Terjerat Cinta Gadis Malam

Terjerat Cinta Gadis Malam
Bab 56


__ADS_3

Kini mereka sudah duduk di sofa, tadi sebelum mereka semua datang bibi sudah mengatur tempat duduknya agar bisa dekat dengan nyonya nya. Karena keterbatasan dan tubuh yang lemah, tak begitu kuat jika berlama-lama harus ikut duduk di sofa.


Indah sudah tampak tenang walaupun tadi sempat terkejut, dan hatinya pun sedikit nyeri saat melihat orang yang pernah memaki ada di hadapannya saat ini.


"Indah, mereka orang baik nak. Beliau sahabat baik mamah, sudah tentu dengan tulus mau menerima. Jangan khawatir, mereka sudah bersedia bahkan ingin segera meminangmu untuk putranya." Mamah mencoba memberi kepercayaan untuk Indah, jika semua akan baik-baik saja.


Pandangan Indah masih ke arah wanita paruh baya di depannya, dia ingat betul penolakan itu. Jika memang mereka berubah pikiran hanya karena kasian Indah akan memberi pengertian untuk sang mamah jika Indah akan mencari sendiri pria untuk menjadi suami.


"Ketulusan itu dari hati mah, bukan hanya lisan yang mengungkapkan. Jika hanya kasian, tak akan berujung bahagia. Apa mamah sudah menanyakan, alasan apa yang membuat sahabat mamah mau menjodohkan anaknya denganku?"


Semua terperangah dengan ucapan Indah, bahkan kedua orang yang kini menundukkan kepala merasa malu akan prasangka buruk mereka sebelumnya. Melihat Indah yang datang memang membuat mereka terkejut dan tak percaya. Tapi saat ini mereka tau, alasan apa di balik pekerjaan yang Indah lakukan sekarang.


"Indah, kenapa nak? apa kamu ragu?"


Indah tersenyum menatap sang mamah yang kini cemas, "Indah banyak kekurangan mah, kita bukan lagi orang berada. Bahkan Indah tak sebaik yang terlihat, Indah hanya tak ingin mengecewakan. Jika masih bisa di batalkan kenapa nggak, dari pada nantinya menyesal."


Mamah Indah menatap sahabatnya, dia bingung harus berkata apa. Sedangkan sang anak mengisyaratkan keraguan, hingga ingin membatalkan. Padahal jauh hari harapannya begitu besar.


"Jeng, boleh saya bicara berdua dengan Indah?"


"Boleh jeng... silahkan." Jawab mamah yang sebelumnya sudah mendapat persetujuan dari Indah.


Kini Indah duduk di kursi taman bertiga dengan sahabat sang mamah dan suaminya. Indah terlihat begitu tegar padahal di hati ada rasa khawatir akan keadaan sang mamah. Dia tak ingin ucapannya tadi membuat kondisi mamah ngedown lagi, sedangkan dia pun tak yakin jika rencana mereka di lanjutkan semua akan baik-baik saja.


"Indah, sebelumnya Tante minta maaf. Tante akui Tante salah. Tante hanya melihat tanpa mendengar alasan kenapa kamu melakukan itu semua. Dan Tante tau pasti mamah mu tidak tau akan semua itu. Maaf jika tempo hari ucapan Tante menyakitkan hatimu, bahkan Tante dengan tega menghinamu."


"Saat itu Tante marah, Nicko yang memang sudah Tante ingin jodohkan benar-benar menolak. Sedangkan Tante sudah berjanji dengan sahabat baik Tante untuk menjadikan putrinya sebagai menantu. Walaupun harus dengan cara menjodohkan. Tanpa Tante tau jika anak dari sahabat Tante adalah kamu."


"Bagaimana setelah Tante tau kalo itu saya? seorang gadis malam yang rela menjual tubuhnya demi sang mamah?"


