Terjerat Cinta Gadis Malam

Terjerat Cinta Gadis Malam
Bab 14


__ADS_3

Matahari mulai kembali ke peraduan berganti dengan bulan yang tampak menghangatkan. Ketika semua orang menjadikan waktu ini untuk beristirahat dan melepas penat, kedua gadis SMA yang sedang mengaplikasikan make up di wajahnya justru menjadikan waktu tersebut untuk bekerja mencari rupiah untuk mencukupi hidup mereka.


"Loe kenapa nggak beli mobil sich Ndah?"


"Belum ada waktu buat ngurus-ngurusnya, tidur aja gue keteteran!" jawab Indah yang sedang menggunakan sedikit mascara untuk mempercantik matanya.


"Emang harus gue yang turun tangan, lagian gue juga kan udah bilang sama loe tinggal disini aja sama gue, toh di rumah loe cuma sendirian."


"Kasian rumah gue nanti As, kesepian nggak ada yang nidurin, perabot gue bisa kangen nggak nyium wangi tubuh gue sehari aja!"


Indah mulai mengecek tas kecilnya yang hanya di huni oleh dompet, ponsel dan beberapa make up.


"Bilang sekalian tuh guling takut nggak bisa tidur kalo nggak nemplok ke dada loe!"


"Nah tu loe tau!" sahut Indah dengan cekikikan.


"Eh loe liat pengaman gue nggak Cin?" tanya Asti yang sedang mengobrak-abrik isi tasnya.


"Pengaman? oh si K?"


"Iya, nggak usah sok polos dah, gue repot donk kalo nggak ada itu!"


Indah mulai membantu mencari dengan membuka laci-laci dan mengobrak-abrik tas make up milik Asti.


"Nih Mr K!" ucap Indah menyodorkan dua buah pengaman yang masih terbungkus rapi.


"Nah, ini dia benda keramat yang harus di bawa kemana-mana."


"Hari ini jatah gue kemana?"


"Loe di hotel xxx kamar 204, lanjut kita ke klub ya nanti ketemuan di sana aja, kangen juga gue sama kak Toni."


"Oh ok!" jawab Indah yang sedang mematut penampilannya di depan kaca, mini dress berwarna merah dengan dada tertutup tetapi menampilkan punggung terbuka hingga hampir sebatas pinggul. Dengan bagian rok sedikit bergelombang dengan model A tidak memperlihatkan bokongnya yang padat, tetapi justru setiap langkahnya menampakkan kedua paha mulus yang saling bersinggungan.


"High heels gue beb!"

__ADS_1


"Gue simpen di lemari bawah Cin!"


Indah semakin mempesona dengan high heels nya, tangannya merapikan penampilan bagian atas khususnya di bagian dada yang hari ini tanpa braa tetapi hanya tertutup oleh silikon menyesuaikan dress yang ia kenakan.


Keduanya kini sudah keluar kamar menuju parkiran, tangan Indah meraih tombol lift untuk membawa mereka ke bawah, tetapi ketika terbuka Indah di buat terkejut dengan adanya Chiko di sana, bahkan kaki Indah seakan kaku untuk melangkah masuk.


" Ayo Ndah!"


"Eh iya..." Indah memaksakan diri untuk masuk ke dalam lift dan berdiri di depan Chiko, tampak jelas body Indah di mata Chiko terlebih punggung putih yang terpampang nyata di depan mata.


Hati Chiko bergemuruh, dia tidak suka dengan penampilan Indah yang sangat terbuka. Hampir semua bagian tubuh Indah terpampang nyata, jelas semua ini membuat siapa saja tergoda apa lagi dandanan Indah yang tak biasa.


Pintu lift terbuka tepat di lantai paling bawah, Asti keluar lebih dulu dengan mata fokus mengambil kunci mobil yang berada di dalam tasnya, ntah sadar atau tidak jika tadi ada Chiko di dalam lift.


Kemudian Indah pun ikut melangkah tapi tarikan di lengannya membuat dia kembali kedalam dan dengan cepat tangan Chiko menutup kembali lift tersebut.


"Gue mau keluar ko!"


"Dengan pakaian seperti ini loe mau kemana?" tanya Chiko yang saat ini sudah memeluk pinggang Indah dengan tatapan tajam.


"Tapi gue nggak suka loe berpenampilan kayak gini!"


