
"Sayang menginaplah disini, sudah malam. Besok pagi saja pulangnya," bujuk mamah yang tak ingin Indah dan Nicko pulang malam ini.
Indah masih diam, dia melirik sang suami yang duduk di sebelahnya. Melihat kegelisahan sang istri Nicko pun cukup mengerti. Indah tak mungkin memberikan keputusan sendiri.
"Terserah kamu sayang."
"Aku gimana kamu aja by," jawab Indah.
"Untuk malam ini aku menginap mah, tapi tidak untuk malam selanjutnya, kami masih masa pengantin baru. Butuh waktu dan tempat yang bebas guna berusaha untuk memberikan cucu untuk mamah dan papah."
Setelah mengucapkan itu, Nicko meringis kesakitan. Indah mencubit pinggangnya begitu keras, sedangkan mamah dan papah tersenyum melihatnya. Begitupun dengan Chiko, dia cukup lega walaupun ada rasa sedikit cemburu yang masih melekat di dada.
"Tuh liat menantu mamah, nakalnya nggak liat tempat kan!"
"Hubby....." wajah Indah sudah memerah, dia malu pada kedua mertuanya.
"Nggak apa-apa sayang, kami maklum. Tapi di tunggu loh ya kabar baiknya. Mamah sudah tak sabar mau menimang cucu dari kalian."
Setelah berbincang dan mengobrol ringan kini Nicko mengajak Indah masuk ke kamarnya, kamar yang belum pernah Indah datangi. Dengan menggandeng tangan Indah, Nicko mengajaknya masuk. Tapi sampai di ambang pintu suara Chiko menghentikan langkah keduanya.
"Jangan kencang-kencang Kak suaranya, nanti aku nggak bisa tidur."
Kata-kata yang absurd tapi cukup mereka pahami, Nicko tersenyum pada sang adik. "Kakak pikir kamu masih berteman baik dengan sabun itu! pergunakanlah dengan baik, sampai waktunya tiba, dan kamu cukup kuat untuk menguasai Medan perang!"
Indah memukul dada Nicko kemudian segera menariknya masuk kedalam. "Kakak duluan, istriku sudah tak tahan!"
Keduanya masuk ke dalam meninggalkan Chiko yang mengumpat kesal, "sial, kapan terlepas dari sabun-sabun itu!"
Dan benar saja, baru 30 menit kedua pasutri itu masuk kamar dan Chiko baru ingin memejamkan mata. Suara yang menggelitik di telinga mampu membuat Chiko tak jadi terpejam. Bolak balik di ranjang tak juga membuatnya bisa tidur, bahkan telinganya sudah di tutupi selimut saja tak membuat Chiko nyenyak. Bayangan pergulatan antara Indah dan kakaknya memenuhi pikiran. Hingga tak dapat di cegah si Mickey bangun sempurna.
__ADS_1
"Ck, sialan masak iya gue harus ngungsi kamar. Agh....tapi udah terlanjur bangun lagi!"
Suara Indah begitu mendayu di telinga Chiko, ntah sedang dalam posisi apa, suara Indah benar-benar menikmati setiap pergerakan yang ia dapatkan dari sang kakak.
"Bisa gila gue kalo gini terus, loe juga ngapa bangun sich! cuma denger suaranya aja loe bangun, gimana liat orangnya. Huuuuhhhffff...... Indah-Indah...loe nyiksa gue! Kak Nicko juga nggak bisa libur sehari dulu apa, disini masih aja minta jatah!"
Chiko benar-benar tidak bisa tidur, sudah dua kali dia masuk kamar mandi untuk menuntaskan tapi karena suara di kamar sebelah yang tak kunjung berhenti membuatnya terus terbayang.
"Apa perlu gue gedor aja itu pintu ya, atau gue pindah ke kamar mamah. Tapi kalo mamah sama papah juga lagi indehoy gimana? OMG gue butuh bini!"
Chiko mengumpat kesal, bahkan hewan di kebun binatang semua ia lontarkan. Apa lagi cuaca di luar yang sangat mendukung mereka berkembang biak. Gerimis mengundang hasrat. Sangat pas untuk pasangan suami istri.
Hampir pagi Chiko baru bisa tertidur pulas, bahkan dia sudah empat kali masuk kamar mandi. Tenaganya yang mulai habis dan tubuhnya yang melemas karena berulang kali mengalami pelepasan, membuat Chiko akhirnya terlelap.
