
Pelajaran lancar jaya, satu hari ini tanpa kendala semua aman terkendali. Dari mulai pembahasan soal-soal ujian hingga ke pengambilan nilai praktek berjalan sesuai harapan. Waktu pulang sekolah pun telah tiba. Hampir seharian ini Chiko tak juga menampakkan batang hidungnya. Cukup aman bagi Indah, dia bisa pulang sendiri tanpa harus bersusah payah menghindari.
"Loe balik sendiri Ndah?" tanya Asti.
"Iya lah, nanti gue main ke club' kalo dapet ACC dari doi."
"Asyik yang udah ngakuin, kayaknya udah mulai bucin nich!" ledek Jenni. "Tinggal Asti nich, mau kemana angin membawa dirimu singgah?"
"Nggak usah mikirin gue! gue aja nggak mikir....hahahha."
"Dasar nggak waras!" celetuj Jenni.
"Loe sahabat gue Jen, kalo gue nggak waras terus loe apa? sedangkan kita kan sebelas dua belas. Indah doank pokoknya yang masih waras, tapi kalo nolak om Nicko lagi. Gue jamin ini orang udah gila malahan!"
"Terserah apa kata loe dech, intinya saat ini jalani, syukuri, pertahanin kalo ujungnya meleset ya udah berarti harus nyari lagi!"
"Suka-suka loe dah...tapi kalo galau jangan terus diem aja kayak ayam nggak makan seminggu." Asti sudah tak bisa membayangkan jika nantinya Indah kembali berpisah lagi dengan Nicko, akan jadi apa dunianya. Sedangkan dia tau saat ini Indah sudah tahap mencintai setulus hati, bucin tingkat camat.
Mereka bertiga terpisah oleh tujuan masing-masing, Indah duduk di halte menunggu taksi yang ia pesan. Beberapa kali mengecek aplikasi, driver masih dalam perjalanan dan di harapkan menunggu kurang lebih 10 menit.
Menunggu sesekali mengecek ponselnya sudah berkali-kali ia lakukan hingga klakson motor berbunyi tak jauh dari dirinya duduk. Menoleh sekilas ternyata orang yang seharian ini tak terlihat, ia pikir akan benar-benar tak bertemu hari ini. Tapi ternyata Chiko berhenti saat melihatnya.
"Ayo naik!" serunya, Indah tak menjawab. Dia hanya menunjukkan layar ponselnya agar Chiko tau jika memang dirinya sedang menunggu taksi.
Melihat itu Chiko diam tak beranjak tak juga meninggalkan. Menunggu sampai Indah benar-benar naik ke taksi dan memberi kesempatan. Tetapi sudah sampai lima belas menit berlalu tak kunjung ada taksi yang datang.
Indah melihat lagi layar ponselnya, disana malah tertera jika driver membatalkan pesanan. Dia membuang nafas kasar, melirik Chiko yang masih di sana dengan senyum kaku. Akhirnya memutuskan untuk ikut Chiko, dia melangkah menuju tempat dimana Chiko sejak tadi setia menunggu.
"Kenapa?"
"Di cancel..."
"Kan udah gue ajak dari tadi, sorry ya seharian nggak nemuin loe, gue sibuk sama soal uji coba. Besok lagi kalo nggak bareng sahabat loe itu, hubungi gue. Susah banget sich minta tolong sama gue!"
"Iya," Indah tak ingin panjang kali lebar dalam menjawab, cukup mengiyakan saja biar cepat.
Duduk dengan kaki terbuka membuat Chiko mengecek ke belakang sebelum berjalan. Membuka jaketnya kemudian meminta Indah untuk menutupi kedua pahanya.
"Tutupin, sorry ya gue nggak bawa mobil. Tadi pagi gue kesiangan jadi bawa motor."
"Nggak usah nggak apa-apa kok ko, ntar loe kena angin, sore gini anginnya lumayan."
__ADS_1
Chiko tersenyum tipis, "makasih perhatiannya tapi gue laki Indah dan loe cewek yang harus di lindungi dari tatapan lapar para buaya."
"Termasuk loe?" Indah akhirnya menutupi kedua pahanya dengan jaket Chiko.
"Mana ada sejarahnya gue buaya, baru jadi kadal buat dapetin loe aja ternyata susah. Ayo pegangan!"
Tak banyak membantah akhirnya Indah memeluk Chiko, karena dia sudah tau jika itu yang ia inginkan. "Gue pegangan loe nggak boleh ada yang tegang ya!"
Chiko terbahak mendengar itu, tau saja jika Indah memiliki tegangan tinggi yang akan menyetrum bagian tubuhnya hingga bangun.
"Emang kenapa kalo bangun? kan ada loe...."
"Nggak usah ngehayal dech ko, loe mau gue jambak?"
"Mau rambut Mickey apa rambut yang punya?"
"Rambut tetangga!" kesal Indah, tapi justru membuat hiburan sendiri untuk Chiko. Sepanjang jalan tangan pria itu tak bisa fokus, sesekali mengusap lembut jemari Indah yang melingkar di perutnya. Apa lagi saat lampu merah, sudah dapat di pastikan mereka seperti gambaran pasangan muda di mabuk kepayang. Chiko dengan leluasa menggenggam dan mengecup jemarinya.
"Ko, malu ikh di liatin orang!"
Chiko tak perduli dan seperti lupa diri, merasakan hangat tubuh Indah dan leluasa memainkan kedua tangannya sampai dia tak sadar jika sudah lampu hijau.
