Terjerat Cinta Gadis Malam

Terjerat Cinta Gadis Malam
Bab 52


__ADS_3

Nicko pulang setelah memastikan Indah baik-baik saja. Kepulangannya yang lebih cepat membuat kedua orangtuanya merasa heran. Padahal dari pagi di minta pulang tak kunjung ada jawaban. Melangkah menuju kamar tanpa menyapa, perasaannya kembali hancur saat menerima kenyataan sang adik mengetahui semuanya di luar rencana.


Kenyataan yang pasti membuat sang kekasih pun ikut kembali terpuruk. Sejak pulang tadi Nicko tak kunjung keluar, sampai panggilan makan malam pun tak membuatnya segera berkumpul bersama.


Moodnya hancur tapi dia sangat ingin berbicara dengan Chiko sebagai adik yang sangat ia sayang. Jika disuruh memilih adik atau kekasih pasti Nicko lebih memilih pergi. Tak mungkin dia menyakiti hati keduanya. Lalu bagaimana dengan perasaannya dengan Indah, apa memang takdirnya harus kembali gagal. Atau menerima perjodohan memang jalan terbaik untuknya.


Memilih diam di rumah, merenungi semua yang telah terjadi. Berdiam diri di balkon kamar dari pada kembali mabuk-mabukan. Berusaha dewasa karena ada keterlibatan sang adik di dalamnya. Menoleh ke samping tepat balkon kamar adiknya terhubung. Lampu padam seperti penghuninya sudah terlelap.


Beberapa kali membuang nafas kasar, setiap teringat wajah kedua orang yang ia cintai kecewa. Kepalanya berdenyut, terlalu lelah memikirkan hidup. Suatu pilihan yang berat andai saja mereka tau. Tapi dia yakin Indah pun tak akan mau begitu saja menjalani.


Di sebuah kamar yang berantakan seorang pemuda meringkuk kecewa, sedih, terluka, dan sakit hati. Semua barang-barangnya berantakan sesuai hatinya saat ini. Diam di dalam kegelapan, air mata yang tak pernah keluar sia-sia harus keluar karena rasa kecewa. Apa lagi setiap bayangan akan kakaknya yang begitu menikmati sampai tak sadar akan kehadiran dirinya. Melihat orang yang ia cinta di cumbu bahkan di cinta oleh kakaknya sendiri. Walaupun ia tau Indah tak pernah bilang iya, tapi dia terus berjuang. Tanpa sadar memiliki hati yang sama dengan sang kakak.


"Kenapa harus kakak? kenapa ya Tuhan......"


Pertama kali mencinta harus menerima kenyataan seperih ini, apa lagi dengan tegas Nicko sama sekali tak ingin melepas. Anggota keluarga yang paling ia sayang, yang menjadi pelindung sejak kecil, bahkan menjadi panutan untuknya. Ternyata rivalnya dalam percintaan. Benar-benar di luar angan, apa lagi posisinya yang lemah, sudah pasti Indah memilih kakaknya dari pada dia yang memang sejak awal tak ada cinta.


Sama halnya dengan gadis cantik yang saat ini diam menatap langit, hari ini hatinya kelabu. Tak ada satu jam kembali bangkit sudah harus patah lagi. Menerima kenyataan yang pasti akan terungkap walaupun serapi mungkin tertutup rapat.


Dia bahkan tak menyangka Nicko mampu menutupi dan menahan rasa egonya demi dia dan adiknya. Pantas saja berulangkali melihat mereka bersama tak membuatnya marah yang berlebihan. Cemburunya seakan tertakar, dirinya begitu dewasa. Tapi ternyata menekan rasa, begitu kuat hingga dirinya tak tau jika itu menyakitkan.


Tak mungkin baginya untuk menjalin lagi, akan ada hati yang juga tersakiti. Mungkin jika bukan adik, dia tak akan memikirkan sampai seperti ini. Berusaha kuat untuk kembali bangkit, berusaha sendiri untuk kembali mandiri. Indah ikhlas jika cintanya kandas, dan tak mungkin baginya mencintai di balik hati yang tersakiti.


