
Nicko menatap nanar Indah yang keluar kamar mandi dan melangkah menuju ranjang dengan lingerie tipis melekat di tubuhnya. Dia yang hanya bisa menatap tanpa boleh menjamah berujung menahan hingga yang di bawah sana mendesak kuat.
Indah sengaja menghukum Nicko dengan membiarkannya masuk kamar tetapi tidur di sofa. Membiarkan melihat tubuh sexynya hingga tak tahan, siksaan yang setimpal dengan apa yang Nicko perbuat. Seharian membuat kacau hatinya akan ia hukum dengan semalaman di buat panas tanpa boleh mendekat.
Indah merangkak ke atas ranjang dengan gaya sensual, melirik Nicko yang sedang menatapnya hingga mulut menganga. Warna lingerie kesukaan Nicko yang saat ini ia pakai sukses membuat mangsa mengerang. Gerakan Indah halus tetapi berhasil membuat inti Nicko bergerak terus, naluri pria jelas meronta tetapi tak bisa apa-apa saat sang wanita memintanya untuk diam. Hukuman terberat yang Nicko rasakan selama hidupnya. Dia menyesal telah memberikan kejutan sesuai saran adiknya. Kejutan ulang tahun pertama dan terakhir darinya yang membuatnya menderita, tak akan ia mengulangi kesalahan yang sama. Membuat sang istri merajuk hingga memberi batasan.
"Sayang..."
"Hmm..." Indah saat ini tengah memainkan ponselnya dengan kaki yang sedikit terangkat hingga Nicko dapat jelas melihat kedua paha dan segitiga tipis yang hanya terpasang dengan tali di kedua sisi pinggulnya.
"Sayang aku menyerah." Wajah Nicko sudah memerah bahkan keringatnya mulai bercucuran. Pemandangan yang ia hindari tapi membuatnya penasaran dan terus melihat dengan mata memuja. Menghindar karena ia tau ini trik dari Indah untuk menggoda, tapi daya tariknya membuat diri tak kuasa menolak.
"Memang siapa yang suruh berusaha hingga menyerah?" tanyanya cuek. Jemari Indah masih berselancar di ponselnya tanpa melirik Nicko yang sejak tadi gelisah.
"Yang aku buka celana ya, nggak kuat."
"Terserah, aku mau tidur! jangan coba-coba mengganggu apa lagi mencari kesempatan pindah ke ranjang! ini hukuman untukmu by karena membuat istri menangis. Janjimu palsu, katanya tak akan membuatku menangis kecuali karena bahagia. Tapi kamu membuatku hampir putus asa.
"Aku kan sudah minta maaf sayang, hukuman darimu terlalu berat." Nicko membuka kemejanya, Indah benar-benar keterlaluan membuat jiwa lelakinya ingin meledak.
"Maaf saja? nggak adil donk by, nikmatin saja sayang, aku mau tidur. Bye sayang.... selamat malam." Indah mengecup jauh suaminya, mengedipkan sebelah mata kemudian merebahkan kembali tubuhnya dengan posisi menggoda.
"Rasakan by, kamu buatku ketakutan bahkan sakit hati seharian. Sekarang rasakan balasanku, aku jamin kamu nggak bisa tidur semalaman!" batin Indah dengan senyum tipis di wajahnya. AC yang ia kecilkan membuat suhu tubuh Nicko yang meningkat semakin membuat keringatnya keluar. Itu juga yang membuat dia tampak nyaman tak menggunakan selimut.
"Sial!"
"Sayang, kamu benar-benar nggak kasian sama aku, mana tidurnya modelan begitu lagi. Pengen terkam rasanya, nggak kuat."
Sepanjang malam Nicko gelisah, posisi Indah yang meresahkan membuatnya terus terjaga. Jangankan ingin terlelap, menutup mata saja rasanya tak ikhlas. Dia duduk di sofa, menatap Indah dan mengumpat kesal.
"Ck, kalo nekat yang ada dia makin ngambek. Tapi kalo diem, pala gue mau pecah rasanya, kekamar mandi juga nggak boleh! Bener-bener bini gue!"
Indah tadi memberi peraturan, tidak boleh ke kamar mandi dan naik ke ranjang. Apa lagi kalo sampai menyentuhnya. Dia akan menambah hukuman hingga tiga hari ke depan.
__ADS_1
Sampai menjelang pagi Nicko baru bisa terlelap, lelah bermain dengan jemarinya karena sudah tak tahan kini Nicko lemas di atas sofa panjang. Dirinya yang tak kuat akhirnya membebaskan si mickey agar bisa di ajak berdiskusi. Tapi melihat Indah yang semakin tak bisa diam justru membuatnya tak kuasa mengendalikan diri. Alhasil harus arisan hingga tuntas keluar.
