
Setelah melakukan ijab dan di kabulkan dengan kata "Sah" kini Indah dan Nicko sudah resmi menjadi sepasang suami istri. Haru, bahagia, dan sedih terukir jelas di wajah ayu Indah. Sejak mendengar suara lantang Nicko yang mengucapkan ijab, hati Indah bergetar. Air matanya luruh membasahi pipi. Apa lagi saat kata sah di serukan oleh para saksi dan tamu yang hadir. Mata Indah terpejam, statusnya kini telah berubah.
Melirik sang mamah yang tersenyum bahagia. Sinar di wajah yang kemarin sempat mendung seakan cerah kembali. Indah mencium punggung tangan Nicko dan di beri kecupan hangat penuh cinta dari sang suami. Senyum di balik air mata, Nicko pun merasakan apa yang kini Indah rasakan. Bahagia yang membuncah menyertakan air mata saat kecupan itu begitu dalam dan diiringi dengan doa yang terpanjat.
Semua yang melihat tampak terharu dan tak jarang yang meneteskan air mata. Begitupun kedua orang tua Nicko, sang mamah sejak tadi tak dapat membendung air matanya. Beliau duduk dengan di samping sang sahabat dengan menggenggam tangannya dengan erat.
"Alhamdulillah jeng, akhirnya mereka sah. Kita jadi besan. Semangat ya jeng, sekarang kita tinggal menantikan cucu dari mereka."
"Makasih jeng, anggaplah anakku seperti anakmu sendiri. Aku titip Indah, dia sangat merindukan kasih sayang seorang Ibu. Mudah-mudahan darimu putriku bisa mendapatkan keluarga yang utuh."
"Tentu saja, aku sudah menganggapnya seperti putriku sendiri, bahkan aku sudah menyayanginya. Tak heran kedua putraku memperebutkan putrimu. Dia anak yang baik lagi cantik."
"Aku lega jeng, setelah ini aku bisa tidur dengan nyenyak. Semoga ke depannya mereka bahagia."
Setelah kedua pasangan halal ini memakaikan cincin ke pasangannya, kini mereka sungkem ke orang tua. Air mata Indah tak henti saat dia mendekap erat sang mamah. Berharap setelah ini ada keajaiban untuk kesembuhan beliau.
"Mamah, Indah sudah mengabulkan keinginan mamah. Indah mohon sama mamah semangat lagi untuk menjalani pengobatan. Maafin Indah sempat membuat mamah sedih, Indah sayang sama mamah."
"Terimakasih nak, mamah sudah lega melihatmu menikah dan memakai baju pengantin. Kamu tampak sangat cantik, jangan menangis nak! Jangan khawatirkan mamah, kamu sudah sangat membuat mamah bahagia. Semoga pernikahan kalian langgeng terus hingga maut yang memisahkan," ibu dan anak tersebut saling berpelukan, tangan mamah yang semula membalas pelukan Indah kini tiba-tiba melemah dan terkulai lemas.
Indah yang menyadari tubuh mamah mulai tak ada lagi pergerakan dan matanya yang terpejam seketika terdiam mematung. Air mata semakin deras, beberapa detik kemudian Indah menyadari jika detak jantung sang mamah sudah tidak terdengar bahkan nafasnya pun terhenti.
"Mamah....." lirih Indah kemudian menatap sang mamah yang sudah tak merespon apa-apa.
"Mamah.....mamah bangun mah, mamah jangan tinggalin Indah, mamah bangun!" Indah menggoyang-goyangkan tubuh sang mamah. Dunianya seketika runtuh menerima kepaitan hidup, apa lagi harus kehilangan sang mamah.
Nicko yang mengerti sontak meminta dokter untuk memeriksa keadaan mertuanya walaupun ia tau jika harapan sudah tidak ada.
"Maaf, beliau sudah berpulang..." lirih dokter setelah memastikan kondisi sang mamah.
Mendengar itu Indah semaki histeris, dia tak sanggup menerima kenyataan bahwa sang mamah telah tiada.
"Mamah....maafin Indah mah, mamah Indah mohon jangan pergi mah..."
__ADS_1
Nicko yang tak sanggup melihat Indah yang sudah sangat terpuruk segera mendekapnya. Sedangkan semua yang masih diam menyaksikan hanya mampu menangis melihat betapa terpukulnya Indah saat ini. Sampai mamah Nicko tak kuasa menahan Isak tangis dan sesak di dada, beliau masuk ke dalam pelukan suaminya.
Para sahabat juga ikut sedih dan berderai air mata, miris melihat nasib Indah yang sangat menyedihkan. Tepat di hari bahagianya, di hari itu juga hatinya merasa kehilangan.
"Om, mamah om..."
"Sabar sayang, mamah sudah tenang di sana dan sekarang sudah tidak merasakan sakit lagi."
