
Indah melangkah masuk ke rumah dan langsung menuju kamar. Dia menjatuhkan tubuhnya dan tertidur tanpa minat mengganti seragam. Hari ini cukup lelah baginya, butuh tidur dan kembali beraktivitas.
Tapi tak lama memejamkan mata getaran ponselnya kembali membuat dirinya terjaga. Banyak panggilan dari Nicko dan saat ini pun masih terus berusaha untuk menghubungi.
"Halo om," lirih Indah yang sudah memejamkan matanya lagi.
"Buka pintunya!"
"Pintu mana sich om?"
"Pintu rumah kamu sayang!"
"Ngapain aku buka pintu?"
"Aku ada di depan atau kamu mau aku manjat ke atas dan masuk lewat jendela kamar?"
"Ikh dasar om nyebelin!"
Mau tak mau Indah menggeret langkahnya untuk turun kebawah, bisa ramai jika benar si om itu manjat sampai ke balkon kamar.
"Ngapain si om?" Indah sudah membuka pintunya dan benar si om sudah berdiri dengan kantong keresek di tangannya.
"Makan yuk!" jawab Nicko yang sudah menerobos masuk tanpa menunggu di persilahkan oleh yang punya rumah.
"Ck, om....Indah capek plus ngantuk banget, mending om pulang! lagian belum di suruh masuk udah nyelonong aja." Indah mengikuti langkah Nicko yang sudah duduk di meja makan.
"Makan dulu, ini udah sore. Aku bahkan telpon kamu sudah berulang kali tapi nggak kamu jawab. Sesibuk itu sampai nggak jawab telponku?" tanya Nicko dengan wajah sendu.
"Hak aku menjawab atau nggak om, berasa punya pasangan yang di abaikan. Kenapa wajah om sesedih itu?"
"Nyatanya aku sedih nggak kamu hiraukan."
Nicko memang tadi memutuskan untuk kembali ke kantor, tapi sesampainya disana malah membuat hatinya resah.
"Hanya teman kan, kenapa harus segitunya. Udah aku mau ke kamar lagi, aku ngantuk mau tidur. Om aja yang makan, kalo sudah langsung pulang ya om!" Indah segera beranjak untuk masuk ke kamar, tetapi Nicko meraih pinggulnya hingga terduduk di pangkuannya.
"Makan dulu, baru tidur! atau mau aku suapin?"
Indah menarik nafas dalam, "lagi berperan sebagai apa? teman, pacar, atau ayah?"
"Suami!" Nicko menatap dalam Indah kemudian mengecup bibir mungil yang sedang cemberut membuatnya gemas.
Nicko tersenyum melihat respon Indah yang marah tapi bibir nakal itu justru semakin menggoda.
"A.....buka mulutnya sayang! makan dulu baru istirahat!" titah nicko dengan suara yang lembut.
Akhirnya Indah pun mengalah, dia menerima suapan demi suapan dengan posisi yang masih berada di pangkuan Nicko. Efek capek dan mata ngantuk membuatnya mager. Dan anehnya Nicko justru menikmati dengan telaten ia menunggu kunyahan demi kunyahan sampai habis tak bersisa.
__ADS_1
"Kamu laper tapi nggak mau makan!"
"Perut laper tapi kan mata ngantuk om!"
Nicko menggelengkan kepala kemudian dengan sigap mengangkat tubuh Indah ala bridal style menaiki tangga menuju kamar.
"Om!" pekik Indah.
"Diem! katanya nggak mau di arak satu komplek."
Indah benar-benar menurut, di langsung terdiam dan mengeratkan pelukannya di leher Nicko. Merasakan kencangnya tangan Indah yang memeluknya membuat Nicko mengulum senyum.
Nicko merebahkan tubuh Indah di ranjangnya dan dia ikut duduk di pinggir ranjang.
"Udah, katanya mau tidur!"
"Om nggak pulang?"
"Nanti aku pulang, kamu tidur aja. Tadi pagi tidur sebentar doank kan? aku nggak akan ganggu kamu. Ayo tidur!" Nicko mengusap lembut kepala Indah hingga dia terlalap.
Senyum itu kembali terbit, melihat Indah yang terlelap membuat hatinya serasa damai. Tumben Indah tak banyak berontak, mungkin karena benar-benar merasa lelah membuatnya tak bertenaga untuk berdebat.
Hingga malam menjelang Indah terjaga karena panggilan di ponselnya yang cukup membuatnya terganggu. Dengan mata sayup Indah mengangkat panggilan tersebut.
"Halo Indah, Indah....."
"Gue Vidio call Cinta Sellindah!"
"Oh..." Indah segera menghadapkan layar ponselnya ke depan wajahnya. Pantas saja suara begitu memekakkan telinga.
"Indah malam ini gue ke klub, loe udah siap belum? ada job dimana?"
