Terjerat Cinta Gadis Malam

Terjerat Cinta Gadis Malam
Bab 70


__ADS_3

Setelah merenung dan memantapkan hati, Indah ingin memulai kehidupannya dari awal lagi. Kehidupan yang begitu penuh dengan kepahitan di masa remajanya hingga harus bekerja keras untuk menutupi hutang dan pengobatan sang mamah. Tak mengenal lelah apa lagi dosa. Yang ia butuh hanya uang bukan sanjungan.


Dan saat ini takdir seakan berpihak kepadanya setelah lama meninggalkan dan membuat dirinya kesulitan. Kini dia di beri kebahagiaan yang tak tergambarkan. Memiliki suami di usianya yang masih muda, mendapat pekerjaan dan rejeki rumah tangga yang berkah.


Indah berdiri di depan cermin, mematut dirinya dengan pakaian yang rapi. Kegiatan hari ini harus selesai sore karena malam harinya sudah janjian dengan suami. Berangkat dengan taksi yang ia pesan menuju mall terbesar di kotanya.


"Mbak, yang ini ukuran mediumnya ada?" tanya Indah pada salah satu pelayan yang berjaga.


"Sebentar ya kak, saya ambilkan."


Setelah memilih hampir dua puluh lebih pakaian yang sengaja ia beli sekalian untuk harian dan pergi-pergi. Tidak lupa dengan pelengkap yang mendorong penampilannya. Kini Indah melangkah keluar mall dengan kerepotan. Baru kali ini ia belanja super banyak, menghabiskan uang melebihi seratus juta.


Hampir sore Indah sampai di rumah, memasukkan barang-barang yang ia beli ke dalam kamar. Merapikan dengan senyum mengembang hingga tertata rapi di lemari.


"Alhamdulillah kelar, istirahat bentar kali ya. Capek banget badan aku."


Indah membersikan wajah dan tangannya, keluar kamar mandi kemudian rebahan. Sengaja mengatur alarm agar tak terjaga lewat senja.


Nicko tersenyum di kursi kebanggaannya, setelah meeting dengan cukup alot karena kerja sama yang memerlukan ketelitian. Menatap layar ponsel dengan senyuman bangga, tak menyangka Indah yang super irit akhirnya bisa menghabiskan uangnya cukup banyak dalam sekali belanja. Entah apa yang di belanjakan istrinya. Tak mengapa bagi Nicko, ia percaya jika Indah membeli sesuatu yang bermanfaat.


"Ngapa loe senyam senyum, stress abis meeting?" tanya Adit yang kemudian masuk dan duduk di sofa merebahkan tubuhnya di sana.


"Punya bini makanya, biar tau rasanya di bahagiain istri. Meeting pusing bisa ilang kalo udah liat bini senang," Nicko menyusul Adit dan duduk di dekatnya.


"Belum aja jodoh gue datang hilalnya, kalo udah nemu beeehhhhh gue tinggal pulang cepet mulu loe!"


"Kalo mau gue potong gaji loe!" sahut Nicko.

__ADS_1


"Sekali-kali baik sama asisten, gue doain cepet jadi bapak."


"Aamiin, Dit kalo gue berubah jadi orang bener kira-kira di terima nggak ya?" tanya Nicko tiba-tiba berubah serius.


Adit menoleh ke arah Nicko, dia pun ikut serius menanggapi pertanyaan Nicko. "Maksud loe?"


"Gue pengen punya anak-anak Sholeh, sebejat-bejatnya gue dalam hati pengen punya anak pinter baca Qur'an, rajin sholat, rajin ngaji. Berarti kan gue harus benar dulu sekarang sebelum mereka lahir. Tapi kalo gue berubah tiba-tiba, diterima nggak sich?"


"Ck, Allah maafin orang-orang yang mau bertobat. Sekalipun dosa kita banyak, dosa berat tapi kalo loe mau tobat insyallah di maafkan. Dia lebih suka manusia yang mau bertobat, dari pada orang alim tapi ria."


Adit sahabat yang paling benar jalannya, walaupun dia dulu sering memuluskan jalan Nicko mendapatkan wanita bayaran tapi sejatinya dia tak pernah aneh-aneh, hanya terpaksa saja karena mandat. Memang hanya dia yang paling parah, jadi tak ada penyesalan jika ia mendapatkan jodoh Indah. Karena jodoh yang datang sesuai bagaimana dirinya.


"Tumben benar omongan loe!"


