
Seharian tanpa ada yang mengabari, ponselnya yang selalu berdering dengan panggilan yang menanyakan kabar kini tampak sepi seperti tak berpenghuni.
Indah sibuk dengan buku yang isinya berbagai macam soal. Mencoba lebih fokus dan melupakan. Walaupun hati masih sedih dan air mata pun belum kering, tapi tak untuk terus meratapi.
Belajar, lanjut makan siang dan kembali lagi menekuni bukunya. Hingga sore tiba Andini memilih untuk sejenak mencari angin, berjalan menyusuri jalan menuju supermarket untuk sekedar membeli jajanan dan es krim kesukaan.
Setelah membayar dan mendapatkan semua yang ia inginkan kemudian kembali pulang ke rumah. Berjalan melewati taman dan melihat banyak anak kecil yang bermain di sana. Senyuman terukir dari bibir mungilnya, dia memilih untuk menepi dan duduk di bangku taman.
Canda tawa dari anak-anak yang sedang bermain dengan mudah menular dan membuat moodnya sedikit membaik. Sambil memakan jajanan Indah mengamati. Kenangan dulu bersama kedua orangtuanya sempat singgah di pikiran. Rindu yang Indah rasakan begitu nyata. Hingga kini ia dewasa dan berharap akan terus bisa membahagiakan sang mamah.
Indah pulang setelah senja berganti malam, melangkah menuju rumah dengan hati yang sudah sedikit membaik. Membuka pagar dan kembali menutupnya dengan rapat. Hendak kembali melangkah tetapi tiba-tiba terhenti saat melihat seseorang yang kini berdiri menunggunya.
"Ada apa?"
"Cuma mau lihat keadaan loe aja, sepertinya lebih baik dari kemarin."
"Iya, bisa loe lihat sendiri gimana keadaan gue sekarang."
Chiko tersenyum lega, setidaknya Indah baik-baik saja walaupun matanya sembab dan terlihat penuh beban.
"Gue cuma khawatir sama loe, tapi setelah lihat loe baik-baik saja, gue cukup lega. Udah makan?"
"Udah, loe nggak perlu khawatirin gue Ko."
"Bisa ngobrol bentar?" tanya Chiko ragu.
Indah diam tapi langkahnya menuju kursi teras membuat Chiko tau jika Indah memberi kesempatan untuk bicara.
"Maafin gue..."
"Loe nggak salah ko," jawab Indah.
"Tapi hubungan loe berantakan juga karena gue, gue sadar cinta nggak harus memiliki. Walaupun gue masih sayang sama loe, tapi gue udah ikhlas sekalipun loe sama kakak gue."
"Semua udah nggak sama ko, gue nggak bisa lanjutin begitupun dengan kakak loe. Mungkin ini yang terbaik, meskipun awalnya sakit. Tapi gue yakin akan ada saatnya semua bisa kembali baik-baik aja. Dan gue udah ikhlas, maaf karena gue hubungan loe dan kakak loe renggang."
Chiko menggelengkan kepala " ini semua bukan salah loe, pesona loe aja yang akhirnya buat gue dan Kakak terjerat. Malah gue yang harusnya minta maaf, kakak menyerah juga pasti karena gue. Karena dia mikirin perasaan gue, sampe ngorbanin hatinya yang bener-bener cinta sama loe."
"Memang seharusnya begitu ko, berarti om Nicko bener-bener sayang sama adiknya. Loe beruntung punya kakak seperti dia. Dan semoga kalian kelak mendapatkan orang baik sesuai kriteria kalian dan keluarga."
"Maafin mamah gue ya, gue tau loe punya alasan ngelakuin itu." Chiko tau setelah tadi pagi menanyakan pada mamahnya tentang semua yang beliau lakukan, sampai begitu dalam meminta maaf pada Nicko.
"Orang tua loe nggak salah, mereka pasti ingin yang terbaik buat anaknya. Begitupun gue, ada orang yang harus gue bahagiakan. Walaupun ucapannya cukup nyakitin hati gue, tapi gue ikhlas. Ini semua udah resiko dari pekerjaan."
"Dan gue sayang sama loe tulus, tapi harus berakhir sebelum merasakan cinta loe. Gue harap kelak loe bisa wujudkan semua impian loe dan semangat buat ujian besok."
"Hhmm...loe juga semangat, jangan jadiin masalah ini buat kita nggak fokus belajar. Masa depan masih panjang, apa lagi loe yang orang kaya. Orang tua loe pasti menginginkan lebih setelah ini."
Walaupun di hati Chiko, dia ingin sekali memeluk Indah untuk saling menguatkan dan memberi semangat. Tapi dirinya tak seberani itu, apa lagi setelah melihat kejadian kemarin antara Indah dan kakaknya. Dia berasa berkhianat karena mengusik gadis yang sangat di cintai oleh kakaknya.
__ADS_1
Mereka mengesampingkan rasa demi persaudaraan, walaupun Nicko tak berucap apa-apa setelah pergi meninggalkan tapi Chiko tau jika sang kakak mengalah.
Keesokkan harinya, Indah bersiap untuk segera berangkat ke sekolah. Setelah sarapan dengan selembar roti, dia segera berangkat. Melangkah sambil memesan taksi online hingga sampai di depan pintu Indah hampir terjatuh karena tersandung oleh sebuah kotak yang bertengger di atas keset.
"Apa sich nich, kalo jatuh kan berabe urusannya." Indah segera mengambil kotak pink tersebut, sekilas hanya kotak biasa dan tak ada nama pengirimnya. Indah sempat menoleh ke kanan kiri siapa tau ada kurir yang masih mampir di salah satu rumah tetangga. Tapi nyatanya pagi ini cukup sepi dan tak ada siapapun selain pengendara yang melintas.