"Maafin aku om, aku nggak tau. Kamu kuat, kamu hebat, kamu bisa menutupi rasa sakit demi adikmu, kamu Kakak yang baik. Tapi Indah sadar diri, Indah nggak mau menghancurkan persaudaraan kalian. Indah mundur om...."


Indah kembali menangis tersedu, tak menyangka akan serumit ini, apa lagi Chiko bilang perjodohan Nicko pun tak akan bisa di tolak. Ada jasa yang harus di bayar, lebih kuat alasannya karena berkaitan dengan nyawa. Sudah pasti tanpa Indah menyerah dan mengalah dia tetap kalah.

__ADS_1


Ketiga orang yang di rundung kesedihan, Nicko kembali menjadi sosok yang pendiam dan dingin kepada siapapun. Chiko berusaha untuk ikhlas walaupun hatinya belum sepenuhnya menerima. Sedangkan Indah berusaha untuk kembali mandiri dan mungkin akan kembali pada sosok Indah yang dulu setelah ujian usai.


Pagi hari menyapa semua makhluk di dunia, Nicko, Chiko dan kedua orangtuanya sudah duduk di satu meja yang sama untuk sarapan. Belum ada yang membuka suara, sang mamah pun merasa aneh dengan wajah kedua anaknya yang pucat dengan mata sembab dan lingkar mata yang hitam. Keduanya pun hanya diam, menikmati sarapan tanpa ada sapaan.


Sang mamah dan papah saling menatap tapi tak ingin bertanya, mereka percaya jika memang ada masalah di antara keduanya, sang kakak pasti akan lebih bijak. Hingga sarapan usai, mamah baru membuka suara.


"Nicko, maafin mamah jika mamah terlalu menekan kamu, untuk terakhir kali mamah mohon nak. Terimalah perjodohan ini, maaf jika mamah menghancurkan hubunganmu dengan gadis itu. Mungkin ya mamah salah terlalu melihat sebelah mata, mamah tak tau apa-apa. Tapi sebagai seorang ibu mamah ingin yang terbaik untuk anaknya."


"Sayang, jika bukan beliau yang menolong mamah mungkin mamah sudah tak ada di tengah-tengah kalian. Dulu mamah sempat hampir di lecehkan oleh pria bejat, beruntung ada sahabat mamah yang datang. Dia menolong mamah hingga mempertaruhkan nyawanya, dia hampir mati karena menghalangi pisau yang harusnya menancap di dada mamah."


"Saat itu usia kamu berumur 2 tahun dan papah sedang pergi keluar kota, mamah datang seorang diri bertemu dengan klien mamah. Semua berawal biasa, kami pun lanjut makan dan mengobrol tanpa membuat mamah curiga. Hingga akhirnya dia mengajak mamah ke suatu tempat yang mamah tak tau maksudnya."


Mamah menangis kembali mengingat itu semua, "tanpa mamah tau ternyata sahabat mamah yang ingin pulang kerja di hotel yang sama mengikuti mamah hingga mamah di masukkan ke kamar dengan paksaan. Semua terjadi di luar dugaan, mamah yang sudah hampir di lecehkan masih bisa selamat karena sahabat mamah yang nekat masuk. Tanpa memperdulikan pekerjaannya yang terancam di pecat jika menyalahi aturan."


"Bukan mamah yang harusnya kritis, tapi dia yang koma selama hampir tiga bulan. Sahabat mamah rela melakukan itu semua demi menolong mamah. Dan saatnya sekarang mamah yang melakukan hal sama. Dia tidak pernah meminta imbalan apapun. Baru kali ini ia meminta setelah kami tak bertemu lama."


Setelah mendengar keluh kesah dan permohonan yang mamah ungkapkan Nicko berangkat ke kantor seperti biasa, dia bahkan belum menghubungi Indah sejak semalam. Bukan lupa atau menghindar, dia dalam fase berfikir, menguatkan hati dan memutuskan pilihan. Walaupun semua menyakiti hatinya dan mungkin orang yang ia cinta, tapi dia harus bisa memecahkan segala persoalannya.