"Lah gue mah emang bener, loe yang bikin gue nggak bener."


"Indah dasarnya wanita baik cuma tuntutan yang buat dia kayak gitu. Terpaksa karena keadaan. Tapi gue yakin dia mau loe ajak hijrah," jawab Adit. "Tapi loe masih ingat nggak bacaannya?"


Plak


"Sakit!" Adit mengusap kepalanya setelah di pukul oleh Nicko.


"Lagian, loe kira gue bener-bener brutal banget apa sampe nggak inget. Loe lupa gue lulusan SD sampe SMA apa?"


Nicko memang sejatinya di didik dengan ilmu agama sejak kecil, kedua orang tuanya memasukkan dia ke sekolah islam. Nicko yang tumbuh menjadi pria baik dan tak punya banyak mantan hingga di sakiti sekali saat sang mantan yang benar-benar ia jaga tapi malah membuat kecewa dan membuat hati patah.


"Hampir lupa, dulu loe pinter ngaji ya. Bahkan sampe ikut lomba tingkat kecamatan, dapet juara satu lagi. Kegiatan banyak, bawa rebana kemana-mana. Lima waktu nggak ketinggalan, pacaran nggak pernah, giliran Nemu satu yang srek di hati bener-bener di jaga. Cuma gue heran satu dari loe, itu kemarin setan mana yang ngikut sama loe sampe jadi keblinger begitu?"

__ADS_1


"Namanya khilaf!" sahut Nicko.


"Khilaf sekali nyesel men, loe tiap hari minta lagi!"


"Tau lah, pusing gue kalo inget. Tapi kalo nggak gitu gue nggak ketemu Indah donk. Mungkin ini jalannya gue biar ketemu sama Indah, kudu keluar masuk berbagai macam modelan Minnie dulu!"


"Ck, itu mah enakan loe! eh udah jam lima, kita masih ada meeting. Ayolah ini klien pasti udah nungguin." Adit beranjak pergi keruangan dan menyiapkan berkas.


Tepat di jam tujuh malam meeting itu baru selesai, beberapa pesan masuk dari sang istri di ponselnya yang menyatakan jika sudah di jalan. Nicko pun segera datang ke restoran yang tak jauh dari kantor memesan tempat dan menunggu sang istri yang masih di perjalanan.


Sempat meninggalkan tempat duduknya untuk mencuci muka agar lebih fresh di lihatnya. Seharian kerja dan meeting dengan suasana yang berbeda-beda tentunya membuat kesan tersendiri. Dan tak heran jika hari ini cukup membuatnya lelah pikiran.


Kembali ketempat duduknya, sudah hampir 20 menit sang istri belum juga terlihat. Hingga Nicko menghubungi dan melirik jam takut-takut ada sesuatu yang terjadi dengan sang istri ketika di jalan.


Panggilan tak kunjung di angkat membuat panik hingga tak fokus dengan siapa orang yang kini menghampiri. Nicko memejamkan mata merasakan kekhawatiran pada Indah. Hingga suara kursi bergeser membuatnya membuka mata melihat siapa gerangan yang datang.


Mata Nicko memicing, sosok wanita di depannya itu tak ia kenal tetapi dengan santainya duduk di kursi yang ia pesan. Hingga Nicko yang takut jika sang istri tiba-tiba datang dan salah paham segera memintanya untuk mencari kursi lain.


"Maaf, anda siapa? meja ini sudah saya pesan. Dan kursi itu khusus untuk istri saya. Silahkan anda mencari tempat lain karena masih banyak meja yang kosong." Nicko dengan sopan mengusir wanita tersebut yang malah tertunduk tersenyum.


"Apa anda tak mendengar ucapan saya?" tanya Nicko lagi saat wanita itu hanya diam dan tak pergi dari tempatnya. Pria itu menelisik pintu masuk takut sang istri datang sedangkan dia belum membereskan wanita di depannya ini. Nicko berdiri, dia mengalah mencari aman.


Melangkahkan kaki untuk bergeser ke meja sebelah. Tapi langkahnya tertahan ketika suara yang begitu familiar mendayu di telinga, suara istrinya yang sejak tadi membuat khawatir, suara sang istri yang ia rindukan.


Nicko membalikkan tubuh menatap wanita dibelakangnya yang sudah berdiri menatap dengan senyuman yang ia kenal. Wanita itu melangkah mendekat, reflek Nicko mundur berjarak.


"Kamu...."

__ADS_1


__ADS_2