Terjerat Cinta Gadis Malam

Terjerat Cinta Gadis Malam
Bab 33


__ADS_3

Pagi ini Indah terbangun dengan mata bengkak, menangis hingga terlelap efeknya membuat kesal. Bagaimana hendak menjenguk mamah jika matanya seperti ini? Dan sudah pasti di berondong pertanyaan oleh teman-temannya.


Setelah bersiap dengan seragam putih abu-abu Indah segera berangkat menuju rumah sakit, mampir sebentar menjenguk mamah yang hari ini akan kembali cuci darah.


Semua tampak biasa, Indah memulai hari dengan rutinitas seperti dulu sebelum mengenal cinta. Tanpa ada yang mengantar dia memesan taksi menuju rumah sakit.


Senyumnya mulai terbit kembali saat keluar dari rumah, dia ikhlas atas semua yang sudah digariskan tetapi berharap tak lagi berjumpa.


"Assalamualaikum..."


"Wa'allaikumsalam, sayang mamah rindu." Indah menghampiri dan memeluk sang mamah dengan erat. Mengecup pipi yang semakin tirus.


"Mamah udah sarapan? Indah bawa nasi uduk ke sukaan mamah pake semur jengkol dan tahu." Indah begitu antusias memamerkan isi dari nasi uduk yang ia beli membuat mata mamah berbinar.


"Pasti enak nak," mamah tersenyum melihat Indah yang begitu perhatian. "Eh itu mata kamu kenapa sayang? kok bengkak gitu!"


Indah tersenyum menatap mamah, menutupi segala kegelisahan yang ada.


"Kenapa nak?"


"Oh ini .." Indah menyentuh kedua matanya yang terpejam. Memikirkan apa gerangan alasan yang mendukung sebuah bukti.


"Ini semalam Indah nangis mah, mamah tau sendiri kan jika rindu pasti begini?"


"Maafkan mamah ya nak, doakan cepat selesai dan bisa pulang." Mamah mengusap lembut kepala Indah, ada rasa bersalah yang bersemayam di dada saat tak bisa membersamai putrinya.


Sampai di sekolah tepat waktu lanjut masuk kelas, Asti yang sedang mengerjakan pr seketika fokusnya terbagi saat melihat Indah datang.


"Itu mata kenapa?" tanyanya dengan mata penuh selidik.


"Abis ditonjok semut."


"Ya kali semut tangannya segede gajah bisa nonjok loe sampe bengkak!" celetuk Asti.


"Ck, semalem si Om transfer berapa?"


"Gede, lumayan buat makan 5 hari. Gimana? tadinya kan emang tamu gue, karena loe butuh gue kasih loe. Tapi nggak apa-apa, mudah-mudahan Tante cepat sembuh!"


"Beruntungnya bukan loe!"


"Maksud loe?" Asti bertanya dengan curiga. Sedangkan indah tampak cuek dan fokus menyiapkan buku pelajaran.


Jenni yang baru datang segera duduk di samping Indah, menatap penuh selidik wajah merah yang tertutup bedak. Tangannya mencolek pipi Indah, membuat si empunya sedikit meringis kesakitan.


"Auwh..."

__ADS_1


Asti segera menoleh ke arah Jenni, mereka saling tatap dalam diam. Asti mencerna setiap perkataan Indah sebelumnya.


Damn


"Mampuuus....gue kecolongan!" Asti segera beralih ke meja Indah melihat sahabatnya yang tampak cuek tak minat.


"Tuh orang ngapain loe?" Asti memegang kedua pundak Indah dan menggoyangkannya, melihat setiap jengkal tubuh sahabatnya dengan tatapan penuh selidik.


"Parah loe As, kalo gue nggak liat dari dekat nggak tau kan loe! di bayar berapa sich loe sampe bisa masukin Indah ke kandang macan! untung masih hidup temen loe, kalo nggak selamat. Selamat anda di gentayangin seumur hidup!"


"Berisik loe! dia orang baru, semalem gue lupa ngecek dulu. Indahnya juga mendadak, buru-buru minta tamu buat mamahnya."


"Udah ikh, ada Bu guru noh!" Indah menengahi. dan memang benar, guru mapel pagi ini sudah datang dan siap memberi pelajaran.


Di jam istirahat Asti yang sejak tadi tidak fokus dalam pelajaran segera mendekati. Memperhatikan kembali Indah yang hanya diam membereskan buku-bukunya.


"Siapa yang nolongin loe?"


"Om Nicko!"


