
Hari ini Indah benar-benar merealisasikan keinginannya, setelah sarapan dan di antar kembali pulang, dia segera berjalan menuju kamarnya dan segera tidur. Efek semalaman begadang, tubuhnya lemas dan remuk redam. Rasanya berbeda dengan permainannya dulu, kini benar-benar melakukan tugas seorang istri memberi hak pada suami.
Seharian tak keluar kamar, bahkan sejak tadi kurir datang tak juga Indah terjaga. Berkali-kali ponselnya berdering hanya ia abaikan. Tidurnya benar-benar nyenyak dan jangan salahkan jika panggilan dari sang suami juga ia biarkan, karena itu juga ulahnya yang semalaman minta lagi berulang kali.
"Ck, kamu kemana sich sayang, udah lewat dari jam makan siang masak masih tidur." Nicko mondar-mandir di dalam ruangannya hingga Adit yang sedang menunggunya menandatangani berkas di buat pusing sendiri.
"Ngapa sich loe, udah kayak gosokan!"
"Bini gue di telpon nggak di angkat juga. Ini udah jam dua, kurir yang bawa makanan sampe ninggalin tuh makanan di teras rumah gara-gara Indah nggak buka pintunya. Dia tidur apa pingsan sich!"
Adit tersenyum miring, "abis loe apain dia sampe tepar?"
Nicko mengingat pergulatannya semalam, dia menarik nafas dalam. Hati nya jadi khawatir akan keadaan istrinya, jika satu jam lagi nggak ada meeting mungkin dia sudah pulang.
"Biasa, kayak nggak tau aja loe!"
"Loe maennya nggak ngerti waktu kali, dia capek abis loe hajar abis-abisan. Walaupun dia sebelumnya maaf-maaf ya, pekerjannya kayak gitu tapi kan dia masih perawan Nick. Lagian juga paling sejam dua jam. Lah elo minta sampe pagi!"
"Habis enak banget Dit, loe nyesel kalo nggak buru nikah. Di jamin ketagihan, beda rasanya maen sama bini sendiri di banding sama jajan. Bini sendiri lebih legit bro...."
"Terus aja loe mengen-mengenin gue, nggak usah loe suruh kalo udah ada calonnya juga udah buru gue kawinin," sewot Adit yang merasa di pengen-pengenin oleh Nicko.
Nicko bersandar di kursi kerjanya, memejamkan mata memikirkan sang istri yang ntah sedang apa. "Dit nggak bisa apa kalo meetingnya di undur, asli gue khawatir ma bini gue!" ucap Nicko dengan memelas.
"Nggak bisa Nick, ini klien dari Singapura mau langsung ketemu sama pemiliknya. Dan ini proyek besar, loe sabar dikit. Nanti juga Indah bangun, kalo nggak minta tolong aja sama adek loe suruh nengokin Indah. Kalo perlu suruh bangunin sekalian biar telpon loe balik."
Nicko melempar pulpen ke arah Adit, "enak aja, nggak bakal gue biarin dia berduaan sama adik gue!" kesal Nicko.
"Masih aja loe cemburu sama adik loe!"
"Semua bisa aja terjadi, ipar tuh ancaman paling besar!"
Akhirnya Nicko pun benar-benar tak bisa pulang, ia harus menekan rasa penasaran dan khawatirnya pada sang istri. Meeting ia lakukan dengan begitu serius agar cepat selesai dan pulang kerumah.
Sedangkan Indah baru saja membuka matanya tepat pukul tiga sore, setelah benar-benar sadar, dia segera masuk kamar mandi. Tak perduli jam berapa, Indah segara mandi karena tubuhnya sudah lebih baik dari tadi pagi.
__ADS_1
Keluar kamar setelah berganti pakaian, Indah turun kebawah karena perutnya yang lapar. Membuka kulkas berniat ingin masak tapi tak ia temukan apa-apa hanya ada sisa cabai dan bawang bombai. "Habis lagi, harus belanja dulu. Mana udah laper banget," keluh Indah kemudian keluar rumah mencari pedagang makanan yang lewat.
"Eh, ini apaan?" Indah melihat bungkusan plastik di atas meja dan mengambilnya, kemudian ia buka setelah mendudukan dirinya di kursi teras. "Makanan.." Indah heran siapa yang menaruh makanan di meja terasnya, melihat ke luar pagar tak ada siapa-siapa.
"Bawa masuk aja kali dah, siapa tau emang buat gue. Lumayan laper banget ini perut."
Indah membawa masuk makanan tersebut dan dia meletakkannya di meja makan. Melangkah menuju dapur untuk membuat minuman hangat, tanpa ia tau ponselnya sejak tadi kembali berdering. Indah membuka bungkusan makanan tersebut. Matanya berbinar saat dia melihat apa yang ada di dalam kotak.
