Terjerat Cinta Gadis Malam

Terjerat Cinta Gadis Malam
Bab 28


__ADS_3

Chiko terus memperhatikan mulut Indah yang sejak tadi mengunyah, rasa penasaran tentang si om yang tadi sempat di sebutkan oleh Jenni mulai terlupakan saat melihat wajah gemas Indah dengan mulut penuh makanan.


"Pelan-pelan makannya, ini di minum dulu!" Chiko menyodorkan es teh manis kehadapan Indah.


Perlakuan manis Chiko mendapatkan perhatian dari kedua sahabat Indah dan kedua sahabatnya yang sejak tadi juga sedang menikmati makan.


"Loe nggak makan? bakso loe keburu dingin itu." Indah melirik semangkuk bakso milik Chiko.


"Gue makan, ntar juga habis. Lagian berasa kenyang ngeliat loe lahap begini." Chiko tersenyum menatap Indah, tapi lagi-lagi tak membuat gadis itu tertarik. Hanya satu yang membuatnya sesekali menatap Chiko. Wajahnya mengingatkan seseorang...


"Bucin loe! cinta nggak buat kenyang sobat!" celetuk Soni.


"Kalo udah cinta mah makan angin juga bikin kenyang!" lanjut Kiki.


Chiko tak menghiraukan kicauan kedua sahabatnya, fokusnya hanya satu dan tak akan pecah.


"Berasa menjadi ratu di dua kerajaan ya nggak As!" sahut Jenni dengan alis naik turun. Asti ikut tersenyum melihat sahabatnya yang mulai bermain di kubangan cinta.


"Awas kejebak, sampe loe nangis Bombay juga nggak bakal bisa nolong gue!" Asti mendukung apapun keputusan sahabatnya tapi soal cinta memang bukan pakarnya. Terlalu sibuk dan sudah nyaman dengan hidup membuatnya tak mau pusing dengan urusan yang hanya membuat hati lemah.


Indah yang keluar dari prinsipnya dan mulai membuka hati dengan pria membuat Asti terkadang khawatir di buatnya. Tapi dia tak ingin membatasi karena itu sudah masalah hati.


"Ayo di habiskan lanjut masuk kelas!" ucap Indah yang sudah menghabiskan semangkuk bakso telur.


Indah segera beranjak dari tempat duduknya saat melihat kedua temannya yang sudah selesai makan. Chiko yang baru saja memakan dua butir bakso segera menyusul Indah, tak perduli tatapan para fans mereka. Chiko hanya tak ingin kehilangan momen bersama, berusaha untuk perhatian dan meyakinkan.


"Sayang...." tangan Indah di tarik hingga tubuhnya berbalik. "Pulang gue tunggu di parkiran, yang fokus belajarnya Indah sayang," bisik Chiko kemudian melepas Indah dan berjalan menuju kelas.


Setelah kembali masuk kelas dan melanjutkan pelajaran. Kini ketiga gadis itu sudah berjalan menuju parkiran. Asti yang selalu membawa mobil, memberikan kesempatan untuk Indah menghindari Chiko yang sedang gencar-gencarnya.


"Gue balik sama loe!"


"Loe nggak di jemput om ganteng?"


"Iya Ndah, si om sibuk kerja ya?" sahut Jenni.


"Biasalah, lagian nggak juga harus berdua terus. Kita punya dunia masing-masing, bucin boleh tapi nggak melulu kayak anak baru pacaran. Walaupun emang gue baru dalam dunia percintaan."


"Ya udah oke, Jen loe mau balik bareng apa nunggu jemputan?"


"Bareng aja lah, biar seru!"


Mereka kemudian menuju mobil Asti, Indah yang ingin duduk di belakang membuat kesepakatan bagi Chiko untuk segera menarik tangannya hingga tubuh itu bergeser ke mobil belakang. Indah masuk setelah pintu di buka, dorongan dari Chiko tak menyakitkan karena di lakukan dengan perasaan.


"Awas ikh, loe ngapa bawa gue masuk ke mobil loe sich!" Indah dengan kesal ingin keluar dari mobil Chiko tapi dengan sengaja pemuda itu justru menutup dan menguncinya.


"Chiko loe mau bawa teman gue kemana?" seru Asti.


"Gue bawa balik, tenang aja dia aman sama gue!"

__ADS_1


Soni dan Kiki yang sejak tadi memperhatikan temannya dalam mode bucin akut hanya bisa menggelengkan kepala. Apa lagi Chiko yang sangat memaksakan Indah.


"Gini nich kalo OKB...."


"Orang kaya baru? lah Chiko mah emang udah lama kaya Son!"


"Bukan, Orang Kekurangan Belaian. Sekalinya nemuin yang bisa bikin si Mickey bangun udah kayak belut lincah bin gercep!"


"Biarin dah, gue harap Indah belum ada yang punya. Kalo udah bisa gila tuh anak."


"Iya jadinya OGB!" sahut Soni.


"Apa lagi tuh OGB? main sama loe lama-lama bikin puyeng!"


"Ck, OGB orang gila baru!" timpal Soni dengan tangan yang menoyor kepala Kiki.


"Monyet...." Kiki mengejar Soni yang sudah kabur.


