
Pagi ini Indah cukup kesulitan mencari taksi, kuota yang kebetulan habis membuatnya tak bisa memesan taksi online, sedangkan di depan komplek nya ingin mengadakan acara hajatan yang membuat jalan di tutup dan tidak ada tukang ojek yang melintasi depan rumahnya.
Indah yang tak ingin telat akhirnya terpaksa berjalan ke depan hingga langkahnya berhenti di halte bus. Sepuluh menit Indah menunggu taksi dan juga bus sekolah tak kunjung datang, membuat hatinya kesal.
Hingga klakson motor di depannya membuat Indah yang sedang komat kamit kesal di buat terkejut. Indah menaikkan alisnya saat si pengendara motor yang memakai celana abu-abu sama seperti rok miliknya membuka kaca helm.
"Loe.."
"Ayo naik!" ucap Chiko yang kebetulan melihat Indah yang sedang berdiri di halte depan komplek perumahan.
"Makasih, tapi gue lagi nunggu taksi."
"20 menit lagi bell sekolah, loe mau nunggu sampe jam brp?" tanya Chiko yang membuat Indah melihat jam di tangannya.
Chiko yang merasa tak ada pergerakan dari Indah kemudian menutup kembali kaca helmnya dan mulai menghidupkan motornya. Tetapi saat tangannya ingin memutar gas, motornya serasa oleng karena Indah yang mencoba untuk naik secara tiba-tiba.
"Ck, gue pikir loe nolak."
"Udah cepet jalan, keburu telat!" celetuk Indah yang sudah meletakkan kedua tangannya di atas pundak Chiko yang berbalut jaket.
"Bisa nggak sich loe pegangan yang bener!" seru Chiko.
"Loe mau gue pegangan dimana sich?"
"Pegangan perut gue! loe kata gue tukang ojek apa?"
"Nyari kesempatan loe ya?" ketus Indah.
"Gue turunin loe disini kalo nggak pegangan yang bener!" ancam Chiko yang sudah mulai melambatkan laju motornya. Indah mendengus sebelum akhirnya jemari itu menggenggam jaket Chiko pas di kedua samping perutnya.
Mengetahui Indah yang sudah merubah posisi tangannya membuat Chiko menarik tangan Indah hingga membuat gadis itu memeluknya dari belakang.
"Modus loe!"
"Kayak gini yang benar! jangan loe lepas, gue mau ngebut keburu telat!"
Akhirnya Indah pun pasrah menuruti perintah Chiko, yang penting dirinya bisa selamat sampai di sekolah.
Selama di perjalanan Chiko di buat panas dingin sendiri, posisi ini membuat jantungnya berdegup lebih kencang. Pemuda itu rasanya ingin merutuki dirinya sendiri karena respon yang di tunjukkan dari dirinya setiap kali dekat dengan Indah.
"Mickey gue harap loe tenang oke!" batin Chiko.
__ADS_1
Sesampainya di sekolah, para murid di buat heboh dengan kedatangan keduanya. Indah hanya memutarkan bola matanya saat melihat respon dari teman-teman satu sekolah mereka.
"Widih enak bener yang pagi-pagi udah sarapan melon bunder!" celetuk Soni yang kebetulan juga baru datang bersama dengan Kiki.
"Berisik loe!" ketus Chiko yang tau maksud mereka. Chiko tak membiarkan Indah turun terlebih dahulu karena roknya yang pendek, bahkan dia baru menyadari jika sepanjang jalan tadi paha Indah sudah menjadi pemandangan menakjubkan di pagi hari.
"Diem dulu jangan turun!" tegas Chiko yang menoleh kebelakang.
"Kenapa?" lirih Indah yang tak mengerti maksud Chiko.
Chiko segera turun dan membuka jaketnya kemudian menutupi paha Indah yang benar-benar membuat mata segar, jangankan orang sehat yang melihatnya, orang pingsan saja langsung melek lagi setelah melihat betapa mulusnya paha itu.
"Tutupin pake jaket gue kalo mau turun!" kemudian tangan Chiko terulur untuk membantu Indah turun.
Indah menyambut tangan Chiko dengan senang hati, di balik sikapnya yang rada ngeselin bagi Indah Chiko cukup perhatian.
"Makasih!" ucapan Indah setelah berhasil turun dengan sempurna.
"Ini jaket loe!"
"Lain kali perhatiin rok loe kalo naik motor!"
