
Indah menyunggingkan senyum melihat siapa orang yang kini memayunginya di saat dia sedang menikmati hujan. Padahal tanpa dia payungi pun tubuhnya sudah basah bahkan bajunya kini sudah tercetak jelas tubuhnya.
Melihat Indah di pinggir jalan membuatnya segera menepikan mobil dan menghampiri. Mendekati tanpa ada kata risih, karena semua sudah ikhlas dan saling mengasihi.
"Ngapain? nggak takut masuk angin?"
"Pengen aja, udah lama nggak main hujan. Kok bisa di sini?"
"Tadi nggak sengaja lewat, liat gadis cantik hujan-hujanan padahal yang lain takut kebasahan."
Kini keduanya duduk di halte bus dengan Indah yang mengenakan jaket besar di tubuhnya.
"Dingin, pulang aja yuk!"
"Masih hujan juga, nanggung nggak sich..."
"Ntar sakit kalo nggak keburu ganti baju, di rumah cuma sendiri siapa yang ngurusin?"
Indah tersenyum, perhatiannya tak luntur walaupun rasanya sudah mulai terkubur.
"Makasih udah nganter, hati-hati di jalan." Ucap Indah sebelum keluar dari mobil.
"Mau nitip salam nggak?"
"Makasih, nggak mau ganggu hati yang sudah singgah di tempat baru lagi."
Keluar dari mobil kemudian melambaikan tangan hingga mobil itu pergi tak terlihat. Ada rasa syukur di diri Indah karena sikapnya tak berubah walaupun sempat di landa masalah.
"Silahturahmi masih terjaga walaupun kita nggak ada hubungan, mudah-mudahan loe dapet cewek yang baik ko. Karena loe orang baik, eh...ini jaketnya lupa nggak di balikin. Mana gede banget lagi, sampe nggak keliatan paha gue."
Indah segera masuk ke rumah dan mempersiapkan gaun untuk ia pakai malam ini. Mandi dengan air hangat agar tubuhnya tak meriang.
Bersolek dan merapikan penampilan yang tak biasa, entah kenapa malam ini Indah ingin sekali berpenampilan agak sedikit berbeda. Dengan gaun berwarna moca menutupi lututnya, tanpa belahan di dada dan brokat di bagian punggung belakang.
"Emang dasar udah sexy, mau pake yang rada panjangan juga tetep aja sexy," gumam Indah di depan cermin, mematut dirinya hingga dirasa rapi dan siap berangkat.
Perjalanan malam ini cukup lengang, Indah terlihat lebih anggun dengan rambut yang di gerai dan di beri pemanis jepit. Jauh dari penampilan Indah sebelumnya, tampak kalem dan terkesan lebih manis.
Menarik nafas dalam sebelum akhirnya masuk ke dalam club', high heels yang ia gunakan malam ini pun tak setinggi biasanya. Membuat langkah menggoda tak begitu ketara tapi membuat penasaran.
"Wooow incees dari mana ini?" sambut Asti yang membuat beberapa pasang mata menjadi memperhatikan penampilan Indah.
__ADS_1
"Loe tumben banget pake baju begini? loe mau ngejablaaai apa mau ke pesta?" celetuk Jenni yang ucapannya tak pernah di saring.
"Indah kamu makin cantik tau nggak? lebih anggun begini, udah kayak bini pengusaha. Tumben, ada apa? kangen sama exmud yang biasa duduk di sofa itu?" tanya Kak Toni yang terkesima melihat dandanan Indah yang begitu menawan. Lebih sopan tapi makin buat geregetan.
"Pengen aja," Indah tersenyum dan duduk di sofa dekat kak Toni. "Gimana As, gue hari ini jadwalnya dimana?"
"Gue heran, dari siang ini handphone gue pantengin tapi nggak ada yang booking loe Cin. Masak iya pasaran loe turun, apa susuk loe udah luntur?"
