
Sore harinya Nicko mengundang kedua orang tua serta para sahabatnya dan sahabat Indah untuk datang kerumah. Open house untuk mengungkapkan rasa syukur dan meminta doa agar rejeki yang ia dapat semakin berkah. Mendatangkan satu asisten rumah tangga yang akan membantu Indah dalam segala hal. Pesanan makanan serta minuman sudah datang dan tertata rapi di meja makan yang begitu besar, cukup untuk lebih dari sepuluh orang. Entah apa yang Nicko pikirkan, menurut Indah Nicko terlalu royal hingga semua yang ada di ruangan barang-barang yang memiliki kapasitas besar. Sofa di ruangan keluarga dan tamu pun begitu besar terpajang. Hingga kamar mandinya mampu memasukkan tiga unit mobil jika garasi tak cukup.
Setiap ditanya, ini untuk keluarga kita karena nanti akan ramai dengan anak-anak.
"Assalamualaikum..." mamah dan papah datang bersama dengan Chiko.
Mamah sempat berhenti saat Indah menyambut dan mencium punggung tangan sang mamah dan papah. Keningnya mengkerut melihat siapa yang mendekat bergandengan tangan dengan anaknya.
"Kenapa mah?"
"Ini siapa Nicko?"
"Istri aku mah."
Mamah tertegun tak habis pikir dengan kelakuan sang putra sedangkan dia sudah berjanji pada mendiang sahabatnya tak akan menyakiti putrinya.
"Kamu menikah lagi? ini rumah dengan istri kedua kamu? Nicko mamah nggak mengajarkan kamu untuk menjadi pengkhianat ya, mamah nggak suka lelaki mendua! mana Indah? mamah nggak sudi datang jika bukan Indah menantu mamah!"
Sang papah hanya diam memijit pelipisnya, ia juga sama dengan sang istri. Sangat kecewa dengan kelakuan anaknya yang ia pikir sudah berubah.
"Mah, ini Indah mah. Istri kak Nicko." Indah mendekati sang mamah, menggenggam tangan mertuanya yang tampak bergetar menahan marah. Dia pun sangat bersyukur ternyata mamah mertua begitu menginginkan dirinya seorang yang mendampingi putranya.
"Indah...bener ini kamu nak?"
Indah menganggukkan kepala dan segera memeluk mamah mertuanya memberikan ketenangan. Papah pun masih tak percaya jika yang ia lihat adalah Indah. Jauh dari Indah yang dulu, tapi cukup bangga akan perubahan dari menantunya.
"Sayang kamu cantik sekali, mamah sampai pangling loh. Mamah kira Nicko menikah lagi, kamu beda sayang."
"Mamah nih main marah aja, mana ada Nicko menikah lagi. Istriku sudah lebih dari bidadari, cantik, muda, menggoda apa lagi yang mau aku cari mah? auwwhhh kok di cubit!"
"Lagian bicaranya begitu di depan mamah!"
"Santai aja mamah sama papah pernah muda, pasti paham. Ayo mah Pah masuk, mau lihat-lihat sekelilingnya juga nggak apa-apa. Aku mengundang sahabat aku juga untuk makan malam bersama kita di sini."
"Ramai donk sayang, siapa yang masak nak?"
__ADS_1
"Masih beli mah, karena tadi pagi baru pindah. Dicicipi kuenya mah Pah, Indah mau buatkan kopi dulu buat papah sama kak Nicko. Chiko mau juga nggak?" tanya Indah yang sudah bersiap ingin ke dapur.
"Maunya susu putih Ndah!"
"Susu? sejak kapan jam segini minta susu?" tanya Nicko heran karena tau sang adik hanya mau minum susu kalo pagi, itu pun karena di wajibkan oleh mamah.
"Susu maamammamama....."
"Chiko loe mau gue pecat dari adik!" Nicko melempar bantal ke muka sang adik.
"Apa sich kak?"
"Gue tau otak loe! mah cariin istri buat dia, nggak aman dekat-dekat dengan istriku! mukanya udah pengen itu mah!"
"Chiko! sekolah dulu baru punya istri, maunya enak aja kamu tuh!"
Chiko tak menanggapi, dia kembali fokus ke ponselnya. Tapi ketika dekat sang kakak menjadi hobi baginya untuk meledek karena ia tau Nicko masih menaruh rasa cemburu setiap dia dekat dengan Indah.