"Iya, makasih atas tumpangan dan perhatian loe, gue duluan!" ucap Indah dengan senyum manisnya yang membuat hati siapa saja lumer saat melihatnya.
"Suka bilang, jangan cuma di liatin doank!" ucap Soni kemudian melangkah lebih dulu hingga berjalan sejajar dengan Indah.
Chiko yang melihatnya dibuat mengumpat kesal, dia yang belum begitu memahami ini cinta atau hanya tertarik dan kagum semata, dia masih ingin memastikan sebelum melangkah lebih jauh.
Di ruang kerja yang begitu luas dengan furnitur ala Spanyol, Nicko begitu serius bekerja, matanya sejak tadi memperhatikan laptop hingga dia tak menyadari jika sejak tadi Adit sudah duduk di sebrang mejanya.
"Hari ini kita ada meeting dengan bagian pemasaran lanjut nanti malem ada acara makan makan malam di hotel xxx bersama Pak Haris pemilik Batik Cendana."
Nicko menghentikan kegiatannya, kemudian menatap Adit penuh arti.
"Iya, beliau partner bisnis kita yang pengen banget anaknya bisa nikah sama loe!"
"Ck, males gue!"
"Ya nggak bisa gitu lah, nggak enak kalo kita nggak hadir, apa lagi loe itu tamu kehormatan buat dia."
"Tamu kehormatan karena dia berharap lebih sama gue! ck, terus gue dateng sama loe doank?" tanya Nicko lagi.
__ADS_1
"Ya iyalah, emang loe mau dateng sama siapa? bini belum punya, cewek ya nggak ada."
"Berisik loe!" ketus Nicko, "bagaimana dengan Indah?"
Sebelum menjawab pertanyaan Nicko, Adit menarik nafas dalam terlebih dahulu kemudian memajukan tubuhnya hingga bagian dada menyentuh pinggiran meja.
"Kenapa?" tanya Nicko heran dengan sikap Adit yang tiba-tiba menjadi serius.
"Dengerin gue baik-baik, Cinta Sellindah anak dari pemilik PT. Kumala Indah tekstil kompetitor kita dulu yang akhirnya tumbang karena pemiliknya meninggal dunia dan tidak ada yang mampu mengurus perusahaannya karena istrinya jatuh sakit. Ibu dari Indah sakit gagal ginjal udah selama tiga tahun di rumah sakit, dan semua si Indah yang biayain. Mungkin ini alasan dia jadi gadis malam, karena tuntutan hidup."
Nicko sedikit tersentuh mendengarnya, dia tidak menyangka dibalik wajah imut dan cantik nya. Ternyata banyak pengorbanan yang ia lakukan.
"Dia sekolah dimana?"
"SMA Nusa Darma, milik bokap loe!"
Ada senyum yang terbit di wajah Nicko setelah mengetahui jika Indah bersekolah di sana, ntah apa yang ia rencanakan ke depan.
"Nanti malam gimana? masih mau bermain-main dengan wanita yang lain?"
"Nanti gue tanya sama di Mickey dulu, masih mau nyari lubang apa sudah puas dengan jari lentik anak SMA."
Setelah pulang sekolah, Indah memilih ikut dengan Asti karena akan sulit jika dia pulang kerumah dengan jalanan yang di tutup. Mungkin nanti malam dia baru pulang setelah acara hajatan depan komplek selesai, dari pada nanti malam sulit keluar, karena tak ada kendaraan yang bisa melintasi depan rumahnya.
"Kayaknya loe makin dekat sama si Chiko!"
"Biasa aja!"
"Tadi pagi anak-anak pada heboh karena loe berangkat bareng sama dia, gimana enak nggak meluk cowok sebaya?"
"Otak loe mulai dech As," sahut Indah.
"Kalo emang dia suka sama loe gimana?"
"Gue? nggak mungkin lah As, lagian gue nggak pantes buat siapapun, apa lagi buat Chiko yang punya latar belakang keluarga terhormat, ya kali punya mantu mantan gadis malam!"
"Tapi dulu loe juga kan dari keluarga terpandang!" Asti memarkirkan mobilnya di parkiran apartemennya.
"Beda dulu beda sekarang beb, dulu gue kaya dan terhormat tapi sekarang gue hina dan rendahan!"
...****************...
__ADS_1
jangan lupa like, coment & vote 🤗
♥️♥️♥️