjaannya. Tak perduli akan orang tuanya yang terus menelpon, tujuan Nicko kali ini adalah bertemu dengan Indah.


Nicko sampai di sekolah Indah saat jam pulang, ingin turun tapi ragu. Terlihat jelas Indah yang menolak Chiko untuk mengantar pulang.


"Gue udah mesen taksi ko, sorry ya gue pulang duluan."


Chiko tak menyerah, "nanti gue ke rumah loe, please bukain pintu ya."


"Hhmm...."


Indah segera masuk ke dalam taksi, ingin segera pulang dan beristirahat. Matanya berat karena semalam kurang tidur. Beruntung kedua sahabatnya mengerti, mereka yang berniat ingin menghibur Indah dengan mengajaknya ke pasar malam agar Indah senang tapi justru di tolak.


Turun dari taksi dan melangkah menuju pintu rumah, masuk dengan langkah pelan. Tanpa ia sadar Nicko segera turun dan mendekap. Hingga tubuh Indah kaku di tempat. Nicko mendekap erat dengan menelusupkan wajahnya di leher sang kekasih. Mencium aroma tubuh Indah yang menenangkan.


"Jangan menjauh, aku mohon tetaplah di sisiku sayang. Aku berantakan tanpa kamu."


Air mata itu tak terelakkan lagi, tubuh Indah bergetar terisak mendengar ucapan Nicko yang membuatnya sadar, cinta mampu melemahkan siapa saja.


"Om bisa mendapatkan yang lebih, bukan aku yang jelas masa depannya nggak ada."


"Nggak sayang, nggak ada yang lebih pantas selain kamu. Jangan pernah merendahkan dirimu, aku sangat mencintaimu. Jika kamu nggak mau berjuang, setidaknya tetap membersamaiku."


Indah tak dapat berbicara apa-apa lagi, dirinya dalam fase menyembuhkan tapi kembali harus menangis karena orang yang ia cintai bahkan tak mau pergi. Semakin mendekap melemahkan hati yang semalam susah payah Indah bangun kembali.

__ADS_1


Hingga saat ini keduanya saling memeluk, mengungkapkan rasa dan saling menguatkan.


__ADS_2