
Rasa kesal Indah tak kunjung kelar, bahkan sore tadi Nicko benar-benar ia suruh pulang. Tak ada kegiatan yang berarti, malam ini ia gunakan untuk belajar mempersiapkan ujian.
Sampai larut malam dering ponselnya sedikit menggangu konsentrasi. Indah segera meraih benda pipih tersebut takut ada yang penting.
"Bibi..." tak butuh waktu lama Indah segera menjawab panggilan itu.
"Halo bi..."
"Non bisa ke rumah sakit?"
"Ada apa bi?"
"Nyonya ngedrop non...."
deg
Indah oleng hingga terjatuh kelantai, ini yang sangat ia takutkan. Kabar buruk dari bibi tak pernah Indah harapkan. Karena jika menyangkut masalah mamahnya Indah tak mungkin bisa tegar.
Gadis itu segera berganti baju dan meraih tas selempang untuk segera berangkat ke rumah sakit. Tanpa pikir panjang Indah menaiki ojek yang kebetulan melintas.
Jantungnya berdebar kencang, ia takut, sangat takut jika saja.....
Berlari menyusuri lorong rumah sakit yang begitu sepi karena saat ini sudah hampir pukul sebelas malam. Indah dengan cepat masuk ke ruangan mamah, melihat mamah yang terlelap dengan selang oksigen yang menancap membuat dirinya tak tega. Kepedihan yang mendalam sangat Indah rasakan. Doa agar semua baik-baik saja terus terucap.
"Mamah...." lirih Indah.
Bibi mendekati Indah yang melangkah menuju sang mamah.
"Nyonya tadi ngedrop non, jantungnya pun sempat melemah. Tapi beruntung dokter dengan cepat berusaha, nyonya sudah melewati masa kritisnya. Tadi dokter memberikan obat untuk nyonya, mungkin hal itu membuat beliau begitu pulas."
Indah menatap wajah sang mamah yang semakin tua karena tubuhnya yang kian menyusut. Air mata Indah tak terelakkan, dia begitu sedih melihat jelas kondisi sang mamah yang sangat memprihatinkan.
"Mamah bilang apa aja Bi?"
"Nyonya takut non, jika tidak sempat melihat non lulus dan menikah."
Indah mengecup punggung tangan mamah, dia tersedu merasa belum bisa memberikan pengobatan yang maksimal. Hingga bertahun-tahun mamah tak kunjung sembuh. Padahal dia sudah berusaha sampai tak kenal lelah bekerja.
"Belum ada perkembangan tentang donor ginjal Bi?"
__ADS_1
"Belum non...."
Indah duduk di kursi samping ranjang mamahnya, memikirkan haruskah ia menuruti permintaan mamah yang menginginkannya menikah. Hal itu membuat kepala Indah berdenyut, terlalu banyak beban yang ia rasakan dan begitu banyak pertimbangan dalam dirinya.
"Bi, ada hal lain yang membuat mamah pikiran?" Indah yakin kondisi mamah melemah karena terlalu banyak pikirkan.
"Hanya itu non, nyonya setiap hari selalu memikirkan itu. Apa lagi bisa melihat non menggunakan baju pengantin. Itu hal yang sangat beliau impikan non.."
"Mamah, bagaimana caranya Indah menuruti permintaan mamah. Indah begitu kotor mah, Indah nggak mau membuat keluarga dari pihak laki-laki merasa malu, dan belum tentu juga setuju." Indah menangis menumpukan kepalanya di atas tangan sang mamah.
"Mungkin om Nicko mau, tapi keluarganya....Ya Tuhan, ijinkan aku mengabulkan keinginan mamah walaupun aku tak tau harus dengan siapa. Jika memang ini caranya membuat mamah bahagia, akan Indah lakukan."
Indah tertidur dengan posisi yang sama seperti semalam, sedangkan bibi menggelar kasur lantai seperti biasa. Indah sempat menolak untuk tidur di kasur, dia ingin dekat dengan mamah walaupun hanya memeluk lengan beliau.
Sampai belaian dari tangan mamah membuat Indah terjaga, matanya terbuka dan melihat mamah yang sudah tersenyum menatapnya.
"Mamah...."
"Iya nak, Indah menginap?"
