Terjerat Cinta Gadis Malam

Terjerat Cinta Gadis Malam
Bab 59


__ADS_3

Setelah pembicaraan bertiga dengan sang mamah kini Indah di boyong calon mamah mertua ke kamar pasien yang sudah di pesan khusus untuk merias calon pengantin. Indah duduk dengan sapuan kuas yang sejak tadi mengenai kulitnya. Bahkan camer sudah mendatangkan MUA ternama untuk pernikahan dadakan yang akan di laksanakan bada isya.


Permintaan mamah yang ingin di segerakan membuat Indah dan semuanya gerak cepat mempersiapkan. Rencana hanya rencana, Indah dan Nicko yang semula akan di nikahkan setelah Indah lulus sekolah malah justru di percepat hingga rasanya tak percaya.


Indah sejak tadi menghubungi kedua sahabatnya untuk meminta mereka datang ke rumah sakit tanpa di beritahu ada acara apa sebenarnya.


"As..."


"Kenapa Ndah?"


"Ke rumah sakit sekarang!"


"Hah mendadak banget, harus sekarang? emangnya ada apa?"


"Nengokin nyokap aja, nemenin gue juga. Udah cepetan pokoknya gue tunggu!"


Tut


Indah segera mematikan ponselnya, jika tak begini akan berujung panjang dan tak akan kelar-kelar. Kemudian di lanjut menelpon Jenni, awal tak ada suara tapi semenit kemudian lenguhan panjang nyaring terdengar hingga membuat Indah berdebar.


"Napa Ndah?"


"Anjir loe, gue di suruh dengerin pelepasan loe sama si om!"


"Sorry Ndah, nanggung tadi. Kalo nggak gue angkat takutnya penting keburu loe matiin telponnya. Ada apa?"


"Ke rumah sakit sekarang, loe udah kelar kan mainnya?"


"Kerumah sakit ngapain? loe nggak lagi sakit kan? udah kok loe kan denger sendiri nikmatnya..."


"Bodo lah, udah pokonya datang aja. Jangan lewat dari jam 7, bareng Asti aja . Dia udah gue kabarin juga!"


"Mendadak amat dah loe, gue masih ngos-ngosan ini, belum mandinya. Belum bikin si om bobo dulu."


"Terserah loe dech, pokoknya kalo nggak datang persahabatan kita end."


Tut


Indah menarik nafas dalam, hanya dua orang sahabatnya yang ia miliki selain mamah. Tak akan dia biarkan mereka tak tau apa-apa tentang jalan hidupnya. Karena keduanya yang paling setia dan sudah seperti saudara.


Nicko pun sibuk menghubungi KUA dan para saksi yang ia minta datang. Pernikahan yang mendadak tak mungkin lancar jika tidak dengan kekuatan uang. Beruntung Indah mendapatkan pria tajir yang hartanya tak akan habis tujuh turunan. Bahkan Nicko sengaja meminta dokter yang menangani mamah Indah untuk menjadi saksi pertama di sela kesibukannya yang padat.


Sang papah pun tak tinggal diam, kini sedang mengatur tempat untuk mereka mengadakan ijab. Menyewa aula rumah sakit yang ruangannya bisa masuk beberapa orang yang datang menyaksikan dan satu ranjang untuk mamah Indah. Menyewa tim dekor dadakan, padahal mamah Indah sudah mewanti-wanti tak perlu mewah yang penting sah.


Sedangkan sang mamah sibuk memilihkan gaun pengantin untuk kedua mempelai, tak tanggung-tanggung mamah Nicko membeli gaun pengantin di butik ternama di kota tersebut. Beliau tak ingin semua berjalan begitu saja tanpa ada kesan mendalam di antara kedua mempelai. Karena ini acara sakral yang di harapkan hanya satu kali seumur hidup. Jadi beliau meminta semua tertata tanpa ada yang kurang.


Sedangkan Chiko menhubungi kedua sahabatnya untuk hadir sebagai photograper dadakan. Tanpa mereka tau siapa yang akan menikah. Tapi Chiko sudah berpesan agar bisa menjaga rahasia ketika melihat siapa mempelai pengantin yang sebenarnya.

__ADS_1


Hingga acara sudah akan di gelar, Indah masih diam terduduk sendiri. Tak percaya hari ini akan benar-benar terjadi, dia pun belum bertemu dengan Nicko setelah keluar dari ruangan mamahnya tadi siang. Tak tau harus senang atau sedih. Tapi hatinya terasa begitu berat, apa lagi ketika bayangan papah dan mamah nya jelas di ingatan. Baginya tak mudah menjalani semua di usianya terbilang masih sangat belia.


Nicko sudah duduk di depan penghulu dengan setelan kemeja yang di balut jas sesuai warna kebaya yang Indah gunakan. Para tamu yang khusus di undang untuk acara mereka pun sudah hadir. Begitupun kedua sahabat Chiko yang kini sedang mengatur posisi kamera, mereka masih belum tau siapa yang akan menikah dengan Nicko, yang mereka sudah kenal sebagai kakak kandung dari Chiko.


Sedangkan kedua sahabat Indah terheran saat masuk ruangan mamah Indah tapi tak menemukan siapa-siapa di sana.


"Ini kita di Frank apa gimana sich, kok kosong begini ruangannya. Ya kali udah di bawa pulang, itu perlengkapan mamahnya Indah masih ada, tapi ranjangnya kenapa udah ngilang ya."


