
Kini Indah sudah berjalan lebih dulu meninggalkan Nicko, dia kesal karena si om yang begitu posesif terhadapnya. Untung saja belum beristri, kalo sudah dapat di pastikan Indah di geret dan di beri bogem mentah oleh istrinya.
"Ayo buka pintu mobilnya om!" seru Indah yang sudah berada di depan mobil Nicko.
"Itu mau aku antar, kamu menyuruhku membukakan pintu mobil, berarti berharap aku antar juga kan?"
Indah tercengang mendengar ucapan om minus di depannya ini, ingin rasanya Indah menjambak rambutnya, kenapa jadi memutar balikkan fakta.
"Om bener-bener ngabisin sabar aku ya, siapa yang berharap, kalo nggak nganter ya malah bagus, toh aku bisa pulang sendiri tanpa merepotkan om yang sejak tadi merusuh!"
Indah segera membalikkan tubuhnya, dia dengan senang hati akan pulang dengan menggunakan taksi.
"Eh, siapa yang minta kamu buat pergi? ok aku kan cuma bercanda!" Nicko sudah kembali menarik tangan Indah dan menyandarkannya di body mobil.
"Bercanda om garing, om ngeselin! Aku capek om, kalo memang om mau nganter pulang ya ayo, aku udah pengen istirahat bukan berdebat!"
"Iya sayang, ayo masuk mobil!"
"Mana ada teman panggil sayang? Om mulai nggak bisa di percaya, aku sungguh nggak aman sama om disini. Bisa kan om turunin aku di depan aja biar aku cari taksi sendiri untuk pulang!"
"Nggak bisa!" dua kata bermakna dalam.
Nicko menancap gas dan melajukan mobilnya menuju rumah Indah, dia tak akan membiarkan Indah pulang sendiri apa lagi begitu sulit untuk mendekati Indah.
"Setiap hari kamu pulang sendiri?"
"Iya om," jawab Indah.
"Ada siapa di rumah?" tanya Nicko lagi ingin mencairkan suasana agar tak nampak kaku.
"Aku sendiri!"
"Mau aku temenin?" Pertanyaan Nicko membuat Indah segera menoleh dan menggelengkan kepala.
"Om jangan ngadi-ngadi dech, untuk jadi temanku aja aku masih setengah hati ACC nya, jangan buatku males sama om. Om nich minta di arak keliling komplek."
"Bilang aja kalo aku ini saudaramu, biar kamu ada temannya di rumah, kurang baik apa aku menawarkanmu untuk menjadi teman tidurmu juga?"
Indah menaikkan sebelah alisnya sambil menatap om ganteng versi Asti. "Segitu mudahnya ya hidup bagi om, aku sepertinya nggak tertarik memiliki teman tidur seperti om, terlalu mesum dan meresahkan jatuhnya buatku nggak aman."
"Aku nggak akan semesum itu, kamu terlalu berpikir negatif tentang aku, jika tau aku sebenarnya pasti betah dan malah ingin terus bersama," timpal Nicko
"Pede sekali om ini," sahut Indah terus membuang muka ke arah jendela.
Mobil sudah menepi di depan pagar rumah Indah, gadis itu menoleh dengan menatap tak percaya jika orang di depannya ini benar-benar tau alamatnya sampai tak menanyakan sedikitpun arah rumah tapi tau-tau sudah sampai.
"Tau dari mana om?"
__ADS_1
"Kan aku sudah pernah bilang, aku tau semua tentang kamu. Ayo turun atau mau aku bawa pulang biar sekalian aku kenalkan pada orangtuaku?"
Tanpa menunggu lama Indah segera turun dari mobil dan di ikuti oleh Nicko. Pria itu menggenggam tangan Indah lalu menariknya untuk masuk ke rumah.
"Eh...kenapa jadi kayak om yang jadi tuan rumahnya, aku bisa jalan sendiri dan masuk, jadi om bisa langsung pulang!"
"Kenapa sich denganku? banyak wanita yang mengejarku tapi kenapa kamu seperti tak berkesan, aku hanya ingin mengantar sampai kamu masuk kedalam rumah dan menjamin kamu aman."
Akhirnya Indah mengalah, tak ada salahnya juga membiarkan Nicko jika memang niatnya baik.
"Ya udah om, aku masuk ya..." ucap Indah sesampainya di depan pintu rumah.
"Masuklah, aku akan pergi jika kamu sudah masuk!"
"Om macam pacarku saja, tapi ya udah aku masuk dulu, makasih sudah mengantar selamat sampai masuk rumah dan om juga hati-hati di jalan."
Indah membuka pintu dan masuk tanpa curiga jika Nicko akan ikut menyelinap juga, gadis itu tampak terkejut saat ingin mengunci pintu sosok pria tampan malah berdiri membuatnya terpaku.
"Ikh kok om ikut masuk?" Indah menatap dengan tajam tanda tak aman.
"Nggak ada tanda perpisahan gitu?"