Setelah Chiko masuk ke dalam mobil, dia segera melajukan mobilnya keluar gerbang sekolah. Indah menyorot tajam Chiko yang hanya cuek saja. Kesal di hatinya, tapi setiap gerakan yang Chiko buat tak membuatnya bisa memberontak.


"Kenapa sich manyun terus? sabar ya, nanti gue kasih jatah."


"Ck, apaan sich loe! loe sadar nggak sich kalo loe tuh jadi cowok demen banget nyulik gue!"


"Mana ada penculik ganteng begini?"


"Narsis!"


Chiko tersenyum tipis, " gue mau ngajak loe makan, negatif aja sich pikirannya sayang," jawab Chiko santai tangannya terulur mengusap rambut Indah yang jelas langsung mendapat penolakan.


Sampai di sebuah cafe yang tergolong menengah ke atas, Chiko membukakan pintu untuk Indah dan menggandeng tangannya masuk ke dalam. Dengan perlakuan yang lembut Chiko mempersilakan Indah untuk duduk.


Sebenarnya dalam hati Indah ngakak, si dingin yang di gadang-gadang oleh semua cewek sekolah. Tak pernah tersentuh wanita kini begitu takluk dengannya.


"Mau makan apa, hhm?"


"Kalo gue nggak laper gimana?"


"Makan donk, loe mah nggak bisa banget gue ajak romantis. Ini pertama kalinya gue ngajak cewek makan, please jangan ngerusak suasana."


"Oke, tapi gue nggak bisa lama. Gue harus buru balik!" ucap Indah, karena memang dia harus segera ke rumah sakit menjenguk sang mamah yang pagi tadi tidak sempat.


"Hhmm..."


Setelah memesan makanan kini keduanya mulai mengobrol santai, tak ada salahnya juga jika berteman walaupun Chiko mengartikan tak sama. Tangannya meraih jemari indah dengan santai, mata penuh cinta dengan penampilan yang sempurna.


"Nggak usah pegang-pegang ko, berasa mau nyeberang dech gue." Indah berusaha melepas tetapi di tahan oleh Chiko.


"Sayang, ampun dech gue sama loe. Please jangan ngerusak suasana bisa. Romantis dikit napa biar kayak orang-orang!" ucap Chiko dengan suara rendah. Indah pun pasrah, tak ingin berujung ribut di tempat umum yang pasti membuat malu.

__ADS_1


" Nick, itu bukannya adek loe!"


Adit dan Nicko baru saja memasuki cafe karena ada meeting dengan klien. Nicko yang melihat adiknya yang juga berada di sana sempat ingin menyapa, tetapi langkahnya memelan saat melihat sosok gadis yang ia kenal.


"Tumben sama cewek, biasanya udah kayak trio kwek-kwek. Tapi kok gue kayak kenal ya sama itu cewek."


"Jaga jarak nggak usah terlalu dekat!" cegah Nicko yang melihat Adit ingin menghampiri.


"Kenapa?" langkahnya seketika berhenti, beruntung suasana sedikit ramai hingga tidak membuat Chiko tau akan keberadaan mereka.


"Dia sama cewek gue njir!"


"Wow persaingan yang sengit antara kakak beradik yang memperebutkan satu orang gadis. Gila sich, cinta segitiga donk." Mereka memilih duduk agak jauh tapi masih bisa di pantau oleh Nicko.


"Berisik loe!" Nicko segera mencari kontak dengan tanda love di ponselnya. Beberapa kali tak di angkat sedikit membuat kesal. Apa lagi dengan santai Indah terlihat bercengkrama dengan di bumbui canda tawa.


"Kamu minta di hukum sayang!"


Nicko terus saja menelpon Indah, sampai ketika klien datang tak membuatnya fokus dengan pembahasan. Adit yang mengerti dengan terampil melengkapi.


"Fokus men!"


"Kalo bukan adik udah gue bikin bonyok mukanya."


Setelah selesai pembahasan pekerjaan yang sedikit di percepat karena klien yang memang sedikit ada urusan mendesak membuat Nicko lega. Dia kembali meraih ponselnya, kali ini bukan tanda love yang ia tekan, tapi nama sang adik yang sejak tadi membuat geram.


"Hallo kak.."


"Dimana?"


"Lagi di cafe, kenapa kak?"


"Sama siapa?"


"Lagi sama cewek aku kak_"


Tut


SHIITH


Melihat Chiko yang sedang memainkan ponselnya Indah juga ikut meraih ponselnya yang berada di dalam tas. Matanya membola karena begitu banyak panggilan tak terjawab. Efek mode diam membuatnya tak tau jika ada panggilan masuk.


"Gue ke toilet dulu ya..." Indah segera melesat ke toilet. Mencoba kembali menghubungi pria yang jelas sudah bertanduk saat ini.


"Ikh kok nggak di angkat sich.." gumam indah yang berdiri di depan toilet agak menepi karena tak ingin di kira ikut mengantri.


Beberapa kali panggilan tak kunjung di angkat membuatnya frustasi sendiri. Hingga ia memutuskan untuk masuk ke toilet yang sudah sedikit sepi.


Setelah membuang hajatnya dan mencuci tangan Indah segera keluar, dia memutuskan untuk segera mengajak Chiko pulang. Tapi saat membuka pintu toilet, tubuhnya hampir terpental kalo saja tidak di tahan dengan tangan kekar yang melingkar di pinggulnya.

__ADS_1


"Sayang....."


__ADS_2