Terjerat Cinta Gadis Malam

Terjerat Cinta Gadis Malam
Bab 65


__ADS_3

"By, aku sudah siapkan baju kerjanya. Sana ganti dan berangkat, ini udah jam sembilan by. Kamu udah kesiangan tau, aku paham kamu bosnya tapi kan harus jadi panutan!"


Nicko tersenyum melihat istri kecilnya yang mengoceh tiada henti. "Aku mau di rumah hari ini, mau bantuin kamu dan nanti mau ajak kamu kerumah mamah."


"Ikh kok nggak bilang sich by, tau gitu tadi beliin sesuatu buat mamah sekalian." Indah merengut, Nicko tak mengerti adat jika kerumah mertua jangan hanya tangan kosong. Apa kata mertuanya nanti, sedangkan sang suami memberi uang banyak.


"Kamu nggak usah beliin mamah makanan di luar, kamu kan sudah beli bahannya kenapa nggak masakin aja? mamah pasti lebih suka masakan kamu dari pada beli di luar." Nicko mengeratkan pelukannya, meletakkan kepalanya di pundak Indah.


"Bener banget ya, kan tadi kita belanja banyak banget tuh. Oke dech, aku masak dulu ya by!" Indah segera melepaskan pelukan Nicko kemudian berlari menuju dapur. Membereskan semua belanjaan, tak lupa mencucinya sebelum masuk kulkas.


"Sayang aku bantu apa?" tanya Nicko yang sudah menarik lengan bajunya sampai di siku.


Indah melihat sekitar yang masih sangat berantakan. "Apa ya by...oh kamu cuciin sayuran aja By, nanti setelah tiris langsung masuk kulkas, biar aku bisa langsung eksekusi. Mamah sama papah suka makan apa by?"


"Oke sayang, aku bersihin semua sayurnya ya." Nicko membawa semua sayur ke wastafel, dengan telaten dia membuang bagian-bagian yang tidak di gunakan.


"Mamah sama Papah nggak milih-milih kok sayang, apa lagi kalo yang masakin kamu. Sudah pasti langsung buru-buru di makan," Nicko tersenyum pada Indah yang sedang mengambil berbagai macam bahan makanan yang ingin ia masak untuk sang mertua.


"Aku mau buat cumi asam manis, sapo tahu sama apa lagi ya by? eh iya kalo Chiko sukanya apa by? biar sekalian aku masakin." Indah begitu antusias, sedangkan senyum Nicko yang mengembang seketika luntur kala cemburu itu datang.


Melihat perubahan di wajah suaminya, Indah segera menghampiri. Menatapnya dengan jarak yang dekat kemudian mengecup pipi yang kini memerah.


"Kenapa?"


"Nggak ada."


"Cemburu?"


"Nggak juga," jawab Nicko singkat.


"Oh, ya udah aku mau masakin menu favorit Chiko. Mungkin telpon dia aja kali ya," Indah segera berbalik dan hendak mengambil ponselnya yang berada di atas meja makan tetapi segera di hentikan oleh Nicko.


Nicko memeluk Indah dengan erat, semenjak menikah hati Nicko justru tak sekuat dulu. Lebih mudah cemburu jika itu menyangkut sang adik.


"Jangan hubungi dia sayang, kamu dalam masalah jika menerabas pagar pembatas. Sudah siap kena hukuman ganda? jangan membuatku marah, sedangkan aku begitu sulit marah padamu."

__ADS_1


"Kenapa masih cemburu? dulu nggak, kenapa sekarang berubah?"


"Semakin mencintai dan takut kehilangan, walaupun sudah sah tak membuatku tenang. Aku nggak mau sampai berubah dan tergoda adik ipar, maaf jika rasaku berlebihan." Nicko semakin mengeratkan pelukannya, mencium aroma tubuh Indah yang menenangkan.


"Hubby mikirnya kejauhan, mana ada aku seperti itu. Aku nggak ada niat untuk mendua, cuma kamu." Indah berbalik kemudian menatap sang suami dengan tangan mengusap kedua pipinya.


"Jangan cemburu by, nanti cepet tua loh. Nggak takut memangnya kalo di bilang kakek sama anaknya kelak?"


"Sayang kamu meledekku, rasakan ini!" Nicko menggelitik tubuh Indah hingga membuat sang istri tertawa dan menjerit kegelian.


Rumah tangga yang Nicko harapkan baru di mulai, sebagai pria dewasa ia sangat berhati-hati. Apa lagi kegagalan yang ia alami sebelum akhirnya bertemu dengan Indah. Banyak pelajaran yang ia ambil dari Lika liku kehidupannya. Beruntung memiliki istri yang belia tapi dewasa. Berharap kelak pernikahan mereka langgeng hingga masa yang akan datang.


