
Nicko masuk ke kamar dan segera membersihkan diri. Berdiri di bawah shower untuk mendinginkan otaknya yang sedikit panas karena emosi akan keputusan sepihak yang telah orang tuanya beri.
"Gue nggak akan mau di jodohin gitu aja, gue udah janji sama Indah. Bagaimanapun caranya gue bakal pertahanin hubungan ini."
Setelah rapi Nicko segera menyambar kunci mobil, malam ini ia akan menjemput Indah. Memastikan gadisnya pulang dengan keadaan baik-baik saja.
"Nicko kamu mau kemana lagi?"
"Aku mau keluar!"
"Nicko stop bermain wanita, mamah nggak mau membuat sahabat mamah kecewa karena tingkah laku kamu!"
"Aku nggak perduli, kalo bisa biarin kecewa karena aku merasa keberatan atas perjodohan ini!"
"Nicko!" bentak papah yang merasa jika Nicko sudah keterlaluan.
"Aku bukan anak kecil yang harus di atur Pah. Aku nggak mau di jodohkan karena aku sudah memiliki wanita yang akan menjadi istriku kelak!" tegas Nicko dan segera melangkah keluar tanpa memperdulikan panggilan sang mamah.
"Gimana ini Pah?"
"Biarkan saja, tak usah di pusingkan. Sekeras apapun dia menolak, Nicko tetap akan kita jodohkan!"
Chiko hanya diam menyimak, bukan perkara perjodohan yang di tolak sang kakak, tapi siapa wanita yang mampu melumpuhkan hati kakaknya. "Siapapun itu, loe hebat udah buat hati kakak gue luluh...."
Saat ini Indah masih berada di club' bersama kedua sahabatnya dan Toni yang sedang menghadap laptop. Asti yang baru selesai dengan pekerjaannya bersandar di sofa dengan memejamkan mata.
"Capek banget?"
"Banget cin, loe kapan gawe lagi sich. Nggak kuat gue ngelayanin tamu loe. Padahal udah gue kasih si Minnie masih aja nggak nyampe-nyampe pegel gue," keluh Asti yang hanya di tanggapi senyuman oleh Indah.
"Iya, gue kadang heran sich sama si Cinta, masuk dengan senyuman keluar dengan hati senang. Tapi bibir loe nggak bengkak, padahal semaleman dia bisa ngelayanin sampe tiga tamu. Kalo gue udah Jontor nich bibir." Jenni menambahi.
"Eh Cin, apa jangan-jangan si Minnie udah jebol tapi loe nggak bilang-bilang ya sama kita?" lanjut Jennie dengan memicingkan mata.
"Apaan sich nggak ada begitu!" Indah menggelengkan kepala. Sudah lumrah kalo Jenni ikut ngumpul pasti obrolan mereka makin nggak terarah.
"Heh.....berarti dia profesional," sahut Toni.
"Kakak belum nyobain aja, kasih lah Cin siapa tau kak Toni diem-diem pengen," ucap Jenni ngelantur.
Indah menyorot Toni dengan wajah penuh tanda tanya, senyum nakalnya sengaja ia perlihatkan dengan sesekali menggigit bibir bawah menambah kesan sensual. Toni jelas tergiur, siapa yang nggak ingin. Apa lagi Indah yang jelas di perebutkan. Ada rasa penasaran yang tinggi di dirinya.
"Ugh.....jangan ngegoda Indah!"
"Kenapa, hmm?" tanya Indah yang sudah mendekatkan wajahnya pada Toni.
"Indah jangan buat kakak khilaf ya," tegas Toni. Dia yang sudah menganggap Indah adik sendiri tak sampai hati memakai Indah hanya untuk kepuasan sesaat.
"Sosor aja kak, mumpung lagi free!"
Wajah Toni sudah memerah, apa lagi dihadapkan dengan wajah cantik Indah, walaupun hari ini polos tanpa make up cetar. Inner beauty nya masih terlihat nyata.
__ADS_1
"Kak....."
"Aaauuuwww.......sakit!"
"Mau ngapain kamu hah? mau nakalin Toni?"
Indah menatap orang yang jelas Indah kenal suaranya, bahkan dari aroma tubuhnya saja Indah sudah hafal.
"Sakit om, kenapa jewer aku!" rengek Indah.
Nicko mendaratkan tubuhnya di samping Cinta, menatap tajam wajah ayu yang sekarang sudah seperti kepiting rebus.
"Ngapain ngerayu Toni, hhmm?"
"Bercanda doank, nggak serius! tanya kak Toni. Kak!" Indah dengan wajah sendunya menatap Toni.
Toni tersenyum mengejek, "nggak ikut-ikutan Kakak masalah rumah tangga kalian!"
"Ikh kak Toni ngeselin!" ketus Indah. Matanya kembali menatap Nicko kemudian beralih ke kedua orang sahabatnya yang sudah cekikikan di belakangnya.
