Terjerat Cinta Gadis Malam

Terjerat Cinta Gadis Malam
Bab 49


__ADS_3

Indah menatap penuh tanda tanya, apa alasan dan tujuan orang yang ada di depannya ini berkunjung. Siapa gerangan beliau yang menginginkan anaknya bahagia.


"Sebenarnya ada apa Bu?"


"Saya mamahnya Nicko."


deg


"Saya tau kalian memiliki hubungan, bahkan saya tak menyangka jika anak saya mencintai gadis SMA. Tapi saya pun tau latar belakang kamu sebenarnya. Saya cukup kecewa setelah tau anak saya menjalin hubungan dengan seorang wanita malam. Bahkan saya tak menyangka dengan anak saya yang dengan mudah terjerat tanpa memikirkan masa depan."


Hati Indah seketika memanas, tubuhnya pun lemas, tak menyangka hal yang ia takutkan akan terjadi. Padahal jauh hari dia sudah menguatkan hati. Tapi ternyata tak semudah itu hatinya mampu menghadapi.


"Ini ada uang yang saya kira cukup untuk kamu menghidupi dirimu tanpa harus menjual diri. Dan saya harap kamu pergi dari kehidupan anak saya. Jangan kamu ganggu hidupnya lagi."


Indah menggeser kembali amplop tebal yang ada di hadapannya. "Maaf Tante, saya tidak bisa menerima ini semua. Pekerjaan saya memang murahan tapi saya masih memiliki harga diri. Tak perlu repot-repot Tante membiayai hidup saya. Saya masih bisa mencari tanpa bantuan orang lain."


"Tangguh juga kamu, pekerjaanmu itu sudah menunjukkan harga dirimu! Dengan tegas saya tak menyetujui hubungan kamu dan anak saya. Jadi jangan pernah hubungi dan temui apa lagi kamu rayu dengan tubuhmu itu. Masih belia sudah bekerja seperti ini bagaimana nanti keturunannya?"


Tajam sekali ucapannya hingga seakan menampar Indah dengan kencang. Menusuk hingga menembus ke dada. Air mata itu dengan kasar Indah tepis, dia tak ingin orang lain melihatnya lemah walaupun hatinya hancur. Andai saja ia bisa berteriak, dia tak ingin seperti ini. Dia tak ingin mencari makan dan pengobatan mamahnya dengan uang haram.


"Maaf Tante, nasib orang tidak ada yang tau. Saya atau keturunan saya nantinya bukan urusan orang lain. Saya sadar diri siapa saya dan memang tak pantas dengan anak tante. Tapi bisa Tante bicarakan baik-baik bukan dengan cara menghina saya. Pekerjaan saya memang hina, tapi saya punya alasan."


"Sebagai orang kaya yang terhormat dan ingin di hormati alangkah baiknya Tante pun bisa menghargai orang lain. Tante meminta saya untuk meninggalkan anak tante, meminta saya untuk tak mengganggu kehidupan anak tante. Tapi apa Tante sudah menanyakan sendiri apakah anak tante bersedia melepas saya? karena dari awal bukan saya yang mengejar, bukan saya yang menggoda dan bukan saya yang meminta."


"Mau sekuat apa kamu bertahan, semua akan sia-sia karena nicko sudah saya jodohkan! jadi jangan berharap lebih dengan anak saya. Karena sampai kapanpun kamu nggak akan bisa memilikinya apa lagi menguasai harta kami. Karena profesi mu sudah menunjukkan siapa kamu!"


Indah sempat tertegun dengan kata perjodohan yang di ucapkan mamah Nicko. Dia tak tau apa-apa bahkan Nicko pun tak cerita. Tapi di sini Indah tambah sadar jika memang tak mungkin orang terpandang dengan kekayaan yang melimpah bisa berjodoh dengan gadis sepertinya.


"Jangan samakan satu dengan yang lainnya Tante, karena saya bukan wanita yang haus akan harta. Jika memang Tante tidak suka bisa tinggalkan saya sekarang. Dan keluar tanpa saya meminta."


Mamah Nicko benar-benar kesal dengan sikap Indah, dia berfikir begitu sombongnya gadis yang ada di hadapannya saat ini. Dia sadar memang gadis ini beda, pemberani dan cukup menjunjung harga dirinya. "Tapi tetap saja saya nggak akan menerimamu!" batin mamah Nicko.

__ADS_1


Mamah Nicko pergi meninggalkan hati yang tersakiti. Indah dengan cepat menutup pintu, badannya luruh kelantai. Dadanya begitu sesak menerima segala perkataan pedas, andai bukan ibu dari pria yang ia cintai. Mungkin tak akan sesakit ini, walaupun ini merupakan resiko yang harus ia hadapi.


tok


tok


tok


Suara ketukan dari luar tak membuat Indah segera beranjak, dia begitu kacau hingga tak ada daya untuk berdiri. Indah meringkuk di balik pintu. Sudah tak ada lagi semangat ingin berangkat ke sekolah hari ini. Membiarkan waktu bergulir hingga suara ketukan itu tak terdengar lagi.