"Iya mah, semalam Indah datang tapi mamah sudah tidur. Bagaimana badan mamah pagi ini? ada yang sakit mah? biar indah panggilkan dokter mah."
Indah menahan air mata yang mulai menggenang "nanti jika mamah sudah sembuh, kita ke makam papah ya mah."
Mamah tersenyum menatap wajah putrinya yang menyiratkan ketakutan. Membelai rambut panjangnya yang dulu selalu ia sisir setiap ingin berangkat ke sekolah.
"Iya sayang, kamu nggak sekolah nak? sebentar lagi ujian jangan sampai bolos sekolah."
"Tapi Indah mau menemani mamah, biarkan satu hari aja Indah ijin ya mah. Indah nggak mau ninggalin mamah!"
"Jangan dong sayang, kamu harus sekolah. Mamah nggak apa-apa, mamah baik-baik saja. Cepat pulang dan bersiap keburu kamu terlambat."
Indah akhirnya menuruti sang mamah, dia pulang setelah benar-benar memastikan kondisi mamah yang sudah dapat di tinggal.
"Makasih ya dok, saya minta pengawasan yang ekstra untuk penanganan mamah saya."
"Baik, saya dan perawat yang lain berusaha semaksimal mungkin. Kami pun terus berusaha mencari pendonor yang pas untuk mamah anda. Semoga cepat dapat, karena memang tak mudah."
"Iya Dok, makasih banyak dok."
__ADS_1
"Sama-sama, kalo gitu saya pamit dulu ya. Masih banyak jadwal pasien selanjutnya."
"Silahkan dok."
Indah kembali masuk ke ruangan setelah berbicara dengan dokter khusus yang merawat mamah beberapa tahun ini. Menghampiri mamah yang tersenyum hangat.
"Mah, Indah pulang ya. Indah mau bersiap ke sekolah. Kalo menginginkan apapun bilang Indah ya mah."
"Tentu sayang, belajar yang sungguh-sungguh ya. Jangan terlalu memikirkan mamah, kamu fokus belajar saja."
"Iya mah, Indah tinggal ya..."Indah mencium tangan mamahnya.
"Hati-hati ya nak, jaga diri kamu baik-baik. Dan jangan telat makan."
"Siap mah! assalamualaikum....."
"Wa'allaikumsalam...."
Sebelum benar-benar meninggalkan rumah sakit Indah menyempatkan diri untuk mengurus administrasi. Uang yang Nicko berikan kemarin pertama kali ia pakai untuk biaya pengobatan mamahnya. Setelah itu nanti di sekolah Indah pun menyelesaikan segala biaya untuk ujian dan uang SPP.
Masih ada waktu satu jam untuk bersiap, Indah cepat-cepat pulang agar tak terlambat. Menggunakan seragam yang telah di siapkan semalam. Merapikan buku-buku dan memasukkannya ke dalam tas.
Setelah siap dengan segala keperluannya, Indah segera menggendong tas dan turun kebawah. Tanpa sarapan Indah segera meninggalkan rumah. Tetapi saat membuka pintu dia di kejutkan dengan kedatangan seseorang yang entah tau dari mana tempat tinggalnya.
Orang tersebut cukup terkejut melihat Indah, dia menyapu penampilan gadis itu dari atas sampai bawah. "Seperti pernah bertemu sebelumnya, tapi saya lupa," katanya.
"Maaf, ada perlu apa ya pagi-pagi ke rumah saya?"
"Boleh masuk?"
"Oh...boleh, silahkan." Indah membuka lebar pintu rumahnya. Mempersilakan orang tersebut untuk segera masuk kedalam.
"Sebentar saya buatkan minuman terlebih dahulu untuk ibu." Indah ingin beranjak tetapi segera di cegah oleh orang tersebut.
"Oh, tidak perlu repot-repot. Saya kesini hanya sebentar dan kamu pun akan sekolah kan? duduk lah, saya ingin bicara."
Indah duduk di samping orang tersebut, menatap penuh tanda tanya. Siapa dan ada urusan apa hingga sampai singgah di rumahnya, sedangkan Indah tak cukup kenal.
"Saya kesini hanya ingin meminta tolong kepada kamu dan saya harap setelah saya berkunjung kesini kamu bisa paham akan posisimu. Karena saya kesini sebagai seorang ibu yang menginginkan anaknya bahagia."
__ADS_1