Malam ini di meja makan begitu ramai, semua menikmati jamuan yang di berikan Nicko dan sang istri. Indah pun sejak tadi sibuk membukakan makanan dan menyajikan semua hidangan saat sahabat sudah berkumpul.
Bahkan Toni dan Adit sejak tadi tak henti menyicipi setiap makanan yang tersaji. Mereka dengan nyantai bahkan Nicko menggelar karpet agar semakin nyaman. Bercengkrama dan bersuka ria, ucapan syukur tak henti keluar dari bibir mungil Indah. Apa lagi melihat Asti yang juga berpenampilan sama dengannya. Asti sudah kembali pulang kerumah sang papah, meninggalkan dunia gemerlap dan mulai belajar mendekat.
"Ndah, Nicko gemukan dech. Tiap malem isi daya terus ya?" ledek Toni yang kini sedang duduk di karpet bersama Adit dan suaminya.
"Cocok berarti kak!" sahut Jenni.
"Apanya Ndah yang cocok?" lanjut Adit meledek Indah.
"Susunya! makanya gue minta susu aja buat gemuk kayak kakak nggak di kasih, pelit tuh kak Nicko!"
"Njiiir otak gue traveling coy!" seru Toni.
"Nggak usah di dengerin! emang nggak sopan nich bocah!" sewot Nicko menatap tajam sang adik.
"Chiko jangan terus meledek kakak kamu, nggak dapet tambahan uang jajan loh kamu nanti!" ucap papah mengingatkan.
__ADS_1
"Nggak donk kak, kan cuma bercanda. Iya kan kakak ipar?" Chiko menatap Indah dengan menaik turunkan alisnya. Tapi segera mendapatkan lemparan kulit kacang dari sang kakak.
"Apa sich kak?"
"Nggak usah gitu liat bini guenya!" Nicko menarik pinggul Indah hingga duduk dekat dengannya.
"Posesif loe kak!" sewot Chiko.
"Loe berdua mendingan duel dech, dari tadi berebut Indah mulu. Indah ikut pulang sama kakak aja yuk!" anak Toni.
"Asti gimana kak?" celetuk Jenni membuat semua menatap Toni dan Asti bergantian.
"Oh jadi ada yang mulai Deket nggak kabar-kabar nich ceritanya..."sindir Indah.
Asti dan Toni tampak salah tingkah, mereka memang semakin dekat. Apa lagi niat Asti yang mau meninggalkan dunia malam sangat di dukung oleh Toni. Sejak tadi pun Toni yang baru melihat Asti berhijab matanya tak lepas dari Asti walaupun meledek Nicko dan Indah.
"Udah halalin, keburu si Mickey berkarat itu!" celetuk Adit.
"Loe nggak ngaca Mickey loe malah udah kaku!"
Semakin malam semakin ramai, mereka bersenda gurau hingga hampir menjelang pagi, sedangkan kedua orang tua Nicko dan Chiko sudah pulang sejak tadi.
"Eh ayo balik, kasian nich pengantin baru mau bikin dedek ke ganggu," ajak Asti.
"Ayolah besok ngantor, ngantuk di marahin pak bos gue yang ada," sahut Adit.
Mereka pamit pulang meninggalkan Indah dan Nicko yang kini sedang saling berpelukan. "Bobo yuk!"
"Hhmm.... bobo beneran ya, tadi siang kan udah."
Kini keduanya berjalan menuju kamar, saling bergandengan mesra dan melempar senyum hangat.
"Kalo nolak dosa loh sayang!"
"Ikh aku nggak nolak by, hanya mengingatkan kalo tadi siang udah. Kamu mah, bikin aku takut. Kalo gitu gas wae lah dari pada nggak dapet ridho suami sampe pagi!"
__ADS_1
Nicko tersenyum senang, alamat malam ini mendapatkan kembali kehangatan dan servis yang memuaskan. Dia serasa tak ingin libur, Indah selalu mampu membuatnya tak mau menjeda.
Kegiatan malam yang membuat keringat bercucuran, di tempat yang berbeda dengan fantasi semakin banyak. Memberi kesan di setiap sudut kamar yang Nicko buat untuk kenyamanan keduanya. Apa lagi mereka yang sedang di mabuk kepayang, tak ingin menyia-nyiakan kesempatan dan masa pacaran.