Terjerat Cinta Gadis Malam

Terjerat Cinta Gadis Malam
Bab 22


__ADS_3

Pagi menyapa membuat sepasang mata terbuka, tidur lebih cepat membuat badan beregas. Nicko yang biasa tidur dini hari, tapi tadi malam setelah pulang dari rumah Indah dia langsung tertidur pulas tanpa beban.


Setelah rapi dengan baju kantor dia turun kebawah menuju ruang makan dan duduk di sebelah adiknya.


"Mau berangkat sama kakak?" tanya Nicko tiba-tiba membuat Chiko heran, tak biasanya sang kakak menawarinya untuk berangkat bersama. Ada apa gerangan?


"Ko, tumben semalam jam 11 udah pulang. Ada angin apa?"


"Angin bahagia mah...."


"Wah, ada kabar apa memangnya? kamu sudah menemukan wanita yang pas?" tanya mamah khawatir sedangkan dia punya rencana lain yang belum siap untuk di publikasikan.


"Kenapa mah? biasanya senang jika memang benar kabar ini."


"Oh bukan begitu sayang, mamah hanya bertanya saja. Tak ada yang perlu di pikirkan juga. Ayo sarapan nanti kalian telat."


"Mah, aku nggak bisa antar mamah kayaknya. Temanku sudah menunggu dan ingin segera berangkat." Ucapan Chiko membuat Nicko memicingkan matanya.


"Teman..." lirih Nicko memikirkan sesuatu.


"Mau bareng kakak nggak?" tanya Nicko sekali lagi.


"Lain kali aja kak, aku bawa motor sendiri," tolak Chiko. Mendapat penolakan dari adiknya membuat Nicko segera menghabiskan makannya dan pamit berangkat duluan.


"Buru-buru banget Nick?" tanya sang papah yang seperti melihat gelagat aneh dari Nicko.


"Iya Pah, lupa kalo ada meeting, ya udah aku pamit dulu ya."


Nicko segera berangkat dari sana, kata teman dan penolakan dari Chiko membuatnya ingin cepat sampai di rumah gadis yang semalam baru ia beri pernyataan.


Melaju dengan kecepatan kencang, hingga hanya dalam waktu 10 menit mobilnya sudah terparkir rapi di pelataran rumah Indah.


"Eh, kok udah disini lagi?" Indah terkejut saat ingin keluar rumah tapi Nicko sudah ada di depan pintu.


"Aku antar...."


"Om nich nggak capek apa bolak-balik kesini terus? jujur aku capek loh liat om!"


"Sayang, kamu nggak inget ucapan aku semalam?" tanya Nicko dengan rasa kesal-kesal gemas.


"Om, aku juga butuh ruang gerak, jangan terlalu mengikat. Aku nggak akan kabur kemana-mana."

__ADS_1


"Tapi kamu membuat resah sayang, udahlah masih pagi jangan ngajak berdebat. Ayo masuk mobil, aku antar kamu ke sekolah!" Nicko segera menarik tangan Indah dan mengajaknya masuk ke dalam mobil.


"Om, tapi aku mau kerumah sakit," ucap Indah setelah Nicko masuk kedalam mobil, mendengar ucapan Indah Nicko segera menoleh dan memperhatikan Indah sampai membuat gadis itu risih sendiri.


"Kenapa?" tanya Indah saat tangan Nicko mulai mengecek kondisi Indah sampai tangannya dengan santai menyibak rok abu-abu dan mengintip isinya.


"Om nich ngapain?"


"Mana yang sakit sayang?"


Indah menggelengkan kepala, benar-benar tidak mengerti dengan jalan pikiran nicko saat ini.


"Om, bukan aku yang sakit. Udah sekarang antar aku ke rumah sakit, nanti keburu aku telat masuk sekolah."


"Kamu tuh nggak ngerti di khawatirkan tau nggak! kenapa sich susah banget ngeluluhin hati kamu." Nicko kesal sendiri, sepanjang perjalanan tak ada suara lagi yang keluar dari mulutnya hingga membuat Indah agak bersalah.


Sesampainya di rumah sakit, Indah segera bersiap untuk turun. Tapi Indah merasa ada yang kurang, sampai dia membuka pintu pun Nicko hanya diam dengan pandangan ke depan.


Indah membuang nafas kasar, pintu yang sudah terbuka akhirnya ia tutup kembali. Dengan gerakan cepat Indah menarik lengan Nicko dan menyambar bibir yang sejak tadi bungkam. Mendapat serangan mendadak membuat Nicko tak siap.


Indah melepas kecupannya saat tak ada balasan dari Nicko. "Ngambek?"


Hanya gelengan kepala yang Indah dapat, ngambeknya Nicko mampu membuat gelisah hati Indah. Tapi jika terus diam di mobil dia juga akan telat.


