
Langkah Indah ternyata tak kembali ke kelas, melainkan memilih naik ke roof top untuk tidur disana. Suasana yang sepi dan hampir tak berpenghuni ini menjadi tempat yang pas untuk menepi.
"Nyamanlah lumayan!" ucap Indah saat merebahkan tubuhnya di sofa yang sudah tak terpakai yang berada disana.
Mata Indah melirik jam tangannya, kemudian segera memejamkan mata setelah di rasa masih aman.
"Mudah-mudahan nggak ada yang ganggu!"
Hampir dua jam Indah tertidur hingga cahaya matahari seakan menyengat wajah ayunya hingga menembus kornea mata.
"Eugh.....Indah menggeliat merenggangkan tubuh yang sedikit pegal karena sofa yang tak dapat menampung semua tubuhnya.
Gadis itu bangun dan terduduk dengan mata menyipit, mencoba diam untuk menormalkan kembali otaknya yang baru saja beristirahat untuk kembali bekerja. Mata Sifa melirik jam tangan, waktu pulang sekolah lima belas menit lagi tiba. Dia menarik nafas dalam, bukan kebiasaannya untuk membolos seperti ini tapi karena memang mata yang sudah tak mampu menahan kantuk dengan terpaksa meninggalkan pelajaran.
"Nunggu bentar lagi dech sampai guru keluar!"
Indah menyandarkan kembali tubuhnya si sofa, dia menikmati angin yang cukup kencang menerpa wajahnya hingga rambutnya tak beraturan.
"Cantik!" satu kata yang terlontar dari bibir seorang pemuda yang sejak tadi mengamati setiap pergerakannya.
Merasa tak sendiri Indah segera menoleh kebelakang, matanya melebar melihat siapa orang yang saat ini mengamati dirinya.
"Loe ngapain di sini?" tanya Indah yang merasa heran dengan Chiko.
"Jagain cewek bolos sampe pules disini..."
"Jadi loe udah dari tadi di sini?"
"Menurut loe?" Chiko beranjak dari duduknya kemudian mendekati Indah dan duduk di sebelahnya.
"Kurang kerjaan dech loe, ngapain lagian loe bolos bukannya ikut pelajaran!"
"Loe sendiri ngapain?" tanya Chiko yang saat ini sudah ada di samping Indah dan bisa melihat wajah cantik itu dari dekat.
"Sexy!"
"Apa loe? otak loe mikir apa? jangan-jangan gue tidur loe nengokin Minnie gue ya?" sewot Indah yang justru mengundang senyum nakal di wajah Chiko.
"Pengen banget ya gue tengokin?"
"Jangan ngadi-ngadi loe ya!" ancam Indah.
__ADS_1
"Yang ada otak loe yang buat gue begini, lagian siapa yang nengokin Minnie loe?"
Sifa tak menggubris ocehan Chiko, baginya lelaki ya sama saja pasti yang di incar tak jauh dari pangkal paha. Kemudian Indah memilih untuk segera pergi dari sana karena sebentar lagi jam pulang sekolah.
"Siapa yang nyuruh loe pergi?" tanya Chiko saat Indah sudah berdiri hendak balik ke kelas.
"Terus urusan sama loe apa?" tanya Indah santai sambil menatap wajah Chiko.
"Tetap disini temani gue!"
"Siapa loe? pacar bukan, suami apa lagi, teman ya nggak! terus gue suruh di sini nemenin loe, loe sehat?" tanya Indah dengan suara khasnya yang mendayu di telinga siapa saja yang mendengarnya.
"Kalo gitu mulai hari ini loe jadi pacar gue!" Sifa menganga mendengar ucapan yang terlontar dari mulut Chiko.
"Nggak waras ya loe!" ketus Indah.
Chiko menarik tangan Indah hingga tubuh Indah jatuh di pangkuannya, tangan Chiko segera mengunci tubuh Indah dengan menggenggam erat pinggul serta menatap dalam mata Indah.
Mendapat serangan yang begitu mendadak membuat Indah tak kuasa memberontak, tapi dalam hati dia cukup terhibur dengan wajah tampan orang yang sedang di hadapannya saat ini. Tak layaknya cerita romantis yang berujung ciuman dan berakhir senyuman, otak Indah bekerja dengan baik untuk memberi sedikit kejutan yang membuat lawannya merasa bahagia sesaat.
