
Nicko dan Indah kembali menghabiskan malam dengan kegiatan panas yang menguras tenaga. Tak ada satupun yang rela melepas dan menyudahi pertempuran malam ini. Bahkan mereka melupakan niat untuk pergi belanja. Nicko yang sudah tidak tahan segera menyerang apa lagi melihat Indah yang hanya berbalut handuk kimono sudah pasti membuatnya tambah mudah.
Melakukan penyatuan di sofa dengan gaya yang berbeda merupakan tantangan bagi keduanya. Nicko yang awalnya mendominasi tapi tak bisa menolak saat Indah terus bergerak. Nicko bak raja yang yang sedang menikmati hidangan yang membuatnya ketagihan. Tak perlu banyak memberi pelajaran sang istri sudah pintar.
Hampir setengah jam Indah menyalurkan apa yang ia inginkan. Bergerak sesuka hati tanpa niat ingin berhenti. Dia yang memang bukan wanita polos, sudah pasti tau cara memuaskan suami. Hingga Nicko yang sejak tadi hanya diam menerima hujaman di buat gemas karena sang istri yang semakin di luar batas.
"Waktunya aku yang bergerak sayang, peluhmu sudah banyak yang keluar. Aku tak ingin kamu secepatnya kelelahan karena masih banyak gaya yang belum kita coba."
Nicko mengangkat tubuh Indah dan membawanya ke meja samping jendela, menyibak jendela yang tadi sempat Indah tutup rapat dan hanya menyisakan gorden tipis yang tembus pandang. Memposisikan Indah untuk duduk dengan kedua kaki terbuka.
Mendapat hujaman yang membuatnya tak tahan tentu berhasil memancing suara lembut Indah semakin nyaring terdengar. Bahkan pemandangan luar yang terlihat dari jendela menambah kehangatan malam dan membuat fantasi di kepala. Keduanya memang bukan orang awam dalam hal beradu kenikmatan. Mereka sama-sama paham dalam memanaskan malam. Apa lagi status yang jelas halal membuat mereka merasa sangat aman dan semakin ingin melepaskan hasrat.
Indah di buat kewalahan, tubuh Nicko yang gagah dengan rahang yang kuat, wajah yang hampir tak ada celah, tinggi dan berkharisma membuatnya semakin terbakar gairah.
Tak akan ada yang mampu menolak berada di bawah kukungan Nicko, bahkan banyak wanita yang mengantri saat Nicko sedang gencar-gencarnya mencari setiap hari. Tapi tak ada satupun yang mampu membuat hati Nicko tergerak, hanya untuk memuaskan tak untuk membuatnya nyaman.
Cukup di meja dekat jendela, Nicko kembali mengangkat tubuh Indah yang masih sangat panas. Berkali-kali bergetar tak membuatnya gentar, wanita itu betul-betul mampu mengimbangi sang suami yang menginginkan lebih.
"Mau kemana by?"
"Lihat saja!" Nicko tersenyum dan terus melangkah menuju keluar kamar. Indah yang sempat heran akhirnya paham apa yang Nicko inginkan.
Nicko menurunkan Indah di tengah-tengah undakan tangga dan kembali memposisikan dirinya di belakang Indah. Cengkraman tangan Indah di pegangan tangga tambah kuat saat merasakan dorongan di tubuhnya. Tak perduli sudah berapa lama, mereka belum ingin menghentikan.
Keduanya seperti tak kenal lelah, peluh bercucuran hingga membasahi tubuh keduanya. Pesona Nicko bertambah berkali-kali lipat saat cucuran keringat membasahi dahi dan menetes ke tubuhnya. Indah pun begitu, semakin berkeringat semakin terlihat sexy bagi Nicko.
Sudah hampir dua jam, ruang tengah di penuhi suara saling sahut menyahut dari kedua pasangan pasutri yang sedang memadu kasih. Meja makan yang cukup besar dinaiki keduanya menjadi sarana terakhir pertempuran. Tempat dimana beraneka makanan tersaji saat ini di jadikan Nicko untuk terus menikmati makanan yang tak akan habis dan mungkin akan ia nikmati setiap hari.
Dengan saling berpelukan mereka melepaskan semua hingga tubuh keduanya bergetar hebat. Bahkan teriakan keduanya begitu nyaring terdengar. Keduanya ambruk di meja makan, masih saling merapat, si mickey pun enggan lepas.
" Makasih sayang, aku mencintaimu..."
__ADS_1
"Hhmm..." Indah tersenyum dengan mata yang masih tertutup. Lelah rasanya, dada pun naik turun dengan cepat.
Dua jam lebih menguras keringat, kini rasanya perut mulai lapar, Nicko melirik Indah yang masih anteng dalam perlukan. Menyibak rambut nya yang basah dan mengecup keningnya begitu dalam.
"Sayang .."
"Iya by.."
