
Sore ini Indah makan di temani oleh Nicko, setelah perdebatan yang menguras air mata, Indah mulai terbiasa. Bahkan Nicko dengan telaten menyuapi Indah yang tiba-tiba dalam mode manja. Setelah menangis, kelemahan Indah memang akan terlihat. Kalo dulu akan di manja sang papah, tapi setelah dunianya berubah dia harus menyikapinya sendiri tanpa ada belaian dari orang lain yang tulus menyayangi.
Dan saat ini ada Nicko yang beberapa hari selalu ada di sisi. Ntah nyaman atau memang ada rasa Indah menikmatinya. Dia seakan lupa penolakan yang begitu keras ia layangkan tadi. Nicko pun dengan senang hati menyambutnya bahkan sejak tadi senyuman tak luntur dari wajah nya menambah kadar ketampanan yang begitu ketara.
Sosok yang dingin hilang ketika bersama dengan pawangnya. Kecupan sayang lebih sering di layangkan. Tetapi Indah hanya diam tak ada perlawanan. Dia justru sesekali nemplok ke dada Nicko mencari kenyamanan di sana.
"Sayang, habisin dulu makannya!" ucap Nicko yang saat ini sedang memperhatikan Indah yang malah justru masuk kepelukannya.
"Kenapa, hhmm?"
"Kangen papah...." lirih Indah, membuat Nicko tak tega. Papahnya dulu memang kompetitor hebat bagi Nicko, tapi mereka bersaing dengan sehat dan cukup ramah jika bertemu.
Nicko mengusap lembut rambut Indah, memberikan ketenangan di kala hati gadis itu sedang galau. "Mau ke makam papah?"
Indah mengangkat kepalanya, sudah lama memang dia tidak datang ke makam sang papah dan saat ini Nicko mengajaknya ke sana. Indah tersenyum tipis kemudian menganggukkan kepala.
"Bersiaplah, aku tunggu di sini."
"Makasih om," ucap Indah kemudian beranjak dari duduknya tetapi Nicko menahan tangannya.
"Maaf ya buat kamu sedih, aku tulus sama kamu. Aku nggak pernah seperti ini sejak putus dengan mantanku. Pikiran aku tentang perempuan langsung berubah 180 derajat. Tapi sama kamu ada getaran sendiri di dalam hati aku. Jangan menolak, biarkan semua berjalan apa adanya. Ijinkan aku tetap di sisi kamu, menemani kamu."
Indah dengan hatinya yang sedang tak baik-baik saja akhirnya luluh juga, dia memeluk Nicko seperti mendapatkan tumpuan baru di hidupnya. Nggak ada yang tau hari esok, berdamai dengan keadaan memang sepertinya jalan terbaik dari pada terus berdebat hingga membuat hidup semakin penat.
"Makasih sayang, aku nggak akan berjanji apapun. Tapi aku akan berusaha untuk kebaikan kamu dan hubungan kita," lirih Nicko.
"Apa Indah pantas mendapatkan ini om?"
__ADS_1
"Tentu sayang, di muka bumi ini semua pantas mendapatkan kasih sayang termasuk kamu."
"Om menyayangi indah?"
"Pertanyaan macam apa itu, aku nggak akan seperti ini jika nggak menyayangi kamu. Gadis nakal dan keras kepala! untung sayang, kalo nggak udah aku buang!"
"Ikh jahatnya, ya udah sana!" Indah melepas pelukan Nicko tetapi segera di tahan oleh si pemilik dada bidang itu. Nicko tertawa melihat Indah yang sudah kembali ke mode galak.
"Galaknya calon istri aku, bikin makin suka. Dulu mamah ngidam apa sich sampe punya putri secantik dan segalak ini, hhmm?"
"Nggak usah ngerayu om, ya udah aku siap-siap dulu. Om tunggu sini aku naik dulu ya. Oh iya om makan dulu tadi kan belum makan."
Indah segera beranjak dan berlari menuju kamar tanpa menunggu jawaban dari Nicko. Melihat itu Nicko hanya menggelengkan kepala, dia tak menyangka bisa suka sama anak SMA. Bahkan dengan pekerjaan yang jauh dari kata halal.