Masuk kedalam kantor dengan wajah dingin seperti dulu, tak ada keinginan menyapa apa lagi membalas sapaan. Senyumya hilang bahkan Adit menyapa pun dia hanya diam.


"Loe kenapa? masalahnya belum kelar?"


"Tinggalin gue sendiri Dit, kalo loe butuh tanda tangan baru kesini. Meeting hari ini cancel dulu. Sementara gue nggak menerima tamu, loe bisa handle semuanya."


Adit yang mengerti jika Nicko sedang tak baik-baik saja akhirnya mengalah, di keluar ruangan tanpa membantah. Hanya heran, Nicko benar-benar tak membawa rokok atau minuman untuk menemani sepeti biasa saat ia kalut.

__ADS_1


Di sekolah pun Indah hanya fokus dengan materi yang akan di uji lusa, besok hari tenang dan lusa ujian pertama di selenggarakan. Diamnya Indah pun membuat kedua sahabatnya mengerti dan tak ingin mengusik. Tak semua masalah dapat di bagi begitu saja, mereka tau Indah belum mau bercerita. Butuh privasi yang harus di jaga, dan itu tak menjadi masalah bagi mereka selama melihat Indah sehat dan melakukan hal yang benar.


"Gue balik duluan ya, mau ke gramed nyari buku buat belajar nanti malam. Kalian mau ikut nggak?"


"Gue nggak bisa Ndah, mungkin Asti?"


"Ayo sama gue, siapa tau di sana gue ketularan rajin."


Indah dan Asti pergi ke Gramedia, mencari buku untuk bekal ujian. Memanfaatkan hari tenang untuk belajar. Berulang kali Asti melirik Indah yang diam membaca, bahkan Asti pun jadi ikut-ikutan. Keseriusan Indah menular walaupun awalnya Asti bingung dengan sikap Indah yang menjelma seperti kutu buku. Dengan kaca mata yang tak pernah ia pakai, kini Indah memilih duduk di sudut lorong dengan menekuk kakinya. Asti mengikuti tanpa banyak bertanya, hingga menjelang malam mereka pulang dengan kantong keresek yang berisikan buku.


"Libur kan?"


"Iya, selama ujian fokus dulu. Indah, kalo ada beban gue harap loe mau berbagi sama gue. Gue nggak memaksa tapi cuma mengingatkan kalo loe nggak sendiri."


Indah tersenyum dan mengangguk, "makasih As, gue balik ya..."


Hari ini Nicko benar-benar tak ada kabar, Chiko pun di sekolah tak mendekati, hanya melihat dari jauh lalu berlalu tanpa meninggalkan kata.


Nicko mengambil pekerjaan di luar kota untuk waktu yang tak dapat ditentukan. Dia akhirnya menyempatkan datang di keesokan paginya, masuk ke dalam kamar dengan perasaan gamang. Mendekati sang gadis yang kini masih meringkuk di balik selimut. Beberapa buku menghiasi ranjang, mungkin Indah benar-benar menghabiskan waktu nya untuk fokus belajar.


Tersenyum tipis melihat wajah cantik yang sangat ia rindukan. Mengusap lembut kepala Indah yang mungkin entah kapan dia bisa atau mungkin tak lagi bisa menyentuhnya.


"Maaf, aku tak bisa terus ada di sisimu, aku gagal mempertahankan semuanya. Aku tak ingin menyulitkan hidupmu, mungkin ini sulit untuk kita. Tapi yang perlu kamu tau, aku mencintaimu sampai kapanpun. Aku akan terus menyayangimu."


"Maafkan aku sayang....." Nicko mengecup kening Indah begitu dalam hingga air matanya menetes membasahi kening gadisnya. Kemudian mengecup sekilas bibir Indah dan pergi dengan dada yang sesak.

__ADS_1


Tanpa ia tau, Indah mendengar dan merasakan kesakitan yang sama hingga kini menangis saat Nicko benar-benar sudah pergi.


__ADS_2