"Coba gue hubungin Indah dulu, loe ngebacot bae Jen!"


Asti mencoba menghubungi nomor Indah tapi tak kunjung di jawab, berulang kali ia mencoba hingga suara operator yang terdengar.


"Nggak di angkat Jen, malah mati ini handphonnya. Kita tanya sama perawatan aja dech, tuh ada yang lewat."


Mereka menghampiri perawat yang kebetulan melintas, menghentikan dengan sopan dan bertanya.


"Sus, saya mau tanya, pasien yang ada di kamar ini kemana ya? kok kosong, tapi barangnya masih ada semua."


"Oh pasien yang di sana di bawa ke aula lantai lima untuk menyaksikan putrinya menikah."


"Putrinya menikah...." lirih keduanya.


"Kalo gitu saya permisi ya."


"Iya sus makasih ya," ucap Asti.


"Putrinya menikah..."lirih keduanya lagi saling menatap, tak lama keduanya tercengang dengan mulut yang mereka tutup masing-masing.


"Indah!"


"Indah nikah?"


"Gila nggak beres ini, ayo kita kesana!" ajak Jenni yang segera menarik tangan Asti untuk segera naik ke aula.


Mamah Nicko masuk kedalam ruangan yang di tempati Indah seorang diri, beliau mendekat dengan senyuman yang merekah.


"Cantiknya anak mamah..."


Indah tersipu, "Makasih Tante," ucapnya.


"Kok Tante, panggil mamah seperti nicko.Kan sebentar lagi kalian akan menikah. Ayo sekarang mamah antar ke aula, karena acara ijab sudah akan di mulai."


"Iya mah..."


Mamah mengapit tangan Indah mendampinginya menuju ruangan yang sudah di rubah menjadi tempat akad kedua mempelai yang di dekor sedemikian rupa tapi masih ada unsur kesederhanaannya. Karena tadi Nicko sempat melarang, mengingat calon istri yang tidak begitu suka kemewahan. Mamah awalnya terkejut, tapi setelahnya bangga karena memiliki menantu yang sederhana dan apa adanya.


Mereka berjalan menuju aula dengan langkah pelan mengimbangi Indah yang saat ini memakai kebaya adat Jawa. Belum sampai di pintu ruangan Indah melihat kedua sahabatnya yang berlari menghampiri dengan nafas ngos-ngosan.

__ADS_1


"Kalian baru datang?" tanya Indah yang menghentikan langkahnya.


"Loe siapa?"


"Iya, emang kenal sama kita?"


Mamah Nicko hanya tersenyum memperhatikan kedua sahabat Indah yang pangling dengan calon menantunya.


"Sebentar ya mah, ini kedua sahabat Indah minta di sadarkan dulu."


"Iya sayang."


"Heh gue Indah, loe berdua masak nggak kenal, parah dah loe..."


"Indah? Cinta Sellindah....Ya Tuhan loe mau ngapain pake baju begini? mau jadi manten? emang udah ketemu jodohnya?"


Mamah indah tertawa melihat keduanya yang keheranan, "ayo ikut masuk, mempelai prianya sudah menunggu."


"Iya Tante," ucap keduanya.


"Beneran Indah kan? kok cakep banget ya..."


"Itu anak pake susuk apa ya, ngapa di dandanin makin cantik begitu," ucap Jenni nyeleneh.


"Iya, udah lah kita ikut aja," ajak Asti.


Semua yang ada di ruangan menoleh ke arah pintu, begitupun dengan Chiko yang sedang mengarahkan kedua sahabatnya. Mereka begitu terkesima melihat Indah masuk dengan anggun, cantik dan benar-benar pangling.


Mamah pun tampak tersenyum melihat putrinya yang datang di dampingi oleh sahabanya, ada rasa lega di hati beliau melihat interaksi keduanya yang baik-baik saja malah tampak rukun dan harmonis.


Sedangkan Nicko yang tadi sedang di beri wejangan kemudian menoleh kesamping saat Indah sudah mulai duduk. Sempat terdiam melihat kecantikan Indah, setelahnya tersenyum dan berdehem untuk menormalkan detak jantungnya.


"Itu yang cewek kayak gue kenal," ucap Soni.


"Iya, siapa ya...." lanjut Kiki.


"Njir.....itu Indah, ko ini nggak salah? kenapa yang nikah sama Indah kakak loe bukan loe?"


Chiko tersenyum melihat keterkejutan kedua sahabatnya, dia memang belum cerita apa-apa. "Karena ternyata kak Nicko yang lebih dulu jadi kekasihnya Indah, bukan gue!"


"Jadi selama ini loe godain calon kakak ipar loe?" sahut Kiki.


"Ck, berisik! gue mana tau kalo Kakak gue ternyata cowoknya Indah."


"Potek hati Abang neng," ledek Kiki yang sebenarnya tak tega, tapi juga tak ingin Chiko hanya diam dan sedih seenggaknya bisa emosi dikit lebih bagus dari pada hanya diam meratapi.


Nicko mulai menjabat tangan Pak penghulu, sebelumnya sempat memandang sang calon mertua yang kemudian tersenyum kepadanya.

__ADS_1


"Bismillahirrahmanirrahim......"


__ADS_2