
Selesai sarapan bersama Asti, kini keduanya dan teman yang lain sudah berada di lapangan untuk melakukan pemanasan. Indah yang sudah meminum jamu agak sedikit mendingan dari pada pagi tadi. Berharap kuat dan perutnya tidak bermasalah kembali.
Setelah pemanasan guru memberi pengarahan tentang apa saja yang menjadi point yang akan di nilai. Semua murid tampak menyimak dengan baik, begitupun dengan Indah dan kawan-kawan.
Berdiri di pinggir lapangan menunggu giliran di panggil namanya oleh pak guru. Masing-masing regu 5 orang berlari hingga garis finis, kebetulan Asti, Indah dan Jenni menjadi satu regu dengan dua temannya yang lain. Sorak ramai penonton dari kelas yang tidak ada mapel mulai ramai. Apa lagi mereka melihat si cantik dan body aduhai Indah yang berlari.
Kelompok satu sudah, giliran kelompok Indah. Mereka berdiri di garis start menunggu aba-aba untuk mulai. Berlari dengan kerempongan masing-masing ada di kelompok ini. Bukannya buru-buru ke garis finis Jenni malah dengan pedenya berjalan bak peragawati.
"Jenni loe gila! di teriakin Pak guru noh!" Asti menarik baju Jenni hingga mereka berlari kembali.
Sedangkan Indah berlari dengan hati-hati karena menahan sakit dan roti Belanda agar tetap pada posisi.
"Indah loe lari apa mbrangkang? Udah kayak cebong dah loe!"
"Duluan aja loe pada, nanti gue bakal ngebut kalo udah dekat garis finis."
"Lah loe kata dongeng kancil sama keong! kebanyakan nonton kartun si loe, ayo pegangan sama gue, tangan loe yang satunya pegangan sama Asti!"
"Emang loe kata bisa begitu, yang ada di ocehin Pak guru bege! gue lari sendiri aja. Ribet loe berdua...." Indah kemudian lari meninggalkan kedua temannya, sedangkan Asti dan Jenni di buat menganga melihat temannya yang malah sampai di garis finish duluan.
"Lah, terus kita..."
"Ayo cepet Jenni!" Asti menarik tangan Jenni agar cepat berlari sedangkan kelompok mereka semua sudah sampai duluan.
Indah yang sudah duduk di tepi lapangan sedang menikmati sebotol minuman dingin dengan berselonjor kaki.
"Makasih ya ko!"
"Sama-sama, pucat banget hari ini. Kenapa?" Chiko diam memperhatikan Indah yang terkadang masih sedikit mendesis kala nyeri itu terasa. "Loe sakit?" tanyanya dengan perasaan khawatir.
"Gue nggak apa-apa, loe tenang aja panik banget. Biasa cewek, lumrah sakit tiap bulan."
"Si Minnie lagi mimisan?"
plak
Indah memukul lengan Chiko membuat pemuda itu sedikit meringis. "Eh tapi bener sich...."
"Pake mukul segala lagi loe! kdrt nich!" Chiko memperhatikan wajah Indah dengan senyum mengembang. "Tau nggak?"
"Nggak tau."
"Gue belum ngomong sayang!"
"Ya udah cepetan bertele-tele dech loe!"
__ADS_1
Netra mereka saling bertemu dengan senyum yang tak luntur, "Loe ngangenin, rasanya kalo malem pengen gue kelonin, tidur sambil kawiin."
"Chiko! mulut loe ya..." Indah memukul Chiko hingga keduanya menjadi pusat perhatian yang lain. Ada yang iri, ada juga yang senang dan menjodohkan.
"Ehemmm.....serasa lagi main film India loe berdua ya. Noh pohon puterin sono!"
"Biasa dech loe Jen! Gue balik kelas Ko, makasih ya minumnya. Dua dayang gue udah nungguin soalnya. Bye...."
"Bye cantik..." hari ini sikap Indah cukup membuat hati Chiko berbunga-bunga. Padahal Indah tak ada niat ingin php, dia baik ya karena Chiko baik.
Pelajaran usai kini semua murid sudah mulai meninggalkan sekolah, Indah dan kawan-kawan begitupun dengan Chiko dan kawan-kawan kebetulan berjalan bersama menuju parkiran. Tampak akur dan rukun, Indah tak merasa terganggu menganggap semua teman.
"Pulang bareng gue ya?"
"Maksa banget? gue mau pulang bareng Asti soalnya."
"Maksa donk masak nggak, dari pada loe gue gendong masuk ke dalam mobil, mending sok atuh jalan sendiri." Chiko mempersilakan Indah untuk masuk ke mobil.