"Sembarangan, gue ori ya nggak pake begituan. Tapi kok aneh ya, apa gara-gara kemarin gue ngencle? tapi apa hubungannya, lagian kemarin tuh si om juga nggak dateng-dateng terus gue cancel juga diem-diem bae," tutur Indah heran.
Hingga hampir larut malam Indah hanya diam menunggu tamu yang akan membookingnya tapi tak ada juga.
" Sabar, mungkin karena kemarin-kemarin kamu libur, jadi sepi ya wajar."
"Tapi biasanya nggak gini loh kak, aneh aja. Masak iya aku udah nggak laku, terus buat bayar rumah sakit mamah apa kak?" keluh Indah membuat Toni iba.
"Mau pake uang kakak dulu?" tanyanya tapi di jawab gelengan kepala oleh Indah.
"Makasih kak, aku pulang aja kalo gitu. Makasih ya, mungkin besok aku datang lagi aja. Siapa tau langganan aku butuh."
Indah pulang lagi-lagi dengan tangan hampa, entah harus senang atau sedih. Tapi yang di pikirkan saat ini adalah mamahnya.
"Mudah-mudahan besok ada yang mau booking gue, ya kali gue harus semedi dulu ke gunung kembar."
Dulu jadwalnya begitu padat hingga satu bulan tak ada jeda hanya pms saja yang membuatnya bisa istirahat. Tapi kali ini benar-benar membuatnya santai. Uang di ATM yang hanya cukup untuk membayar perawatan mamah seminggu ke depan pasti berangsur habis jika tak ada pemasukan sama sekali.
Pusing, Indah benar-benar di buat sakit kepala. Tak mungkin membiarkan sang mamah pulang sedangkan tubuhnya jauh dari kata baik-baik saja. Dan tak mungkin juga dia bercerita dan berkeluh kesah dengan sang mamah sedangkan yang beliau tau anaknya bekerja dengan pekerjaan yang halal.
"Mah, doain Indah nanti malam ada tamu ya. Walaupun Indah tau ini nggak halal tapi nggak ada pilihan lain lagi," batinnya.
Pagi sekali sang mamah sudah menghubungi dan mengingatkannya jika hari ini wajib datang karena ada yang ingin berkenalan. Mamah yang jarang bicara langsung di telpon, tapi pagi ini Indah merasakan jika mamah kembali sehat dan mulai mengoceh tak henti.
"Semangat banget mamah, nggak tau anaknya lagi puyeng. Mana harus dandan cantik, pakai baju yang rapi. Udah kayak mau kondangan aja."
Indah segera menyiapkan dress yang akan ia pakai, membuka lemari mencari dress yang lebih sopan dari deretan dressnya yang minim dan terbuka.
Mematut penampilannya di cermin agar tak mengecewakan mamah, hampir setengah lemari Indah bongkar hingga berantakan. Akhirnya pilihan itu jatuh pada dress berwarna broken white dengan panjang selutut, tanpa menyetak lekukan tubuh tapi tetap memberi kesan ramping.
Hampir 30 menit Indah berias hingga kini dirinya sudah rapi dengan riasan tipis sebagai pemanis wajahnya yang memang sudah manis.
"Nggak buruk, yang penting udah usaha semoga nggak mengecewakan mamah dan siapapun orang yang akan mamah kenalin nanti, gue harap mau nerima gue. Minimal nggak ada masalah dan membuat mamah kepikiran," gumam Indah di depan cermin.
__ADS_1
Di rumah sakit tampak mamah tersenyum lebar menyambut tamunya yang kini sudah datang bersama suami dan putranya yang begitu gagah dan tampan. Dengan sopan pria itu memberi salam dan mencium punggung tangan mamah Indah.
"Ini putramu yang akan kamu jodohkan dengan anakku?"
"Iya jeng, mungkin tidak seperti yang kamu harapkan. Tapi ini lah putraku, semoga mereka nantinya bisa saling kenal dan dekat."
