Terjerat Cinta Gadis Malam

Terjerat Cinta Gadis Malam
Bab 27


__ADS_3

Mereka kembali memadu kasih tanpa melewati batas penjagaan. Indah tetap tak ingin terbuai, jika memang Nicko serius seharusnya sabar dan menunggu waktunya tiba.


Menumpahkan segala asa dan mencurahkan kasih sayang. Indah begitu menikmati setiap sentuhan yang Nicko beri. Mereka saling memberi atas dasar cinta di hati. Nicko yang ahli bertemu dengan Indah yang lihai membuat permainan semakin panas dan bergelora.


"Aku mencintaimu sayang," ucap Nicko di sela-sela aktivitas mereka.


Bertukar peluh hingga tak sadar waktu, dua jam sudah mereka saling mencumbu. Menikmati setiap detik yang berlalu hingga menyentuh kalbu.


"Om....."


Nicko menghujani ciuman di wajah Indah saat gadis itu kembali bergetar dan di susul dia yang kemudian ambruk di samping tubuh Indah.


"Makasih sayang...."


Nicko mendekap erat dengan menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka. " Om..."


"Jangan panggil om sayang, hubungan kita bukan tamu dan gadis malam, kamu kekasihku."


"Terus mau Indah panggil apa?"


"Tak bisa kah memanggilku dengan panggilan sayang?"


"Sayang Koko?" ucap Indah membuat Nicko semakin gemas, dia menggigit bahu indah.


"Ikh sakit, nggak mau aku panggil sayang Koko?"


"Lucu, boleh juga tapi sayangnya jangan ketinggalan ya!"


Jemari Indah terulur mengusap rahang Nicko dengan senyum tulus dan mengecup bibir si tampan yang sedang terpejam.


"Sayang Koko, aku mencintaimu."


Nicko membuka mata, baru kali ini Indah mengungkapkan isi hatinya. Jantungnya berdebar dengan hati tak karuan.


"Kamu mencintaiku? tanyanya lagi.


Indah mengangguk membuat Nicko mengeratkan pelukannya. Pria itu sungguh bahagia. Bertahun-tahun menjelajah wanita, kini sudah mendaratkan hati ke gadis malam yang tak pernah terduga.


"Tetap di sampingku apapun yang terjadi, jangan pernah menjauh atau pergi. Aku akan memperjuangkanmu apapun yang terjadi nanti."


"Akan sulit untuk kita dan aku tau itu, tapi jika kamu menyerah aku tak apa, karna aku sadar akan statusku."


"Ssstt....aku nggak suka kamu berbicara seperti itu, kamu kekasihku, wanitaku, tak ada yang boleh menghinamu. Makasih telah membalas cintaku."


Kini keduanya terlelap dengan saling memeluk erat, Nicko yang di minta Indah untuk pulang seakan malas beranjak. Terlalu pening ketika kembali membahas akan perjodohan.

__ADS_1


Pagi hari keduanya tampak sibuk mempersiapkan diri, Nicko yang selalu membawa baju kerjanya di dalam mobil segera merapikan diri, sedang Indah yang sudah rapi tengah sibuk di dapur mempersiapkan sarapan pagi. Setelah selesai sarapan kini keduanya sudah berada di dalam mobil menuju sekolah. Pagi ini sengaja Indah tak berkunjung ke rumah sakit, tak ingin kembali rumit karena beberapa hari di culik.


"Nggak ke rumah sakit?"


"Nanti saja pulang sekolah, aku nggak mau buat mood kamu hancur hari ini."


"Kenapa?"


"Aku tau kamu cemburu kan melihat aku dekat dengan cowok lain? aku nggak mau terulang lagi dan buat kamu sakit hati."


Nicko tersenyum mendengar penuturan Indah, "Good girl!" tangan Nicko mengacak gemas rambut Indah.


"Rusuh ikh tangannya, aku udah rapi loh!"


"Jangan masang bibir begitu di depan orang lain, aku nggak mau mereka khilaf liatnya, jaga hati kamu buat aku ya!"


"Beres bos!"


Nicko menepikan mobilnya sedikit berjarak dari gerbang Indah, dia belum siap jika adiknya melihat. Bukannya pengecut, tetapi lebih menjaga hati orang banyak. Dan tak ingin menambah masalah.


Nicko ingin lebih fokus pada hubungannya terlebih dahulu dan tak ingin memikirkan yang lain.


"Pulang jam berapa?"


"Seperti biasa," Indah merapikan penampilannya dan meraih tas yang ada di jok belakang.