Indah terjaga, tapi enggan menyapa, hanya melirik sekilas wajah tampan Nicko yang tampak terlelap nyenyak. Indah segera keluar kamar dan melangkah menuju dapur, membuat sarapan pagi dan membersihkan rumah karena semalam belum sempat ia pegang.
Tangan kekar melingkar saat Indah sedang mencuci tangan, masih dengan lingerie semalam Indah semakin menggoda.
"Sayang...."
"Hhmm....sudah bangun by, masih ngantuk tidur lagi aja dulu!"
"Pengen sama kamu," lirih Nicko yang meletakkan dagunya di pundak Indah. "Kamu semalam sudah menyiksaku, apa pagi ini sudah habis masa hukumannya?"
"Maunya?" tanya Indah balik, dia tidak tega tapi sempat melirik lantai yang menyisakan sesuatu berbeda di dekat sofa tempat sang suami tidur semalam.
Nicko mengangkat tubuh Indah dan membawanya ke dalam kamar. Kembali menyatu dan memanjakan diri karena semalam tersiksa akibat ulah sang istri. Tak ingin menyiakan waktu pagi ini, karena selesai dengan kegiatan panasbyang kembali mengeluarkan keringat, dia harus segera berangkat ke kantor.
"By, dasinya miring sini aku benerin dulu by." Indah berjinjit membenarkan dasi Nicko.
"Iya by, jangan malam-malam ya. Usahakan makan malam di rumah," ucap Indah kemudian membantu Nicko mengenakan jasnya.
"Iya sayang, makasih untuk pagi ini. Kamu melenakkan, aku suka! Semakin liar istri ku, jadi nggak betah lama-lama di luar. Rasanya kerja semangat biar cepat sampai rumah."
"Bukannya semalam sempat keluar bermain sendiri?"
"Hanya sebagai pengobat pusing saja, tak untuk melepaskan hasrat. Kamu membuatku hampir gila, semalaman berdiskusi dengan si mickey hingga dia menyerah. Padahal aku malas jika harus senam jari."
Indah mengalungkan tangannya di leher Nicko, menatap wajah sang suami dengan senyum hangat.
Cup
"Terimakasih atas semuanya, niat memberikan kejutan di hari ulang tahunku, walaupun caramu membuatku kesal. Tapi aku cukup berkesan. Makasih suamiku..."
Nicko memeluk pinggang Indah, membalas senyuman dan mengecup bibir mungil sang istri. "Sama-sama sayang, aku mencintaimu. Terus melangkah bersamaku ya, jangan bosan mencintaiku. Ini kado untukmu sayang.." Nicko mengeluarkan kotak kecil yang berisi sebuah kalung berlian.
__ADS_1
Mata Indah berbinar melihat betapa cantiknya kalung yang kini ada di hadapannya. Nicko memakaikan di leher jenjang Indah, mencium tengkuk sang istri dan kembali menatapnya.
"Kamu terlihat semakin cantik sayang .."
"Makasih By, bagus banget. Pasti mahal ya?"
"Apapun untukmu sayang."
"Boleh minta sesuatu lagi?" tanya Indah dengan hati-hati.
"Apa sayang? katakan...."
"Boleh belanja nggak By, aku mau beli beberapa baju dan mungkin akan menghabiskan isi ATMmu By." Indah memasang puppy eyes, membuat Nicko semakin gemas. Mencium hidung sang istri dan pipinya dengan memberi tekanan hingga Indah tertawa geli.
"Pakai saja, nanti kalo habis aku isi lagi."
"Serius?"
"Satu mall kamu beli tak akan membuat uangku habis sayang, justru karena nggak pelit dengan istri akan semakin bertambah lagi. Gunakan selagi itu membahagiakanmu, aku percaya kamu mengerti apa yang harus kamu lakukan."
"Apa mau aku jemput nanti di mall pulangnya? tapi agar sorean sayang."
"Nggak perlu, fokuslah bekerja. Aku bisa sendiri by, aku tunggu di rumah, kita makan bersama. Atau mau makan di luar?" tanya Indah, kemarin ia belum merayakan hari kelulusan dengan sang suami. Mungkin malam ini ia akan merayakannya walaupun hanya sekedar makan malam."
"Boleh, aku tunggu di restoran dekat kantor ya sayang. Biar nggak terlalu jauh juga, nanti biar Adit yang menjemputmu." Nicko menggenggam tangan Indah dan mengajaknya sarapan.
"Aku naik taksi saja, nggak mau terlalu banyak interaksi dengan pria lain. Aku mau menjaga hati suamiku dengan baik."
Mendengar ucapan Indah hati nicko menghangat kemudian mengecup jemari sang istri. "Makasih ya, nanti aku tunggu di sana."
Setelah mengantarkan sang suami sampai di teras, Indah tersenyum tipis kala ATM no limit ada di genggamannya. Menatap ATM itu dengan tatapan sulit di artikan.
"Maaf jika hari ini aku menguras isi ATMmu By...."
__ADS_1