Terjerat Cinta Gadis Malam

Terjerat Cinta Gadis Malam
Bab 39


__ADS_3

Di apartemen Kiki, Chiko hanya diam memikirkan Indah. Dia yakin jika pendengarannya tidak salah. Ada suara pria di kamar Indah walaupun ketika di buka tidak ia temukan. Rasa penasarannya membuat dia tidak fokus dengan pembicaraan kedua sahabatnya.


"Woy....loe di ajak diskusi ngapa jadi bengong kayak ayam seminggu nggak di kasih makan!"


"Ck, berisik loe! emangnya gue kesini suruh ngapain sih?"


"Suruh bokeeerr Chiko! kesel gue, mulut gue udah berbusa ya. Dan loe enak banget nyuruh gue ngejelasin lagi. No men!" oceh Soni.


Kiki menepuk pundak Chiko, "sorry udah ganggu waktu loe sama Indah, belum mulai udah gue suruh kesini ya? nyampe mana tadi grepeenya?"


"Kalo nggak ada yang di bahas lagi, gue mau balik. Pusing pala gue!"


"Masih ada nggak stok baby oil di rumah?" tanya Soni.


"Jangankan baby oil, minyak tanah aja ada. Puas loe!"


"Melar donk si Mickey kalo pake minyak tanah. Dingin-dingin keset....bbbrrrrr." Kiki bergidik sendiri.


Chiko yang melihat kegilaan kedua temannya hanya menggelengkan kepala. Kemudian meraih kembali kunci mobil.


"Balik gue, kalo masalah pelajaran besok aja di sekolah."


Chiko melangkah keluar apartemen, dia ingin pulang dan menjernihkan otaknya. Cukup banyak pikiran negatif yang mulai singgah, tapi dia sudah bertekad akan terus berjuang.


"Baru pulang sayang?" tanya mamah yang masih bersantai di ruang tengah seraya nonton sinetron kesukaannya.


"Iya mah, Chiko langsung ke kamar ya mah. Gerah mau mandi."


"Jangan lama-lama sayang, sudah malam!"


"Siip mah!" seru Chiko yang sudah berlari menaiki tangga.


Tak lama Nicko pun pulang, dia melangkah dengan santai tanpa beban. Cukup senang hatinya saat ini karena Indah sudah kembali ke pelukan. Apa lagi Mickey yang sudah tertidur nyenyak setelah tadi di beri sentuhan-sentuhan nakal dari jemari dan lidah Indah yang begitu melenakkan.


"Nicko, tumben sudah pulang?"


Mendengar ucapan mamah, Nicko singgah di sofa dan memilih untuk berkumpul sebentar bersama kedua orangtuanya.


"Mamah mau nya Nicko gimana? pulang cepet ditumbenin. Pulang pagi diocehin."


"Ya tumben aja, wajahnya seger juga. Berseri banget, kamu abis menang tender?" tanya mamah yang penasaran.


Nicko tersenyum menanggapinya, "lebih dari menang tender mah." batin Nicko sambil membayangkan saat berdua dengan Indah tadi.


"Otak kamu pasti sedang konslet saat ini, di tanyain orang tua malah senyam senyum sendiri. Kapan kamu bisa mamah ajak menemui calon istri kamu? minimal menemui calon besan."


Senyum Nicko luntur mendengar pertanyaan sang mamah, dia menatap kedua orang tuanya begantian.


"Kenapa Nick?" tanya papah.


"Nggak ada pembahasan lain, setiap pulang selalu membahas tentang perjodohan konyol itu. Jangan buat aku nggak betah di rumah mah Pah!"

__ADS_1


"Mamah mu nggak akan menjodohkanmu dengan yang lain di luar wanita itu. Sebelumnya juga nggak ada pembahasan tentang itu. Jika memang ini sampai terjadi berarti arti dari orang itu begitu penting."


"Aku capek, aku mau istirahat." Nicko segera beranjak dan melangkah menuju kamar, meninggalkan kedua orang tuanya yang cukup terperangah melihat kelakuan anak sulungnya.


"Sabar mah, masih ada waktu sampai pernikahan itu di laksanakan." Papah merangkul istrinya dengan sayang.


"Iya Pah, semoga saja waktunya tiba Nicko mau menyetujui semuanya."


Di kamar Nicko segera mengganti bajunya dan masuk ke dalam kamar mandi hanya untuk sekedar cuci muka dan sikat gigi. Karena sebelumnya dia sudah mandi di rumah Indah.


Melihat tanda merah di dadanya lewat pantulan cermin membuat Nicko tersenyum tipis. "Begitu liar kamu sayang, ini tanda cinta pertamamu. Rasanya ingin aku pamerkan ke semua orang." Tapi seketika dia teringat akan adiknya tadi, bagaimana jika dia tau kalo dirinya pun mencintai gadis yang sama.


