
"Kalian di sini?"
Indah dan Chiko menoleh ke asal suara, pria tampan dengan jas yang masih bertengger di tubuhnya menambah nilai plus untuk Nicko yang menyempatkan diri untuk datang di sela kesibukannya.
Jam makan siang Nicko pergunakan untuk datang ke rumah sakit, walaupun tadi sang mamah sudah mengabari jika Indah sudah makan, tetap saja membuat Nicko tidak tenang jika tidak melihatnya sendiri.
Mencari di ruangan calon mertua, tapi hanya menemukan kedua orang tuanya beserta Bibi yang ikut merawat. Hingga langkahnya begitu tergesa saat sang mamah memberi tahu jika Indah berada di taman bersama Chiko.
"Om...."
"Ngapain?" tanyanya penuh selidik tapi masih dengan sikap tenang. Sedangkan Chiko yang melihat sikap kakaknya hanya mengulum senyum, dia paham jika kakaknya sedang dalam mode cemburu. Padahal kemarin dia sudah mengatakan jika sudah mengikhlaskan dan tak akan mengganggu lagi.
"Ngobrol aja sama Chiko, udah pulang?" tanya Indah kemudian melirik jarum jam. "Masih siang loh?"
Nicko duduk di samping Indah dengan merangkul pundaknya, "aku hanya ingin memastikan kondisi kamu dan mamahmu. Setelah ini akan kembali ke kantor, sudah makan?"
"Sarapan pagi tadi, om sudah makan?" tanyanya balik.
"Siang belum, pengen di temenin kamu. Mau?"
Indah tampak berfikir, dia tak mungkin pergi meninggalkan rumah sakit. Tapi ternyata Nicko mengerti, dia hanya mengajaknya untuk makan di sekitar rumah sakit.
"Kita cari tempat makan di sekitaran sini aja, nggak perlu jauh-jauh jalan ke depan kan banyak barisan rumah makan, tinggal pilih aja."
"Emang nggak apa-apa makan pinggir jalan?" tanya Indah ragu, pasalnya Indah belum pernah melihat Nicko makan makanan rumah makan sederhana.
"Memangnya kenapa? masih enak di makan kan?" tanyanya yang membuat Indah tersenyum. Kemudian menoleh ke arah Chiko, "mau ikut sekalian?"
"Nggak dech, aku masih kenyang. Kalian aja, lagian kamu nggak peka banget, Kakak mukanya udah merah tuh nahan cemburu."
Ucapan Chiko membuat Indah kembali menoleh ke arah Nicko, alisnya terangkat melihat wajah Nicko yang terlihat datar dan membuang muka saat Indah memastikan.
"Kalo ngambek, aku nggak mau ikut!"
"Sayang...."
"Masih aja cemburu sama adiknya, lagian pede banget sich om. Emang aku udah bilang yes?" tanya Indah dengan sedikit menahan senyum saat melihat Nicko yang menatapnya dengan tatapan tajam.
"Yes nya nanti aja di kamar, kali ini kamu cukup nurut dari pada aku bikin hamil beneran!"
"Serem banget ancamannya." Indah segera beranjak dari duduknya. Kemudian berjalan lebih dulu tanpa menoleh ke belakang.
__ADS_1
"Sayang, kok aku malah ditinggal?" seru Nicko yang melihat Indah dengan santainya melenggang pergi.
Kini keduanya sudah memutuskan untuk makan di warung soto tak jauh dari kawasan rumah sakit, hanya berjalan sedikit keluar pagar sudah sampai.
"Kakak mau soto apa? aku pesenin?" Indah tau jika Nicko tak biasa, apa lagi harus ribet-ribet memesan ke pedagangnya langsung.
Melirik menu yang tertempel di dinding kemudian kembali menatap Indah, "aku mau soto daging aja, pake nasi setengah. Kalo nggak nasinya satu piring buat berdua."
Indah yang paham segera memesan, kemudian kembali dengan membawa air jeruk hangat.
" Di minum dulu om," ucap Indah meletakkan satu gelas minumannya di depan Nicko.
"Makasih ya, kamu makan juga kan?"
"Iya, tapi aku pesan soto ayam. Nanti cobain ya?" pinta Indah membuat Nicko tersenyum melihatnya, gadisnya sudah kembali ke mode manja dan ramah. Sepertinya hati Indah juga sudah mulai ikhlas menerima semua.
"Setelah makan kita kembali ke ruangan mamah kamu ya, liat kondisi beliau. Siapa tau sudah ada perkembangan."
"Iya," tak lama pesanan datang, Indah mengambil beberapa sendok sambal untuk ia campur di kuah sotonya. Kemudian memeras potongan jeruk nipis dan kecap sedikit.
Nicko sejak tadi hanya diam melirik, sedikit meringis saat melihat Indah mengaduk sotonya dengan warna yang sudah berubah menjadi merah.
"Harus banget pake sambel sebanyak itu sampai berubah warna nggak jelas begitu?" tegur Nicko.
"Kenapa?"
"Buat kamu aja!"
Penolakan dari Nicko justru membuat Indah tertawa, dia tau jika Nicko geli sendiri melihat kuah soto miliknya, padahal rasanya sangat pas dan sedap.