"Gara-gara loe Jen!"
"Lah loenya mau, siapa suruh jadian nggak bilang! loe nggak nganggep kita?"
"Ikh siapa yang jadi......"
"Nggak mau ngakuin aku di depan teman kamu?" mendengar ucapan Nicko membuat Indah tersenyum kaku.
"Calon apaan?" tanya Asti dengan penuh tanda tanya.
"Calon......calon simpenan!" ucap Indah iseng.
"Sayang!"
Indah tertawa melihat wajah Nicko yang sudah sangat kesal, dia mencium pipi Nicko. Kemudian melingkarkan tangannya di leher jenjang dengan senyum manisnya.
"Iya kesayangan..."
cup
Nicko tersenyum melihat tingkah Indah yang kadang di luar ekspektasi. " Awas nakal lagi, inget kamu cuma milik aku. As, mulai hari ini Indah udah nggak nerima job lagi ya."
"Ikh om, gempor donk Asti gantiin dia tiap malam!" tolak Asti dengan wajah terkejut.
"Close nich ceritanya, tuh Minnie punya pelabuhan terakhir donk!" sahut Jenni.
"Nggak pake kayak gitu! ini cuma buat yang berhak!" tegas Indah yang sudah duduk di samping Nicko dengan tubuhnya yang di rangkul posesif.
"Berarti aku nggak berhak?" bisik Nicko.
"Belum saatnya!" Indah mencolek hidung Nicko membuat gemas si empunya.
__ADS_1
Pulang dari sana Nicko segera mengantar Indah sampai rumah, ikut naik ke kamar dan merebahkan tubuhnya di ranjang dengan mata yang tertutup.
"Om kenapa?"
"Nggak apa-apa..."
"Ada masalah?" setau Indah tadi pria ini pamit pulang karena di telpon sang mamah. Tapi kenapa dia malah menjemput.
"Cuma sedikit!" Nicko masih dengan posisi yang sama, tubuhnya begitu lelah, dan pikirannya tak kalah susah.
"Mau cerita?" tanya Indah yang sudah duduk di tepi ranjang. Nicko membuka mata dan langsung menatap Indah dengan pandangan yang sulit di artikan. Ada rasa tenang saat bersama, tapi hati tak menentu saat berjauhan. Nicko yakin orang tuanya tak akan tinggal diam. Jelas ini membuatnya khawatir akan Indah.
"Eh....." Indah begitu terkejut saat Nicko dengan tiba-tiba memeluknya. Melingkar di tubuh Indah dengan sangat erat, bahkan rasanya dada Indah begitu sesak
"Om, Indah nggak bisa nafas."
"Maaf sayang!" lirih Nicko dengan mata terpejam. Dia mencium aroma tubuh Indah begitu dalam, ada ketenangan di sana. Membuatnya sejenak lupa akan masalah yang ada.
"Nikah yuk!" ajak Nicko yang sudah melepas pelukan Indah. Ajakannya mampu membuat Indah tercengang tak berdaya. Apa-apaan nggak ada angin nggak ada hujan terus ngajak nikah, sedangkan dia masih sekolah.
"Om nich apa kali. Udah kayak mainan tau nggak. Emang udah pengen banget punya istri?"
" Bukan itu, tapi pengen banget jadiin kamu istri, mengertilah!"
"Nikah itu bukan mainan om, ya kali masalah kayak gini masih aku jelasin, sedangkan om kan yang lebih tua, jelas tau tanpa aku gurui. Lagian emang yakin sama aku?"
"Aku harus bagaimana buat yakinkan kamu? hhmm?" Tanya Nicko dengan lembut. "Lahir batin aku yakin sama kamu, aku sayang kamu, aku cinta kamu Cinta Sellindah."
Indah tercengang mendengar ungkapan cinta dari Nicko, nggak ada perempuan yang nggak Baper dengan posisi begini. Sedangkan Indah sudah mulai mau membuka hati.
"Apapun yang akan terjadi nanti, aku minta sama kamu untuk tetap bertahan. Cukup kamu yakin jika kita akan tetap bersama."
"Sekalipun orang tua tak merestui?"
"Akan ada saatnya mereka akan mengerti. Kamu nggak perlu memikirkan itu, biar semua itu menjadi urusan aku."
Indah tersenyum tipis mendengar ucapan Nicko, dia tau jika ada yang di tutupi oleh Nicko. Dan untuk hubungan mereka pasti akan banyak rintangan kedepannya.
"Sayang, malam ini aku tidur sini ya."
"Om nggak pulang?"
"Aku ingin di dekat kamu."
"Tapi Indah mau om pulang, Indah nggak mau nanti jadi masalah."
Nicko menarik nafas dalam, dirinya malas untuk pulang. Tapi dia pun tau, tidak baik juga jika sering di rumah Indah. "Untuk malam ini aja."
"Mau apa?"
"Aku mau kamu!"
__ADS_1