
Hari ini Indah dan kedua sahabatnya mendaftarkan diri di fakultas yang sama. Dengan tampilan yang berbeda saat SMA. Banyak pria yang menatap ketiganya dengan tatapan yang berbinar. Khususnya dengan calon mahasiswa baru yang berjalan di tengah-tengah kedua sahabatnya. Jilbab navy dan gamis dengan warna senada mendukung penampilannya. Tubuh mungil dan sintal itu menggemaskan di lihat.
Mendaftarkan diri di jurusan ekonomi, mereka bertiga mulai mempersiapkan semuanya sesuai yang di arahkan oleh dosen. Masih ada waktu hari ini untuk berkeliling melihat-lihat gedung fakultas ternama yang di kenal dengan akreditasi A dan mahasiswa yang memiliki ciri khas akan penampilan mereka yang rapi, teladan dan terlihat santai dengan wajah-wajah pintarnya.
"Gue mampu nggak ya bersaing, loe liat aja. Itu muka pada adem-adem bener. Padahal kan kuliah mata pelajaran makin susah donk, tuntutan makin banyak. Ya kali makin santai. Tapi mereka emang beneran santai. Gue rasa kita salah alamat dech." Jenni ketar ketir sendiri. Percaya dirinya seketika runtuh, merasa tak mampu mengimbangi apa lagi dia yang nilainya pas di angka rata-rata.
"Kita pasti bisa, belum di coba. Jangan nyerah dulu. Ini bukan Jenni yang gue kenal!" ucap Indah menatap Jenni sekilas kemudian kembali mengedarkan pandangannya.
Ketiganya berkeliling hampir menghabiskan waktu setengah jam, cukup luas memang, bahkan ada sebagian yang belum mereka singgahi. Tapi tak mengapa, masih ada waktu esok untuk sekedar tau tempat mereka menimba ilmu sekarang.
"Mau langsung balik apa kemana dulu kita?" tanya Asti sebelum masuk ke dalam mobil.
"Balik aja kali ya, gue mau masakin suami di rumah, sorry ya gue belum ijin mau pergi sama kalian."
"Iya dech, yang udah punya laki emang harus jadi istri Sholehah. Top lah gue dukung, kali aja ntar gue bisa kayak loe. Nunggu si om cerai dulu kali ya, apa gue mundur? akh ....hidup gini amat, gue juga kan mau jadi orang bener!" keluh Jenni yang membuat Indah semakin merasa bersyukur dengan hidupnya sekarang.
"Sabar, nanti kalian juga akan merasakan apa yang gue rasakan. Cuma jodohnya aja yang belum datang. Seenggaknya kalian berubah lebih baik dulu."
"Gimana mau baik kalo gue butuh biaya buat hidup gue..."lirih Asti bersandar mobil.
"Loe bisa pulang ke rumah bokap loe, merekakan orang tua loe. Mau sampai kapan hidup dalam kebencian? gue harap loe pikirin lagi. Gue yakin loe bisa maafin semua yang pernah terjadi, apa lagi bokap loe udah minta loe balik terus. Buka hati, nyokap tiri loe baik kok. Buktinya dia bukan cuma mau ngabisin harta bokap loe, tapi mau ngerawat beliau yang lagi sakit. Nggak kenal maka nggak sayang, coba kenal dulu, mudah-mudahan ada jalan." Penuturan Indah membuat Asti termenung, sudah bertahun-tahun lamanya dia meninggalkan kedua orangtuanya yang bercerai, memilih sendiri karena mereka yang tak perduli. Tapi akhir-akhir ini sang papah menghubungi memintanya untuk pulang dan kembali ke rumah besar yang sudah ia tinggalkan.
"Gue pikir lagi, ayo kita balik!" Asti segera mengajak kedua sahabatnya untuk pulang.
__ADS_1
Setelah melihat perubahan Indah, kedua sahabatnya merasa lelah akan hidup mereka dan ingin juga bisa berjalan di jalan yang benar seperti Indah. Tapi mereka juga butuh uang untuk biaya hidup yang tidak sedikit, apa lagi mereka baru mulai meneruskan pendidikannya. Sudah pasti membutuhkan banyak biaya.
Indah menyiapkan makanan sebelum sang suami pulang, setelah menjalankan kewajibannya empat rakaat sore ini, ia segera meluncur ke dapur. Memasak makanan kesukaan Nicko dan segera membersihkan diri sebelum Nicko pulang.