Setelah makan, kini keduanya segera melangkah menuju ruangan mamah. Indah yang belum sempat menghabiskan makannya memutuskan untuk segera menyudahi. Kabar mamah yang sudah sadar membuat Indah bersemangat.
"Pelan-pelan sayang, nanti kamu jatuh repot urusannya!" ucap Nicko mengingatkan.
"Kan ada om yang melindungi, ini gunanya apa?" Indah menunjukkan tangannya yang di genggam erat oleh Nicko.
Nicko hanya tersenyum melihat tingkah Indah yang membuatnya geregetan, karena ada saja alasan yang Indah lontarkan.
Sampai di depan ruangan mamah, Indah justru melihat semuanya yang tadi menunggu kini sedang berdiri di luar ruangan dengan ekspresi wajah berbeda. Bukan wajah bahagia seperti yang Indah perlihatkan tapi wajah panik serta cemas yang tergambar.
"Bibi...."
__ADS_1
"Iya non, ada apa bi? tadi katanya mamah sudah sadar tapi kenapa menunggu di luar?" mendapat pertanyaan dari Indah membuat bibi bingung untuk menjawab, dia seperti tidak tega. Apalagi wajah Indah yang tampak begitu senang.
Nicko yang melihat perubahan wajah semuanya di buat bertanya-tanya karena ia merasa ada yang tidak beres dengan keadaan calon mertuanya. Pandangannya tertuju pada sang mamah yang beranjak dari duduknya dan menghampiri Indah.
"Sayang, sabar ya. Tunggu kabar dari dokter dulu ya." Ucap mamah Nicko menangkan.
"Tapi tadi katanya mamah sudah sadar Tante, tapi kenapa nggak masuk aja?"
"Mamah kamu memang tadi sudah sadar, tapi kondisinya masih sangat lemah. Kuat ya nak, kita doakan yang terbaik untung beliau." Mamah Nicko memeluk Indah yang diam terpaku, mengerti Indah yang kembali terpuruk membuatnya tak tega.
Nicko pun memejamkan mata dengan memijat pelipisnya, baru saja melihat senyum serta tawa Indah, kini harus kembali melihatnya bersedih lagi.
Hingga dokter keluar dari ruangan tak membuat Indah segera menghampiri, dia diam tak sanggup jika harus mendengar kabar buruk tentang keadaan sang mamah. Akhirnya mamah Nicko maju menanyakan keadaan sahabatnya.
"Bagaimana dokter keadaannya? apa sudah bisa kami masuk?"
"Maaf Bu, kondisi pasien masih sangat lemah. Kami sudah berusaha sebisa mungkin, tapi belum membuahkan hasil yang berarti. Dan tadi pasien meminta Ibu Tari untuk masuk ke dalam."
"Baik dok, saya akan segera masuk ke dalam. Terimakasih...."
Indah yang sejak tadi diam mendengarkan tiba-tiba tubuhnya oleng setelah tau kondisi sang mamah. Beruntung ada Nicko di belakangnya dengan sigap menahan tubuh Indah dan membawanya ke dalam pelukan.
"Sabar sayang..." lirih Nicko dengan mengusap punggung Indah. "Kita tunggu mamahku sampai keluar ya, setelah ini kamu masuk ke dalam."
Hampir 15 menit mamah Nicko di dalam ruangan, keluar dengan langkah gamang dan segera menghampiri Indah. Mengusap lembut kepala Indah kemudian tersenyum memandang wajah lesu yang penuh dengan kesedihan.
"Mamahmu ingin bicara nak, temuilah berdua dengan Nicko. Karena beliau ingin berbicara dengan kalian." Mamah menundukkan kepala saat Nicko menatap beliau.
"Iya mah, ayo sayang..." ajak Nicko, membawa Indah segera masuk kedalam.
Indah masuk di dampingi oleh Nicko, membuka pintu perlahan hingga senyuman sang mamah menyambut langkahnya. Wajah pucat yang terlihat jelas membuat Indah tak tega menatap.
"Mamah...." Indah berlari memeluk sang mamah, bersyukur masih di beri kesempatan untuk melihat mamah terjaga dari tidurnya. Hingga air mata tak dapat Indah tahan.
Mamah Indah hanya tersenyum dengan ekor mata yang basah, kemudian melihat Nicko yang sejak tadi diam berdiri menyaksikan tanpa niat untuk mengganggu.
"Nicko, Tante titip anak Tante yang cengeng ini ya. Berjanjilah pada Tante untuk tak menyia-nyiakannya nak...Hanya kamu harapan Tante saat ini." Mamah berucap dengan wajah memohon, Nicko mendekat dan menggenggam tangan mamah Indah.
"Saya berjanji Tante, akan terus membersamai Indah. Tante tak perlu khawatir, saat ini Tante harus lebih bersemangat lagi agar cepat sembuh. Karena kami ingin sekali membahagiakan Tante," ucap Nicko serius.
"Kebahagiaan Tante hanya satu, melihat kalian menikah." Kemudian mamah memandang wajah Indah yang sudah melepaskan pelukannya. "Sayang, menikahlah dengan Nicko. Mamah akan sangat lega jika sudah melihat kalian menikah. Mamah mohon nak!"
__ADS_1
Indah mengusap air matanya, perlahan ia menoleh ke arah Nicko yang menyambutnya dengan anggukan.