"Waaaahhh rejeky istri Solehah, nasi Padang daging rendang masih ada telur dadarnya juga lagi. Mana tebel banget. Enak banget ini, tapi udah dingin. Apa yang nganter udah kelamaan kali ya, salah alamat apa emang beneran buat gue. Udah lah nggak apa-apa yang penting makannya bismillah dulu indah...."
Indah berlari mencuci tangan, kurang afdol jika makan nasi Padang memakai sendok. Kemudian dia segera kembali duduk dan dengan lahapnya ia makan nasi Padang yang menggugah selera.
Hampir gelap Nicko baru sampai di rumah, memarkirkan mobilnya dengan rapi kemudian segera berlari masuk ke rumah.
"Sayang...."
Nicko masuk kerumah dengan tergesa, mencari keberadaan istrinya yang sejak siang tadi ia khawatirkan.
"Sayang! kamu baik-baik aja?" tanya Nicko saat menemukan Indah yang baru keluar dari kamar mandi dengan menggunakan handuk kimono setelah tadi berbenah rumah dan berkeringat kembali.
Nicko memegang kedua pundak Indah, "kamu buat aku khawatir tau nggak? aku tuh telponin kamu dari tadi tapi nggak kamu angkat. Aku kirim makanan buat kamu tapi kata kurir rumahnya kosong. Kamu kemana aja sayang?"
Indah menarik nafas dalam, mengajak Nicko untuk duduk di pinggir ranjang. Membukakan jas dan dasinya, lanjut melepas sepatu dan meletakkan semua di tempatnya.
"Aku tuh tadi tidur, sore baru bangun. Lanjut makan makanan yang ada di teras terus berbenah rumah. Mau masak aku belum belanja." Indah sudah kembali duduk di pinggir ranjang. "Jangan khawatir by, aku baik-baik saja."
Nicko menarik tubuh Indah ke dalam dekapan, dia lega jika seharian ini Indah baik-baik saja. Karena terlalu sayang membuatnya begitu tak tenang jika tak mendapat kabar.
Indah menyiapkan baju ganti untuk Nicko, membuatkan kopi dan membawa baju kotor ke tempat mesin cuci.
"Sayang, ngapain?" Nicko melihat Indah yang baru saja masuk.
"Habis dari bawah, bajunya udah aku siapkan by." Indah segera melangkah menuju pintu balkon menutup gorden kemudian mengecek pintu dan jendela memastikannya dalam keadaan terkunci.
"Makasih ya sayang, perhatian banget makin sayang dech aku."
__ADS_1
Indah tersenyum "berasa punya istri ya?"
"Ya kan memang sudah punya istri, cuma sekarang aku merasa istimewa karena sikap kamu yang perhatian. Malam ini mau makan apa? mau pesan atau makan di luar?" Nicko pun ingin memanjakan Indah, dia tak ingin Indah terlalu lelah dan berujung males menghangatkan ranjang.
"Pengan ngisi kulkas aja by, kosong..blanja yuk!" ajaknya, tapi sayangnya mata Nicko sedang fokus di satu titik yang membuat fokusnya menurun.
"By.." Indah mengikuti arah pandang suaminya hingga ia sadar jika pahanya terbuka. Karena masih pakai handuk kimono jadi tak bisa terkondisikan.
"Liat apa by?" tanyanya sambil bersedekap dada duduk di sofa bersama sang suami.
"Eh...tadi mau apa sayang?"
Indah tersenyum miring, sang suami memang pikirannya tak jauh dari pangkal paha. "Mau beli ayam by." Indah semakin memajukan tubuhnya membuat Nicko semakin gelagapan.
"Dada apa paha sayang?"
"Maunya dada apa paha?"
"Dua-duanya enak sayang..." suara Nicko semakin berat dengan mata yang sudah berkabut, jika saja dia tak ingat Indah kelelahan sudah pasti saat ini ia akan mendorong istrinya ke ranjang dan mengukungnya tanpa ampun.
"Atas bawah enak berarti by?" tubuh Indah semakin maju bahkan sudah merangkak hingga Nicko semakin mundur kebelakang.
"Pasti sayang, apa lagi yang montok....."
"Hhmm....suka?"
"Banget, yang muda apa yang tua?" tangan Indah mulai membuka kancing Nicko satu persatu.
"Muda lebih menggoda sayang," Nicko semakin hilang kendali, niat ingin menahan tapi malah Indah membuatnya semakin tertantang.
"Apanya yang menggoda?"
"Semuanya, karena kamu nakal sayang, aku nggak tahan!"
"Akh.......by!"
__ADS_1