"Apa kamu akan memaafkanku jika kamu tau semuanya, sedangkan aku tak mungkin bisa meninggalkan dia."


Keesokan harinya Indah terbangun dengan merintih, merasakan perutnya yang begitu sakit. Rasanya ingin bangun begitu sulit, sedangkan kasur sudah banjir.


"Banyak banget, mana sakit lagi. Semalem nggak apa-apa, kebiasaan dech...." keluhnya.


Indah berjalan menuju kamar mandi dengan tertatih, Minnie nya pun serasa mau copot, pegal, keram, nyut-nyutan semua jadi satu kesatuan yang begitu pro membuat pagi ini serasa ambyar.


Selesai membersihkan diri di lanjut membuka sprei yang kotor kemudian menggantinya kembali dengan yang baru. "Sekolah nggak sekolah nggak sekolah nggak...Mana olahraga ngambil nilai lagi. Aduh kenapa harus barengin sich."


Indah meraih ponselnya, mencari nomor Asti dan menghubunginya.


"Halo"


"Halo as..."


"Biasa, jemput gue ya."


"Nggak usah masuk kalo nggak kuat!" cegah Asti.


"Hari ini penilaian olahraga terus kalo gue nggak masuk gimana? nggak dapet nilai donk gue?"


"Ck, gue ngeri loe nggak kuat doank. Ya udah gue otw kesana, ntar gue mampir beli jamu."


" Ya udah gue tunggu."


Tut


Indah segera memakai seragamnya, tak ketinggalan roti Belanda dia masukkan ke dalam tas beserta baju olahraga.


"Kuat ya, seenggaknya ilang dah nyerinya pas gue lari-lari."


Setelah semua siap dia segera turun kebawah dan menunggu Asti di halaman depan. Duduk di kursi dengan sedikit bersandar.


"Lama banget sich As..." keluh Indah menunggu Asti yang tak kunjung datang. Memejamkan mata merasakan nikmatnya sakit yang tiada tara.


tin


Suara klakson mobil Asti di depan rumahnya membuat matanya segera terbuka, melangkah perlahan mendekati mobil dan segera masuk.

__ADS_1


"Sakit banget?"


"Hhmm...jamunya mana?"


"Nich mbak kiranti," Asti menyodorkan sebotol jamu untuk Indah.


"Gue kira loe nyari mbak jamu dulu yang lewat," kemudian dia menghabiskan minuman tersebut.


"Ribet, kelamaan. Nanti aja sambil jalan kalo ada. Loe udah sarapan belum?" tanyanya lagi.


"Belum sempet gue, bangun-bangun di kerjain sama sprei yang udah jadi merah semua begitu."


"Ya udah nanti lanjut kantin aja, gue juga belum sarapan."


Sesampainya di sana, Indah dan Asti segera berjalan menuju kantin. Memesan nasi uduk dan teh hangat untuk menu sarapan keduanya.


"As, semalem Chiko kerumah."


"Terus?" tanyanya sambil mengunyah.


"Hampir aja ketauan."


Asti segera menoleh, "loe di gerebek?"


"Bukan ketauan warga, hampir ketauan kalo gue masukin pria ke kamar."


"Emang siapa yang masuk ke kamar loe?" tanyanya penuh selidik.


"Om Nicko."


"What?" pekik Asti hingga kerupuk yang masuk ke mulut keluar lagi.


Melihat itu Indah geli sendiri, " jorok ikh! telen dulu baru teriak!" Indah minum kemudian menceritakan semuanya. "Dia nggak mau putus, sebenarnya dari awal juga udah nolak cuma guenya yang bersikeras mau udah. Ya udah akhirnya balik lagi..."


"Terus Chiko gimana?"


Indah menggelengkan kepala, dia pun nggak tau caranya membuat Chiko untuk mundur. "Dia serius juga sama gue..."


"Tapi loe suka sama yang mana?"


"Kalo dua-duanya boleh?" Indah bertanya dengan wajah polosnya.


"Maruk namanya! pilih salah satu lah yang buat loe nyaman yang mana, yang buat loe nangis sampe mata bengkak siapa, yang buat loe enak pas berdua sama yang dewasa apa yang muda."


Indah tertawa, dia sudah berhasil membuat Asti mengeluarkan kata-katanya. "Katanya nggak tau cinta, itu paham."


"Iya gue lebih nyaman sama si om."


"Udah pasti, uratnya lebih berasa cuuuyy..."


"Otak loe!"

__ADS_1


__ADS_2