Indah mengalungkan tangannya di pundak Chiko membuat pemuda itu tersenyum senang menyambutnya. Kemudian memposisikan duduknya agar pas menurut feeling, senyuman menggoda mulai terpasang di wajah Indah membuat Chiko terbuai.
Hingga sebuah sentuhan dibawah sana yang berasal dari bongkahan empuk yang sedang mendudukinya membuat si Mickey bangun dan tegak berdiri.
"Enak?"
"Eugh.....banget!"
"Selamat bersolo karir!"
Mata Chiko terbuka saat merasakan tubuh Indah yang sudah lolos dari genggamannya.
SHIITH
Chiko mengumpat kesal saat menyadari jika Indah sudah mengerjainya, pandangan Chiko mengarah pada Indah yang sudah berjalan jauh meninggalkan tempat ia sekarang. Dapat ia lihat Indah dengan gaya genitnya melambaikan tangan dan memberi ciuman jarak jauh dengan mengedipkan sebelah matanya.
"Sial!"
Chiko melihat celananya yang sudah menonjol, apa lagi si Mickey yang jelas meronta ingin di lepaskan.
"Gue nggak bakal lepasin loe Ndah! gue bakal buat loe mau jadi pacar gue!"
__ADS_1
"Lagian si Mickey udah klop banget sama loe! haish....bisa diem nggak loe, gue juga tau loe udah pengen keluar!" kesal Chiko pada Mickeynya yang terus saja tak mau diam.
Indah terus berjalan menuju pintu gerbang dengan kedua temannya yang sejak tadi setia menunggunya di kelas.
"Jadikan ke cafe? gue udah nggak sabar traktir kalian makan, pokonya nanti kalian bisa makan sepuasnya, oke!"
"Jadilah, ya nggak Ndah secara kapan lagi ya kan dapet traktiran dari nyonya!" jawab Asti dengan semangat 45.
"Kok nyonya?"
"Iya kan sekarang udah jadi nyonyanya....om siapa nama sugar Daddy loe?"
"Ikh gue kira apa, iya kalian dapet traktiran dari Nyonya Sujono," ucap Jenni bangga yang membuat kedua temannya justru tertawa terbahak-bahak.
"Ikh rese dech loe pada! udah ayo akh naik mobil gue!"
"Widih mobilnya aja baru loh, nggak pengen Ndah punya sugar Dady kayak si Jenni?"
Indah tersenyum mendengar pertanyaan Asti " Makasih.....gue udah cukup bersyukur dengan keadaan sekarang, seandainya gue mau gue pengen yang emang serius ngajak masa depan, tapi apa ya ada secara kita modelan begini, mentok-mentok ya bakal kayak si Jenni."
"Nggak ada yang tau masa depan, kali aja bisa kayak kisah Cinderella," sahut Jenni.
"Udah jangan pada ngehalu, ayo cepet masuk mobil keburu hujan!" ketiganya segera masuk mobil dan pergi menuju cafe.
Sesampainya di sana banyak mata yang terus mengamati ketiganya dari sejak masuk sampai berjalan menuju kursi yang berada di pojok ruangan. Mereka terperangah dengan kecantikan ketiganya apalagi saat mata mereka menatap Indah yang paling menonjol dari kedua temannya. Dengan balutan seragam SMA memang Indah begitu mempesona, imut tapi tetap membangkitkan gairah bagi yang melihatnya.
"Biasa dech pada, matanya nggak bisa di kondisikan, kalo boleh pasang tarif udah kaya kita, lihat satu juta, colek dua juta, pegang tiga juta terus...."
"Duit mulu otak loe As!" sahut Jenni memotong pembicaraan Asti.
"Ya kan gue managernya Indah merangkap pekerja juga, jadi kalo masalah duit gue harus nomor satu!"
"Udah ikh, ngomong terus kapan makannya coba? malam ini gue ada jadwal tiga tempat dan loe berdua tau kan apa yang gue butuhkan sekarang. Udah cepetan pesan gue mau ke toilet dulu!"
Indah segera meninggalkan kedua temannya menuju toilet dan tanpa Indah sadari jika sejak tadi ada yang mengikutinya.
Setelah selesai Indah mencuci tangan kemudian keluar dari dalam toilet untuk segera bergabung kembali dengan kedua temannya tapi dengan sekali hentakan tubuhnya sudah kembali masuk kedalam toilet.
krek
Indah terperanjat saat tubuhnya sudah berada di pelukan orang yang sejak kemarin Indah jumpai, apa lagi saat mendengat pintu yang terkunci.
__ADS_1
"Mau kemana cantik?"