TIN
"Om nicko....bener nggak sich. Kok kayak sama mobilnya. Tapi kok ada di belakang, halu kali gue ya." Indah sekali lagi menoleh dan benar saja ada Nicko di belakang mereka.
"Mampuuus gue....."
Indah menarik kedua tangannya yang melingkar di perut Chiko tetapi segera di tahan olehnya. "Chiko lepas!"
"Loe mau ngapain sich? pegangan aja kita belum sampai!" seru Chiko .
"OMG, loe nggak tau ya ko mobil pacar gue ada di belakang kita. Kalo sampe ngambek dan salah paham gimana....." batin Indah.
Sampai di halaman rumah Indah, gadis itu celingukan mencari keberadaan mobil yang sejak tadi mengikuti, bahkan masuk komplek tadi masih ada di belakang mereka. Indah bingung sampai lupa untuk turun.
"Betah banget pacar gue nggak turun-turun. Mau jalan-jalan apa kemana lagi?" tanya Chiko membuat Indah segera turun.
"Loe kenapa sich? nyari siapa? ada yang jatuh?"
Indah salah tingkah sendiri dan bingung menjawab apa, dia segera memutuskan untuk masuk ke dalam dari pada bingung dan membuat Chiko curiga.
__ADS_1
"Eh nggak apa-apa, gue masuk ya."
"Gue nggak di suruh mampir?"
"Pengen banget apa loe mampir tempat gue?"
"Pengen lah Ndah, apa lagi sebagai pacar yang budiman gue pengen lebih ngejaga loe!"
"Kenapa nggak jadi security rumah gue aja sekalian?" tanya Indah jengah. "Loe nggak perlu khawatirkan gue, gue udah biasa sendiri. Disini juga ada tetangga, jadi nggak bingung kalo ada apa-apa. Makasih udah nganter gue, gue masuk dulu ya." Indah segera masuk sebelum kembali di tahan oleh Chiko, sedangkan Chiko diam dengan wajah datar.
"Sampai kapan sich Ndah loe bentengin hati loe buat gue, apa iya gue kudu berubah jadi belut dulu biar sat set sat set masuk ke kehidupan loe!"
Chiko pergi setelah memastikan Indah masuk rumah, dia tidak tau jika sejak tadi ada sepasang mata yang memperhatikan.
Nicko tak keluar dari mobil, tak juga singgah menemui Indah. Dia memutar balikkan mobilnya untuk pergi dari sana. Sebenarnya tadi Nicko datang tepat di saat Chiko menyapa, dia menghentikan mobilnya mencoba diam dan mengalah. Memantau dari belakang, melihat setiap pergerakan. Walaupun di hati panas, tapi nggak secepat itu dia ingin membuka yang sebenarnya. Nicko percaya akan sulit bagi mereka berdua dan percaya akan ada waktu yang tepat semua akan terungkap.
Indah mondar-mandir dengan ponsel yang sejak tadi mencoba untuk memanggil. Dia menelpon Nicko tak kunjung ada jawaban. Khawatir akan salah paham sedangkan Indah yakin betul kekasihnya melihat. Tapi yang ia lebih takutkan kenapa Nicko tak datang.
" Kemana sich nich orang, kok nggak di angkat juga! Apa ia marah sama gue...."
Indah terus saja bergumam sendiri hingga dia lelah dan memilih untuk rebahan sambil terus melakukan panggilan. Indah terus menunggu jawaban hingga terlelap dan tidur dengan posisi kaki menjuntai kelantai.
Malam ini Nicko tak kunjung datang, menelponpun tidak, bahkan beberapa pesan tak ada balasan. Indah bangun tepat pada pukul 8 malam. Berharap membuka mata ada yang menyapa tapi ternyata hanya khayalan. Melirik ponsel tak ada perubahan, baik notifikasi ataupun pesan tampak kosong.
"Marah bener apa ini orang ya, ikh.....kesel gue kalo gini." Indah segera masuk kamar mandi, berendam di sana untuk merilekskan tubuh dan pikiran.
"Berasa selingkuh gue!"
Keluar dari kamar mandi dengan wajah yang fresh dan hati yang sedikit tenang, Indah mengabaikan apa yang ada. Masih dengan handuk yang membungkus rambutnya Indah turun untuk membuat minuman hangat.
"Belum gue nyalain ini lampu ya gelap banget," Indah mencari saklar saat sudah sampai di undakan tangga terakhir. Melangkah perlahan dengan tangan meraba di dinding. Sampai tepat di ruang tengah dua saklar ia tekan berbarengan dan lampu menyala hingga ke dapur.
Seketika dirinya dibuat terkejut, ada orang yang kini berdiri menatapnya di samping meja makan dengan tatapan yang sulit di artikan. Sedangkan sejak tadi ia kelimpungan sampai di buat kesal tak berkesudahan.
"Ngapain?"
Indah mengucek mata saat orang itu diam tak ada pergerakan, dia bingung ini orang atau hanya bayangan. Matanya hanya fokus menatap wajah sampai kaki, sedikit lega saat melihat bagian bawah yang masih menyentuh lantai.
"Aman...gue pikir makhluk jadi-jadian."
...****************...
__ADS_1
Kira-kira ini Abang Nicko mau ngapain ya? mau marah apa mau ngasih hukuman sampe pagi....ðŸ¤ðŸ¤ðŸ’ƒðŸ’ƒ