"Assalamualaikum Mah Pah...."


"Wa'allaikumsalam...eh sayang akhirnya mantu mamah datang juga, sini nak! Duh aura manten, berseri-seri gini wajah kalian berdua. Seneng mamah liatnya, Nicko galak nggak sayang?" tanya mamah yang paham sikap anaknya ketika di rumah, apa lagi sempat dingin dan arogan semenjak kenyataan pahit dulu.


"Nggak kok mah, kak Nicko baik dan sayang sama Indah." Indah melirik Nicko tersenyum saat namanya Indah sebut dengan panggilan kak.


"Mah, ajak duduk donk masak menantunya di suruh berdiri begitu. Kasian capek, udah capek di rumah sama suaminya, capek juga disini gara-gara mamah."


"Mah, Indah mau ijin ke dapur. Mau meletakkan ini mah," Indah menunjukkan jinjingan yang ia bawa.


"Ini apa sayang?"


"Makanan untuk mamah dan papah," Indah memberikan jinjingan kepada mamah mertua.


"Banyak banget sayang, ini kamu beli dimana? dari wanginya sedap sekali. Buat makan siang kita ya." Mamah membuka sedikit tutup tempat makanannya, matanya berbinar saat wangi dan masakan yang terlihat sangat enak.


"Itu Indah yang masak mah," sahut Nicko.


"Waaaahhh ternyata Indah pinter masak Pah, jadi nggak sabar mau nyobain masakannya, mamah ke dapur dulu ya. Setelah ini kita makan bersama." Mamah beranjak dari duduknya, kemudian Indah pun dengan cepat ikut beranjak tapi segera di tahan oleh Nicko.


"Kamu mau kemana?"


"Ikut mamah ke dapur, kasian mamah nyiapin makanan sendiri. Jangan rewel by, aku tinggal sebentar, cuma ke dapur nggak ke kamar tetangga!" jawab Indah santai tapi membuat Nicko geram.

__ADS_1


"Sayang!"


"Sudah Nicko biarkan Indah menemani mamahmu, posesif sekali kamu ini!" sindir Papah menatap Nicko dengan tatapan meledek, "kemarin kamu menolak perjodohan giliran sekarang saja, di tinggal bentar sudah kebingungan!"


Keduanya duduk di ruang keluarga, Nicko menatap sengit sang Papah, "andai aku tau jika itu Indah dari awal, aku nggak akan menolak.


"Cinta sekali rupanya, coba saja waktu itu papah menggantikan kamu dengan Chiko, sudah tentu bukan kamu yang menikahinya! mungkin saat ini kamu sudah mendapat julukan sad boy."


"Ck, terus saja meledekku Pah," kesal Nicko.


Semua sudah berkumpul di meja makan, Indah dengan telaten menyiapkan makan suaminya.


"Chiko mana Mah?" tanya papah.


"Iya, kok belum turun...."


"Mah...." ucap Chiko yang baru saja turun dengan wajah segar dan rambut masih basah. "Wah ada kakak ipar, apa kabar kakak ipar? senangnya di kunjungi kakak ipar."


Indah menoleh ke arah Chiko yang dengan segera turun dan duduk di sebelah kiri Indah. Nicko yang melihatnya segera menarik pinggul Indah agar sedikit mendekatinya.


"Kabarku baik, makan ko.." Indah menawari Chiko makan.


"Hmm..... banyak sekali makanannya mah, tumben di lihatnya aja udah bikin keroncong. Pasti enak." Chiko mengisi piringnya.


"Iya ini buatan Indah semua, enak banget masakannya nak. Lain kali masak sama mamah di sini ya."


Indah tersipu ,"iya mah."


"Enak banget kakak ipar, tiap hari di masakin gini aku mau kak!"


"Hey, dia istri kakakmu. Harus ACC dulu kalo minta di masakin. Kecuali jika Indah tinggal disini, bisa sama-sama masak bareng mamah." Tegur sang Papah.


"Kalo gitu aku memimpikan memiliki istri seperti Indah, yang pandai masak dan merawat suami. Benar tidak kak?"


"Hmm....." Nicko malas menanggapi ucapan sang adik, berdehem saja sudah cukup baginya dari pada harus banyak menimpali berujung emosi. Indah yang mengerti ketidaknyamanan sang suami segera mengusap lembut jemarinya. Membuat Nicko menatap Indah yang tersenyum penuh cinta.

__ADS_1


__ADS_2