"Tanda perpisahan apa, emang om mau mati?"
pletak
"Ouwhh......kok jitak pala aku sich!" Indah cemberut, sungguh Nicko membuatnya kesal jiwa dan raga.
"Apa hubungannya? lagian mending nggak punya pacar, dari pada punya berujung sakit hati, untung nggak gantung diri, berakhir stress dan kelakuan jadi nggak beres!"
"Kamu nyindir aku?"
"Nggak ada yang nyindir om, aku ngomong faktanya aja! ya maaf kalo tepat sasaran, om ngerasa ya?" tanya Indah dengan wajah imutnya meledek Nicko hingga yang tadinya ingin marah malah jadi pasrah.
Posisi keduanya sangat dekat bahkan Nicko yang tadi mengusap kepala Indah mulai mencari kesempatan. Tangannya turun hingga ke tengkuk dan mencium kilat bibir mungil yang sejak tadi komplain tak terkendali.
"Ikh.... curi-curi kesempatan sukanya, om nich ngajak temenan apa cuma modus belaka?"
"Dua-duanya, apa salahnya kamu sudah dewasa dan sudah biasa, kenapa aku nggak boleh? sedangkan yang lain boleh?"
"Beda konsepnya om, om saat ini bukan tamuku tapi tamanku, itu kan yang om mau, jadi jangan merusuh! Udah sekarang om pulang, aku mau istirahat dan besok harus sekolah."
Nicko akhirnya mengalah, dia mundur teratur. Tak ingin berdebat lagi, cukup merusuh sedikit dengan mencium pipi kemudian kabur meninggakan Indah dengan muka di tekuk.
"Dasar om minus!"
Keesokkan paginya Indah berangkat seperti biasa memesan taksi dan mampir ke rumah sakit. Tak ada yang beda untuk kegiatannya sehari-hari, cukup hafal hingga jam pun bisa menyesuaikan.
__ADS_1
Kondisi mamah yang sama. membuatnya harus extra kerja keras, mencari pendonor ginjal dan uang yang banyak untuk pengobatan.
"Aku memang nggak baik, tapi aku ingin mamah tetap ada di sini."
Doa Indah setiap hari demi kesembuhan sang mamah, dia akan memberikan apapun itu. Keinginan mamah pun cukup di pikirkan. Sampai Indah sendiri tak tau harus mencari kemana pria yang rela untuk menjadikannya istri sedangkan pekerjaannya tak mumpuni.
"Harus banget menikah, tanpa menikah pun aku udah bisa menghidupi keluarga. Mana juga ada yang berkenan sedangkan pekerjaanku hanya seorang gadis malam. Huhfff ini sungguh merepotkan!"
Keluar dari kamar sang mamah Indah melihat seorang wanita paruh baya yang berlari tergesa hingga hampir terjatuh karena kakinya keseleo.
"Pelan-pelan Tante!" Indah membantu hingga tubuh itu seimbang dan mampu berdiri tegak.
"Makasih nak, maaf merepotkan. Tante buru-buru mau berkunjung hingga tak memikirkan keselamatan."
"Sakit nggak Tante kakinya? biar Indah antar ke tempat tujuan."
"Nggak apa nak hanya sakit sedikit, sepertinya kamu juga sedang terburu-buru berangkat sekolah, makasih ya dan hati-hat!"
"Iya Tante..."
Indah berjalan keluar hendak masuk kedalam taksi, tetapi tangan seseorang menghalangi hingga tubuhnya berbalik.
"Chiko."
"Berangkat bareng gue!"
"Tapi gue udah mesen taksi."
"Pak maaf ya, pacar saya nggak tau kalo saya jemput, ini untuk bapak beli kopi." Chiko memberi uang selembar warna biru kemudian menarik tangan Indah hingga masuk ke dalam mobil.
"Loe...."
BRAK...
Belum sempat Indah berucap Chiko sudah menutup pintu mobilnya kemudian masuk ke pintu kemudi.
"Loe maksa banget dech..."
"Kenapa emangnya? toh searah!"
Chiko maju mengikis jarak membuat Indah berhati-hati, ia tak ingin kecolongan dan berujung seperti kemarin.
"Loe mau ngapain?" tanya Indah sedikit awas.
Chiko tak menjawab, manik mata keduanya terkunci hingga membuat Indah sedikit merasa sesak. Ada getaran yang tak biasa di hati Chiko. Membuat suara dentuman jantung itu begitu terasa. Hingga arah matanya tak sengaja mengintip isi seragam yang tampak padat karena Indah saat ini memakai seragam yang sedikit pas di badan, membuat si Mickey pun tak tenang.
Klik
__ADS_1
Indah bernafas lega ketika Chiko hanya ingin memakaikan safety belt, tetapi sesaat kemudian kelegaan itu sirna berganti dengan tatapan tajam yang menghujam jiwa. Chiko lagi-lagi mendaratkan kecupan di bibir mungil yang membuatnya selalu ingin.
"Chiko......!"