Sedangkan orang yang di luar tampak kelimpungan, apa lagi saat mendapatkan kabar jika mamah nekat datang untuk bicara. Pintu tak kunjung di buka membuatnya berpikir keras harus bagaimana. Dia tak bisa membuka pintu karena Indah menggunakan kunci slot bukan kunci pada handle pintu.


"Nggak di bukain juga, gue yakin dia di dalam. Nggak ada cara lain lagi gue takut loe kenapa-napa."


Nicko segera naik ke balkon kamar Indah, dia memanjat pohon mangga yang ada di halamannya kemudian meloncat dengan hati-hati tanpa membuat curiga tetangga sebelah.


"Tinggi juga ya balkon kamarnya, kalau nggak demi kamu nggak mau aku kayak gini sayang."


Nicko masuk ke kamar Indah dan segera berlari turun ke pintu depan. Kakinya melemah saat melihat dengan jelas gadis yang ia cinta terduduk meringkuk dengan tubuh bergetar.


Nicko melangkah perlahan, mendekat dan memeluknya. Hatinya ikut merasa sakit melihat sang kekasih terisak sedih.


"Maaf aku terlambat sayang...." lirih Nicko seraya mendekap erat tubuh Indah.


"Aku akan perjuangin kamu, tolong tetap bertahan di sisiku."


Indah diam tak ada tanggapan, Nicko yang mengerti segera mengangkat tubuh Indah dan memindahkannya ke dalam kamar. Membaringkan di ranjang dan melangkah mengambilkan segelas air minum.


"Om, jangan dekati aku lagi. Mamah om nggak suka sama aku. Aku pun nggak pantas buat om, aku sadar diri om. Kita akhiri hubungan ini, aku nggak mau jadi masalah nantinya."


"Aku nggak bisa, aku sayang sama kamu, aku cinta sama kamu. Please berjuang demi cinta kita, sekali lagi aku mohon jangan menyerah sayang."

__ADS_1


Keduanya menangis saling berpelukan, Nicko yang tak pernah serapuh ini benar-benar menangis tak ingin berakhir.


"Jodoh yang orang tua om pilihkan pasti yang terbaik buat om, jangan membebankan diri om dengan menjalin hubungan denganku om. Sekarang lebih baik om pulang, aku mohon aku sedang ingin sendiri."


Nicko mengusap lembut air mata Indah dan mengecup keningnya begitu dalam. Memberi waktu untuk Indah mungkin dapat sedikit membuatnya tenang.


"Aku pergi untuk memberimu ruang agar sedikit tenang, jangan menangis lagi. Nanti sore aku kembali. Ingat selalu, aku mencintaimu." Nicko pergi dengan membawa emosi, tujuannya saat ini adalah pulang untuk bertemu dengan kedua orangtuanya.


Sampai di rumah kedua orangtuanya menyambut hangat, mamah berharap kejadian tadi membuat Nicko sadar dan meninggalkan gadis yang ia cinta.


"Sayang, nggak jadi ke kantor? kok sudah pulang?"


"Mamah apakan gadis ku? mamah katakan apa padanya?"


"Mamah hanya memintanya untuk menjauhi kamu Nicko, dia nggak pantas untuk kamu!"


"Mamah kamu benar, dimana otak kamu hingga memilih pelacur untuk kamu jadi kan pasangan?" bentak papah. Beliau begitu marah sejak awal, tapi sang istri yang terus menahannya, hingga tak memperbolehkan ikut menemui Indah.


"Papah sama mamah nggak tau apa-apa perjuangan dia, dia bukan pelacur seperti yang ada di pikiran kalian! dia bekerja seperti itu ada alasannya, bukan hanya semata-mata uang!" tegas Nicko.


"Sekalipun mamah memberikannya harta berlimpah dan uang yang banyak, dia nggak akan mau menerima. Karna dia bukan wanita seperti yang kalian pikirkan!"


"Nicko, nggak sopan kamu ya sama orang tua! kamu pikir dengan kamu seperti ini bisa menggagalkan semuanya? perjodohan akan tetap di laksanakan. Mamah kamu yang melahirkan kamu, dia yang lebih pantas kamu bela bukan wanita malam itu!"


"Tapi sayangnya aku mencintai gadis malam yang kalian bilang pelacur itu. Maaf, jika Nicko mengecewakan, tapi Nicko benar-benar nggak bisa meninggalkan. Dan jangan usik dia lagi, kalo sampai mamah papah mengusiknya lagi, aku nggak akan pulang ke rumah ini!"


"Nicko! bicara apa kamu? demi jalaaang itu kamu ingin meninggalkan rumah ini? buka mata kamu Nicko! dia nggak pantas kamu perjuangkan!"


"Terserah kalian mau berfikir bagaimana, yang jelas aku nggak akan mau menerima perjodohan konyol kalian!"


Setelah perdebatan yang terjadi, Nicko pergi meninggalkan kedua orangtuanya yang begitu kecewa.

__ADS_1


__ADS_2