Indah menoleh ke belakang, melihat kedua sahabatnya yang diam mengamati. "Gimana?"
"Kalo aman terserah..." jawab Asti.
"Menurut loe?"
"Ini kenapa jadi dia yang nanya sama kita sich, seandainya di ocehin si om kan dia yang kena bukan kita. Ya kan Jen?"
Lirih keduanya yang malah pusing sendiri memikirkan kisah cinta sahabatnnya, "Kalo menurut gue sich, selama masih teman kenapa nggak. Yang penting bisa jaga komitmen aja. Hah....gue jadi ngerti perkara cinta kan. Padahal males banget sich."
"Heh....loe berdua ngapa jadi konferensi berdiri begitu, gue pulang sama siapa nich?" seru Indah.
"Semua teman ya kan, bebas lah..." sahut Asti.
"Asal nggak ada unsur belak belok aman cuuyy!" lanjut Jenni.
"Ayoo......" Chiko yang sudah tidak sabar akhirnya mendorong tubuh Indah sampai masuk ke dalam mobil, kemudian menatap kedua temannya yang sejak tadi memperhatikan.
"Awas ganggu gue loe berdua!"
"Beres....!" sahut Soni dan Kiki.
"Butuh sarung di dashboard ada ko!"
"Butuh tutor nanti gue kirimin vidionya!" seru Kiki.
Chiko tak menggubris mereka, dia segera masuk ke dalam mobil. Tak ada kepikiran mau nyari yang enak-enak sedangkan si Minnie sedang mimisan. Tak ada niat juga mau menjamah kecuali di buka kesempatan. Yang Chiko inginkan saat ini adalah mencari kesempatan untuk berdua tanpa ada yang mengganggunya.
__ADS_1
"Langsung balik kan?"
"Emang loe mau mampir kemana?"
"Nggak ada, gue nggak enak banget soalnya hari ini. Mau rebahan aja di kamar."
"Oke, kalo perlu nanti gue temenin."
"Nggak ngadi-ngadi ko, gue bisa sendiri tanpa loe temenin." Indah memilih menatap luar jendela dari pada harus mendengarkan ucapan Chiko.
Sampai di rumah dengan selamat, Indah pun turun setelah Chiko mempersilahkan.
"Makasih..."
"Sama-sama cantik."
Indah menuju pintu dengan Chiko terus mengekor, tak perduli nanti akan mendapat ocehan dari Indah. Sedangkan Indah masuk kedalam tanpa menoleh sedikitpun.
Berjalan menuju kamar dengan santai, masuk dan segera ambruk di ranjang.
"Akhirnya...."
"Ganti baju dulu baru tiduran," Chiko mendekat kemudian membuka sepatu Indah.
Indah yang mendapat perlakuan seperti itu segera duduk kembali, "eh nggak perlu gitu juga ko." Indah mencegah Chiko yang sudah berada di hadapannya, dengan posisi itu begitu romantis di pandang.
Chiko meletakkan sepatu Indah di tempatnya kemudian tas pun ia letakkan di tempat yang seharusnya. "Ganti!"
"Ribet dech.." Indah segera membuka seragamnya di depan Chiko membuat Chiko dan si mickey menganga berbarengan. Di luar ekspektasi akan mendapat durian runtuh seperti ini.
Terbiasa pakaian sexy tak membuat Indah malu akan itu, toh ia masih pakai tantop.
"Kenapa?"
"Loe bikin Mickey bereaksi kalo begini," jawab Chiko.
"Lagian yang nyuruh loe masih di sini siapa? balik ko....gue mau tidur!" Indah kembali merebahkan tubuhnya, lemas rasanya.
"Loe nggak mau tanggung jawab dulu?"
Indah memperhatikan Chiko yang masih berdiri sambil bertolak pinggang, "gue nggak suka yang kinyis-kinyis begitu ko, keliatan banget nggak ada heboh-hebohnya."
Mendengar ucapan Indah membuat Chiko serasa ingin membungkamnya hingga kehabisan nafas. "Loe mau bukti?" Chiko bergerak hendak membuka celananya.
"Buktikan aja kalo punya loe bisa sama ama yang ini!" Indah menunjukkan layar ponsel yang berisi dengan deretan Mickey-mickey kekar dan jumbo.
__ADS_1
"Indah ternyata loe...."
Chiko kembali merapikan lagi celananya, "gue bakal bikin si Mickey tak terkalahkan sama koleksi di ponsel loe!" setelah mengatakan itu Chiko segera pergi keluar meninggalkan Indah yang terbahak memegang perutnya.