Setelah mandi dan bersiap kini Indah kembali dengan tas selempang di tubuhnya. Dengan memakai kaos putih serta rok jeans selutut dan sepatu kets membuat tampilan indah benar-benar sepeti anak ABG. Jauh beda dengan dirinya saat malam hari.
Tanpa make up cetar, indah menjadi dirinya sendiri. Berias tipis dan hanya menggunakan lipstik berwarna kalem dengan rambut di kuncir satu.
"Ayo om!"
"Cantik!"
"Ikh om nich kenapa malah diem aja liat aku begitu banget. Berasa tua yang liat penampilan aku?" ledek Indah yang mendapat cubitan di pipi.
"Bisa aja kamu, kamu tuh jauh nggak kayak seperti yang biasa aku lihat. Makin cantik dan makin terlihat imut, harus ngimbangin donk nich aku nya." Nicko membuka jasnya kemudian menggulung lengan kemejanya dan membuat dua kancing kemeja hingga membuat penampilannya semakin cool dan menambah tingkat ketampanan.
Indah sejak tadi di buat tak berkedip dengan penampilan Nicko, "Aku lebih suka gaya om seperti ini! apa lagi kalo rambutnya agak di acak sedikit," tangan Indah terulur mengacak rambut Nicko dengan kaki berjinjit.
__ADS_1
"Nah, kan nggak keliatan tua."
"Apa sich kamu sayang, kalo mau muji nggak usah pake jatuhin juga ujung-ujungnya," Nicko yang gemas menghujani wajah Indah dengan ciuman yang membuat Indah kegelian sendiri.
"Om, udah ikh geli. Suka banget nyiumin aku, modus dech om nich."
"Biarin modus, kalo nggak nyium kamu emangnya harus nyium siapa, hhmm? boleh kalo aku nyium wanita lain?" keduanya sudah saling berhadapan dengan tangan Nicko yang sudah berada di pinggul Indah.
"Coba aja, tapi jangan harap boleh nyium aku lagi!"
"Mulai posesif sekarang! oke, tapi kamu juga nggak boleh ya, jaga buat aku." Nicko memajukan wajahnya hingga hidung keduanya bertemu kemudian memiringkan wajahnya ingin mencium bibir yang sejak tadi sudah menggoda tetapi di tahan oleh Indah dengan satu jarinya.
"Nggak janji!" seru Indah kemudian kabur keluar rumah dan langsung masuk ke dalam mobil Nicko.
Nicko terperangah melihat tingkah Indah yang membuatnya semakin gemas kemudian mengunci pintu dan berlari menyusulnya.
"Nasib, suka sama anak ABG, iseng aja isinya. Susah banget di ajak romantis!"
Setelah sampai di pemakaman, Indah segera turun dan melangkah menuju makam sang papah, yang di ikuti oleh Nicko di belakangnya.
"Assalamualaikum papah, Indah datang Pah...Maaf jika indah sudah lama nggak nengokin papah, papah bahagia di sana?" Indah memaksakan senyumnya dengan tangan mengusap batu nisan yang bertuliskan nama papahnya.
"Maaf Indah belum bisa bahagiain papah dan mamah. Maaf Indah belum jadi anak yang baik untuk kalian, tapi Indah akan terus berusaha yang terbaik untuk mamah. Dan papah jangan khawatir ya. Semua Indah lakukan untuk mamah, mungkin saat ini kelakuan Indah membuat menambah beban papah disana. Tapi Indah janji setelah Indah sukses nanti, Indah akan berubah menjadi putri yang papah harapkan."
"Maaf Pah...."
Nicko menarik tubuh Indah ke pelukannya. Indah mendekap erat hingga Isak tangisnya tak lagi terdengar, tapi tubuh yang bergetar menandakan kepiluan yang mendalam.
__ADS_1
"Sudah sayang, kita pulang ya..."
Nicko membawa tubuh Indah untuk beranjak, sebelumnya tangan Nicko sempat mengusap batu nisan itu " Aku akan menjaga dan membahagiakan anakmu.."