Mamah Nicko meneteskan air mata, dia tau ini tak mudah bagi Indah. Sejak awal bertemu pun dia sudah tau bagaimana kuatnya Indah apa lagi caranya menjaga harga diri agar tak terus dihina sesuka hati.


"Tante mohon maafkan Tante, sebelum ada perjodohan Tante nggak pernah melarang anak tante bergaul dengan siapapun. Karena Tante tau, Nicko pun tak sebaik yang orang kira. Dan Tante yakin kamu pun tau kebiasaan Nicko sebelumnya. Sempat Tante bangga dengan wanita yang bisa membuatnya berhenti bermain wanita. Tapi karena janji yang sudah terucap, membuat Tante dan om begitu murka. Apa lagi setelah tau siapa wanita yang sedang dekat dengannya, sampai membuat anak tante benar-benar menolak dan berbicara kasar."

__ADS_1


"Naluri orang tua pasti langsung buruk ketika tau siapa wanita yang sedang dekat dengan anaknya. Tak mau anaknya salah jalan dan tersesat, hingga tanpa mendengarkan dan mencari info lebih lanjut Tante datang dan memarahimu. Tapi sekarang Tante menyesal, maafkan Tante nak." Mamah Nicko meraih tangan Indah, dia benar-benar menyesali segala ucapannya tempo hari.


"Om juga minta maaf, om tidak tau apa alasanmu. Dan ikut marah saat tau Nicko dekat denganmu."


"Saya sudah memaafkan om dan Tante, tapi bukan berarti saya menerima perjodohan ini. Saya menginginkan keluarga yang tulus menerima, saya tau kalian hanya kasian. Dan ingin membalas hutang Budi pada mamah. Hingga membuat om dan Tante terpaksa menerima."


"Sebelum semuanya terlambat, masih ada waktu untuk Tante membatalkan. Saya yang akan memberi pengertian pada mamah saya dan bertanggung jawab atas semuanya. Maafkan mamah saya jika permintaannya merepotkan Tante dan juga om."


Kedua orang tua tersebut saling pandang, tak cukup memang hanya dengan kata maaf untuk kembali meyakinkan Indah. Hati yang sudah dengan kasar di sobek tak akan bisa mulus lagi walaupun telah berusaha sebisa mungkin memaafkan. Hingga sang papah menganggukkan kepala.


"Nak, boleh Tante mohon sekali lagi. Tante tak mungkin tega membatalkan perjodohan ini. Mamahmu sahabat yang sangat berarti di hidup Tante, Tante mohon tolong pikirkan nak. Ini permintaannya sejak lama, kita nggak tau nasib orang kedepannya bagaimana. Tante pun nggak tau harus dengan apa Tante membalas semua kebaikan mamah kamu."


"Nak, menikahlah dengan Nicko, Tante mohon. Demi mamahmu nak, Tante berjanji akan menerima kamu dan menganggapmu seperti anak Tante sendiri. Apa kamu tega mematahkan harapan mamah kamu, sedangkan bertahun-tahun kamu sangat ingin membahagiakan beliau?"


Setelah pembicaraan dengan kedua orang tua Nicko kini Indah hanya diam dengan air mata yang kembali membasahi pipinya. Menahan agar tidak menangis di depan orang tua Nicko sampai dada Indah serasa sesak. Dia pun takut jika ini permintaan terakhir dari sang mamah, apa lagi melihat wajah mamah yang begitu bahagia saat ia datang tadi. Semua mewakili harapan sang mamah selama ini.


Indah terisak dengan menutupi wajahnya, takdir seperti mempermainkan dirinya. Jika sebelumnya mungkin Indah akan bahagia jika diminta menikah dengan Nicko, tapi setelah kejadian mamah Nicko yang datang tempo hari membuat dia ragu, apa lagi setelah tau chiko dan Nicko yang ternyata kakak beradik.


Indah diam tanpa berniat untuk kembali ke ruangan. Hingga menjelang sore, ia di kejutkan dengan kabar dari bibi jika kondisi sang mamah kembali ngedrop.