Indah membuka kotak tersebut, ada bunga mawar merah dan secarik kertas yang bertuliskan.
..."Semangat ujiannya....."...
"Dari siapa? nggak ada pengirimnya..."
Indah menarik nafas dalam, walaupun ingatannya tepat pada satu orang dan yakin jika dia pengirimnya, tapi ada sisi hati yang berusaha untuk menyangkal agar tidak kembali mengharapkan.
Indah meletakkan kotak tersebut kedalam rumah dan segera berangkat karena taksi yang ia pesan sudah menunggu di depan pagar.
"Indah..."
"Hay, gimana persiapan kalian?" tanyanya saat sudah berada di halaman sekolah.
"Lumayan lah, yang penting lancar hasil lulus."
"Bener banget loe As, sampe gue bela-belain nyuruh om puasa tiga hari," sahut Jenni.
"Ntar bukanya pake sirup sama blewah seger Jen..." timpal asti.
"Iya pas banget waktunya buka, pas hari gue pms. Apa nggak cekut-cekut tuh kepala si om!" Mereka tertawa membayangkan, apa lagi Asti yang sudah tak terbayang dengan wajah melas sugar Daddy nya Jenni.
"Iya donk Jenn, tiga hari jangan sampe di sia-siakan. Kasian nyokap gue kalo liat nilai anaknya merah, apa lagi sampe nggak lulus. Amit-amit jabang gede, jangan sampe dah!"
"Bener banget, si Tante berharap banget sama loe Ndah, nanti kalo nggak tau loe bisa tanya gue ..."
"Terus?" bukan Indah yang bertanya tapi Jenni yang tidak yakin hingga menyerobot melempar pertanyaan.
"Gue temenin ngitung kancing, ini kancing baju gue abis gue tambahin satu biar genep jadinya, " jawab Asti membuat kedua sahabatnya geregetan.
"Asti!"
Ujian sebentar lagi segera di mulai, sebelumnya semua murid di minta untuk berdoa terlebih dahulu dan meminta agar semua di beri kelancaran. Begitupun dengan Indah yang tiba-tiba terbayang akan wajah sang mamah.
"Bismillahirrahmanirrahim....Mamah doain Indah."
Mengerjakan dengan teliti hingga semua terisi dengan baik, apa yang Indah pelajari ia harap membuahkan hasil.
Tiga hari menempuh ujian dengan segala drama yang ada di dalamnya. Tiga hari juga Indah mulai bisa terbiasa tanpa hadirnya Nicko. Bahkan malam ini dia berencana untuk kembali ke club' untuk mengais rezeki karena uang tabungan yang Nicko kasih sudah menipis.
Melipir ke cafe dengan kedua sahabatnya, untuk ngademin pikiran yang sempat panas karena soal yang begitu banyak.
"Agh lega.....seger banget ini jus mangga, nggak kira-kira emang tuh soal. Pala gue serasa mau pecah di buat ngitung soal matematika tadi."
__ADS_1
"Iya bener banget Jen, mana tadi gue pas mau ngitung kancing, ini kancing terakhir pake gelinding lagi. Itu pengawas nanya, ini kancing siapa? malu nggak tuh gue..." sahut Asti.
"Gue tadi juga sempat pusing sama soal no 29, mana tau coba gue di tanyain tanggal lahirnya pencipta perkalian. Lahir aja belum gue gengs....." timpal Indah.
"Emang bener-bener, mending gue di suruh ngeladenin om-om tiga biji dari pada ngerjain soal yang bikin gue pusing!"
"Pale loe biji, tiga orang Jenni. Nah satu orang ada dua biji," oceh Asti.
"Berisik Asti, di dengerin orang sebelah nggak enak. Nanti aja kalo mau ngomongin biji!" Indah mencoba memperingatkan kemudian menoleh ke bangku sebelah dan tersenyum kaku. "Maaf ya tante, berisik banget ya..."
Setelah kumpul di cafe ketiganya kini sudah berkumpul di apartemen Asti, bersantai sambil memilih-milih dress yang akan di gunakan nanti malam.
"Baju gue masih ada di sini kan As?"
"Masih, eh tapi loe beneran mau lanjut lagi Ndah?" tanya Asti dengan wajah serius duduk kembali di antara Indah dan Jenni.
"Ya, kenapa?"
"Si om?" sahut Jenni.
"Gue udah nggak sama dia."
"Kenapa lagi?" tanya Asti lagi.
"Nggak mungkin gue lanjutin hubungan sedangkan loe tau kan si om mau di jodohin. Lagian nggak mungkin juga sama-sama lagi, secara adiknya juga suka sama gue."
"Adiknya siapa?" Jenni bangkit dari tidurnya, menatap serius Indah yang tertunduk lesu.
Indah menarik nafas dalam, kemudian menatap kedua sahabatnya secara bergantian. "Mau tau banget?"
"Kampreeet gue udah nungguin, siapa?" kesal Jenni.
"Ntar loe pada kaget!".
"Anjriiitt indah loe mau gue gigit, jawab aja dulu!" sewot Asti.
"Chiko..."
"Hhhaaaaahhhh!" kedua sahabatnya terkejut hingga menganga dibuatnya.
"Ye di bilangan malah pada mangap, loe kata gue keong di haahin!"
"Tunggu-tunggu pantes aja gue kalo liat si Chiko mirip siapa gitu kan, ternyata mereka adik kakak? parah loe Ndah..... lumayan tau, kenapa nggak di lanjutin. Sana sini dapet!"
"Otak loe Jenni, nggak boleh serakah! lagian si om milih mundur juga, dia pergi dan....."
" Dan?"
"Dan apa?
__ADS_1
"Dan gue kangen....." rengek Indah dengan air mata yang tiba-tiba turun deras.