"Maaf nggak jadi belanja, kamu begitu sayang untuk aku abaikan. Malam ini pesan dulu aja ya. Besok pagi aku antar untuk belanja."
"Ya sudah, aku juga mager mau kemana-mana. Pengen makan terus meluk hubby lagi. Nggak pengen keluar rumah, maunya di kamar aja."
Nicko tersenyum melihat sikap manja Indah, dia membawa Indah kembali ke kamar dan membantunya untuk bersih-bersih. Bak bayi yang baru lahir, Indah hanya diam saat tangan kekar Nicko menyabuni seluruh tubuhnya. Mereka berdiri di bawah guyuran shower membersihkan sisa-sisa percintaan.
"Sudah ya, dingin...ayo aku gendong lagi!" dengan lembut Nicko memakaikan handuk di tubuh Indah, membawanya kembali duduk di ranjang. Malam ini ranjang aman, tak berantakan bahkan masih sangat rapi setelah tadi sore Indah ganti sprei dan menyemprotkan parfum. Sangat nyaman untuk di buat rebahan.
"Sayang pakai baju dulu baru tiduran. Jangan membuat si mickey kembali bangun setelah melihat posisimu yang menantang seperti ini."
"Iya ini pake baju dulu, habis itu boboan lagi ya. Sini aku bantu pakaikan. Setelah ini aku mau pesan makanan!"
Indah bangun dan memposisikan dirinya untuk memudahkan Nicko memakaikan bajunya.
"Pengen yang berkuah by.."
"Mau apa sayang?"
"Apa ya, pengen bakso sama soto. Sepertinya enak, aku itu aja."
"Oke aku pesankan dulu ya, kamu istirahat aja. Nanti kalo sudah datang aku bangunin sayang," Nicko mengecup pipi Indah kemudian mengambil ponselnya dan memesan makanan.
Pagi-pagi kedua pasutri itu sudah berada di pasar, Nicko yang tak pernah masuk pasar terpaksa harus ikut karena tak tega dengan Indah yang membawa belanjaan berat. Banyak pasang mata yang melihat keduanya dengan terkesima. Bahkan para pedagang pun ikut menggoda. Beruntung di sana sebagian besar di dominasi oleh ibu-ibu dan bapak-bapak. Bukan kaum muda yang pastinya tak akan Nicko kasih kesempatan untuk menatap istrinya terlalu lama.
__ADS_1
"Ada lagi sayang?"
"Tinggal buahnya belum by, ayo kita ke penjual buah."
Keduanya memilih buah yang mereka inginkan. Indah yang sudah biasa ke pasar tak bisa diam saat penjual mengajukan harga. Jiwa emak-emaknya meronta bahkan sejak awal belanja sudah giat menawar.
"Sayang sudah bayar saja, uang dariku tak akan habis sekalipun kamu membeli semua yang ada di pasar ini." Nicko sudah tidak sabar saat indah terus saja menawar dagangan, mungkin jika tak di pasar mulut Indah sudah nicko bungkam.
"Nggak apa-apa by, memang begini tradisinya. Hubby diam saja oke!"
Ingin rasanya Nicko pergi meninggalkan Indah dan menunggunya di luar, dia malu. Seorang CEO terkenal, eksekutif muda yang kaya raya. Belanja di pasar masih saja menawar. Mau taruh di mana mukannya. Tapi dia tak bisa berkutik saat sang istri menyuruhnya diam.
Keluar dari pasar dengan empat kantong plastik besar, berjalan menuju mobil dan bergegas pulang.
"Lega, stok banyak hati pun senang. Sisa uang masih banyak." Indah mengibaskan uang cash yang masih tersisa banyak. Nicko yang melihatnya hanya bisa menggelengkan kepala.
"Entah harus senang atau sedih, istriku pandai mengatur uang tapi aku malu saat kamu banyak menawar!"
"Jangan di pusingkan By, yang penting hubby makan kenyang. Sisa uang buat beli sabun dan yang lainnya. Kalo masih sisa juga buat aku tabung."
"Uangmu yang di ATM?"
"Biarkan saja, biar nanti anak-anakku kelak tidak kesusahan, karena tak ada yang tau nasib orang by. Aku bersyukur di kasih suami kayak raya, tapi akupun tak mau gelap mata. Kelak anak-anakku butuh biaya, semoga saja papahnya menjadi konglomerat. Bukan hanya untuk aku, tapi aku memikirkan anak dan cucuku kelak."
Mendengar penuturan Indah membuat hati Nicko menghangat, bersyukur memiliki istri seperti Indah. Tak banyak menuntut dan menghabiskan uang suami. Walaupun seberapa pun Indah minta pasti ia kasih. Tapi salut dengan pemikirannya yang dewasa.
"Memang mau punya anak berapa?"
"Belum tau, yang penting usaha tiap malam!" Indah mengedipkan sebelah matanya. Nicko yang melihat itu di buat gemas.
"Nakal, aku suka!"
__ADS_1