"Putriku pun banyak kekurangan, seperti yang sudah aku ceritakan sebelumnya. Dia bekerja untuk membiayai hidupnya dan membayar semua pengobatanku. Apa lagi semenjak papahnya meninggal dan usahanya gulung tikar, hanya dia yang menjadi harapan dan tulang punggung untuk membayar semua hutang yang tak sedikit."
"Kamu pasti bangga memiliki putri sepertinya, aku yang mendengarkannya saja terharu rasanya. Putra-putraku belum tentu mampu jika berada dalam posisinya."
"Mah, aku keluar dulu sebentar."
"Oh iya nak, jangan jauh-jauh ya. Ingat kamu sudah berjanji akan menerima bukan pergi dan membuat malu mamah papah. Kamu sudah tau kan kondisi sahabat mamah saat ini, harapan dia ada di kamu nak," bisik mamah dengan penuh harap.
"Hhmm..." tanpa ada kata yang keluar dia segera pergi dengan papah yang sejak tadi mengamati.
"Maaf ya jeng, mungkin agak gugup jadi butuh udara segar sebelum bertemu dengan putrimu," ucapnya tak enak.
"Nggak apa-apa, maklum aja namanya anak muda. Mudah-mudahan mau menerima ya. Suami mu apa tidak keberatan?"
"Dia sudah menyetujui saat pertama aku meminta, kamu sahabat aku satu-satunya yang paling berarti di hidupku. Bertahanlah dan lebih semangat lagi. Sebisa mungkin aku mengabulkan keinginanmu untuk menjaga putrimu,aku pun berharap kelak mereka bahagia."
"Aku lega rasanya, aku hanya ingin melihat putriku bahagia di tengah perjuangannya. Maaf jika aku seperti memaksakan, tapi aku tak tau lagi harus meminta dengan siapa."
"Kamu tidak memaksakan apapun, kebetulan sekali putraku tak kunjung menikah, jadi ini momen yang pas untuknya."
Suara ketukan pintu dan salam menghentikan pembicaraan mereka, Indah masuk dengan senyuman hangat kepada sang mamah yang kini wajahnya lebih cerah. Tanpa Indah sadar dua orang yang kini menatapnya begitu terkejut hingga berulang kali mengedipkan mata seakan tak percaya.
"Sayang, sini masuk nak."
Indah pun masih belum sadar ada dua pasang mata yang menatapnya dengan tatapan sulit diartikan. Bahkan sepasang suami istri itu sempat saling memandang.
"Mamah sepertinya bahagia sekali, Indah senang melihatnya. Semoga setelah ini mamah cepat sembuh ya."
"Iya nak mamah bahagia, apa lagi jika melihat Indah datang dengan tampilan cantik begini. Makasih ya sayang," lirih mamah terharu melihat putrinya yang sudah semakin dewasa dan pandai merawat diri tanpa didampingi sang mamah selama ini.
"Jangan nangis dong mah, baru senang masak udah sedih lagi."
"Iya sayang, mamah hanya terharu. Oh iya, mamah mau kenalkan sahabat mamah ini sama kamu nak, kelak mereka yang akan menjadi orang tua untuk mu juga."
Indah menoleh kebelakang, senyumnya seketika pudar melihat sosok wanita paruh baya yang pernah datang kerumah dengan marah-marah. Bahkan perkataannya tempo hari masih membekas di relung hati walaupun dia sudah tulus memaafkan.
__ADS_1
"Sahabat mamah ini memiliki putra yang nanti akan mendampingimu..."
"Mamah, Indah tak ada niat untuk menolak tapi apa mamah yakin jika Indah di terima dengan setulus hati? Jika tidak, lebih baik jangan dari pada nanti menyesal," ucap Indah mengingatkan dengan pandangan mata tetap pada sahabat sang mamah yang juga masih tak menyangka.