Indah berlari menuju ruangan mamah, air matanya semakin deras mengiringi langkah kakinya. "Mamah maafin Indah....."


Tak perduli dengan orang yang memperhatikannya saat ini, Indah terus berlari dan ingin segera melihat kondisi sang mamah.


"Bi...bagaimana dengan mamah Bi?" melihat bibi yang menangis kaki Indah semakin melemah, dia tak sanggup jika harus menerima kabar buruk tentang mamahnya.


Disana ternyata masih ada mamah Nicko yang juga sedang menangis di pelukan sang suami. Indah terduduk lemah di lantai, dunianya seakan ingin runtuh.


"Sabar non, kita tunggu sampai dokter keluar ya. Mudah-mudahan nyonya kuat dan keluar dari masa kritisnya."


"Ini semua salah Indah Bi, ini karena Indah yang tak menurut sejak awal. Hiks.....hiks...."


"Tenang non, nyonya nggak pernah menyalahkan non Indah. Nyonya justru sangat bangga dengan non Indah. Kuat ya....sabar..."

__ADS_1


Mamah Nicko mendekati Indah, dia memeluk Indah dengan sayang. Air mata Indah semakin deras, Isak tangisnya membuat siapa saja yang melihatnya tak kuasa menahan air mata.


"Mamah....."


"Sabar nak, mamah kamu orang yang kuat, beliau pasti bisa bertahan. Maafin Tante yang sejak awal sudah mengecewakan. Tapi Tante tulus nak, bukan karena kasian..."


Hampir satu jam dokter memeriksa sang mamah dan selama itu pun tangis Indah tak kunjung henti. Berulangkali mamah Nicko menguatkan Indah, masih di dalam pelukannya dengan duduk di lantai.


Papah Nicko pun sejak tadi hanya diam, dia pun berulangkali mengusap ekor matanya yang basah. Tak tega melihat Indah yang berjuang sendiri. Dan begitu terpukul dengan kondisi mamahnya saat ini.


Hingga pintu ruangan berbunyi, membuat semua yang menunggu segera bangkit.


"Bagaimana kondisi mamah saya dok?"


"Mamah anda masih kritis, banyak-banyak berdoa dan beri semangat untuk beliau. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin dan tadi juga sudah cuci darah. Semoga malam nanti kondisinya berangsur membaik."


"Boleh saya masuk dok?"


"Boleh, tapi tolong jangan di ganggu. Biarkan beliau istirahat, karena sepertinya ada faktor lain yang mengganggu beliau. Beri ketenangan agar pikiran dan hatinya senang. Insyaallah itu akan membantu memulihkan kembali kondisi beliau."


"Terima kasih dok."


"Baik, kalo gitu saya permisi dulu."


Indah masuk ke ruangan seorang diri, tangannya menutupi mulutnya agar Isak tangis tak terdengar. Rasa bersalah semakin membuncah kala melihat sang mamah yang begitu pucat. Gurat kekecewaan masih tampak jelas, hingga Indah tak sanggup untuk melihatnya.


"Maafin Indah mah, Indah salah, beri kesempatan untuk Indah membahagiakan mamah. Indah mohon bertahanlah mah..."


"Papah jangan ajak mamah dulu, biarkan Indah membahagiakan mamah. Walaupun itu untuk yang terakhir kalinya..."


Hati Indah hancur, dia tau jika sang mamah begitu menderita melawan penyakitnya. Tapi Indah pun tak sanggup jika harus kehilangan. Hanya satu keinginannya saat ini, membahagiakan sang mamah dan melihat kembali beliau tersenyum.


Indah keluar dari ruangan dengan pandangan yang kosong, sudah tak ada lagi air mata yang mengalir saat ia keluar. Melangkah dengan perasaan yang entah, sampai dia pun tak sadar siapa yang datang dan mendekapnya dengan erat.

__ADS_1


__ADS_2