
Malam ini Indah dan kedua sahabatnya sudah berada di club' milik Toni, seperti biasa mereka duduk di sofa tempat dimana kak Toni bekerja.
"Kak..."
"Hay Indah....udah lama nggak ketemu, sehat?" Indah dan Toni saling menyapa cipika cipiki seperti biasa.
"Seperti yang kakak lihat," jawab Indah kemudian duduk di samping Toni.
"Sendirian aja?"
"Sama yang lain juga, tuh lagi ngambil minum. Kakak sibuk?"
"Nggak, biasa aja cuma ngecek laporan keuangan. Tumben main?"
"Iya, refreshing sambil nyari duit. Pusing habis ujian," jawab Indah santai.
Toni memperhatikan Indah dengan pakaian sexynya seperti biasa, Indah yang sudah lama tidak kembali ke club' untuk bekerja hari ini berpenampilan untuk kembali menyambut tamu yang akan membayar dengan uang jutaan.
"Kamu mau open lagi?"
"Hmm....kenapa, kakak mau booking aku?" tanyanya dengan senyuman menggoda.
"Ck, jangan gitu, nanti kalo aku khilaf repot urusannya," Toni mengusap lembut kepala Indah, "kamu sudah seperti adik, nggak mungkin aku booking. Kalo kamu lagi butuh duit malah aku tawarin."
Indah tersenyum manis mendengar ucapan Toni, sudah sejak awal selalu begini. Toni selalu berperan seperti seorang kakak. "Kapan menikah?"
"Pertanyaan apa itu?"
"Aku serius, kakak sudah pantas memiliki pendamping. Apa nggak mau serius menjalani hubungan?"
"Belum mau terikat, mungkin nanti atau tahun depan. Kakak belum tau, apa malah kamu duluan?"
"Mamah minta aku menikah setelah lulusan."
Toni terkejut segera menoleh menatap Indah yang saat ini diam dengan pandangan menerawang. "Serius?"
"Hmm...."
"Nicko?"
Indah bungkam dan hanya menggelengkan kepala, kemudian menatap Toni yang diam menunggu penjelasan.
"Aku sama dia udah nggak sama-sama lagi, jadi nggak tau harus dengan siapa, memang ada yang berbesar hati mau menerima?"
"Jangan gitu, kamu berhak mendapatkan itu.."
"Nyatanya....nggak mudah kak, apa kakak mau menikah denganku? menuruti keinginan mamah, untuk melakukan ijab kabul di depan penghulu?"
Toni menggenggam jemari Indah, menatap dalam mata lentik berbalut eyeshadow dan eyeliner yang menghiasi.
"Mana ada adik berubah jadi istri?"
"Banyak..."
Toni mengusap lembut pucuk kepala Indah kemudian kembali fokus dengan laptopnya.
"Cin, gue langsung masuk kamar ya!" ucap Asti yang tiba membawa minum dan meletakkannya di atas meja.
__ADS_1
"Jenni?"
"Noh masih ngegodain brondong mabok, gila tuh anak nyari hiburan nyekokin anak orang."
Indah menggelengkan kepala, sudah biasa sahabatnya yang satu itu kelakuannya aneh-aneh, hanya melihat sebentar Jenni yang sedang tertawa puas kemudian kembali melihat Asti yang sedang mencari sesuatu.
"Kenapa?"
"Mr K gue kemana ya?"
"Hhmm.....loe bawa nggak? apa habis?"
"Kak Toni, punya cadangan nggak?"
"Apa?"
"Sarung ajaib!"
"Ck, loe nanya ke gue, mana gue punya begituan. Ngobok-ngobok aja nggak!" sahut Toni yang membuat Indah cekikikan.
"Terus gue gimana donk? mana si om udah telponin terus lagi, ngebet banget dah nich bandot!"
"Minta sama Jenni, dia selalu bawa. Jangan sampe dia pake buat ngajarin brondong itu!" ucap Indah.