Setelah menunggu beberapa saat tak ada jawaban juga dari Nicko, akhirnya Indah memutuskan untuk segera turun dari mobil.


"Aku tunggu di sini." Dingin tapi perhatian membuat senyum Indah terbit seketika.


Tanpa menjawab Indah segera turun dari mobil dan masuk ke dalam rumah sakit dengan sedikit berlari. Menjenguk sang mamah dengan topik yang sama dan pamit pun dengan pesan yang sama. "Menikahlah nak...."


Tak ada jawaban yang pas bagi Indah, dia hanya diam dengan senyum di bibirnya. Bagi Indah itu sudah cukup kala hatinya merusuh.


Keluar dari rumah sakit langsung mendapat cengkraman tangan dari seseorang. Efek fokus terhadap ponselnya membuat Indah tak membaca situasi yang ada. Tetiba di suruh masuk ke dalam mobil yang tak asing untuknya.


Dengan cepat menatap tajam si penjambret raga dengan tatapan tajam. "Chiko!"


Nicko di luar sana yang sejak tadi memperhatikan di buat mati gaya, tak mungkin dia merebut secara blak-blakan gadis yang saat ini sudah mencuri hatinya. Apa lagi yang bersinggungan adalah sang adik.


"Kali ini aku biarkan, tapi lain kali nggak akan aku beri kesempatan!"


Tapi perasaan Nicko sedikit teralihkan dengan kedatangan sang mamah yang di antar oleh adiknya. Padahal dia tau sendiri jika mamah dalam keadaan baik-baik saja. Nicko merasa ada yang aneh akhirnya turun dari mobil dan mengikuti sang mamah saat mobil Chiko sudah berlalu begitu saja.

__ADS_1


Tadinya memang Chiko menolak untuk mengantar mamah ke rumah sakit, tapi karena Nicko yang sudah berangkat duluan sedangkan papah sibuk dengan bisnisnya membuat Chiko mengalah.


"Ngapain tiap hari di rumah sakit? loe sakit? atau siapa yang sakit?"


"Kenapa mendadak jadi wartawan?"


"Ck, gue hanya ingin memastikan, nggak ada niat untuk mengacaukan. Sensi banget sich sama gue?" sahut Chiko dengan tatapan fokus ke jalan.


"Yang jelas bukan gue yang sakit, loe sendiri ngapain tiap pagi nyulik cewek di depan rumah sakit?"


"Gue nganter mamah, nggak da niat mau nyulik juga. Tapi daya tarik loe terlalu kuat buat gue abaikan."


"Alasan!"


"Nyatanya iya, lagian mana bisa gue diemin pacar gue naik taksi sendiri sedangkan gue ada di depan mata." Chiko masih kekeh dengan ucapannya tempo hari yang mengatakan jika Indah adalah pacarnya sejak first kiss itu mendarat di bibir gadis itu.


Mendengar ucapan Chiko membuat Indah mengingat ucapan Nicko semalam, dia di bikin bingung dengan pria beda generasi yang mendekatinya saat ini. Yang satu mengklaim dirinya calon istri sedangkan yang satu kekeh menjadikannya pacar.


"Om...." pekik Indah spontan.


"Om....om siapa?" tanya Chiko menyelidik.


"Oh itu om gue tadi telpon." Indah segera meraih ponselnya yang ada di dalam tas. Mencari nama om minus dan melakukan panggilan. Beberapa kali panggilan di layangkan tetapi tak kunjung di jawab, hingga suara operator menyapa.


"Nggak aktif, apa masih ngambek ya. Kenapa hati gue gelisah gini. Ya kali gue mulai baper sama dia setelah semaleman bersama," batin Sella dengan menutup rapat kedua matanya dan menyandarkan kepala.


Hingga tak terasa mobil Chiko sudah sampai di parkiran sekolah. Dengan sigap Chiko membuka sabuk pengaman di tubuh indah tapi seketika matanya menatap tajam hingga membuat Indah heran saat tubuh Chiko yang masih anteng di depannya.


"Kenapa?" tanya Indah heran.


"Siapa yang ngelakuin itu?" tanya Chiko dengan nada datar.


"Ngelakuin apa?"


Chiko yang emosi segera menyambar bibir Indah dengan brutal hingga membuat Indah tak dapat melawan. Tangan Indah memukul dada Chiko tapi tak juga di lepas oleh Chiko.


Emosi bercampur cemburu, itu yang menyertai serangannya saat ini, sampai dia tak sadar telah mengigit bibir Indah hingga terluka.


"Cih...loe kenapa sich? sakit tau nggak!" bentak Indah.


Ada rasa bersalah saat Indah meringis kesakitan, tapi emosinya justru mendominasi akal sehatnya.

__ADS_1


"Loe yang kenapa? gue udah bilang loe itu pacar gue! kenapa ada bekas orang lain di leher loe, kenapa Indah?"


__ADS_2