"Hak loe apa? gue bukan siapa-siapa loe, jadi stop ngatur hidup gue!"


Chiko melangkah maju membuat Indah mundur hingga punggungnya menempel ke dinding lift.


"Loe mau apa?"


"Loe bilang gue bukan siapa-siapa loe kan?" tanya Chiko tangan mengunci tubuh Indah.


"Iya em ... mmppfff..."


Chiko menyatukan kedua benda kenyal yang baru pernah ia rasakan, manis satu kata itu yang dapat ia definisikan saat ini. Indah jelas terkejut dengan serangan itu, dia semakin geram tetapi kekuatannya tak dapat mengalahkan kekuatan Chiko yang disertai emosi.


Chiko terus menyesap hingga menimbulkan decapan kecil yang terdengar di telinga, Indah masih bertahan tanpa membuka mulutnya hingga Chiko kesulitan untuk menerobos masuk, tetapi gigitan kecil di bibirnya mampu membuat Indah menyerah.

__ADS_1


Kini lidah Chiko semakin pintar, dia mengikuti nalurinya mereguk nikmat dan meraih hasrat, jantungnya berdebar seiring tarikan yang membelit lidah keduanya. Indah yang tadinya hanya diam mulai mengimbangi, gerakan lidahnya santai tapi mampu melumpuhkan emosi Chiko yang kini sudah berubah menjadi gairah.


Indah tak melebihi batas, karena dia tak ingin meninggalkan kesan terdalam pada Chiko, anggaplah ini hanya permainan biasa akibat emosi sesaat. Ciuman Chiko turun kebawah, menyusuri leher jenjang Indah yang menggoda, senyuman tipis di bibirnya tampak nyata saat suara manja Indah keluar tanpa sengaja.


Chiko bergerak nakal tanpa persetujuan, menyesap kuat hingga menimbulkan bekas memerah, menyadari itu dengan sekuat tenaga Indah mendorong tubuh Chiko hingga terpental di dinding lift.


"Brengse*!"


Masih dengan senyuman mautnya Chiko menghampiri Indah yang sudah menekan tombol turun agar liftnya kembali ke area parkir.


"Loe bilang gue bukan siapa-siapa loe kan? tanda itu mewakili pernyataan loe tadi!" Chiko membuka jaketnya kemudian menutupi punggung Indah yang terbuka.


"Pakai! gue nggak tau loe mau kemana, tapi gue harap jaket ini bisa melindungin tubuh loe dari mata pria mata keranjang di luar sana!"


Ting


Setelah pintu terbuka Chiko lebih dulu keluar dari dalam lift dan di sambut tatapan tajam dari Asti yang ternyata sejak tadi setia menunggu.


"Cin, kok bisa ada dia? dan ini jaket siapa?" tanya Asti heran.


"Jaket dia lah, kesel gue! loe juga main nyelonong aja, nggak liat gue udah keluar apa belum, alhasil gue jadi tawanan dia tadi!" sewot Indah.


"Sorry ya mana gue tau kalo tadi ada dia, lagian loe sama dia aja kalah, heran gue nggak biasanya, sama om-om perut gendut aja loe menang ngapa sama dia loe kicep? loe suka sama dia?"


"Nggak ada gue baper sama siapapun ya beb!" tegas Indah.


"Tapi cinta bisa dateng kapan aja Cin! Bagaimana kalo benar dia suka sama loe, loe perhatiin aja dari cara dia lihat loe, dari cara dia memperlakukan loe, dan dari cara dia kasih perhatian ke loe! Chiko itu dingin sama cewek lain, tapi sama loe?"


Ucapan Asti membuat Indah berpikir dan membenarkan apa yang sahabatnya ucapkan. Kemudian dia membuka jaket milik Chiko dan ia sampirkan di belakang jok.


"Widih.....tuh leher merah bener! ada tragedi kah di dalam lift tadi?"


Mendengar ucapan Asti membuat Sella segera mengambil lipstik dan memoleskannya di bibir mungil yang kini sudah tampak tak merah lagi. Dia bahkan lupa jika tadi Chiko berhasil melahap bibirnya.


"Lebih enak sama om-om apa sama pemuda yang masih original?"

__ADS_1


"Berisik loe!" Indah segera keluar dari mobil meninggalkan Asti yang tertawa karena berhasil meledek Indah.


__ADS_2