
Setelah pertengkaran dengan Chiko dan bungkamnya Indah yang tidak menjawab apapun pertanyaan dari Chiko, membuat pemuda itu seharian kesal sendiri.
Sampai jam istirahat Chiko sama sekali tak keluar dari kelas membuat kedua sahabatnya kebingungan. Baru kali ini Chiko mencintai seorang gadis tapi langsung di buat kesal dan kecewa. Dia masih bertanya-tanya ulah siapa gerangan yang membuat begitu banyak bekas merah di leher Indah.
"Loe ngapa?" tanya Soni.
"Nggak apa-apa."
"Tadi Indah nyariin loe! ada masalah?" lanjut Kiki.
"Apa lumrah kalo leher cewek banyak cupangannya?" tanya Chiko yang membuat kedua temannya saling menatap.
"Indah banyak cupangannya? lumrah aja lah, dia cantik, sexy, menggoda, jelas banyak yang ngejar. Sekalipun dia diem aja, udah pasti cowok yang liat nggak kuat nahan hasrat!"
"Bener kata Soni, loe ketikung?"
"Ck, ke tikung sama siapa?"
"Ya kali aja, loe yang nggak pernah punya cewek, sekalinya pengen deket langsung ngadepin modelan Indah. Ya harus ekstra kerja keras sich!"
Sampai jam pulang sekolah tiba Chiko langsung melesat ke kelas Indah. Nggak pengen kecolongan dan berujung uring-uringan.
"Semalem sama si om ganteng?" tanya Asti yang sedang memasukkan bukunya ke dalam tas.
"Hhmm..gue cuti kayaknya, kondisinya nggak memungkinkan. Tapi kok loe bisa tau?"
"Jenni yang bilang, semalem gue kan nongkrong sama dia dan kak Toni juga."
"Sorry ya gue nggak bisa dateng, di gembok sama si om jadi nggak bisa keluar rumah," sahut Indah.
"Loe bakal kayak gue juga Ndah?" Jenni ikut nimbrung setelah menyelesaikan catatan dan merapikan meja.
Mereka memang nakal, tapi pendidikan tetap yang utama, karna bagi mereka nggak ada yang tau nasib orang. Berharap sukses nantinya kemudian mereka bisa meninggalkan dunia malam dengan segala kenikmatan yang ada. Tanpa mengucapkan kata kelam, karena nyatanya mereka bisa bertahan hidup dari sana.
__ADS_1
"Nggak lah, dia masih sendiri."
"Tapi gila parah banget As, gantengnya nggak ketulungan, tapi kok mirip kayak siapa ya.....gue kayak nggak asing aja liat mukanya."
"Yang jelas nggak kayak sugar Daddy loe kan Jen?"
"Diem loe As, yang penting mah duit kalo gue!"
"Udah ikh berisik, nanti ada yang denger aja, gue juga nggak tau kapan balik ke club' lagi, si om benar-benar nggak bebasin gue. Padahal perawatan nyokap terus jalan. Mana besok harus cuci darah." Indah bingung harus gimana, tabungannya ada tapi nggak mungkin dia kuras gitu aja, sedangkan kebutuhan nggak cuma hari esok aja. Masih ada hari lainnya yang pastinya butuh banyak biaya.
"Hari ini kalo sekiranya loe udah bisa langsung datang aja ke club', langganan loe nungguin dari kemarin, malah loe bisa dapet bonus 2x lipat katanya. Soalnya si om abis menang tander!" tutur Asti.
"Liat nanti malem aja dech, kalo udah mendingan gue kerja," Indah segera beranjak dari duduknya mengajak kedua sahabatnya untuk segera pulang. Tetapi tepat di depan pintu dia di kejutkan dengan adanya Chiko yang sudah berdiri disana.
"Loe benar-benar nggak bisa bebas Ndah, tapi keduanya tampan, tinggal milih aja yang satu masih cupu dan yang satu udah suhu, yang satu masih pemula dan yang satu udah pengalaman," bisik Jenni di telinga Indah.
Indah menyambut tatapan Chiko yang begitu dalam, tak ada getaran tetapi cukup membuatnya penasaran. Melihat mata Chiko mengingatkannya dengan seseorang.
Indah hanya mendengus kesal, sahabatnya yang satu itu memang selalu tak bisa di kendalikan ucapannya.
"Kenapa? kalo masih kesel sama gue, nggak usah nemuin gue!" Indah segera melangkah melewati Chiko, dia cukup jengah dengan sikap Chiko yang hanya diam saja dengan wajah emosi.
Indah berjalan menuju parkiran sekolah dengan memesan taksi online. Nggak ingin membuat kisruh dunia percintaan, Indah langsung masuk ke dalam taksi menuju rumahnya.