"Bener banget, gila tuh anak. Oke gue kesana dulu ya, loe kalo mau masuk kamar kabarin gue, paling orangnya masih di jalan."
"Siap!"
Indah menghembuskan nafas kasar, kemudian memijit pelipisnya. Ada rasa bimbang saat ingin kembali bekerja, padahal tadi sudah mantap. Nyatanya saat mengingat sosok yang ia cinta nyalinya seakan terkubur rapat.
"Kenapa?"
Toni menatap Indah dengan alis yang menukik ke atas, "kok gitu?"
"Tiba-tiba mood down, kayak nggak pengen di sentuh gitu. Mungkin aku batalin aja mumpung orangnya belum datang." Indah segera merogoh tasnya mencari ponsel dan mengetik pesan untuk membatalkan.
"Masih cinta?"
"Banget, tapi lagi otw move on. Kakak mau nyembuhin?"
"Jangan mulai Indah, kamu nggak bakal bisa keluar kalo udah masuk kamarku. Cari lah yang tulus, mungkin mamah lebih lega jika kamu ada yang menjaga."
"Kakak bisa menjagaku!"
"Kenapa harus aku?"
"Karena yang masih perjaka kakak!" ledek Indah.
"Indah!" kesal Toni, dia memang pemilik club yang setiap hari melihat wanita cantik dan seksi, bahkan kalo mau bisa saja setiap hari menjelajah lembah basah. Tapi Toni tidak mau, bukan dia tidak normal, bahkan setiap pagi harus olahraga dan solo karir. Hanya terlalu sayang saja jika harus masuk lubang yang sudah dia pakai ramai-ramai.
Indah pulang tanpa membawa uang, hatinya berat untuk menginjakkan kaki di kamar dan memuaskan pria hidung belang. Entah apa yang terjadi pada Indah, bahkan membayangkan untuk bergerilya di atas tubuh pria saja rasanya malas.
"Huuuuhhhffff kenapa sama gue, terus bagaimana gue dapet duit kalo kayak gini!" Indah merebahkan tubuhnya di ranjang, memejamkan mata dengan air mata yang tiba-tiba menetes.
Hingga pagi menjelang Indah masih bergelung dalam selimut, tak ada kegiatan yang berarti setelah ujian. Hari ini jadwalnya hanya menengok sang mamah di rumah sakit.
Tepat jam 9 Indah baru benar-benar terjaga, bangun dan melakukan ritual pagi lanjut melipir mencari sarapan yang sudah hampir siang. Indah berjalan menyusuri jalan setapak untuk pergi mencari bubur ayam yang ntah masih ada atau tidak.
__ADS_1
Menuju taman yang banyak berjejer pedagang mangkal dengan berbagai macam dagangan. Bubur ayam yang diincar masih ada di sana, Indah segera menghampiri dan memesan satu porsi. Kesendirian yang Indah nikmati walaupun hati masih suka berdenyut nyeri, hingga matanya menangkap sosok yang ia rindukan seminggu ini.
Berjalan keluar dari mobil dengan seorang wanita menuju cafe yang tak jauh dari taman, tanpa bergandengan tangan tetapi cukup akrab dengan canda tawa terselip di sana. Indah tersenyum getir melihatnya, yang ada di pikirannya saat ini adalah, Nicko sudah bahagia dengan wanita yang akan di jodohkan oleh orang tuanya.
"Nyesek banget dada gue, ini bubur ngapa jadi kayak aer, ya kali ikut sedih liat tuh si om sama ceweknya."
Indah meminum teh manis hangat yang ia pesan, rindunya telah melebur dengan rasa ngilu di hatinya. "Udah ikhlas tapi kok masih berharap di sapa ya. Padahal dia liat gue juga nggak, bodoh aja kalo masih diem ngeliatin mereka bercanda."
"Pak berapa semuanya?"
"15 ribu aja neng," ucap pedagang bubur ayam tersebut. "Eh kok nggak abis neng? buburnya apa nggak enak?"