"Jadi si om ganteng tau?" Asti memijat pelipisnya. Rasanya jika bertemu orangnya ingin dia cekek sampe melet.


"Hhmm..." Indah menganggukkan kepala.


"Untung ada om Nicko, kalo nggak ada gue bener-bener bersalah banget sama loe. Sorry ya gue teledor, beneran gue nggak sempet semalam."


Jenni segera mendekat mengajak keduanya untuk makan, tetapi mood Indah anjlok dan memilih menepi naik ke atas roof top.


Indah berdiri dengan mata terpejam, membayangkan kejadian semalam dan wajah tampan sang mantan. Menjalin hubungan belum genap satu Minggu tetapi sudah sangat dalam di rasa. "Maaf...." Kata-kata itu terus tak lupa tersemat setiap kali teringat.


"Butuh temen curhat?"


Seseorang datang di saat yang tidak tepat, ia hanya ingin sendiri dan menyendiri. Apa lagi indah bukan tipe yang banyak bicara curhat sana sini. Matanya terbuka, tak perlu menolehpun dia tau siapa gerangan yang ada di sebelahnya.


"Bisa tinggalin gue sendiri?"


"Nggak bisa, gue takut loe bunuh diri!"


Indah memutar bola matanya, tersenyum getir mendengar kata yang terucap. "Sepertinya bisa di pertimbangkan, apa mau bareng?"


"Jangan gila Indah, loe bahkan belum balas cinta gue!" Chiko mendadak kesal.


Indah berbalik dan ingin pergi tetapi tangan Chiko dengan sigap menahan langkah. Mencoba mendekat memperhatikan, mungkin karena bedaknya yang luntur warna beda di pipi mulai terlihat. Serta luka kering di kedua sudut bibir menarik perhatian.


"Kenapa?" tanyanya mengusap lembut pipi Indah.

__ADS_1


Indah tersenyum tipis, dengan lembut menurunkan jemari Chiko yang singgah di pipi. "Bukan hal yang perlu di khawatirkan!"


"Tapi apapun tentang loe menarik buat gue!"


Keduanya saling menatap, "mundur di awal lebih baik dari pada harus terus maju dan menyesal di ujung jalan. Loe salah alamat kalo terus perjuangin diri gue! Gue nggak pantas dapet itu."


Indah pergi dengan senyum getir, dua pria begitu mencinta tapi tak mungkin dia iya kan, sedangkan salah satunya saja sudah kecewa. Selain hati yang masih singgah nama satu pria, dia tak ingin memberi harapan yang tak akan terbalas.


"Gue bakal terus nunggu loe buka hati, ini perjuangan pertama gue. Dan akan gue perjuangkan sampai titik dimana gue menyerah."


Hari ini Indah pulang dengan kedua sahabatnya, memilih singgah di apartemen Asti dari pada pulang dan teringat kembali.


"Mau ikut nggak Jen?"


"Gue langsung balik aja As, kasian si om lagi pengen di sayang."


"Loe nggak pengen ngumpul? Indah balik ke apartemen gue!"


"Nanti malem aja gue susul kalian ke club."


Mereka berpisah dengan Jenni yang langsung menuju apartemennya, sedangkan Asti dan Indah sempat mampir di warung Padang untuk membeli makan sebelum sampai.


"Gue tunggu mobil ya, pusing kepala gue!"


"Oke, nggak makan sich loe dari pagi. Tunggu sini gue beliin dobel buat loe!"


"Jangan banyak-banyak As!" Indah mencegah.


"Dobel karetnya, punya loe kan yang banyak sambelnya." Asti nyengir kemudian segera keluar mobil.


Warung Padang yang cukup ramai dan terkenal enak masakannya, Asti memesan dengan sedikit antri. Setelah memesan lanjut jalan menuju apartemen miliknya.


Indah yang memang benar-benar pusing malah memilih masuk kamar, cukup ngeyel dalam mode mood ancur seperti ini.


"Makan!" titah Asti.


"Ribet!"


"Gue tau loe lagi ada masalah, kenapa? eh tapi tunggu, mending loe makan dulu, setelah ini cerita sama gue!"


"Males cuap-cuap gue!"


"Bodo, jangan kebiasaan nutup-nutupin. Gue tau hati loe yang ke ganggu!"


Indah tak menggubris, dia lebih memilih menikmati nasi Padang dengan limpahan sambal dan lalapan dari pada sibuk merangkai kata untuk sesi cerita.

__ADS_1


"Om Nicko gimana?"


Uhuuuk uhuuuk


__ADS_2