"Makasih ya pak!" setelah sampai depan pagar Indah segera masuk ke dalam rumah, dia tak tau jika sejak tadi Chiko mengikutinya. Chiko ingin tau siapa orang yang dekat dengan Indah. Tapi hampir menjelang sore tak ada pergerakan dari sana, membuat Chiko pergi dengan perasaan sedikit lega.
Perginya mobil Chiko dari halaman rumah gadis itu membuat mobil di belakangnya segera memasuki halaman. Nicko sejak tadi hanya memperhatikan dan tak ingin membuat perselisihan. Dia turun kemudian masuk ke dalam rumah Indah yang tak terkunci.
Melangkah mengikuti aroma masakan yang cukup menggugah selera. Indah yang sedang fokus tak menyadari adanya Nicko di sana. Diapun lupa jika sejak pulang sekolah membiarkan pintu depan terbuka.
"Sayang...." Nicko langsung memeluk Indah yang sedang sibuk memasukkan beberapa bumbu ke dalam wajan.
"Eh, om kok ada di sini? gimana caranya masuk?"
__ADS_1
"Kamu lupa kunci pintu, lagian aku punya banyak cara untuk masuk ke dalam tanpa merepotkan kamu sayang." Nicko melirik masakan yang ada di dalam wajan, ayam kecap kesukaannya pas sekali dengan perutnya yang belum terisi sejak tadi siang.
"Tumben masak? nggak capek, hhmm?" tanya Nicko lagi yang mulai merusuh mencari kenyamanan di sela leher gadisnya.
"Diem om! aku lagi pengen masak aja, bosen makan masakan luar terus. Awas om aku belum selesai masak, minggir dulu nanti kalo udah matang aku ajak makan."
"Tapi aku merindukanmu, tadi pulang sama siapa?"
"Ck, om buat aku gerah." Indah mematikan kompornya kemudian berbalik menatap Nicko yang terus menempel seperti cicak.
"Mau makan nggak?"
"Pertanyaanku belum kamu jawab!"
"Aku pulang naik taksi!"
"Terus tadi pagi siapa?" Nicko sengaja menanyakan itu pada Indah karena ia ingin tau peran adiknya untuk Indah.
"Cuma temen, awas aku mau nyiapin makan dulu," Indah melepas pelukan Nicko tetapi begitu sulit karena Nicko justru merapatkan tubuh Indah dan membaliknya hingga terdorong ke dinding.
"Teman yang membuatku gelisah, aku nggak suka milikku di sentuh oleh orang lain. Kali ini aku diam, tapi tidak untuk besok! dan aku tak mengijinkanmu lagi bekerja!"
"Tapi aku harus kerja, nggak melulu om mengurungku. Sedangkan mamahku terus membutuhkan biaya. Jangan halangi aku untuk mencari uang om, aku cukup pusing karena sehari saja ATM ku nggak ada pemasukkan!"
"Aku nggak mau merepotkan siapapun, jika om nggak bisa menerima ku, aku nggak akan memaksakannya dan om bisa pergi sebelum rasa itu semakin dalam."
"Harus dengan cara apa aku membuatmu berhenti sedangkan aku sudah mengatakan jika akan memenuhi semua kebutuhanmu. Jangan keras kepala Indah, aku serius sama kamu jadi tolong hargai aku!"
"Karena aku gadis malam om, ini pekerjaan ku! Dan om nggak seharusnya menjatuhkan perasaan om padaku, aku hargai niat baik om, tapi apa om nggak berfikir jika keluarga om tau, kalo om membiayai seorang pelacur? apa mereka bisa terima? apa jika om serius sama aku mereka akan menganggapku baik? nggak om!"
"Aku memang keras kepala, tapi ini caraku mbentengi diriku dari perasaan cinta yang hanya akan membuatku lemah. Yang hanya akan membuatku di hina, aku nggak pantas di cintai, aku nggak pantas mendapatkan kasih sayang seorang pria! Bahkan ketika mamahku memintaku untuk menikah pun nggak akan aku lakukan. Karena hidupku hanya butuh uang untuk mamah dan membahagiakan mamah." Air mata indah runtuh, ini titik terlemahnya. Dia benci menangis di depan orang lain, bahkan sahabatnya pun tak pernah melihatnya sesedih ini.
Tubuh indah luruh ke lantai, Nicko pun terpaku saat melihat Indah begitu menyedihkan dengan semua beban hidup yang ia rasakan. Sedangkan yang Indah katakan benar adanya, orangtuanya belum tentu mau menerima jika tau latar belakang Indah. Apa lagi tadi pagi dia mendapatkan kenyataan lain.
__ADS_1