
Indah segera menoleh saat mendengar suara yang tak asing di telinga. Dia yang tak memperhatikan satu persatu orang yang ada di sana, tak tau jika Nicko duduk di bagian paling pinggir.
Mata keduanya mengunci hingga seketika Indah kaku saat melihat seorang wanita yang tiba-tiba merangkul dari belakang dan mengecup mesra pipi Nicko.
"Sayang maaf telat. Mau sekarang?" dengan manja wanita itu bergelendot mesra.
Indah segera membuang muka, hatinya berdenyut nyeri. Tapi tak ada hak untuk menyalahkan sedangkan dirinya juga baru selesai memuaskan.
Tak hanya Indah yang tampak terkejut, yang lainpun begitu kecuali Adit yang memang sudah tau. Reflek Toni merangkul Indah dengan mengusap lenggannya. Dia paham hati Indah. Mereka berpisah pun bukan karena kesepakatan tetapi keterpaksaan yang Indah ajukan.
"Kamu sangat terlambat padahal aku sangat menginginkan, let's play baby!" Nicko tersenyum melihat Indah yang tak ingin melihat. Kemudian merangkul pinggang wanita bayaran itu dan pergi begitu saja.
Adit melihat ke arah Toni yang hanya diam di samping Indah, dia mengangkat ke dua tangannya dan menggelengkan kepala.
"Kayak anak kecil tau nggak?" ketus Toni. Kemudian menoleh ke arah kedua sahabat Indah. Asti yang mengerti segera menghampiri.
"Balik yuk!"
"Hhm....."
Keduanya memilih untuk pulang, tak ingin berlarut dalam kesedihan Indah memilih untuk menginap di apartemen Asti. Begitupun juga Jenni yang meminta si om untuk balik dan dia ingin ikut kedua sahabatnya.
Tak ada yang bersuara, hanya Asti dan Jenni yang bermain mata. Melihat Indah yang diam melamun di jok belakang.
"Mereka putus?" tanya Jenni yang belum tau apa-apa.
"Kayaknya, begini nich kalo udah kenal cinta, repot! sakit hati gue nggak punya obatnya.
Tak ada air mata saat sakitnya begitu nyata, sudah dikatakan dia tak akan sanggup jika bertemu tetapi takdir seakan mengajaknya bermain. Otaknya di penuhi dengan bayangan akan kegilaan Nicko di ranjang dengan wanita lain.
Sampai di apartemen Asti, Indah segera masuk kamar mandi untuk membersihkan diri. Di depan cermin dirinya baru bisa menangis, sesekali tangannya memukul dada yang terasa begitu sesak. "Bukan dia yang jahat, tapi gue!" Indah tak menyalahkan Nicko, ini semua nggak akan terjadi seandainya Indah tak mengakhiri.
Mencoba move on itu ternyata tak semudah apa yang di katakan orang, buktinya butuh waktu dan emosi di dalamnya yang menguras tenaga. Belum lagi mata bengkak efek menangis semalaman, menyesal? tentu tidak. Dari cinta Indah dapat merasakan kasih sayang tulus bukan semu yang berbalut nafsu.
Hanya saja jika waktu dapat di putar, dia ingin menjadi Indah yang dulu, tanpa mengenal cinta.
Keluar dari kamar mandi langsung mendapatkan tatapan dari kedua sahabatnya yang sejak tadi menunggu. Masih berbalut handuk dia duduk di pinggir ranjang menghadap dua pasang mata yang penuh tanda tanya.
"Lama banget loe di dalam, sakit hati boleh. Tapi nggak berbuat gokil juga. Gue pikir loe di dalem sengaja masuk bathtub buat bunuh diri." Celetuk Jenni yang membuat Indah sedikit merengut.
__ADS_1
"Gue belum sukses buat ninggalin dunia yang berwarna ini. Lagian mamah belum liat gue pake baju nganten. Ya kali gue mau bunuh diri, otak gue masih bisa di ajak bekerja walaupun hati lagi galau."
"Mendingan kita musikan joget sampe pagi sambil karaokean?" Asti berusaha membuat Indah lupa akan pria yang sedang bongkar muat dengan wanita satu frekuensi dengannya.
"Boleh, udah lama kan kita nggak nyanyi-nyanyi?" Indah begitu antusias, dia segera mengambil baju ganti. Dengan hanya memakai tantop dan celana short milik Asti.
Asti begitu senang, Indah begitu antusias. Ia pikir sakit hati hanya bisa menangis tetapi ternyata bisa di ajak gila juga.
"Let's go lah...."