Pesan di ponselnya membuat Indah mengukir senyum, sang suami akan segera pulang. Dia segera duduk di depan cermin dengan masih menggunakan bathrobe. Menyapu tipis make up ke wajahnya untuk menyambut sang suami pulang kerumah.
"Pakai baju apa ya, tadi baca-baca katanya kalo di dalem boleh manjain mata suami. Apa pake baju malem aja langsung ya, nggak keluar rumah ini. Hhuuuuhhff untung aja kemarin belum di buang, aku ambil lagi aja dech..." Indah berjalan ke kotak besar tempat ia menyimpan pakaian-pakaian sexynya yang tipis dan mencetak tubuhnya.
"Nah, ini aja. Enak juga ya nikah, semua jadi pahala."
Indah memakainya tepat saat Nicko masuk ke kamar. Mendengar suara pintu terbuka Indah yang sudah rapi keluar dari persembunyiannya dengan menampilkan penampilan yang segar di pandang.
"Assalamualaikum istriku...."
"MasyaAllah sexynya istri aku, langsung ilang nich capeknya. Pinter banget sich manjain suami, hhmm?" tanya Nicko yang sudah melangkah mendekati sang istri. Indah mencium tangan Nicko kemudian mengecup pipinya.
"Mandi dulu aja, aku belum sholat magrib. Kamu sudah sayang?"
"Sudah by, kalo gitu aku siapin dulu pakaian kamu ya sama sarungnya." Nicko harus menjeda waktu bermanja dengan sang istri, karena ada kewajiban yang belum ia kerjakan.
Setelah mandi dan sholat, kini keduanya sedang berada di meja makan. Dengan lahap Nicko memakan masakan sang istri di selingi dengan obrolan akan kegiatan keduanya seharian ini dengan aktivitas masing-masing.
"Alhamdulillah, masakan kamu semakin enak sayang." Nicko bersandar kursi merasakan masakan sang istri yang membuatnya puas dan kenyang.
__ADS_1
"Kan belajar terus, biar bisa manjain perut suami."
"Makin pinter ya sekarang!" ledek Nicko.
Keduanya tersenyum saling memandang, Nicko mengecup jemari tangan Indah kemudian menyelipkan rambutnya di belakang telinga.
"Lusa kita pindah ya, rumah yang aku beli sudah selesai di renovasi. Mudah-mudahan di sana semakin berkah rejekinya."
"Tapi masih boleh sesekali tidur sini kan By?" tanya Indah, dia tidak mungkin benar-benar melepas rumah ingin. Rumah peninggalan kedua orangtuanya, rumah yang banyak kenangan, rumah tempat ia di besarkan sampai ia mampu menebusnya dari pihak bank yang sudah menyita karena hutang yang tak terbayarkan.
Tapi mengikuti kemanapun suami membawanya jelas menjadi kewajibannya sekarang, dari pada menjadi pikiran Indah akhirnya meminta ijin dengan suami agar sesekali masih bisa pulang kesini.
"Tentu boleh sayang, aku akan memperkerjakan asisten rumah tangga di sini untuk membersihkan dan merawat rumah ini agar tetap terurus. Ini rumah mertuaku dan rumah masa kecil istriku, jadi nggak akan aku biarkan begitu saja."
Indah segera beranjak dari tempat duduknya, memeluk sang suami dengan duduk di atas pangkuan. Mengucap syukur di dalam hati karena di berikan suami yang seperhatian ini.
"Makasih."
cup
Indah mengecup seluruh wajah Nicko, hingga membuat sang suami tertawa mendapatkan serangan mendadak yang tak pernah Indah lakukan. Mengeratkan cekalannya di pinggang sang istri untuk lebih merapat.
"Sayang, malam ini...."
__ADS_1
"Aku menunggumu di kamar By!" Indah memotong ucapan Nicko kemudian turun dari pangkuannya dan berlari menuju kamar. Mendengar ucapan sang istri menjadi angin segar untuknya, malam yang syahdu dengan ricihan hujan yang turun membuat Nicko semakin bersemangat untuk melakukannya.
"Nakal istri aku, aku nggak akan lepasin kamu kalo belum lemas. Kamu buat staminaku bertambah sayang......tunggu aku!" Nicko sempat terdiam melihat istrinya yang sudah berlari menaiki anak tangga menuju kamar. Kemudian menyusulnya dengan langkah panjang dan wajah geregetan. Indah selalu membuat warna dalam hidupnya, bahagia yang Nicko rasakan tak dapat ia ungkapkan hingga ia berharap jika Indah merasakan hal yang sama.