Pemakaman di lakukan keesokan paginya, semalaman langit mendung bahkan hujan tak henti mengguyur bumi. Indah terus menangis di dalam pelukan sang suami, bahkan Nicko di buat panik karena Indah yang berulang kali tak sadarkan diri.
Pagi yang masih basah menyambut sang mamah yang akan di kebumikan. Doa berdatangan dari teman sekolah hingga guru-guru yang tadi pagi melayat. Sempat terkejut karena ada pemilik yayasan beserta kedua anaknya yang tampak akrab dengan Indah.
Toni dan Adit pun datang hingga mengantarkan di tempat peristirahatan terakhir. Air mata di balik kaca mata hitam kian mengering, kini Indah terdiam dengan mengusap batu nisan sang mamah. Di makamkan bersebelahan dengan papah, membuat dada Indah semakin sesak.
Indah mulai paham alasan di balik perjodohan, mungkin karena sang mamah yang ingin meninggalkan. Dan khawatir Indah sedih dan kesepian. Kini ada suami yang terus mendampingi, selalu di samping Indah dan tak beranjak menjauh sedikitpun.
"Indah..."
"Kak Toni," Toni merentangkan tangannya hendak memeluk Indah sebagai wujud kasih sayang dan turut berduka serta ingin memberi semangat. Tetapi Nicko yang tak ingin Indah di sentuh siapapun segera menepisnya dan memeluk pinggul Indah dengan posesif.
"Dengan ucapan bisa kenapa harus pake sentuhan, dia bini gue sekarang!"
"Ngarang aja loe!"
Indah yang merasa pusing segera undur diri, dia memilih melipir ke kamar dengan ditemani kedua sahabatnya. Sedangkan kedua mertuanya dan bibi menyiapkan acara untuk tahlilan nanti malam.
"Loe nggak percaya, nich liat jari gue!" Nicko memamerkan cincin pernikahannya dengan Indah bahkan Adit dan Toni yang tak tau sempat melepaskan cincin yang ada nama Indah di bagian dalamnya.
"Sini! masih nggak percaya?"
"Lah katanya loe di jodohin?" tanya Adit.
"Di jodohin sama Indah!"
__ADS_1
Di dalam kamar kedua sahabat terus mendekap, merasakan betul kesedihan yang Indah rasakan. Apa lagi mereka tahu betul perjuangan Indah selama ini demi sang mamah.
"Sabar ya, inget ada kita-kita! loe juga udah punya laki sekarang, jadi jangan ngerasa sendiri ya."
"Iya bener kata Asti, Loe nggak sendiri. Apa lagi sekarang udah ada guling hidup yang menemani bobo. Jadi harus tetap semangat, oke!" lanjut Jenni.
Indah tersenyum menatap kedua sahabatnya yang begitu menyayangi dirinya, ketiganya saling memeluk hingga tak menyadari jika sejak tadi Nicko memperhatikan di ambang pintu.
Senyum tipis terlihat dari Nicko, ada perasaan lega melihat kondisi Indah saat ini. Walaupun masih sangat terpuruk setidaknya lebih baik dari kemarin. Saat ini fokus pria itu adalah kebahagiaan sang istri. Apa lagi almarhum mamah mertuanya yang sudah berpesan pada dirinya untuk menyayangi dan melindungi Indah.
"Sayang..."
Ketiganya menoleh ke sumber suara, melepas pelukan dan memberi waktu untuk sepasang pasangan suami-istri untuk berdua.
"Laki loe Ndah, kita keluar dulu ya.." pamit Asti.
"Iya Ndah, nggak enak ganggu kali aja mau ngasih mood booster buat loe!" ucap Jenni sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Makasih ya...
Setelah kedua sahabat Indah keluar, Nicko menutup pintu kamar dan mendekati sang istri. Duduk di pinggir ranjang menatap dalam wajah sang istri yang begitu pucat dengan mata sembab.
"Makan dulu ya..." ucapnya lembut dengan mengusap pipi sang istri.
"Belum laper om, om duluan aja."
"Kenapa? jangan menyakiti diri kamu, makan dulu biar lebih kuat menghadapi kenyataan hidup. Aku nggak mau kamu sakit sayang."
"Nanti aku makan, om nggak usah khawatir. Aku lagi pengen istirahat aja, setelah ini pasti aku makan."
Nicko menarik tubuh Indah hingga memeluknya dengan erat, sesekali mengecup kening sang istri dengan sayang.
"Aku tau kamu masih sangat bersedih sayang, tapi kamu harus ingat ada aku disini. Aku mencintaimu dan tak ingin kamu terus terpuruk. Kita hadapi semuanya bersama ya, mulai saat ini aku lah tempatmu berkeluh kesah dan meluapkan kasih sayang. Kita doakan yang terbaik untuk mamah, agar beliau tenang di sana.
__ADS_1
"Makasih om," Indah membalas pelukan Nicko dengan erat.