"Chiko belum bangun mah? kita sudah mau mulai sarapan, kasian jika makan sendirian," ucap papah saat semua sudah berkumpul kecuali Chiko.
"Iya Pah, padahal sudah hampir jam 9 ini, harusnya yang kesiangan tuh pengantin baru tapi malah Chiko yang masih sendiri."
Tanpa mereka sadar Chiko turun dengan mata yang masih mengantuk dan penampilan acak-acakan, khas bangun tidur. "Siapa yang ngelemburin game, yang ada aku lemburin kalian. Kalah hansip, liat mata aku sampai begini." Chiko mendudukkan dirinya disebelah sang mamah.
"Mah, aku mau buru nikah kalau begini, mereka membuatku tak tahan dan ingin cepat memiliki istri," keluh Chiko.
Mendengar keluhan Chiko mamah dan papah paham apa yang membuat anaknya telat bangun. Mereka tertawa, Nicko hanya cuek sedangkan Indah sudah tertunduk malu.
"Kamu masih harus sekolah lagi, mau makan apa istri kamu nanti. Nggak mungkin hanya kamu kasih cinta, sedangkan dia butuh nasi buat tenaga setiap malam!" ucap papah mengingatkan.
"Maklum donk nak, nanti kalo kamu sudah menikah juga akan merasakan. Semalam kenapa nggak ke kamar mamah aja?"
"Mah, kita semalam juga kan nggak beda jauh. Yang ada papah pusing kalo dia masuk kamar kita."
__ADS_1
"Papah!" tegas mamah, beliau jadi malu sendiri apa lagi ada Indah yang mendengar. Benar-benar papah tak bisa menjaga privasi
"Kan, dengar sendiri apa yang papah ucapkan, makanya aku semalam nggak jadi ke kamar mamah. Kalo kesana yang ada aku jadi wasit dan mendapat timpukan bantal dari papah!"
"Ehem....sudah cepat makan, pagi-pagi sudah membuat istriku malu saja. Kasian dia nanti mental nggak mau lagi menginap di sini." Nicko mengecup kening sang istri kemudian menyuruhnya untuk segera makan.
"Kakak sendiri yang tak tau waktu!"
Setelah sarapan, Nicko dan Indah segera pamit karena Nicko yang harus berangkat ke kantor, sedangkan Indah harus menyiapkan pakaian untuk besok pengumuman kelulusan sekaligus perpisahan.
"Indah pamit ya Mah, Pah, kapan-kapan Indah main sini lagi. Tinggal nunggu jadwal kak Nicko renggang."
"Iya sayang, besok kelulusan apa mau mamah yang mengambil hasilnya?"
"Tidak usah mah, mamah dan papah ambil punya Chiko saja, biar aku yang ambil hasil milik istriku."
"Benar tidak apa? Indah bagaimana nak?" sang mamah khawatir Indah malu jika di usianya yang masih muda sudah menikah.
"Nggak apa-apa mah, biar Kak Nicko saja yang ambil. Mungkin sudah waktunya juga semua tau jika Indah sudah menikah. Yang terpenting kan Indah menikah sudah selesai sekolah. Nggak ada yang di khawatirkan lagi mah."
Mamah cukup lega mendengar Indah yang sudah ikhlas akan statusnya, "ya sudah, kalo mau beli kebaya di butik khusus langganan mamah saja, biar nanti mamah hubungi pemiliknya," ucap mamah yang begitu perhatian.
"Biar Indah sama kedua sahabat Indah saja mah, nggak enak nanti sama mereka biasa beli di tempat langganan kami. Takut kemahalan juga mah, kasian nanti kak Nickonya."
Mendengar alasan Indah sang mamah menatap Nicko yang tersenyum dan menganggukan kepalanya. "Sayang, uang suamimu tak akan habis sekalipun kamu bawa pulang seisi butik langganan mamah. Jadi tak perlu khawatir nak."
"Sayang aja mah, bisa di tabung buat masa depan kelak. Lagian kasian kak Nicko bekerja capek-capek, eh aku tinggal ngabisin."
Mamah tersenyum kemudian mengusap lengan Indah, "kamu memang luar biasa sayang, wanita di luaran berebut anak mamah karena harta, tapi kamu yang sudah memilikinya tak ingin memanfaatkan."
__ADS_1
"Masakin mamah aja hasil dari tawar menawar di pasar mah, sungguh luar biasa memang istriku ini!"
Mamah dan Nicko tertawa membayangkan Indah yang sibuk tawar menawar di pasar. Tapi mereka pun bangga dan bersyukur memiliki Indah.