"Apa banget tiap saat berdua, biar aku pulang sendiri aja. Kamu juga kan kerja, aku nggak mau terus bersama sedangkan kamu banyak pekerjaan. Nggak melulu menempel seperti cicak, bergandengan seperti truk. Kamu lupa jika aku terlahir menjadi wanita mandiri."


"Hhmm.....ya sudah, biasanya wanita suka di perhatikan tapi kamu malah merasa nggak nyaman."


"Ada saatnya bersama sayang Koko, aku masuk ya. Kamu hati-hati berangkatnya," Nicko mencium kedua pipi Indah dan berakhir di bibir hingga lipstik yang Indah pakai luntur.


"Nggak usah cantik-cantik!"


"Ngeselin, aku pake warna kalem bukan yang mentereng seperti biasanya!" Indah merengut dengan tatapan tajam ke arah Nicko.


"Udah sana masuk, kamu itu sekolah bukan mau fashion show, tanpa pakai pewarna bibir saja sudah cukup menggoda. Aku ngga akan rela bagi-bagi."


"Kamu seperti papah aku bukan pacar aku!"


Indah segera turun dari mobil kemudian melangkah begitu saja masuk ke dalam gerbang sekolah. Sedangkan Nicko segera pergi dari sana.


Dari jauh Chiko datang dan sempat melihat mobil kakaknya melintas, ada rasa penasaran tapi teralihkan saat melihat Indah yang berjalan masuk menuju gerbang.


"Indah."

__ADS_1


Indah menoleh ke arah Chiko yang baru saja memarkirkan motornya. Melihat sejenak kemudian kembali melangkah.


"Indah!" Chiko menarik tangan Indah dan membawanya ke sisi gedung yang sepi.


"Ada apa?"


"Tadi gue nunggu loe di parkiran rumah sakit tapi loe nggak ada, berangkat sama siapa?"


"Bukan urusan loe ko," jawab Indah tenang.


"Apapun yang menyangkut loe itu jadi urusan gue Indah, loe lupa kalo loe pacar gue!"


"Tapi gue nggak pernah bilang loe itu pacar gue ko!" tegas Indah, kemudian pergi dari sana tapi segera di tahan oleh Chiko dan disudutkan di tembok.


Kini kedua pasang mata itu saling mengunci, Chiko tak gentar mendapatkan Indah sekalipun gadis itu menolak. "Gue nggak minta loe terima dan menerima segala penolakan loe!"


"Cukup loe tau kalo gue suka sama loe!"


"Tapi gue nggak!"


"Gue nggak perduli Indah, please ngertiin ini yang pertama buat gue. Dan rasa itu jatuh ke loe, salah kalo gue suka sama loe?"


"Cinta itu nggak pernah salah ko, dia bebas singgah kemanapun, tapi maaf gue nggak bisa buat balas rasa loe!" tutur Indah lembut, dia paham apa yang Chiko rasa, tapi hatinya sudah berlabuh ke pria lain tak mudah untuk berpaling.


"Gue akan terus berusaha meyakinkan loe, kalo gue terbaik buat loe!"


Hari ini pelajaran lancar dan Indah tak merasakan kantuk sedikitpun. Asti dan Jennie yang sedikit-sedikit menguap membuat pemandangan menarik untuk Indah. Dia tersenyum geli saat melihat wajah kusut kedua temannya.


"Semalem balik jam berapa?" tanya Indah saat jam istirahat berbunyi.


"Bantal banget kan muka gue! loe sich pake pensiun segala, gue yang jadinya harus ngehandle semua." Asti sewot, tubuhnya capek, matanya ngantuk dan bibirnya merengut.


Indah segera menarik tangan Asti dan mengajaknya ke kantin, "Udah ayo ngantin, kita minum es biar seger oke!" bujuk Indah, dan menarik tangan Jennie juga yang tak kalah kusutnya dengan Asti.


"Loe lagi kenapa, si om minta sampe pagi emang nya?"


"Iya, capek gue, ngantuk, kesel, berasa ikut gawe gue, si om semalem minum obat, gila aja sich tuh Mickey nggak mau tidur."


Mendengar itu Indah hanya menggelengkan kepala dengan melenggang menempati kursi kosong kemudian duduk teratur. Ingin memesan makan tiba-tiba ada semangkok bakso plus es teh manis yang menggugah selera, jelas menggiurkan.


"Enaknya jadi Indah dimana-mana di manja," celetuk Jenni.


"Awas aja kalo si om tau, bisa_"


Indah sengaja menimpukkan buntalan tisu ke wajah Jenni yang pastinya tak akan diam jika terus di biarkan.

__ADS_1


"Om siapa?"


__ADS_2