"Mulai.....musik....." kini ketiganya sudah memegang mic masing-masing. Di kamar Asti yang memiliki home teather membuat mereka begitu asyik berjoget ria sambil mendengarkan musik di atas ranjang yang di jadikan panggung dadakan.
"Cendol dawet...cendol dawet seger....."
"Cendol ..cendol..."
"Dawet... dawet....."
Sedangkan di suatu kamar ada wanita yang sedang kesal, belum mulai sudah di suruh pulang. Merasa di permainkan walaupun dengan bayaran yang banyak.
Nicko benar-benar tidak bisa menyentuh wanita lain, sebenarnya dia tak ada niat. Tetapi karena mendengar ucapan Indah yang membuat hatinya cukup panas hingga ia pun meminta Adit mencarikan wanita bayaran.
"Kemana?"
"Siapa?"
"Ck...."
"Pulang, loe kata hatinya dari besi!" sahut Toni tanpa mengalihkan pandangannya dari laptop.
"Lah loe ngapa cepet banget! si Mickey mulai melemahkan diri? atau jangan-jangan belum di jamah sudah keok duluan?" tanya Adit yang heran melihat Nicko sudah kembali.
"Buka aja belom, nggak nafsu gue!"
"Kualat loe nyakitin hati perempuan!" celetuk Toni.
Nicko meraih segelas alkohol dan meminumnya hingga habis, mungkin salah jalan dia memutuskan untuk membalas.
"Gue balik!" Nicko segera melangkah keluar dari club'.
__ADS_1
"Eh monyet! terus gue gimana? main kabur aja loe!" Adit segera mengejar. Toni melihat keduanya hanya menggelengkan kepala, punya sahabat nggak ada yang beres. Pintar doank otaknya tapi konyol kelakuannya.
Nicko menghentikan mobil tepat di depan rumah gadis yang beberapa hari ini ia sambangi, tanpa turun hanya melirik kearah jendela.
"Gelap, kemana dia?" mendadak hati Nicko tak tenang, dia merutuki kebodohannya sendiri. Bukan menghampiri dan mengajak berdamai malah nambah masalah.
SHIIITT
Nicko melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, dia tidak menghiraukan keselamatannya. Cukup kesal dengan diri yang begitu naif.
Keesokan harinya tiga gadis cantik sudah mengantri hasil pemeriksaan di ruang tunggu rumah sakit. Kegiatan rutin mereka, termasuk Indah yang walaupun tak sampai menyatu tetapi kesehatan tetap nomor satu.
"Kalo sampe gue ada apa-apa, mampusss aja tuh si om gendut." Sewot Jenni membuat kedua sahabatnya tertawa.
"Gue penasaran sich ama loe, maaf-maaf nich ya, loe kalo maen yang di lihat apanya?" tanya Asti, Indah yang hanya menyimak seketika menutup mulutnya untuk menahan tawa.
"Maksud loe ape....gue fokus sama si Mickey yang kribo lah, ya kali gue liat wajah on si om. Bisa kering Minnie gue auto keset dan macet."
Indah yang sudah tak tahan, akhirnya tertawa juga.
"Ape loe Indah pake ngetawain gue! puas banget. Gue cuma butuh uangnya, anggep aja itu muka gambarnya rupiah yang suatu saat bisa jadi rumah," lanjut Jenni.
"Ngehalu loe gedein, hidup nggak seindah ending novel dan FTV. Hidup kita tuh udah kayak makan pare, pait nggak ada manis-manisnya!" celetuk Asti.
"Udah ikh, ngapa jadi debat sich. Mulut loe berdua gue sumpel pake buah naga baru tau rasa nich!" Indah mengambil buah naga dari dalam kantong keresek yang akan ia berikan pada mamahnya.
"Ikh ya kali loe tega banget, udah kayak abis makan orok ntar gue..." sahut Jenni.
"Tau loe, ini aset berharga menuju masa depan yang cemerlang, masih ada berapa tahun lagi buat gue nyelesain pendidikan."
"Makanya jangan pada diem, loe berdua nggak malu di lihatin orang banyak!"
"Diem Indah, bukan jangan pada diem. Mulut loe juga minta di catok!" sahut Asti.
Ketiganya saat ini begitu dag Dig dug di dalam toilet, amplop putih telah ketiganya genggam. Tetapi belum ada yang berani membuka, saling menguatkan jika di antara mereka mendapatkan hasil yang tak diinginkan.
"Bismillahirrahmanirrahim......" mata mereka tertutup dengan tangan yang membuka amplop secara berbarengan.
Ketiganya saling berpelukan, menangis tersedu setelah hasil sudah terlihat nyata di depan mata. Pekerjaan yang memiliki segudang resiko harus mereka terima dengan hati yang tegar.
__ADS_1