"Baru bangun gue, belum tau juga malam ini dimana, nanti coba tanya Asti dulu."
"Pantes aja loe kayak orang mbeler...loe nggak tau ini udah jam berapa?"
"Emang jam berapa?"
"Ini udah jam 8 bege, gue kira loe udah rapi. Tumbenan dah loe jam segini baru bangun!"
"Haah.....kok loe nggak bilang dari tadi sich!"
"Kenapa?" suara Indah membuat Nicko terjaga. Dan hal itu jelas membuat Indah terkejut, apa lagi melihat dia yang ternyata tidur di pelukan Nicko.
"Eh Indah, itu siapa? loe kok nggak bilang kalo naro piaraan di rumah?" tanya Jennie heboh.
Mampus gue, bisa heboh ini anak kalo tau, lagi ngapain sich ni om malah ikut tidur, pantes aja gue pules. Nggak bohong kalo pelukannya buat gue nyaman..
__ADS_1
"Udah, gue matiin ya, gue buru-buru mau siap-siap. Bye..."
Tut
Setelah menutup ponselnya Indah menatap tajam Nicko yang kini juga memandangnya. "kenapa om nggak pulang?"
"Tidur sama kamu ternyata nyaman."
"Ikh, om nich nggak jelas, pulang sana om!" Indah segera turun dari ranjang dan bergegas masuk ke kamar mandi. Dia harus gercep, apa lagi saat di kamar mandi ponselnya terus saja berdering.
Indah keluar dari kamar mandi dengan selembar handuk, dia tak perduli mata Nicko yang mau keluar menatap tubuhnya. Indah pikir toh sudah biasa juga dia melihatnya, lalu apa nya yang salah.
"Asti..." lirih Indah melihat panggilan tak terjawab di ponselnya kemudian membuka pesan dari Asti yang telah menunggunya di klub.
"Om...." Indah memberontak saat tubuh tegap itu kembali memeluknya dengan posesif.
"Wangi," bisik Nicko di telinga Indah yang membuat tubuh Indah meremang. Nicko memeluknya dari belakang membuat aksesnya lebih menguntungkan.
"Kenapa belum pulang si om? aku mau kerja jadi jangan merusuh!"
"Nggak akan kemana-mana tanpa kamu," Nicko mulai menciumi telinga Indah dengan tangan yang masih singgah melingkar di pinggul gadis itu.
"Eugh....jangan gini om, aku lagi buru-buru mau siap-siap berangkat. Please om lepasin dulu, kalo sampai si Mickey bangun aku nggak mau tanggung jawab!"
"Tapi kamu sungguh meresahkan sayang, apa si Mickey belum berasa ke gagahannya di bawah sana?" lirih Nicko yang sudah turun ke leher polos Indah hingga sesekali mengecup pundaknya.
"Om, lepas ikh aku mau kerja, om nich kayak baru liat cewek pake handuk aja, padahal tiap hari liat yang lebih dari ini." Indah terus memberontak membuat bagian belakangnya justru semakin menggesek si Mickey hingga begitu menyesakkan.
Nicko sudah tak tahan, ini salah Indah yang justru membuatnya on, sedangkan magnetnya begitu kuat menarik si Mickey yang sudah gelisah setiap bertemu.
"Om....lepas!" Indah benar-benar tidak bisa berkutik kali ini, posisinya terkunci dan membuat kesempatan bagi Nicko.
Tangan Nicko sudah turun kebawah menyibak handuk Indah, menghadapi Indah tak bisa harus selalu dengan ucapan, tetapi tindakan yang membuat keduanya semakin gerah.
"Akh....." lagi-lagi suara Indah mendayu di telinga membuat Nicko semakin gencar menikmati wangi tubuh Indah dan jemarinya berselancar bebas di bawah sana dengan menekan sedikit bagian sensitif miliknya.
"Kamu menikmatinya sayang, aku nggak mengijinkanmu di jamah siapapun. Mulai malam ini kamu milikku!" lirih Nicko dengan tangan yang semakin liar.
Handuk Indah ntah sudah lenyap kemana, Nicko begitu pandai menaklukkan gadis yang sejak tadi memberontak dan kini sudah lebih menerima. Indah benar-benar di buat melayang saat merasakan tubuhnya bergetar hebat yang membuat kakinya sedikit melemah.
"Bagaimana, hhmm?"
"Om benar-benar meresahkan, aku sampai om." Nicko tersenyum dengan wajah yang sudah berkabut dia membalikkan tubuh Indah.
Nicko menyambar bibir mungil yang sejak tadi mendayu di telinga, Indah pun menyambut dengan tak kalah berg4irah. Indah lupa jika kedua sahabatnya telah menunggu, bahkan getaran di ponselnya tak ia hiraukan.
"Aku menginginkan mu baby..."
__ADS_1