"Eh enak kok pak, tapi tiba-tiba perut saya kontraksi pak ngajakin nyari WC umum. Biasa perut kampung, nggak boleh kena sarapan beginian, biasa cuma makan singkong pak."
"Owalah neng, ya udah nggak apa-apa."
"Ini uangnya pak, makasih banyak ya pak." Indah segera mencari taksi untuk pergi ke rumah sakit, tak ingin berlama-lama di sana. Karena dia tak mau Nicko tiba-tiba keluar dari cafe dan melihatnya berdiri di pinggir jalan.
Sampai di ruangan mamah langsung di sambut dengan senyuman hangat, Indah masuk membawa kue kesukaan mamah.
"Bawa apa lagi sayang?"
"Kue kesukaan mamah, spesial rasa coklat keju." Indah duduk di samping ranjang mamah dan membuka bungkusan berisi kue sus kesukaan mamah.
"Di makan mah," Indah menyuapi sang mamah.
"Bagaimana ujian kamu nak?"
"Lancar jaya mah, doakan hasilnya memuaskan ya .."
"Sudah pasti, doa mamah tiada henti. Lusa mamah mau mengenalkan kamu dengan seseorang. Datang ya sayang..."
Senyum Indah seketika luntur, bukan ini yang ia mau. Sudah dapat di duga pasti berkaitan dengan pernikahan yang diinginkan sang mamah. Tapi ia bisa apa, bahkan mamahnya kemarin sempat down karena memikirkan tentang pernikahannya.
"Indah usahakan mah, yang penting mamah sehat dulu."
"Mamah hanya ingin melihat kamu bahagia nak, ada tempat buat kamu berkeluh kesah. Ada yang bertanggung jawab atas dirimu, karena mamah nggak bisa selalu ada buat Indah. Mamah juga nggak tau sampai kapan mamah masih bisa bertahan..."
"Mah, Indah nggak suka mamah bicara seperti itu. Jika ada kata-kata yang baik, kenapa harus mengucapkan sesuatu yang menakutkan untuk Indah. Sebisa mungkin Indah akan membuat mamah bahagia."
"Kamu anak baik, maaf ya mamah merepotkan. Bahkan semenjak papah sudah berpulang kamu harus berjuang. Mamah doakan kelak jodohmu bangga memiliki istri sepertimu..."
"Mungkin pria yang mencintaiku tulus akan menerima mah, tapi tidak dengan keluarganya. Bahkan baru mengetahui pekerjaanku saja sudah menolak, lalu apa yang bisa di banggakan mah...."
Indah tersenyum tegar, saat ini bukan untuk meratapi nasib di depan sang mamah. Tapi menutupi semua rasa dengan senyuman.
Indah pulang setelah memastikan sang mamah sudah tertidur lelap. Menitipkan mamah dengan bibi, yang selalu setia menjaga.
"Gue harus kerja nanti malam, nggak bisa gini. Mamah butuh biaya bukan hanya semangat dan gue harus kuat. Nyari kerja lain bisa aja, tapi kalo menghasilkan uang yang sewaktu-waktu di butuhkan nggak semudah itu."
Indah tak juga memesan taksi, dia berjalan menyusuri trotoar di bawah guyuran hujan.
"Tuhan, maafkan Indah jika cara Indah salah. Indah hanya ingin yang terbaik untuk mamah. Jika memang harus menikah, pertemukan Indah dengan orang yang tulus mencinta dan menerima semua yang ada di diri Indah."
Indah memejamkan mata menengadah kepala merasakan jatuhnya air hujan yang terus membasahi wajahnya. Hingga ia merasa hujan berhenti tiba-tiba tapi suaranya masih sangat nyata.
Membuka mata perlahan, ada payung berwarna jingga di atas kepala. Pandangannya beralih ke samping, seseorang yang berdiri dengan senyuman.
__ADS_1
"Indah...."